Selasa, 04 Juli 2017

Persalinan Terakhir

Di ujung nasib anak berkebutuhan khusus.

SORE HARI ia bangun dari tidur. Suara kakinya mengentak dari lantai dua. Dengan sepasang kaki yang kecil—akibat penyakit polio yang menyerangnya sedari kecil—ia beringsut menuruni anak tangga kayu dengan tumpuan pantat. Ia tersenyum lebar, dan kita bisa melihat sebagian giginya yang menghitam. Sela bibirnya selalu mengeluarkan air liur.

Nia, perempuan berumur 31 tahun, adalah penyandang tunawicara. Saya menyapanya dan ia hanya tertawa kecil. 

Dibantu tantenya, betapapun tidak mudah, Nia merawat putrinya dengan kekayaan yang ada di dalam tubuh dan pengetahuannya. © Sofyan Syamsul 
Hari itu di rumahnya, di satu kawasan pasar di Makassar, ia terlihat riang. Nazar sembilan bulan lalu, yakni berpuasa selama tiga hari, sebentar lagi tunai. 

“Kenapa harus puasa?” tanya saya. 
Ia tetap tertawa kecil, lalu mengucapkan beberapa kata yang tak saya pahami. Sejenak berdiri dan berjalan menuju dapur, badannya berguncang hebat, doyong ke kiri dan kanan. Pergelangan tangannya membengkok. Ia membasuh muka lantas menuju pintu kamar mandi. 

Kini Nia duduk berhadapan dengan saya. Di dekat kami ada ayunan. Seorang bayi perempuan, berusia sembilan bulan, terlelap di atas ayunan sembari memegang botol dot. 

Itu adalah buah hatinya, dengan nama secantik satu bunga yang tumbuh dari wilayah beriklim subtropis. Ketika Nia duduk di dekatnya, sepasang mata si bayi terbuka pelan. Dengan lembut, Nia memukul-mukul kaki putrinya dan terus mengayun. Ketika kaki mungil si bayi menjenjang dan bergoyang, seakan hendak tengkurap, derai tawa sang ibu terlepas. 

Si bayi terbangun dan menangis. 

Nia kesulitan merangkul buah hatinya dalam ayunan. Apriani, tantenya, dengan segera menyudahi diri melipat pakaian. Ia menuju si bayi, menggendong dan menenangkan dalam dekapan. Nia berada di sampingnya dan mengelus kaki putrinya dengan lembut. 

Kecuali mungkin untuk Nia, keluarga terdekat tak menyangka ponakannya bakal hamil. 

Orang-orang terdekat Nia menduga ayah si bayi adalah pengayuh becak bernama Ali, berasal dari satu kabupaten di ujung barat Sulawesi Selatan, yang merantau ke Makassar dan biasa memangkal becaknya di sekitar pasar. Menurut penuturan warga setempat, usia Ali sekitar 50-an tahun. 

Dibantu oleh tantenya, saya mengajak Nia bicara. Menurut Nia, Ali adalah lelaki baik hati. Ukurannya adalah ucapan kata “sayang” yang sering dilontarkan Ali kepada Nia. 

“Kalau banyak orang, dia cuek. Kalau lagi berduaan, panggilnya ‘sayang,’” kata Nia, yang ditirukan Apriani.

Perkiraan keluarga, Ali berkenalan dengan Nia sejak 2014. Keduanya sering terlihat berbagi cerita. Meski kontak sosial ini terlihat lazim, dan memang seharusnya begitu, tapi keluarga dan warga sekitar tak memiliki firasat kalau situasi itu telah menempatkan Nia jadi terpikat oleh tindak-tanduk Ali. 

Nia, selain tunawicara, adalah penyandang disabilitas perkembangan. Ini istilah pokok untuk merujuk hambatan tertentu terhadap seseorang sebelum memasuki usia 22 tahun. Cirinya adalah kesulitan melakukan salah satu atau lebih aktivitas utama sehari-hari seperti merawat diri, berbahasa, berpikir, bergerak, mengendalikan diri, mandiri, atau mampu menafkahi diri sendiri. Down syndrome termasuk ke dalam kategori ini, selain kondisi yang belum tentu terkait gangguan kognitif seperti cerebral palsy, autisme, dan epilepsi. Sebagian lain murni karena perkara fisik bawaan seperti Nia yang terkena polio sejak kecil. 

Di Indonesia, kita mungkin lebih ramah mendengar tunagrahita untuk sebutan disabilitas perkembangan. 

Seorang tunagrahita sangat gampang terpikat oleh sebentuk perhatian. Itulah yang dialami Nia. 

Ali memberinya beberapa perhatian. Sesekali mengajaknya berkeliling dengan becak di lapangan Karebosi, satu ikon jantung kota Makassar. Ali juga menawarinya makan bakso bersama. Atau sekadar menggenggam tangannya. 

“Dia jatuh cinta. Dia suka Ali,” kata Sofyan Syamsul, fotografer lepas tetangga Nia, kepada saya. 

“Saya juga pernah mau ke ATM,” kata Apriani, “Saya sudah panggil becak, tapi dia marah. Harus naik becaknya Ali.” 

“Saya ikut marah, kenapa kah harus Ali? Na banyak becak lain.” 

“Belakangan, jadi ada mi ini kejadian, baruka mengerti.” Apriani mengetahui ada hubungan dekat antara Nia dan Ali setelah Nia ketahuan hamil. 

Nia, yang ada di antara kami, tertawa mendengar potongan kisahnya diceritakan kembali. 

“Kau masih suka Ali?” tanya saya. 

Tak ada jawaban. 

“Kenapa nda lapor ke tante waktu Ali rayu dan gombal?” 

“Na bunyuuuu ka!” 

Nia diancam oleh Ali akan dibunuh. 

ILYAS IBRAHIM adalah kepala sekolah dari Yayasan Pendidikan Luar Biasa Cendrawasih Makassar. Kepada saya, ia mengatakan bahwa anak dengan tunagrahita memiliki perkembangan nalar yang terbatas. 

Penyandang tunagrahita memiliki kecerdasan intelektual (IQ) di bawah 70, dan bahkan hingga di bawah 30. Perbandingannya, pada anak normal, IQ-nya antara 90 hingga 110; dan untuk anak jenius bisa mencapai 120 atau bahkan 150. 

Nia tergolong penyandang tunagrahita sedang, dengan ukuran kemampuan nalarnya antara 36-51. 

Menurut Ilyas, anak tunagrahita sangat mudah dipengaruhi. Jika menemukan seseorang yang memberi perhatian khusus, maka mereka akan menurut. 

“Jadi mereka secara umum hanya melihat, mereka bisa menolak tentang beberapa hal, namun harus melalui pendampingan dan pendidikan yang rutin,” katanya. 

Selama sebulan saya berjalan di beberapa tempat di Makassar. Mengikuti beberapa anak tunagrahita. Mereka bermain dan berlari. Mereka tertawa dan bersenda gurau. Atau beberapa lain dihindari karena dianggap “tidak waras.” 

Di wilayah pemukiman padat penduduk di kawasan Mariso, saya bertanya kepada seorang anak lelaki. “Kenapa dia tidak diajak main?” sembari menunjuk seorang anak down synndrome yang tak jauh dari tempatnya. 

“Bodoh-bodoh ki itu,” jawabnya. 

Di sekolah yang dikelola Ilyas Ibrahim, ada 70 anak didik tunagrahita. Dari tingkat sekolah dasar sampai SMA. Dan di Makassar sedikitnya ada 20 Sekolah Luar Biasa (SLB). 

“Itu yang sekolah. Saya kira ada banyak yang tidak sekolah. Kita belum jalan-jalan ke kampung-kampung,” kata Ilyas. 

SLB Cendrawasih berdiri tahun 1958 dan merupakan sekolah pendidikan anak berkebutuhan khusus pertama di Makassar. Sekolah ini bertingkat dua. Tingkat satu berlantai keramik dan tingkat dua berlantai tripleks. Jika menapakinya terdengar bunyi papan bersentuhan. Jika anak-anak berlari, suara kakinya terdengar sangat ramai. Pengumuman sekolah lebih banyak menggunakan simbol dan gambar seperti simbol toilet untuk pria dan wanita. 

Setiap kelas di SLB Cendrawasih mendidik tiga orang murid. Jumlah murid setiap kelas itu memang disengaja. 

“Jangankan tiga murid, dua murid setiap kelas itu susahnya minta ampun,” kata Ilyas. “Mereka tidak sama dengan anak umum lainnya. Ada perhatian dan fokus lebih untuk anak berkebutuhan khusus. Jadi, pengajar harus ekstra sabar.” 

Bagi anak tunagrahita, usia kronologi fisik tidak berbanding lurus dengan usia mental. Bisa jadi usianya sudah 30 tahun, tapi perkembangan mentalnya masih di tataran anak 4 tahun. Inilah kenapa anak berkebutuhan khusus menghadapi hambatan dan ancaman berlipat dibandingkan anak umum lain. Sekolah menjadi tempat pengenalan karakter, tapi lingkungan rumah dan sekitar tempat tinggal lah yang menentukan tumbuh kembangnya. 

“Jangankan mendapatkan kekerasan seksual, diperalat untuk kejahatan lainnya pun bisa, jika orang-orang tak memahaminya,” kata Ilyas. 

Pagi-pagi, pada awal April 2016, saya menyambangi kembali sekolah yang dikelola Ilyas Ibrahim. Di depan pagar, saya melihat beberapa orangtua mengantar anaknya. Membimbingnya dengan berjalan atau berlari. Para orangtua berteriak memberi nasihat. Saat asyik memperhatikan mereka, seorang anak lelaki down syndrome mendekati saya. Ia mengangkat tangannya dan memberi hormat. 

“Hoi! Halo!” sapanya sambil mengulurkan tangannya bersalaman. 

“Halo juga. Kau tidak belajar kah?” 

“Belajar. Nanti sembahyang. Siapa kau tunggu?” 

“Tidak ada. Mau ja lihat sekolahmu.” 

“Ha ha ha. Bagus sekolahku?” 

“Bagus.” 

Saya menawarinya berjalan ke warung untuk membeli minuman. Anak lelaki itu menurut. “Nda takut ko sama saya?” 

“Tidak. Kau baik, toh?” 

Nuraeni, salah seorang pengajar SLB Cendrawasih, tersenyum saat saya menceritakannya. “Anak-anak ini memang senang dengan perhatian,” katanya. 

Nuraeni adalah pendidik yang hangat. Tapi raut mukanya bisa seketika berubah sendu saat menceritakan kisah anak berkebutuhan khusus. 

“Mereka anak-anak baik. Orang-orang hanya tidak mengerti. Mereka sama saja dengan semua orang. Semua anak sama.” 

Selain berusaha memahami anak berkebutuhan khusus, salah satu hal terpenting dalam pendidikan luar biasa adalah mengenalkan tubuh dan fungsinya. Salah satunya tentang proses menstruasi pada anak perempuan. 

“Jika anak pada umumnya di awal kali mendapatkan siklus itu, tetap akan stres, namun menjelaskannya cukup mudah. Tapi jika itu terjadi pada anak berkebutuhan khusus, itu jauh berbeda,” kata Nuraeni. 

“Kita harus sabar menjelaskan. Jika tidak, anak-anak ini bisa saja mengurung diri. Bahkan untuk mengajarkannya menggunakan pembalut itu butuh waktu.” 

Dalam pandangan Ilyas Ibrahim, penyandang tunagrahita sangat berbeda dalam hal seksualitas. Saat mereka saling suka, beberapa akan mendapatkan klimaks ketika saling bertatapan atau saling pangku, atau bahkan saling sentuhan kulit. “Nah, jika kami lihat ada keadaan seperti itu, kami memisahkan anak-anak dengan cepat.” 

Di salah satu SLB lain di Makassar, saya mendengar satu kisah pada 2004. Sepasang anak penyandang tunagrahita, yang sudah tingkat SMA, saling suka. Dua anak itu tinggal berdekatan rumah, dan pada saat tertentu mereka saling berkunjung. 

Orangtua mereka tak pernah berpikir jika anak tunagrahita memiliki dorongan biologis yang sama dengan anak lain. Pasangan itu dibiarkan menghabiskan waktu menonton bersama. 

Hingga pada satu saat, sewaktu pelajaran olahraga, seorang guru memperhatikan perut si anak perempuan. Si anak telah mengandung dua bulan. Dengan alasan perbedaan agama, keluarga pasangan itu tak merestui. Akhirnya sang guru berbuat nekat dan menikahkan mereka. Orangtua dari mempelai laki-laki tak menghadiri, hanya ada orangtua perempuan. 

Setelah menikah, orangtua si perempuan sungkan membawa anak dan calon cucunya pulang ke rumah. Alasannya malu dan aib. 

Guru yang sama memutuskan untuk merawat anak didiknya sampai melahirkan. Tujuh belas hari setelah melahirkan, sesudah kenduri akikah, orangtua si perempuan menjemput anaknya. Cucu mereka tak dibawa serta. Ia ditinggal bersama guru tersebut. 

Kini buah cinta pasangan itu sudah kelas empat sekolah dasar. Ayah kandungnya telah dipindahkan keluar dari pulau Sulawesi, dan setiap tahun menelepon anaknya sekadar untuk mengucapkan selamat ulangtahun. 

“Kadang saya lupa ulang tahunnya. Jadi biasa anak itu menelepon ingatkan ka. Kasihan mereka,” kata si guru yang tak ingin disebutkan namanya. 

“Itu sudah jadi anak saya,” kata si guru, berlinang airmata. “Ke depannya, tentu saya akan beritahu ketika mentalnya sudah mulai kuat.” 
Nia saat hamil tua bersama Apriani yang tidak menyangka akan mendapati ponakannya mengandung. Penyadang tunagrahita seperti Nia sangat mudah dipengaruhi. Kekerasan seksual kerap dialami difabel dan menjadi “fenomena gunung es” di pelbagai daerah di Indonesia. © Sofyan Syamsul 
FENOMENA INI ibarat gunung es. Di pelbagai daerah di Indonesia, kita disuguhi kabar soal kekerasan seksual terhadap anak berkebutuhan khusus. 

Di Makassar, misalnya, mayoritas kasus macam ini diselesaikan dengan cara “damai” atau tak berbekas sama sekali. Ada anak yang dihamili tetangganya, dan karena malu, orangtuanya melakukan aborsi. Ada anak yang dilecehkan atau bahkan diraba. 

“Anak-anak ini tak bisa melaporkannya karena selalu ada ancaman. Mereka takut,” kata Maria Un, Ketua Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia Sulawesi Selatan. 

Selain itu, menurut Maria, penyandang disabilitas dalam masyarakat kita menjadi lapisan kelas rendah. Orang-orang ini hidup dengan stigma dan tekanan sosial yang berat. 

“Jika kau disabilitas, tak akan ada yang melirikmu apalagi memilihmu menjadi pasangan. Tapi, kenyataan lapangan berbeda jauh. Di jalanan, di taman bermain, di rumah, mereka diintai dengan banyak kekerasan,” katanya. 

Apriani, tante Nia, berusaha mencari keadilan untuk menghukum pria yang menghamili ponakannya. Ia bertanya kepada beberapa kenalan dan dianjurkan mengunjungi sebuah badan perlindungan perempuan dan anak di kantor pemerintahan provinsi. 

“Di kantor gubernur itu, saya disarankan melapor ke polisi, jadi saya ke Polrestabes,” katanya. 

Ia diterima petugas kepolisian yang kemudian berjanji akan menindaklanjuti kasus itu. “Polisi bilang akan datang, dan tanya-tanya beberapa saksi di tetangga. Tapi sampai sekarang tidak ada.” 

“Saya juga sudah tak ambil pusing. Karena saya tahu itu butuh uang. Kayaknya dua minggu, waktu sudah melapor, polisi itu menelepon, minta uang Rp1 juta untuk biaya operasional. Dari mana kami dapat uang?” 

“Kalau dikasih, nanti ada pencarian lagi minta uang lagi. Saya nda mau!” 

Saya meminta salinan surat laporan itu yang ditandatangani seorang petugas kepolisian. Isi surat itu adalah dugaan kejahatan kesusilaan menyetubuhi perempuan “tidak berdaya/cacat (abnormal) hingga menyebabkan kehamilan.” 

Keluarga Nia juga menerima salinan surat berikutnya mengenai hasil penelitian laporan. Ia menyatakan kepolisian akan menyelidiki dalam waktu 14 hari dan akan bertambah jika dianggap perlu. 

Tapi, sampai kini, tidak ada tindak lanjut atas kasus yang menimpa Nia. 

Di Makassar, ibukota provinsi Sulawesi Selatan—salah satu yang tertinggi angka disabilitasnya menurut survei dasar kesehatan tahun 2013, walikotanya pernah mengatakan tentang “kota ramah anak”. Salah satu wujudnya mengenalkan sekolah model inklusi, yakni menggabungkan anak berkebutuhan khusus dengan anak lain dalam sekolah reguler. 

Anak berkebutuhan khusus di Indonesia, dari tunarungu hingga tunawicara seperti Nia, dari tunadaksa hingga tunanetra, dari bibir sumbing hingga down syndrome—diatur sejak 1990-an untuk mendapatkan hak pendidikan di sekolah luar biasa. Seiring pengakuan dan kesadaran atas hak asasi manusia, negara perlu memberi akses setara bagi difabel termasuk pendidikan, dan salah satunya dengan model inklusi. 

Itu langkah bagus dan perlu didukung, meski kita juga sering mendengar kasus-kasus diskriminatif terhadap anak difabel. 

Di lingkungan terdekat saya di Makassar, saya mendengar orangtua dari anaknya yang dikeluarkan dari sekolah reguler karena tingkah overaktif. Ia akhirnya membawa anaknya ke sekolah luar biasa Cendrawasih. 

“Anak saya sekolah di sekolah umum pada mulanya,” ujar orangtua itu. “Karena overaktif, dia selalu berkelahi. Lalu beberapa orang tua siswa lain minta anak saya dikeluarkan. Kalau tidak, anak orangtua yang melaporkan akan mengeluarkan anaknya. Maka sekolah memilih anak saya yang harus hengkang. Dan itu saya mengerti, Dek. Karena anak saya berbeda.” 

SLB Cendrawasih kerap menerima siswa yang “dilempar” beberapa kali dari sekolah reguler. Ada karena kekerasan seksual seperti dicium temannya, ada pula yang berkelahi untuk anak penyandang overaktif seperti kasus anak orangtua itu. Saya kira ini banyak terjadi di pelbagai wilayah di Indonesia dan menjadi tantangan tersendiri bagi sejumlah inisiatif mengembangkan model pendidikan inklusi. 

JULI TAHUN LALU menjelang buka puasa, saat usia kehamilannya mencapai sembilan bulan, perut Nia mulai kesakitan. Ada bercak darah. Segera kemudian keluarga Nia memanggil taksi, menerobos gang sempit, dan membawa Nia ke sebuah rumah sakit di pusat kota Makassar. Beberapa petugas medis menjemput. Membantunya memasuki kamar bersalin. 

Salah satu pengiringnya adalah Sofyan Syamsul, fotografer lepas kenalan saya yang bertetangga dengan Nia dan sudah jadi bagian dari keluarga Apriani. Ia diberitahu petugas medis bahwa kemungkinan proses kelahiran akan melompat keesokan harinya. 

“Perkiraannya bahkan bisa sore. Jadi kami begadang,” kata Sofyan.
Nia dibawa ke satu rumah sakit di pusat kota Makassar setelah usia kehamilannya sembilan bulan. Petugas medis memeriksa kesiapan tubuhnya untuk melahirkan. © Sofyan Syamsul 
Pagi harinya, di ruang tunggu pasien bersalin, Nia meraung kesakitan. Berteriak. Mengamuk. Pasien lain memandangnya dengan heran. Petugas medis memotivasinya untuk melakukan persalinan normal. Namun, ia tak mampu. Menjelang sore, ia akhirnya dibawa untuk menjalani operasi cesar. 

Nia melahirkan bayi perempuan dengan kulit putih bersih dan mengabarkan kehadirannya di dunia dengan tangis keras. 

Muhammad Rusdin, suami Apriani, menghampiri dan mengumandangkan azan. Semua orang bersuka cita. Semua orang terharu. Sofyan Syamsul mengabadikan beberapa gambar untuk dokumentasi keluarga. 

Sehari setelah Nia melahirkan, ia dibawa pulang ke rumah. Para tetangga menyambutnya. Meski beberapa kali terdengar cibiran, tapi itu soal lain.

Nia melahirkan bayi perempuan dengan proses cesar. Ada tangis haru, ada suka cita. Segera pamannya mengumandangkan azan tanda bersyukur. © Sofyan Syamsul 
Di rumah itu Nia tidur bersama bayi. Memberi ASI dan selalu mendekapnya. Ia terlihat bahagia. Ketika si bayi dimandikan oleh Apriani, ia dengan penuh semangat melihat dan memperhatikan. Mengajak bayinya bercerita dengan bahasa yang tak jelas. Atau mencelupkan tangannya ke air dan memercikkannya ke tubuh si bayi. 

Nia seorang yatim piatu. Masa kecilnya dihabiskan di Papua bersama ibu dan beberapa saudaranya. Saat kecil, kepalanya susah tegak dan kakinya lemas. Ia menjalani kehidupan di kasur hingga usia sembilan tahun. Menjelang pertengahan umur ke-10, ia baru belajar berjalan. Tapi, jelang usianya ke-12 tahun, ibunya meninggal karena sakit. Beberapa tahun kemudian ayahnya menyusul, yang meninggal di Makassar, juga karena sakit. 

Dalam keadaan yatim, Apriani mengambil alih tanggung jawab untuk merawat dan membesarkannya. 

“Dia itu anaknya saudara saya. Jadi memang harus seperti itu. Saya menyanggupi untuk merawatnya,” kata Apriani. 

Keluarga Apriani menjalani hidup sederhana di satu petak rumah. Untuk mengunjunginya, kita harus melewati beberapa deret penjual. Halaman depan rumahnya adalah lorong sekaligus jalan setapak yang dibatasi dinding beton rumah warga lain. 

Ketika beranjak besar, Nia senang berjalan dari lorong satu ke lorong lain. Kebiasaannya adalah satu ritual: menjelang sore sehabis mandi, ia akan duduk-duduk di depan satu toko dekat rumah. Ia tidak pernah sekolah. Tidak bisa baca tulis walau pernah belajar mengaji. 

Di sekitar tempat tinggalnya, beberapa orangtua menganggapnya “gila”. Bahkan untuk menakut-nakuti anak sekitar, mereka merujuk padanya. 

“Itu mi dia selalu marah. Apalagi kalau ada anak-anak kecil yang ganggu,” ujar Sofyan. 

Saya datang ke keluarga ini beberapa kali, dan dalam satu pertemuan, saya membawa anak saya. Nia berusaha bergurau dengan anak saya. 

“Kau masih mau punya anak?” tanya saya 

“Tiaaaakkkkk maauu maaa!” Maksudnya: ia sudah tidak mau. 

Ia lalu melanjutkan percakapan dengan memakai bahasa isyaratnya sendiri. 

“Semoga dia tidak rasakan hamil lagi dan melahirkan sampai dia mau mati,” kata Apriani menirukan ucapan Nia kepada saya.*


Nia selalu dekat dengan putrinya dan berusaha menjalin kontak. Usia putrinya kini menjelang setahun. © Sofyan Syamsul 

---------

Catatan: 
Nama Nia adalah nama samaran.

___


Sofyan Syamsul adalah fotografer lepas bermukim di Makassar. Salah satu fokus dari karyanya adalah isu-isu kemanusiaan. Pindai meminta izin koleksi foto darinya, dan sudah disetujui oleh keluarga asuh Nia, untuk dipakai di sini. Twitter: @Pepeng_ Blog: https://unsharestory.wordpress.com/. Anda bisa melihat karya Sofyan lain lewat akun Instagram @Pepeng_  


------

NB; Naskah ini juga pernah dipublikasikan oleh Pindai.org pada 19 April 2016 : http://pindai.org/2016/04/19/persalinan-terakhir/ 

Tidak ada komentar: