Selasa, 20 Agustus 2013

Bertahan dalam Ingatan

Suasana jalan itu mendadak berubah, dari kemeriahan menjadi penuh erangan kesakitan, darah, dan orang-orang berlari kalang kabut. Tak seorang pun yang tahu kenapa granat itu meledak diantara mereka.

MENJELANG SIANG, pada Sabtu 6 Juli 2013, di jalan Cendrawasih Makassar, tercipta sebuah kerumunan. Anak muda berlarian dengan ucapan tak jelas, sedikit panik. Beberapa kendaraan yang melintas berhenti di sisi jalan, ibu-ibu menengadahkan kepala dari balik pagar rumah. Sesaat terjadi kemacetan. Namun orang-orang di sisi lain jalan, tetap terlihat santai, ada yang main catur, ada pula yang asyik menghisap rokok. Dan jelang beberapa menit kemudian, suasana kembali normal. Jambret berhasil kabur. “Seperti biasa mas,” kata salah seorang dari mereka.

Di Makassar, jalan Cendrawasih adalah jalan utama menuju Gedung Olahraga Mattoanging (sekarang Stadion Andi Matalatta, yang juga merupakan markas tim sepakbola PSM). Jalan ini diapit oleh jalan Andi Mapanyukki dan Rajawali dan diujung lainnya berbatasan dengan jalan Arif Rate dan Haji Bau.