Rabu, 22 Mei 2013

Surat Kami yang Kedua

Dear Tika, yang jauh dipelupuk mata

Semoga harimu tetap menyenangkan. Terus bergerak dan selalu semangat, lalu bernyanyi seperti kebiasaan-kebiasaan yang lama tak kudengar. Meskipun menjengkelkan apalagi saat di kendaraan.

Tapi sudahlah, saya akan bercerita perihal mimpi seperti janjiku beberapa hari lalu. Setelah kuputuskan untuk tidur cepat dan terbangun esok paginya, ternyata saya tak ingat apa mimpi yang kulalui. Rasa-rasanya tidur menjadi hambar.

Kamis, 16 Mei 2013

Surat Cinta Pertama


Pengantar Surat Cinta
Pekan lalu saya dan Tika berencana membeli kertas untuk menulis surat cinta. Namun di salah satu toko alat tulis yang cukup lengkap di Makassar ternyata tak menyediakan keinginan itu. “Ihh, masa kertas begini,” kata Tika.

“Ih masa model surat cintanya begini,” lanjutnya.

Singkat kata, Tika tak menyenanginya. Akhirnya kami memutuskan tak belanja kertas dan amplop surat cinta. Bagaimana dengan rencana kami berkirim surat cinta? Nah siang tadi, ketika hendak menuju Belopa dari rumah keluarga saya di Suli, saya berpikir untuk tetap menulis surat cinta. Tidak melalui kantor pos dan perangko,melainkan melalui jejaring sosial facebook.