Rabu, 22 Mei 2013

Surat Kami yang Kedua

Dear Tika, yang jauh dipelupuk mata

Semoga harimu tetap menyenangkan. Terus bergerak dan selalu semangat, lalu bernyanyi seperti kebiasaan-kebiasaan yang lama tak kudengar. Meskipun menjengkelkan apalagi saat di kendaraan.

Tapi sudahlah, saya akan bercerita perihal mimpi seperti janjiku beberapa hari lalu. Setelah kuputuskan untuk tidur cepat dan terbangun esok paginya, ternyata saya tak ingat apa mimpi yang kulalui. Rasa-rasanya tidur menjadi hambar.


Tapi, saya ada mimpi di hari sebelum saya mengirim surat yang pertama. Bukan mimpi pada malam hari, melainkan mimpi tidur sore. Mau tahu tentang apa, serius… jangan terburu-buru. Tidur sore sebenarnya aktifitas yang menunjukkan bila di kampung tak ada kegiatan. Hanya makan dan tidur, alias mati.

Mengapa ada tidur sore? Sebab jelang pukul 14.00 teras rumah di Suli, sudah tak nyaman untuk mengasoh. Matahari yang condong bergerak ke arah barat, perlahan menampar kursi teras, keadaan itu bertahan hingga jelang 17.30.Jadi setiap membuka pintu rumah, mata akan memicing karena pantulan sinar matahari dari tegel teras.

Meski sebenarnya, hingga awal tahun lalu, teras rumah masih menjadi tempat sendagurau yang menyenangkan. Misalnya menikmati penganan pisang goreng, menyeduh kopi, dan bercerita seenaknya. Suasananya sejuk dan adem, karena ada pohon mangga yang jadi pelindung. Tapi sejak Bapak pulang berlayar, dia memutuskan untuk menebangnya. Alasannya sederhana, batangnya sudah terlalu besar dan tua. Dibeberapa tangkai utamanya terserang hama ulat yang buat keropos. Tak hanya itu,akarnya pun mulai muncul dipermukaan sebesar paha anak kecil. Bapak khawatir akar itu akan menembus pondasi teras yang memang berada di dekatnya.

Entah sampai kapan dan berapa lama lagi menunggu, agar teras rumah kembali adem. Dan sore hari bisa membawa bantal untuk berbaring, dengan mamak dan adik, juga tetangga dan keluarga lainnya. “Ini penggantinya,” kata Mamak,menunjuk pohon mangga depan rumah yang masih setinggi perutku.

Anakan mangga itu adalah pengganti pohon yang ditebang Bapak.

Jadilah tidur sore itu, maka jadilah perihal mimpi itu. Mimpi tentang Ayam dan angka 20. Ketika bangun sekira pukul 17.30, saya terus memikirkannya. Dan tak disangka, saat keluar di teras rumah yang cahaya matahari sudah redup, Asti yang pulang dari sekolah sore diantar oleh seorang keluarga yang bekerja sebagai tukang ojek.

Tapi, saya akan cerita jalan panjang mimpi itu dulu. Pada mulanya, saya melihat diri saya bersama teman-teman mengunjungi benteng Somba Opu. Dalam perjalanan itu, kami mengunjungi perkampungan di sekitaran benteng. 

Lalu seorang penjaga benteng mengajak kami berjalan melalui pematang yang terendam banjir. Dengan menggulung celana, kami berjalan pelan-pelan. Dan tiba-tiba, si penjaga menunjukkan prasasti /semacam nisan yang bergambar ayam. Bentuknya lucu dengan pahatan yang rumit. Maka dipercayalah prasasti itu adalah salah satu artefak langka. “Apa yang khusus dan unik di prasasti ini,” tanya saya.

“Ini adalah lambang Sultan Hasanuddin dan jumlah bulu sayap ayam inihanya ada 20. Ayam petarung yang selalu menang,” jawab sang penjaga.

Maka dari cerita itulah tafsir mimpinya berubah menjadi kode nomer buntut alias togel, hahahhahaha. Mimpi itu lalu kuterangkan ke Om yang tadi antar Asti. Dia pun antusias. Saya memutuskan angka 20 dikalikan Rp20 ribu dan ayam untuk shio dikalikan Rp10 ribu.   

Setelah uang togel itu kuserahkan, esoknya saya bertemu dengan si Om. Mukanya kecewa, nomer mimpi tentang ayam Hasanuddin itu tak naik. “Dikalahki,” katanya.

Saya pun menganggapnya biasa. Kemudian seorang kawan lainnya, memasang angka itu kemarin dan sampai sekarang tafsir mimpi tak pernah beruntung. Sudah tiga hari berlalu.

Saya lalu cerita ke Mamak. Dia marah dan ngomel. Saya membujuknya,kalau nomernya beruntung maka saya dapat sekitar Rp1 juta. Mamak tambah marah, satu titik dan kesimpulannya, sebesar apapun hadiahnya judi tetaplah tidak baik.

Saya mafhum dan berhenti memikirkannya.

Tika sayang…

Kenapa mimpi itu menjadi surat saya, karena itu menyenangkan. Ada hal yang tak pernah dilakukan dan didapatkan di dunia ini terekam jelas dalam mimpi. Mimpi seperti cermin diri, kita bisa mengamati wajah, tubuh, hingga kelakuan kita. Ibaratnya, tubuh yang tidur adalah tuhan, yang mengamati tubuh lainnya bermain dalam dunia mimpi. Mimpi adalah titik rekam kita sendiri. Dan dunia nyata menjadi titik introspeksi dari dunia mimpi.

Sekian dulu ya surat kali ini.

NB: Mengenai kegelisahanmu pada surat balasan itu, jangan terlalu dipikirkan rumit. Berkawan membuat cerita kita di dunia ini akan menjadi cerdas dan terlatih. Ber-intrik membuat kita semakin matang. Hidup hanya dua pilihan: dikenang sebagai orang jahat atau baik.

Dari kekasihmu yang keren,
Eko Rusdianto 


Surat Balasan dari Tika

Untuk Eko tersayang,

Ini adalah suratku yang kedua. Betapa semangatnya aku ingin menulis surat ini untukmu. Aku ingin bercerita tentang kami, kaum perempuan.

Kau pasti tahu, pada 21 April 2013 adalah Hari Kartini. Saat aku membuka facebookku begitu banyak teman mengucapkan kata selamat untuk hari Kartini. Seorang perempuan yang dinobatkan sebagai salah satu pahlawan emansipasi perempuan. Ia sungguh hebat untuk memperjuangkan ketertindasan perempuan di jamannya. Melalui surat-suratnya, ia melawan kebodohan. Ia ingin perempuan agar bebas, merdeka dan berdiri sendiri.

Aku melihat sebuah gambar yang ada wajahnya. Sungguh ayu dia menggunakan kebayanya. Bersanggul sederhana tanpa riasan yang mencolok.

Dalam gambar itu, ia berkata seperti ini;

Jika saja masih anak-anak ketika kata-kata Emansipasi belum ada bunyinya, belum berarti lagi bagi pendengaran saya, karangan dan kitab-kitab tentang kebangunan kaum putri masih jauh dari angan-angan saja, tetapi di kala itu telah hidup didalam hati sanubarai saya satu keinginan yang kian lama kian kuat, ialah keinginan akan bebas, merdeka, berdiri sendiri.

Tulisan itu adalah penggalan suratnya kepada Nona Zeehandelaar pada 25 Mei 1899.

Sungguh keinginanku pun begitu kuat seperti Kartini. Aku pun ingin melihat perempuan bebas, merdeka dan berdiri sendiri. Kami, perempuan adalah manusia yang derajatnya sama dengan laki-laki. Kita semua tentu saja memiliki hak yang sama.

Eko,

Aku ingin memuji seorang Kartini. Tapi aku tak ingin orang-orang lupa bahwa kita tak hanya memiliki satu pahlawan perempuan saja. Yah, mereka berjuang dengan cara yang berbeda-beda. Seperti saat ini, semakin banyaknya perempuan-perempuan yang melakukan perjuangan dengan begitu tulusnya.

Begitu banyak yang mesti kami lawan sebagai perempuan. Kami ditindas dengan sangat angkuh. Kami disuruh ke dapur. Memasak dianggap takdir kami. Beberapa dari kami tak diijinkan sekolah tinggi-tinggi. Tak diakui mampu menjadi seorang pemimpin. Dan begitu banyaknya penderitaan yang kami alami.

Yang menyesakkan dada adalah, kami dijadikan objek kekerasan dan pelecehan. Begitu banyaknya dari kaum kami mengalami perkosaan dan menderita trauma sepanjang hidupnya. Banyak pula dari kaum kami yang meninggal karena tak mendapatkan akses kesehatan yang semestinya pada saat ingin melahirkan. Belum lagi kaum kami yang meninggal karena aborsi tidak aman karena pendidikan seks yang ditabukan, akses kontrasepsi yang tidak merata dan kami dianggap memalukan ketika mengalami kehamilan sebelum menikah.

Oh Eko,

Betapa ini sangat tidak adil. Ketika kami hamil sebelum menikah, orang-orang akan menghukum kami. Mencaci kami seperti ia adalah pemilik hidup kami. Kami dianggap sampah masyarakat. Keadilan masih sangat jauh dari hidup kami.

Bandingkanlah dengan perlakukan orang-orang terhadap laki-laki ketika ia menghamili perempuan sebelum menikah. Aku belum pernah mendengar orang mencemooh dengan kasar seperti mereka mencemooh kami.

Tak hanya itu, kami dikekang oleh orang-orang dengan mengatasnamakan agama. Kaum kami diAceh, mereka dilarang menggunakan celana panjang, tertawa keras, duduk mengangkang hingga kentut pun diatur. Mereka sungguh keterlaluan.

Hari ini, aku menyaksikan ketidakadilan itu di keluargaku. Seorang adik perempuanku akan dijodohkan. Ia dipaksa menikah dengan sepupu kami yang tidak kami kenal dengan akrab. Betapa aku tak tega dan marah dengan tindakan orang tua kami. Aku menunjukkan perlawanan demi adikku yang matanya telah bengkak akibat menangis. Ia belum siap menikah, belum siap menjadi istri siapapun. Ia ingin bekerja.

Aku mengumpulkan dukungan dari kakak-kakakku juga adik-adikku. Kami semua mencoba untuk menentang. Ibu-ibu kami marah. Om kami tak peduli, ia tetap pada keputusannya. Aku masih mencari cara lain untuk membatalkan perjodohan yang terburu-buru ini. Aku tak ingin adik perempuanku tak menemukan kebebasannya. Ia pun mempunyai hakuntuk menentukan dengan siapa dan kapan ia ingin menikah.

Ia terus menerus menangis. Kami kebingungan tapi kami tetap bertahan pada keputusan bahwa kami tak sepakat dengan perjodohan ini.

Eko tersayang,

Doakan dan dukung kekasihmu ini berjuang untuk perempuan-perempuan yang haknya telah direnggut. Banyak laki-laki yang tidak mampu menerima pasangannya dengan bijak. Banyak laki-laki yang menolak kesetaraan. Aku percaya itu bukan kau, sayang.

Kau selalu memotivasiku ketika aku lelah dengan perjuangan ini. Kau mengirimkanku artikel dan bahan bacaan untuk menambah referensi dan kekuatanku. Kau membantuku membuatkan kopi saat seseorang datang bertemu denganku dan melakukan konseling. Sungguh aku begitu bahagia dengan cara-caramu mendukungku.

Aku ingin berterimakasih padamu. Betapa aku bersyukur menjadi kekasihmu. 

Peluk rindu untukmu,
Tika, kekasihmu yang jago bernyanyi...


Tidak ada komentar: