Kamis, 03 Januari 2013

Mencoba Rute Sorowako-Palopo

Sabtu, 29 Desember 2012 cuaca di Sorowako, Luwu Timur, cukup cerah. Suasana hangat dan hati saya gembira. Hari ini saya akan melakukan perjalanan panjang, menyusuri sepanjang 645 km. Perjalanan itu akan saya lakukan dengan teman dekat saya, Sartika.

Perjalanan ini sebenarnya jauh sudah kami rencanakan, namun selalu tertunda, baru pada akhir Desember mendadak semuanya berjalan. Agak “ringkih” juga bila panjangnya rute yang kami lalui ini dikatakan perjalanan, atau semacam ekspedisi. Hanya main-main dan ingin menikmati Sulawesi Selatan dengan hembusan angin, dengan jalan bergelombang, berlubang, dan sengatan matahari.

Malam sebelumnya saya sudah mengepak beberapa peralatan, ke dalam tas ransel 22 liter. Ada kamera dan buku catatan, dan beberapa potong baju. Selanjutnya dua buah buku bacaan The Bugis karya Crhistian Pelras dan The Heritage of Arung Palakka karya Leonard Andaya juga tak luput. Saya memulai tarikan gas dari rumah kontrakan di jalan Gunung Dieng F350, melewati dua buah speed jump, membelok ke jalan Gunung Sumeru, mengisi bahan bakar bensin botolan lalu melaju.

 
Perjalanan ini adalah pemanasan untuk menguji kekuatan saya berkendara. Saya memulainya dari Sorowako ke Palopo, kemudian Sengkang ke Parepare dan akhirnya berakhir di Makassar. Tujuan akhir Makassar inilah, yang sekaligus menjadi tempat awal menulis catatan. Di warung kopi dengan hujan, dengan kopi, dan dengan hiruk pikuk.

Selama perjalanan lima hari – terhitung pada Sabtu hingga Rabu – kegelisahaan saya memuncak, kecanduan saya memegang tuts komputer untuk menulis perjalanan menjadi candu yang harus segera dilakukan. Seperti berak, yang bila ditahan akan membuat diri menjadi sakit. 

RUTE PERTAMA, sekitar pukul 09.00 motor matic Honda Beat yang saya kendarai meliuk di jalan aspal yang kuat, melewati tikungan, menikmati deretan pohon di pinggir jalan, mendaki, menurun, dan memandangi sungai Larona. Beberapa kali saya berteriak kegirangan di atas kendaraan. Jalan dari Sorowako menuju Malili ibukota Kabupaten Luwu Timur sepanjang sekira 60 km. Jalan mulus itu, dibangun PT Vale perusahaan penambang Nikel untuk jalur kendaraan tambang dan kendaraan umum. Jalan-jalan itu lebar.

Saya beberapa kali melakukan perjalanan dari Sorowako menuju Malili, dari mulai waktu Pagi, Siang, hingga menjelang malam. Waktu menyenangkan melakukan perjalanan di jalur itu adalah jelang malam. Selalu menemukan kabut dan melihat pepohonan seakan berubah wujud. Berubah untuk istirahat, berubah pandangan warna dari hijau menjadi hitam.

Tebing-tebing gunung menonjolkan batuan keras. Ada beberapa semburan air yang keluar dari balik batu, indah nian kelihatan.

Menurut cerita masyarakat sekitar, jalur tambang itu dibangun ketika PT Vale yang sebelumnya PT Inco membangun pabrik pengolahan nikel di Sorowako. Perusahaan itu, membangun infrastruktur yang kuat, namun hanya memikirkan kepentingan pribadi perusahaan.

Mahade Tosalili, salah seorang tokoh masyarakat di Sorowako, bilang pada saya, jalur itu untuk mempercepat akses kendaraan membawa material dari pelabuhan Balantang di Malili ke kawasan pabrik di Sorowako, begitupun sebaliknya. Namun, perusahaan itu membangun jalur baru, tidak mengikuti jalur yang sebelumnya sudah ada.

Jalur baru, atau jalan aspal yang saya lalui itu, sebenarnya telah menghilangkan salah satu pusat kota di wilayah Luwu Timur. Yakni, Tabarano. Tabarano yang saat ini berada di wilayah Kecamatan Wasuponda, kini jadi terpencil, hanya ada jalan kerikil, kubangan berair, dan jalan tanah. Bila hujan mengguyur, untuk mencapai Tabarano harus menggunakan kendaraan 4WD atau kendaraan roda dua; motor trail. Dan nyali yang kuat.

Untuk itu, kewaspadaan mengemudi menjadi bagian paling penting, sebab di sisi kanan selalu mengintai jurang dengan kedalaman puluhan meter. Jalur Tabarano itu melingkar menghubungkannya dengan Wondula – saat ini menjadi wilayah Kecamatan Towuti.

Tabarano pada masa pra kemerdekaan sampai tahun 1975 adalah daerah makmur dan menggeliat. Di tempat itu ada sekolah, kantor distrik pemerintah Belanda, dan pusat perdagangan masyarakat setempat.

Tapi cerita dengan sekejab sirna sudah. Jalur baru yang dibangun perusahaan membuka akses lebih lebih cepat, dari pertigaan desa Wasuponda-Tabarano, tak perlu menempuh puluhan kilometer dengan jalan sempit untuk mencapai pesisir danau Towuti, melainkan menembak lurus menuju desa Asuli. Jalan itu seakan memotong membelah gunung, mengeruk, dan seakan melayang dari pusat kecamatan Towuti yang berada dibawahnya.

Mahade Tosalili mengatakan pada saya Tabarano adalah  tempat penting. Daerah yang menjadi tujuan utama anak-anak muda, untuk sekolah dan mencari pekerjaan. Mahade sendiri sekolah di Tabarano. Bahkan menjadi gengsi sendiri bila masyarakat belanja di Tabarano. “Oeee, kalau malam, itu juga banyak cewek. Banyak sekali, ma’dero,” katanya.

Mahade adalah seorang yang ramah, suka tertawa terbahak. Saya dan dia sering berbincang di rumah kebunnya di daerah pantai Kupu-kupu Salonsa, Sorowako. Pada masa-masa awal perusahaan tambang memasuki Sorowako, dia juga menjadi karyawan dan menjadi kepala desa hingga beberapa puluh tahun.

Rumah kebun Mahade tenang sekali, berdiri di pesisir danau Matano – salah satu danau terdalam di dunia dan terdalam di Asia – kaki-kaki bangunannya menancap dibawah permukaan air. Kolong rumah kebun itu dilingkari kawat jaring untuk memelihara ikan. Jika duduk di beranda rumahnya, riak gelombang dari Matano, hembusan angin, kepulan asap rokok, dan pekat kopi seperti perekat keintiman kami.

Sementara dalam lain kesempatan, saya berkunjung ke Tabarano. Membayangkan seberapa megah daerah itu dari tuturan Mahade. Namun, saya kecewa. Saya lirih melihat keadaannya. Tabarano bagai seorang tua yang ditinggal anak-anaknya. Hanya ada beberapa rumah, area perkebunan, petakan kecil sawah, kerbau yang mengasoh dikolam lumpur, sekolah, masjid, dan beberapa anak berlarian. “Semua orang mulai meninggalkan desa, anak-anak mau lanjut sekolah memilih Wasuponda atau Malili,” kata salah seorang warga. Tak ada SMU di Tabarano.

Akhirnya tak ada lagi keriuhan, seperti ungkapan Mahade.

Motor saya melaju dengan kencang. Ungkapan-ungkapan di kepala seakan berburu seperti deras nyanyian sembrono yang kunyanyikan dari balik helem. Kini, saya telah mencapai wilayah Malili, melewati SPBU. Tempat puluhan, bahkan ratusan kendaraan yang antri setiap hari. Tempat dimana bila pengendara mendapat sial disiang hari akan memperoleh tulisan; habis. Alias bahan bakar habis.

Tapi disatu sisi, penjual eceran di depan SPBU selalu saja tersedia. Dengan harga perbotol Rp6 ribu. Menurutku, inilah salah satu wilayah di Sulsel yang paling sering kehabisan bahan bakar. 

RUTE KEDUA, saya sudah bersama Tika, memacu gas motor menuju Palopo. Kami melewati kampung adat Cerekang, tempat yang dipercaya sebagai titik pertama manusia pertama di dunia menjejakkan kakinya di tanah dalam epik I La Galigo. Kampung yang hingga kini masih mempertahankan nilai-nilai leluhur yang kuat.

Orang-orang Cerekang tak memakan buah pisang kepok – dalam bahasa lokalnya utti manurung. Pemimpin spiritual masyarakat Cerekang bergelar Pua’. “Utti Manurung, itulah penjelmaan buah khuldi yang mengusir Adam dari Surga,” kata Pua’ Cerekang.

Saya memiliki beberapa kawan dari Cerekang. Dalam beberapa perbincangan, mereka menjelaskan bagaimana pisang Manurung itu, memberikan efek pada tubuh, ada yang gatal-gatal, muntah darah, bahkan buang air besar dengan darah. Percaya atau tidak itulah yang mereka alami.

Beberapa literatur bugis kuno menuliskan, Cerekang memiliki peranan penting bersama tetangganya kampung Ussu. Cerekang menjadi pusat spiritual dan Ussu menjadi pusat pemerintahan hingga perdagangan kerajaan Luwu sekitar abad ke 2 hingga ke 5.

Pada kepercayaan masyarakat Luwu, manusia pertama itu bernama Batara Guru – bahasa lokalnya to manurung – yakni dewa atau penghuni langit yang diturunkan ke bumi. Dalam konteks secara umum, epik I La Galigo menjelaskan pembagaian alam semesta dalam tiga bagian, yakni dunia atas tempat bertahtanya para dewa. Dunia tengah tempat para manusia dan binatang yang disebut bumi, dan dunia bawah.

Ketika berkunjung ke Cerekang, saya bertemu Muchsin seorang tokoh masyarakat. Dia bilang pada saya, untuk mengisi dunia tengah atau bumi, Batara Guru (nama manusia pertama) dinikahkan dengan We Nyili Timoq dari dunia bawah. We Nyili Timoq dipercaya menyembul keluar dari air (lautan). 

“Apakah dunia bawah itu adalah dunia kegelapan? Atau dunia dari bawah tanah,” tanya saya. 
“Tidak,” jawabnya singkat.

Menurut dia, dunia bawah itu merupakan perwujudan kesempurnaan tiga unsur. “Saat ini, yang bisa terlihat dengan jelas, penghuni dari dunia bawah adalah ‘nenek’ – buaya,” katanya. Secara umum, di beberapa wilayah Sulsel, penyebutan kata buaya akan dianggap tak sopan atau lancang. Masyarakat mempercayai buaya sebagai mahluk yang memiliki darah turunan dengan manusia.

Desa Cerekang berada di jalan poros utama provinsi yang menghubungkannya dengan Malili, ibukota Kabupaten Luwu Timur. Aspalnya tidak sekuat jalan tambang yang dibuat perusahaan. Melainkan kelihatan lunak. Melajukan kendaraan pada saat aspal sedang basah atau diguyur hujan akan sangat licin. Roda kendaraan seakan berputar di tempat. Pada malam hari, cahaya dari kendaraan membuat permukaan aspal seperti cermin pantul. “Saya tidak tahu kenapa, tapi sudah sejak dulu. Kalau tidak hati-hati bisa kecelakaan. Itu aspal permukaannya seperti dilapisi minyak tanah,” kata Dede, seorang sopir angkutan umum Sorowako – Palopo.

Saya dan Tika cukup beruntung. Pada hari kami melewati jalur ‘maut’ seperti ungkapan Dede, matahari sedang bersinar terang. Ban kendaraan seperti lengket dengan permukaan aspal.

Kini setelah beberapa waktu, kami berjumpa dengan deretan pohon kelapa sawit di wilayah Tarengge. Wilayah ini merupakan percabangan menuju Kabupaten Sulawesi Tengah hingga menembus Sulawesi Utara. Di Tarengge, ada beberapa warung pinggir jalan yang tersedia. Menyediakan beberapa keperluan para pejalan, ada makanan ringan, berbagai jenis minuman, hingga penganan seperti gogos (ketan hitam yang dibungkus dengan daun kelapa), lalu dibakar. Rasanya cukup nikmat bila disajikan dengan telur bebek, plus sambal tumis sederhana. Dijamin akan menjanggal perut Anda dalam melakukan perjalanan.

Melewati Tarengge, saya dan Tika memasuki Kecamatan Wotu. Kampung Wotu, pada periode epik I La Galigo, dikenal sebagai tempat para arsitek dan perajin ulung. Wotu dipimpin oleh Macoa Bualipu.

Saat ini, Wotu menjadi pusat medis dan rujukan utama masyarakat Luwu Timur, karena berdiri rumah sakit umum daerah (RSUD I LA Galigo).

Setelah meninggalkan Wotu, kami memasuki Kabupaten Luwu Utara. Beristirahat sejenak di Masamba, ibukota kabupaten. Kami meneguk kopi dekat budaran tugu Masamba Affair tepat di depan bandar udara Andi Djemma. Masamba adalah kota kecil yang ramah. Geliat ekonomi di wilayah ini cukup menjanjikan.

Tak hanya itu, Masamba juga terkenal sebagai penghasil bua kakao yang unggul. Ada ratusan hektare kebun kakao dan hampir 90 persen dimiliki masyarakat. Kakao membuat sisi jalur yang kami lewati memamerkan rumah-rumah beton yang cantik dengan beragam konsep. Tak hanya itu, di Masamba juga telah didirikan sebuah pabrik pembuatan coklat kemasan yang siap makan, meskipun masih dalam skala kecil tapi cukup nikmat untuk dikunyah.

Tak hanya itu, di depan kedai kopi tempat kami melepas lelah, sebuah jalan memanjang menuju desa Malangke. Malangke pada periode tahun 1980-an terkenal sebagai penghasil jeruk. Namun dari sisi sejarah, Malangke memiliki cerita sejarah yang agung di tempat inilah kerajaan Luwu mencapai periode emas dan cemerlang. Masa kejayaan.  

Pusat kerajaan Luwu berpindah dari Ussu ke Pattimang (30 km dari Masamba) pada abad ke 15. Salah satu alasan pemindahaan, sebab kerajaan membutuhkan tempat dan wilayah yang strategis, pelabuhan Cappasolo yang besar, sagu sebagai bahan makanan utama pun melimpah. Industri besi, emas dan hasil alam dari hutan dikapalkan melalui sungai Rongkong dan Baebunta. Saat itu Luwu dipimpin Andi Pattiware.

Tapi menjelang periode kedatangan penyebar islam ke Sulawesi yakni Abdul Makmur (Dato ri’ Bandang), Sulaiman (Dato ri’ Pattimang), dan Abdul Jawad (Dato ri’ Ditiro), ketiganya tercatat sebagai orang Minangkabau yang belajar agama di Aceh. Kejayaan Luwu mulai meredup. Gowa sudah menjelma menjadi raksasa utama.

Di Makassar, dakwah para ulama ini mengalami penolakan dan pertentangan besar. Dan akhirnya Dato Sulaiman menuju Luwu. Pada 5 Februari 1605, Andi Patiware akhirnya memeluk islam. Salah satu kronik Wajo mencatat, bila para penyebar agama Islam memilih Luwu yang diislamkan pertama kali, karena mengetahui bila kemuliaan yang sebenarnya berada di Luwu, meski kekuasaan berada di Gowa.

Oh ya, gelar Pattimang pun diberikan ketika Pattiware memeluk Islam. Pattimang dalam bahasa lokal adalah meminang. Pada April 2012, ketika mengunjungi wilayah Pattimang di Malangke, tak ada sedikitpun jejak kerajaan Luwu yang agung itu. Hanya ada makam Andi Patiware dan Dato Sulaiman. Selebihnya sebuah bangunan kecil dan tugu beton yang sederhana. Kisah tentang rumah raja yang tinggi dan besar tak ada. Hanya bisa diraba melalui catatan sejarah dan tuturan para sejarawan.

Dari Masamba, saya dan Tika memasuki wilayah Sabbang dan Baebunta. Daerah pada akhir tahun 1990-an mengalami konflik berdarah yang berujung pada pertikian keyakinan; nasrani dan muslim. Ada ratusan rumah yang terbakar dan diperkirakan ada ratusan nyawa pula yang melayang, dari anak kecil sampai orang tua.

Saya masih ingat, ketika duduk di SMP bersama nenek mengunjungi kebun kami di Malili, masih terlihat puluhan rumah di pinggir jalan sisa amukan. Itu selalu membuat saya bergidik. Tapi, saat saya melaluinya sekarang gambaran itu sudah lenyap. Luka lama itu, sudah menjadi kenangan, meskipun beberapa kawan masih membicarakannya dengan lafal yang hati-hati.

Namun bukan hanya itu, Sabbang juga terkenal dengan jagung rebusnya. Berderet dekat sungai Rongkong – aliran sungai besar yang menghubungkannya dengan Toraja. Sungai ini memiliki arus yang kuat, banyak para pencinta arum jeram sering menjajalnya.

Selain sungai, ada juga warung pinggir jalan yang menyediakan penganan jagung rebus. Warung-warung itu menjadi tempat favorit para pejalan. Jagungnya besar-besar dan manis-manis. Jagung itu selalu disajikan panas-panas, membuka sendiri kulitnya, membersihkan bulu rambut yang masih menempel di sela-sela biji jagung, kemudian mecocolnya di sambal ulekan garam dan cabai yang pedas. Dan jangan lupa memerahkan jeruk nipis, dijamin akan kecanduan malahap jagung itu sampai perut kekenyangan.

Sekitar pukul 16.00, saya dan Tika memasuki kota Palopo. Kami tak sampai mendapatkan prosesi pemakaman raja Luwu. Namun pada malamnya kami melayat ke Istana Luwu, dan berbincang hingga dini hari dengan orang-orang istana.. (BERSAMBUNG)

3 komentar:

Anonim mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
Fandhy Bonthaink mengatakan...

sesama anak sulsel harus saling berkunjung...

http://f4ndhy.blogspot.com/

Unknown mengatakan...

Tdk tau apa ku searching, dan tiba2 dapat tulisan ini. Pas sampai di paragraf sekian yg melewati sabbang, kau malah membahas jagungnya. Kau tdk ingat punya kenalan di sabbang yg rumahnya di seberang sd samping gereja he he he