Kamis, 11 Oktober 2012

Tuan Penembak

Saya belum sempat menghitung berapa serdadu yang hadir di lapangan itu, ketika kulihat kepala seorang lelaki tertembus peluru. Darahya mengalir seperti keluar dari hidung, lalu merembes ke tanah. Badannya tertelungkup. Hanya menggunakan celana kolor.

Di dekat tempat penembakan itu, ada ratusan perempuan dan puluhan anak kecil tertunduk lesu di bawah kolong rumah, mereka hanya bisa menangis. Sesekali menjerit, tapi seketika dibentak serdadu lainnya. Dan suara kembali diam. Saya masih mengawasi wajah-wajah para perempuan, mencari rupa istri, adik, atau anak-anak dari laki-laki yang tertembak itu. Tapi tiba-tiba suara pistol kembali meletus, lelaki lainnya kembali terjungkal, rebah ke tanah.