Jumat, 29 Juni 2012

Famajjah


Lukisan Opu Daeng Risaju oleh Musly Anwar
Aku mengenal namamu pertama kali sebagai nama sebuah lapangan sepakbola di Belopa, Kabupaten Luwu. 

Opu Daeng Risaju begitulah engkau disapa. Meskipun kau punya nama asli Famajjah. Aku tentu tak pernah melihatmu, karena kau lahir tahun 1880, sementara aku jauh sekali dibawahmu tahun 1984. Tak ada catatan mengenai bulan dan hari kelahiranmu. Orang-orang di daerah kelahiranmu pun tak pernah membicarakanmu. Siapa kau sebenarnya? 

Jumat, 15 Juni 2012

Bulu Poloe dalam Dua Masa

Bulu Poloe Malili, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
Mengunjungi Bulu Poloe seperti melawat ke masa lampau. Masa yang penuh misteri, masa dimana orang-orang tunduk dengan kehendak dewa. Saya berusaha membawa diri kembali pada abad ke 12 hingga 16, mereka-reka adegan dari beberapa bacaan. Dimana ketika itu, kerajaan Luwu begitu tersohor di pusatnya Ussu. Masa dimana epik I La Galigo diciptakan. 

Bulu Poloe adalah bagian dari perjalanan cerita I La Galigo. Satu dari banyak adegan yang menimbulkan drama mencekam. Saya mendengar nama Bulu Poloe, pada saat bersekolah di SMP. Mendengar ceritanya dari nenek, tentang sebuah gunung yang terbelah ketika Sawerigading, orang tua I La Galigo menebang pohon Walenrenge.

Kamis, 14 Juni 2012

Menunggu Kisah Ikan Purba

Danau Matano, di Kawasan Pontada Sorowako. 
Saban sore, apa lagi di akhir pekan pesisir danau Matano selalu saja ramai. Ada rombongan anak muda, ada rombongan keluarga, semua bergembira dan berenang bersama. Di dalam air ikut pula, ikan Opudi dan Luohan melenggok mengikuti gelombang, lembut sekali. Dan pada kedalaman tertentu, ada ikan Butini.

Opudi dan Butini adalah ikan purba endemik yang hidup di danau Matano. Opudi bentuknya lucu, kecil, punya beberapa varian. Ada yang siripnya putih, ada juga yang siripnya kuning. Sementara Butini lebih gelap, punya mulut yang lebar, gigi dan rahang yang kuat. Siripnya juga lebar-lebar.

Selasa, 12 Juni 2012

Dari Rumah Kenangan

SEBENARNYA rumah kami menghadap sungai. Tapi aliran sungai tak tampak juga, meskipun saya memanjat di pohon jambu. Sungai deras dan mengalir cepat itu, terhalang kebun-kebun kakao yang subur. Pucuk-pucuknya warna hijau muda dan beberapa menguning, karena hama pengerat.

Tebing-tebing sungai adalah tanah liat yang lengket. Bila kena air, akan sangat licin. Bermain luncuran akan sangat menyenangkan. Di bibir tebing itu ada pohon Bau yang daunnya lebar-lebar seperti mangkuk. Di bawah rindangnya, permukaan air tenang sekali, bila berenang memasuki sela-selanya, udaranya sangat sejuk. Saya dan teman-teman sering bermain sembunyi-sembunyi.