Senin, 30 April 2012

Masa Gemilang Pattimang

Gerbang utama memasuki kompleks makam Andi Pattiware dan Datu Sulaeman, di desa Pattimang, Kecamatan Malangke, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan.
Sebuah desa kecil nan terpencil menyimpan kejayaan masa lalu kerajaan Luwu.
DESA Pattimang sedang bersolek. Gerbang utama kompleks situs pemakaman Datu Sulaiman dan Andi Patiware dicat ulang. Di kiri-kanan jalan dihiasi walasuji atau bambu yang dirajut dengan indah, hingga terlihat seperti pagar. Di depan gerbang utama itu, penduduk mendirikan bangunan dari atap daun sagu, seakan membungkus badan jalan, sebagai tempat melakukan manre sappera atau makan bersama sepanjang 1 kilometer.
Persiapan melakukan hajatan manre sappera itu berlangsung selama seminggu. Menghidangkan sekitar 110 jenis makanan tradisional dan dihadiri puluhan raja dari se-Nusantara.

Minggu, 15 April 2012

Obrolan Sore di Pesisir Matano

Mahade Tosalili, 76 tahun.  

Rumah kebun Mahade, berdiri diatas permukaan air danau Matano. Punya satu ruangan utama. Di situ ada dapur dan sebuah ranjang kayu dengan kasur lipat. Di beberapa bagiannya, ada peralatan berkebun berjejer.   

Saya berkunjung ke tempatnya pada Kamis, 12 April 2012, sekitar pukul 14.00. Dia menerima saya, di beranda belakang rumah. Halaman belakangnya adalah hamparan permukaan danau Matano. Kami bersendagurau di beranda itu, sembari mengisap rokok dan tertawa sesekali. 

Rabu, 11 April 2012

Bertemu Pappilio androcles

Saat mengunjungi Bantimurung, hal yang paling membuat nyaman adalah air terjunnya. Saat mendekatinya gemuruhnya membuat suasana menjadi hangat.
Mengunjungi Bantimurung, seperti mengunjungi bagian daratan lain di Sulawesi Selatan. Sejuk dan memikat, ibarat taman firdaus Nabi Adam sebelum diturunkan ke bumi.  Di sana ada air terjun, gunung-gunung karst yang terpisah seperti pulau, tebing batu, dan kupu-kupu. 

Pada tahun 1857 seorang naturalis Inggris, Alfred Russel Wallacea mengunjunginya, dan menulis tentang kehebatan taman cantik itu. Wallacea menemukan beberapa serangga mengagumkan, kupu-kupu adalah yang paling menarik hati. Dia mencatat ratusan spesies serangga dan menggambarkan kupu-kupu Pappilio androcles yang cantik.

Selasa, 10 April 2012

Bapak Erang dan Pui-puinya

Bapak Erang saat melakukan demo di Sanggar Alam Benteng Somba Opu, Sabtu 7 April 2012.

Mudding Daeng Erang – akrabnya Bapak Erang, seoarng pendiam dan tidak banyak bicara. Penyendiri dan tak senang basa-basi. Bicaranya polos dan tak menyenangi akal-akalan apalagi kebohongan. Hidupnya lurus seperti kisahnya dalam mengabdikan diri didunia kesenian. Saya bertemu dengannya di Sanggar Alam Benteng Somba Opu, pada Sabtu 7 April 2012. 

Usia bapak Erang sudah lebih dari 60 tahun. Rambutnya memutih. Dia tinggal dan berumah di Kabupaten Takalar sekitar 20  km dari Makassar. Di Sanggar Alam Benteng Somba Opu, dia membantu kakaknya Serang Dakko menjalankan roda kesenian.

Minggu, 01 April 2012

Satu Rumah, Satu Halaman

Di sekitar kolam Patea Sorowako,  luasnya sekitar 1 hektare, ada beragam kehidupan dan mahluk yang menghuninya. Suara burung saling bersahutan, percikan air dari kibasan ikan, tumbuhan aneka warna, hingga para serangga. Mereka seperti para penggoda dan perayu ulung. 

Hidup di satu rumah dengan halaman yang sama. Mereka bertemu, saling tahu, saling membutuhkan, dan juga saling membunuh.