Senin, 24 Desember 2012

Sebuah Komunitas, Sebuah Dunia

Semua bermula dari tuturan di periode tahun 1990-an, tentang sebuah desa bernama Cerekang. Tentang sebuah sungai, tentang sebuah bukit, dan riwayat seorang bernama Sawerigading.

Waktu itu, saya masih duduk di sekolah dasar. Kampung saya bernama Suli (sekarang Kabupaten Luwu). Setiap liburan sekolah, nenek saya mengajak ke kebunnya di desa Pabeta dan Malaulu (sekarang Kabupaten Luwu Timur). Jarak tempuh menggunakan kendaraan umum sekitar  lima  jam. Berangkat pagi dan tiba sore.
Kebun pertama yang selalu disambangi adalah Pabeta. Kebun kakao yang luasnya sekitar 1,5 ha. Biasanya kami akan bermalam selama dua malam, kemudian mengunjungi kebun di Malaulu selama dua hari juga. Saya selalu senang ketika mengunjungi kebun di Malaulu. Nenek adalah seorang yang suka bercerita, menjelaskan banyak hal yang saat itu masih kuanggap rumit.

Salah satu yang paling membekas ketika mikrolet yang kami tumpangi menapaki jembatan kayu di desa Cerekang. Dia selalu menunjuk aliran sungai yang jernih dan ditumbuhi rumput – seperti padang lamun. Menurut dia, rumput-rumput itu adalah jelmaan dari rambut We Cudai, seorang perempuan cantik nan jelita, ketika mandi. “Jadi tae na wa’ding dikittai sola dikittemei te salu,” katanya. Artinya; untuk itu sungai ini tak boleh menjadi tempat membuang air kecil dan air besar.

Nenek juga menunjuk bukit yang berada di samping sungai (yang kelak kuketahui namanya Pensimoni). Dia bilang, gunung itu pun tak boleh dimasuki, sama sakralnya dengan sungai. Sebenarnya saya selalu penasaran dengan cerita itu, pernah suatu waktu meminta nenek berhenti, sekedar untuk memegang air atau berenang di pinggiran sungai. Tapi ternyata tak pernah dipenuhi. Kecewa.

LAMA NIAN cerita-cerrita itu mengendap di kepala hingga lulus SMU. Dan ketika kuliah saya masuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni. Saya belajar membaca buku seni, perbincangan budaya dan akhirnya jatuh hati pada sejarah.

Pada 2008, saya memulai karir jurnalistik. Saya menulis banyak hal dan yang paling membuat saya terpikat adalah isu sejarah, budaya dan kesenian. Lalu pada 2010, saya bertemu, wawancara dan menulis pendeta bugis kuno atau yang lebih dikenal dengan Bissu. Saya menemukan banyak kebahagiaan, dan akhirnya jatuh cinta dengan Bugis dan secara luas Sulawesi Selatan.

Bissu Saidi, pada pertemuan saya yang kesekian kali bertutur, selain dirinya ada juga beberapa komunitas di beberapa daerah Sulawesi Selatan yang masih memelihara tradisi, seperti komunitas Kajang di Bulukumba, To Lotang di Sidrap, Karampuang di Sinjai, dan Cerekang di Luwu Timur. Komunitas-komunitas ini seperti oase bagi saya di tengah dunia modern. Dia seperti penanda peradaban kampung halaman saya, Sulawesi Selatan.

Tapi pada tulisan ini saya hanya menulis mengenai Cerekang. Dan perjalanan pun dimulai.
Pemimpin adat dan spiritual masyarakat Cerekang bergelar pua’. Pua’ dalam pengertian bebasnya adalah penjelmaan dari orang-orang yang bersih dan terpilih. Pemilihannya tidak dilakukan dengan musyarawah melainkan melalui penunjukan langsung dari sang pencipta.

Pada Minggu, 2 Desember 2012, pada sebuah siang di Cerekang, saya bertemu Muchsind Daeng Manakka (60 tahun), seorang tokoh masyarakat. Menggunakan batik sederhana, songkok dan sarung, dia menemui saya di ruang tamunya yang sederhana. Rumahnya tepat di ujung jembatan Cerekang. Rumah itulah yang selalu saya saksikan puluhan tahun lalu ketika melintasi jembatan itu bersama nenek.

Muchsind Daeng Manakka adalah seorang dengan pembawaan yang ceria. Jika bercerita, gigi ompongnya dibagian bawah akan terlihat. Dikatakannya, untuk menjadi pua’ pada awalnya seseorang akan mendapatkan pammase atau wangsit dari dalam mimpi. Kemudian tokoh-tokoh masyarakat juga akan mendapatkan petunjuk yang sama. “Di Cerekang, jika petunjuk itu datang, kita tak dapat menolaknya,” katanya. “Bila menolak akan pendek umur.”

Di Cerekang, ada dua orang pua’, laki-laki dan perempuan. Pua’ laki-laki mengurusi mengenai hubungan manusia dengan pencipta. Sementara pua’ perempuan mengurus masalah adat yang berhubungan dengan bumi.

Arkeolog Universitas Hasanuddin Makassar, Iwan Sumantri, mengatakan Cerekang pada masa lalu merupakan hidden centre atau pusat tersembunyi yang mengatur kerajaan dari sisi spiritual dan masalah internal atau bahkan penjaga kerajaan. Sementara untuk pusat yang berkuasa keluar adalah wilayah Ussu. 

Beberapa literatur menuliskan, berkembangnya Ussu dimulai pada abad ke 14, karena menjadi “pusat nyata” kerajaan Luwu. Salah satunya adalah laporan OXIS yang dilakukan Iwan Sumantri (Unhas Makassar), David Bullbeck (Australia National University), dan Bagyo Prasetyo (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional) tahun 1998, yang kemudian dirangkum dalam buku Kedatuan Luwu, menjelaskan Ussu pada masa itu, menjadi pusat teknologi sebagai ibukota kerajaan Luwu. Memproduksi parang, tombak, keris dan lain-lain, yang kemudian terkenal sebagai pamoro Luwu atau bessi to Ussu.

Sementara Cerekang yang hanya berjarak sekian ratus meter dari Ussu, tetap berdiam diri. Tetap menjadi pusat mistis kerajaan Luwu. Dalam epik I La Galigo yang jumlah halamannya mencapai  6000, 300.000 baris dan terbagi dalam 12 jilid penulisan dan konon naskah ini satu setengah kali lebih panjang dari epos Mahabarata yang hanya memiliki panjang 200.000 baris, menjelaskan posisi Cerekang.

Dikisahkan turunnya manusia pertama (to manurung) di dunia bermula di sekitaran bukit Pensimoni wilayah Cerekang. Manusia itu bernama Batara Guru, anak dari dewa penentu takdir Patotoe dari negeri atas. Batara Guru kemudian menikah dengan We Nyili Timong, putri dari dunia bawah. Dan kelak keturunan inilah yang melahirkan Sawerigading dan kemudian mempersunting We Cudai, lalu melahirkan I La Galigo.

Representasi Buah Khuldi

Pada sebuah malam di Februari 2012, saat kunjungan kedua saya ke Cerekang, saya beruntung bisa bertemu langsung Pua’ Cerekang perempuan. Dia menghuni sebuah rumah panggung di dekat sungai Cerekang.

Ketika saya hendak memasuki rumah itu, seorang anggota keluarga lainnya memberikan sarung sebagai salah satu syarat bertemu Pua’ Cerekang. Kesehatan Pua’ rupanya kurang baik. Dia terserang stroke, tak mampu lagi berdiri hanya beringsut.

Nama aslinya adalah Sahe, usianya terkaku belum mencapai 50 tahun. Dia berbicara dalam dialeg bahasa Bugis kuno. Dan dalam setiap akhir pernyataannya yang memerlukan pengakuan dari saya, dia selalu menambahkan kata ‘nak’ di belakangnya.

Saat ini, pua’ Cerekang hanya ada perempuan. Pada 2010, pua’ laki-laki meninggal dunia dan hingga sekarang belum ada penggantinya. “Kenapa tidak memilih saja lagi,” tanya saya. “Tidak segampang itu nak. Harus benar-benar baik, harus benar-benar bersih,” kata pua’ perempuan. 

“Jadi sampai kapan akan menunggu. Bagaimana kalau tak ada yang terpilih melalui pammase itu,” kata saya.

“Pasti ada. Dewata e tidak akan melihat dunia rusak. Cerekang ini nak menjadi pusat dunia, pusatnyami ini nak, tidak ada lagi yang lain,” ujar Pua’ perempuan itu.

Repsentasi Batara Guru dalam epik I La Galigo, bagi masyarakat Cerekang seperti Nabi Adam. Hanya nama dan wujud yang berbeda. “Siapa pun yang menjadi pua’ nantinya, itulah sebenarnya to manurung. Karena bila pua’ satu meninggal, maka rohnya tetap abadi dan berpindah ke orang lain yang terpilih,” kata Muchsind.

Representasi lainnya, adalah masyarakat Cerekang tak dibolehkan memakan loka manurung (pisang kepok). “Kalau kau tahu nak, itu mi pisang manurung adalah buah khuldi yang mengusir Adam dari surga,” kata Pua’ perempuan.

Pohon Kehidupan

Sejak pertama kali mengunjunginya pada Oktober 2011, Cerekang membuat saya jatuh cinta. Orang-orang yang bertutur halus dan ramah. Menyuguhkan penganan dan kopi yang nikmat. “Di depan bukit ini, kami tak akan berani berucap takabur atau bertingkah diluar batas,” kata salah seorang warga.

Saya penasaran. Ketika saya mengandai-ngandai meminta dia menunjukkan bukit yang dimaksud, dia malah mengangkat tangan dengan jari telunjuk yang tak tegak, melainkan dibengkokan. “Kenapa tak menunjuk dengan jari tegak,” tanya saya. “Kami tak berani, ini pesan orang tua. Dan itu dianggap sombong,” katanya.
Bukit dan sungai merupakan kekayaan utama masyarakat Cerekang. Muchsind Daeng Manakka, mengatakan apapun isi alam yang ada disekitar kita tak boleh dikotori. “Kenapa kami tak membuang hajat di sungai, karena kami meminum airnya,” katanya.

“Kenapa kami tak ingin merusak bukit, menebang pohon sembarangan, karena kami percaya mereka menjaga air,” lanjut Muchsind.

Sebelumnya, pada masa Sawerigading memimpin penduduk bumi, dia menebang pohon Walenrenge untuk berlayar ke negeri Cina menjemput calon istrinya We Cudai. Ketika pohon itu tumbang, semua mahluk bersedih. Tempat perlindungan tak ada lagi. Bahkan, peristiwa itu membuat banjir bah melanda, hingga gunung terbelah ketika batangnya menghantam. “Ya mungkin itu pelajarannya,” kata Muchsind.   

Tak hanya itu, laporan OXIS juga menuliskan, salah satu tempat habitat buaya secara alami berkembang dengan baik berada di sungai Cerekang. Namun, bukan mustahil bila keberadaan buaya tak terusik, sebab masyarakat pun mempunyai panggilan khusus untuk buaya, yakni nenek.

Muchsind menjelaskan, nama buaya adalah bahasa Indonesia yang muncul belakangan. Sebab orang-orang percaya, bila buaya merupakan jelmaan dari leluhur mereka di negeri bawah. “Buaya adalah salah satu penghuni dari dunia bawah. Saya bahkan mandi di sungai ini, kadang-kadang berpapasan dengan nenek

Kami saling menghargai, jadi tak ada saling ganggu,” ujarnya.

Untuk itulah, hingga saat ini masyarakat Cerekang masih mengamalkan nilai-nilai leluhur, meskipun diterpa budaya luar. “Jika kami menghargai alam, itu berarti sama saja kami merawat jiwa kami,” kata Muchsind.

Tidak ada komentar: