Kamis, 11 Oktober 2012

Tuan Penembak

Saya belum sempat menghitung berapa serdadu yang hadir di lapangan itu, ketika kulihat kepala seorang lelaki tertembus peluru. Darahya mengalir seperti keluar dari hidung, lalu merembes ke tanah. Badannya tertelungkup. Hanya menggunakan celana kolor.

Di dekat tempat penembakan itu, ada ratusan perempuan dan puluhan anak kecil tertunduk lesu di bawah kolong rumah, mereka hanya bisa menangis. Sesekali menjerit, tapi seketika dibentak serdadu lainnya. Dan suara kembali diam. Saya masih mengawasi wajah-wajah para perempuan, mencari rupa istri, adik, atau anak-anak dari laki-laki yang tertembak itu. Tapi tiba-tiba suara pistol kembali meletus, lelaki lainnya kembali terjungkal, rebah ke tanah.

Suara azan subuh dari surau-surau belum berkumandang, ketika rombongan serdadu Belanda itu menyambangi rumah-rumah penduduk. Mereka berteriak, menghentakkan kaki menapaki anak-anak tangga. Anak-anak, orang tua, orang jompo, semua bergegas terbangun. Senapan lars panjang, menjadi pengganti telunjuk. Bepuluh-puluh kilometer, orang-orang kampung itu dihalau seperti ternak, tak ada langkah yang boleh mengendur. Semua bergegas. Sarung-sarung  yang digunakan terlelap menempel seadanya di badan.

Rumah-rumah yang ditinggal penghuni lenyap menjadi arang. Serdadu Belanda itu menggantinya menjadi bara api. Ada ratusan rumah yang terlalap, langit subuh hari itu seperti terbakar. Dari kejauhan saya melihatnya seperti cahaya jingga, persis fenomena matahari tenggelam.

Saya berada di antara mereka. Berjalan dengan pikiran meraba-raba. Di samping saya Juleha, menggendong seorang bayi yang masih belajar merangkak. Sementara anak pertamanya Juwita, di gandengnya di salah satu lengan. Sesekali puting susunya berhasil mendiamkan si bayi. Tapi hanya sesaat.

Juleha tinggal di kampung Malengo-lengo, Kabupaten Pinrang. Dia bersama suaminya berdagang, menyuplai kebutuhan warga sekitar. Dia menikah dengan Sabaruddin ketika usianya mencapai 19 tahun. Juleha sangat senang menceritakan keuletan dan ketabahan suaminya. Menurutnya, tak ada lagi laki-laki yang menandinginya. “Saya tak pernah dibiarkan bekerja keras. Dia memperhatikan saya melebihi dirinya sendiri,” katanya.

Suaminya tak ikut menemani kami berjalan dengan ratusan penduduk kampung, pada subuh itu. Lima hari lalu, serdadu Belanda sudah menjemputnya terlebih dahulu menggunakan jip Willis. Tangannya diikat kebelakang, mulutnya di sumbat, dan hanya menggunakan celana kolor. Juleha tak tahu hendak kemana sang suami digelandang.

Sabaruddin ditangkap karena dianggap sebagai kawan “perampok” – julukan pada para pribumi yang menentang Belanda dan pro kemerdekaan RI. Pada masa itu,ketika di Jakarta Soekarno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, berduyun-duyun masyarakat se nusantara menerimanya dengan seruan dan pekik merdeka.  Kelompok-kelompok pemuda di pesisir terutama kampung Suppa sekitar 5 kilometer dari desa Juleha, salah satu yang bersuara lantang.

DI TAHUN yang sama pembacaan proklamasi itu, Datu Suppa Andi Makkasau, menyatakan diri bergabung dengan pemerintahan Soekarno-Hatta. Padahal Belanda belum sepenuhnya meninggalkan nusantara.  Di Makassar dan Pare-pare serdadu Belanda masih bebas berkeliaran. Dalam keadaan yang belum pasti itu, Makkassau menjalin hubungan dagang dengan Jawa, mengirimkan penduduk untuk berlatih militer dan mendatangkan senjata.

Pemerintah Belanda semakin gusar, pada Juli 1946 diadakan konferensi di Malino namun gagal, konferensi itu dimaksudkan untuk membentuk Timur Besar. Dan pada 11 Desember  1946, konferensi itu dipindahkan ke Denpasar. Lalu melahirkan perintah Staat Van Orlog en Beleg (SOB) atau hukum darurat perang sebab Negara dinyatakan dalam keadaan genting. Hukum di tempat. Mendaratlah Raymond Westerling di Sulawesi Selatan.

Raymond ditemani 127 pasukan khususnya menyisir empat wilayah afdeling yakni, Makassar, Parepare, Bantaeng dan Mandar. Tugas utama Raymond adalah melakukan pembersihan para bende – kelompok liar.

Andi Makkasau dianggap sebagai bende. Dia kemudian ditangkap dan ditenggelamkan di laut. Tapi, serdadu Belanda tak berhenti dengan hanya kematian raja Suppa itu. “Sama seperti kehilangan bapak, orang tua,” kata Juleha, mewakili perasaan penduduk Suppa yang ditinggalkan rajanya.

Sabaruddin karena berprofesi sebagai pedagang dianggap penyuplai bahan makanan untuk para bende. “Padahal dia tidak tahu apa-apa,” kata Juleha seperti berbisik saat kami sebentar lagi tiba di lapangan.

Matahari sudah mulai terang ketika kami tiba di lapangan Suppa. Di bawah kolong rumah Datu Suppa sudah berkumpul anak-anak dan perempuan. Mereka duduk bersila tanpa alas. Kepala mereka tak dibiarkan mendongak. Juleha digiring ke tempat itu bersama anaknya. Saya menepi di bagian luar lapangan, menggunakan ilmu menghilang yang diwariskan Andi Makassau.

Namun sebelum memakai azimat menghilang, Juleha bertitip pesan. Suaranya serak dan hampir tak terdengar.  Saya hanya menangkap satu kata lakkaiku – suamiku.

Tepat ketika, peluru menembus kepala lelaki itu, saya sedang mencari suami Juleha. Diantara orang-orang yang duduk bersila, bertelanjang dada, dan bercelana kolor. Seorang serdadu Belanda berjalan mendekati seraya mengacung-acungkan pistol pada setiap orang. Serdadu-serdadu itu mengumpat dalam bahasa Belanda, sesekali menggunakan bahasa Indonesia dengan sangat terbata-bata. “Tunjukkan mana perampok itu,” katanya.

Dalam keadaan terdesak, berniat membela diri, beberapa laki-laki menunjuk seseorang. Dan pangggg…, peluru menembus kepala. Orang-orang yang meregang nyawa dengan sangat cepat itu, diangkut kawannya sendiri ke liang. Setiap jenasah diangkut dua orang dan orang-orang yang kembali berpeluh keringat dengan wajah pucat, juga mendapat giliran.

Saya mulai menghitung, dimulai dari angka 1 dan berhenti pada angka 100, saat melihat suami Juleha. Tapi belum sempat kuhembuskan nafas untuk menenangkan diri, kepalanya sudah tertembus. Saya mencari Juleha diantara kerumunan perempuan di bawah kolong rumah itu. Dia berada di deretan paling belakang. Sekuat apapun wajahnya mendongak, penglihatannya tetap terhalang rambut orang lain. Saya berjalan menghampirinya. Menyentuhnya dengan pelan dan menuliskan nama saya di tanah tepat dihadapanya. “Bagaimana suami saya,” tanyanya. Saya hanya memegangi pundak dan mengelus rambutnya. Lalu dengan terisak dia menjerit. Anaknya yang masih bayi, yang terlelap karena kelelahan ikut tersentak. Juleha dan dua anaknya bersama-sama menangis.

Seorang serdadu Belanda menghampirinya. Dia menghardik dengan keras, lalu memberikan sepotong roti tawar pada anak Juleha. Serdadu itu khawatir, suara histeris akan merusak konsentrasi tuan Raymond.

Pukul 18.00 perempuan-perempuan itu dihalau kembali ke rumah masing-masing. Tak ada waktu menoleh melihat suami. Seorang lelaki yang selamat menghitung jumlah korban, ada 200 orang lebih. Tiga liang kemudian ditutup lalu ditancapkan sebuah batang pohon tua yang sudah mati.

SUDAH 63 tahun berlalu, ketika kami berpisah di lapangan penembakan itu. Saya menemui Juleha. Wajah dan lehernya sudah memperlihatkan keriput. Dua anaknya sudah berkeluarga dan bahkan sudah punya cucu. “Dari mereka saya dihadiahkan cucu dan cicit yang lucu-lucu,” katanya. ()

1 komentar:

novi rahantan mengatakan...

kasihan sekali si bayi, belum sempat kenal siapa bapaknya... :)