Kamis, 06 September 2012

Tahu Kah Kau Saudara

Penghancuran rumah warga muslim Syiah di Sampang, Madura.

Tahu kau saudara apa yang kupikirkan ketika membaca dan menonton berita mengenai orang-orang pemeluk muslim Syiah di Sampang, Madura. Dimana kulihat ada anak-anak ketakutan, suaranya seperti tersedak, tempat tidur mereka lenyap, mainan mereka meleleh jadi abu, hitam. Anak-anak itu menyaksikannya dengan tangan gemetar, didekap orang tuanya. Anak-anak itu  juga melihat kawannya, mungkin kakaknya, atau mungkin abangnya, ayahnya, omnya, tetangganya. Mati terbunuh.

Tahu kau saudara, siapa yang membuat tangis anak-anak itu menggema, terdengar memilukan, adalah kawan-kawannya sendiri, mungkin tetangganya juga. Tahu kau saudara, karena beda keyakinan tempat dan tanah yang kita cintai ini sudah menakutkan. Seperti tempat asing lagi.


Dengarlah saya saudara, sekali ini saja. Tolong berhentilah makan, hentikanlah kunyahanmu sekejap saja. Di Sampang itu saudara, ada sekitar 80 rumah yang rusak dan terbakar. Menjadi arang. Itu kau tahu, terjadi kapan, itu pada 26 Agustus 2012, beberapa hari setelah kita merayakan kemenangan dan berjamaah salat Idul Fitri, lalu kita saling maaf. Kita berangkul, ada ribuan toh, pesan pendek yang terkirim, ada ribuan kartu ucapan lebaran dengan kata-kata yang manis, tapi apakah ucapan-ucapan itu tak sampai ke Sampang?

Tahu kau saudara, ada sekitar 170an warga terpaksa dievakuasi dan mengungsi ke tempat tinggal. Apakah itu menurutmu jumlah yang sedikit. Saudara, cobalah bayangkan, bila ada diantara mereka yang anaknya hendak kuliah, hendak makan, hendak menikah, bagaimana mereka melakukannya lagi. Harta mereka saudara, duit mereka sudah hangus, kartu tabungan mereka sudah jadi arang. Atau biarkan saja mereka tak melanjutkan kuliah, biarkan saja mereka mati, siapa suruh memilih menjadi minoritas. Itu kah yang kau harapkan.

Tahu kau saudara, ucapan duka cita yang kau kirim tempo hari itu, hanya mampu menjadi peredam sakit beberapa jam. Bukan itu saudara, bukan itu, mereka membutuhkan semangat, perlindungan, sebagai sesama seperti kita. Saudara, kita menghianati pelajaran di sekolah dulu, yang bilamana ada dua aliran besar di islam, Syiah dan Sunni, dan kita selalu tutup mata bila soal itu keluar di ulangan harian. Tapi kita jelas menghianatinya saudara, berhianat pada guru-guru kita, pada pendidikan, pada apa yang membuat kita jadi manusia.

Tolong ingat saudara, kita pernah tertidur bersama ragam manusia. Ada yang percaya diri mereka nabi, ada yang percaya tiang listrik tuhan mereka, ada yang percaya I La Galigo, ada penyembah duit, ada penyembah perempuan, sudah kau ingat? Apakah kita terganggu, apakah itu bisa merusak akidah kita, tidak kan saudara. Jadi mengapa kekacauan ini terjadi.

Tolong berhentilah mengunyah, bukalah jas mu itu. Kau telihat tak berdaya ketika mengenakan pakaian itu, pakaian kesepakatan untuk menyatakan kerapian dan kehormatan. Atau kah kau tak ingin mendengarku lagi saudara, karena hingga saat ini saya masih menggunakan kaos oblong, celana jins, sepatu murahan atau sandal gunung.

Jas itu membelenggumu, bakar lah. Turunlah kembali seperti dahulu kala, dahulu seperti saat kita bermain teater di pinggir jalan, di atas panggung, atau di teras kampus. Masa itu sungguh bahagia, merasakan suasana di sekitar kita, dan kita bebas bergerak, bebas berteman dengan siapa pun.

“Tapi ini hanya masalah keluarga.”

Saudara, apakah benar itu pendapatmu. Saya tak menyangkanya. Bukan itu yang membuat kita berpikir besar. Bukan itu yang kupertanyakan, tapi seberapa menurun derajat pendidikan kita sekarang. Titik kekerasan  tumbuh subur di sekitar kita, tak kah kau lihat itu. Jika aku punya kuasa, maka itulah yang menjadi pokok intinya.  Lakukan lah, peringati mereka.

Saudara sepertinya, semakin saya melihatmu muncul di depan televisi, semakin khawatir lah saudaramu ini. Semakin merinding lah saya. Kau mulai terlihat renta, tak bugar lagi. Jika kau kelelahan, mundurlah.
Tahu kau saudara, hal lain yang merisaukan. Kita sebagai orang Indonesia, orang Indonesia, orang yang besar dan bangga dengan ragam budaya, ragam pikiran, tiba-tiba harus dipaksa menjadi satu paham keyakinan.

Padahal sejak nenek moyang kita, sejak ribuan tahun lalu, ada paham yang melekat di setiap daerah. Rela kah kau melihat saudara-saudara kita diseret dan dimasukkan pada apa yang mereka tak senangi. Saudara, sudah cukuplah orang-orang tua kita mengalami masa trauma pada tahun 1950-1965 itu, orang-orang saling bunuh. Marilah kita berangkul, marilah menjadikan pengertian akan bagimu agamaku, dan bagimu agamamu itu benar-benar terjadi.

Saudara, hubungan seseorang dengan tuhannya adalah hubungan kejiwaan, hubungan ketenangan yang tak mampu orang lain jangkau. Ingat kah kau saudara, saat kita bertemu dengan seorang sufi, bila surga itu bukanlah sebuah tempat, melainkan sebuah ketentraman jiwa, sebuah kondisi kebahagiaan.

Tapi sekarang, kita seakan berada di tepi neraka bukan?


*Sumber foto kilik di sini.

3 komentar:

novi rahantan mengatakan...

pepatah bilang, menang jadi arang, kalah jadi abu.


hanya kesedihan yang tersisa dari perdebatan tidak sehat. hanya trauma yang tersisa dari keyakinan yang dipaksakan dan dipertahankan dengan kebencian.

awal september lalu, saya ke sampang. menjenguk anak-anak yang kadang takut melihat wajah baru. remaja berwajah pucat yang tak bisa makan, pun mendengar suara gaduh anak-anak yang selalu mengingatkannya pada kobaran api yang melahap habis rumahnya, celurit yang merobek tubuh ayahnya, juga suara tangis si adik menangis kelaparan di tempat persembunyian....

sumpah, apatah tuhan dan nabinya mengajarkan kita untuk menukar kebenaran dengan penderitaan orang lain...

ekorusdianto mengatakan...

Novi: Saya kira Tuhan ada karena manusia. Keberagaman yang lahir di dunia tidak satupun mengharapkan peperangan dan perselisihan. Mari menulis, memulai dari bawah, pasti akan banyak cerita dari Sampang sana.

Bocah Kampoenk mengatakan...

nice share gan...