Jumat, 31 Agustus 2012

Engkau Tetap Sahabatku

Apakah paham komunis itu bisa mengancam pergaulan dan kebangsaan kita. 

Suatu kali saya menempuh perjalanan 12 jam, dari Sorowako menuju Makassar. Saya menumpangi sebuah bus sewaan, duduk diantara orang-orang dengan beragam ekspresi. Bus itu tak memiliki lampu baca, akhirnya, saya mengaktifkan list lagu di hape. Selama perjalanan, dendang dan irama dari Iwan Fals, Cake, dan Nirvana memanjakan telinga. Benar-benar menyenangkan. Jika sudah demikian, maka khayalan saya akan berlari dan berlompat, liar dan tak terkendali.

Tapi khayalan saya tiba-tiba berhenti pada sebuah peristiwa. Saman pasca peristiwa Gerakan 30 September. Orang-orang menjadi ketakutan dengan ideologi komunis, saman dimana orang-orang PKI dianggap sebagai malapetaka. Bagi saya inilah salah satu saman kegelepan, memperkarakan pemikiran seseorang, lalu membunuhnya.


Ada ratusan, ribuan, bahkan lebih, yang tak tahu harus bagaimana. Orang-orang yang dituduh terlibat dengan gerakan komunis ruang geraknya dipersempit, lapangan pekerjaan tak mereka dapatkan. Kartu tanda penduduk pun diberi tanda sebagai orang yang perlu diwaspadai.

Iwan Fals, dalam lagunya Engkau Tetap Sahabatku, benar-benar menghantarkan khayalan saya itu. Lagu itu ibarat menanyangkan gambar bergerak. Semakin saya mendengarnya dengan saksama, semakin membuat tubuh saya merinding.

Syair lagu itu menceritakan kisah seorang sahabat yang sedang diburu. Sahabat yang setiap hari berlari dan berpindah tempat tinggal. Ayahnya yang seorang pegawai kelas rendah, masuk penjara, karena membela anak, untuk tetap meneruskan sekolah.

Selesai sekolah, sang anak mengganti bapaknya mencari kerja. Tapi yang didapatkan hanya cemooh. Lalu sang anak tetapkan hati untuk hancurkan sang pembual.  Iwan Fals, menyajikannya dengan baik, suaranya melengking.

Air putih aku hidangkan, aku di persimpangan
Aku hitung semua lukanya, seribu bahkan lebih
sejuta lebih

Di kursi tempat duduk saya dalam bus itu, bagai kata Pramoedya Ananta Toer, ”saya terbakar amarah sendiri,” saya mengomel dalam hati. Kepala saya dipenuhi kegelisahan yang mencekam. Orang-orang diburu, dicari-cari, dicaci maki, harkat mereka bagai lebih rendah dari binatang.

Di kampung saya, Palopo Sulawesi Selatan, semasa pergerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia, terbentuklah sebuah badan kendali yang diberi nama BAJAK (Barisan Anti Jawa Komunis). Pada masa itu, gelombang transmigrasi sedang marak-maraknya. Orang-orang yang datang dan curigai sebagai simpatisan komunis akan langsung mendapatkan ajal. Semua dilakukan dengan cepat.

Saya juga begitu kaget ketika membaca laporan di majalah historia online (www.historia.co.id), pada 15 Agustus 2012, sebuah musyawarah besar yang diselenggarakan PBNU di Jakarta, untuk menentang pemberian maaf pada mantan anggota PKI.

Musyarawah itu dihadiri tak kurang dari 50 orang. Mereka datang atas nama ribadi dan mewakili kelompok. Salah seorang dari perwakilan Aliansi Anti Komunis, mengatakan, “kekuatan komunis tidak dapat hancur dengan menggelar konferensi pers, membuat pernyataan, namun harus nyata dengan perlawanan. Mari kita bikin kembali pos-pos komando guna membendung bangkitnya PKI.” Dan peserta menyambutnya dengan pekik “merdeka!”

Wakil dari Permak (Persatuan Masyarakat Anti Komunis) menimpali, “yang mendukung dan menghidupkan komunis akan kami sikat.”

Saya juga tak tahu, apakah ideologi komunis itu bisa benar-benar membahayakan Indonesia. Apakah benar-benar “haram” berpikir komunis.

Yang saya tahu, taka da lagi kejadian seperti tokoh “sahabat” dalam lagu Iwan Fals. Yang tak tahu hendak kemana, tak harus berbuat apa. Hak sebagai warga negara dihilangkan. Dia seperti anak yatim piatu di tanah ibu pertiwi sendiri.
Kawan, mari berdoa untuk orang-orang yang direnggut kemerdekaannya. Mari kawan, berhentilah untuk saling membenci sesama manusia, bukankah pemikiran dan kepercayaan adalah pilihan masing-masing. Berangkullah kita sebagai sesama manusia, sebagai sesama sahabat.

Saya kutipkan syair utuh lagu Iwan Fals, Engkau Tetap Sahabatku:

Dia adalah sahabatku, bahkan lebih
Dia adalah yang diburu, datang padaku
Sekedar lepas lelah dan sembunyi, untuk berlari lagi

Dia adalah yang terbuang, mengetuk pintuku
Penuh luka  di punggungnya, merah hitam
Dia menjadi terbuang, setelah harapannya dibuang

Bapaknya pegawai kecil, kelas sandal jepit
Yang kini di dalam penjara, sebab bela anaknya
Untuk darah daging yang tercinta, selesaikan sekolah

Sahabatku gantikan bapaknya, coba mencari kerja
Namun yang didapat cemooh, harga dirinya berontak
Lalu dia tetapkan hati, hancurkan sang pembual

Air putih aku hidangkan, aku dipersimpangan
Aku hitung semua lukanya, seribu bahkan lebih
 sejuta lebih

Pagi buta dia berangkat, diam-diam
Masih sempat selimuti aku, yang tertidur
Aku terharu, doaku untukmu

Sebutir peluru yang tertinggal, di bawah bantalnya
Kuberi tali jadikan kalung, lalu kukenakan
Sejak mengingatmu kawan, yang terus berlari

Selamat jalan kawan, selamat menggenangi air mata
Hei sahabat yang terbuang, engkau sahabatku
Tetap sahabatku
Engkau sahabatku, tetap sahabatku
Engkau sahabatku, tetap sahabatku
Tetap sahabatku

1 komentar:

Whitelist Ryan mengatakan...

Hi Nama saya Egi
Postingan yang bagus. Suka dengan temanya. :)