Rabu, 11 Juli 2012

Menyembuhkan Hati yang Luka

Bagimana orang-orang yang lahir dari trauma, kemudian bangkit dan menemukan kepercayaan diri. 

PERNAHKAH anda membayangkan kehidupan yang damai, hidup saling tolong menolong, membagikan senyum kepada tetangga, lalu tiba-tiba berubah jadi teror yang mencekam. Ketakutan dan ancaman seperti masuk ke sudut-sudut rumah, dekat dan tak berjarak. Ada pengumuman dari suara-suara melalui pengeras suara, dan orang-orang dibunuh. Jenasah-jenasah terkubur di tempat-tempat yang tersembunyi.

Saya menemui orang-orang itu. Salah satunya adalah Thomas Lasampa. Lasampa adalah seorang nasrani yang taat dan mantan guru SMA. Dan berumah di Wasuponda. Bersama kawan-kawannya memelopori lembaga adat Pasitabe yang menaungi suku Padoe, Karunsuie, Tambe’e, dan Dongi.

Thomas sendiri dari suku Padoe. Salah satu anak suku yang berada di wilayah Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Pada masa kejayaan kerajaan Luwu abad 12 hingga 19, Padoe adalah anak suku yang dianggap sebagai saudara dari tanah jauh. 

Suku-suku yang dinaungi adat Pasitabe adalah rumpun suku yang berada di wilayah pegunungan, sekitar danau Matano. Mereka pada mulanya menganut kepercayaan Melahomua, yakni kepercayaan yang memuja gunung, atau pohon-pohon besar yang dianggap memberi kehidupan dan dihuni mahluk-mahluk halus yang menguasai bagian tertentu.

Sekitar tahun 1880-an, ketika kekuasaan Belanda mulai melebar dan memasuki wilayah Sulawesi, para misionaris pun ikut menyebar. Orang-orang Padoe, Karunsuie, Tambe’e, dan Dongi, kemudian beralih kepercayaan menjadi nasrani. Kemudian tahun 1950 pada masa pergolakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) orang-orang itu memaksa menganut agama islam.

Tapi ceritanya tak sesederhana itu. Thomas yang masih berusia 12 tahun saat peristiwa teror itu terjadi. Tahun 1954, bersama keluarganya hijrah ke Malili (sekarang ibukota Kabupaten Luwu Timur). Di Malili, Thomas kemudian belajar mengaji. Namun bukan untuk berpindah keyakinan, tapi untuk menyelamatkan jiwanya. “Ini adalah masa yang suram,” katanya.

Lasampa, hingga sekarang masih menghapal beberapa surah pendek dalam Alquran. Dia melafalkannya dengan cukup fasih ketika saya bertemu dengannya. Di ruang tamunya, yang berdebu dan sofa murahan, matanya terlihat sembab.

Kesedihan Lasampa seperti memuncak, saat ceritanya menggapai detik-detik ayahnya menghilang. Ayahnnya adalah seorang tokoh masyarakat yang disegani masa itu. “Itu tahun 1950-an itu,” katanya. Dimana pada sebuah siang, sebuah mobil mendatangi rumah keluarga Lasampa, beberapa orang turun dan mengundangnya ayah Lasampa untuk menghadiri perundingan di Sorowako – yang jaraknya sekitar 30 kilometer dari Wasuponda.

Pada awalnya, tak ada firasat buruk. Ayah Lasampa, bersama 38 orang lainnya pun memenuhi undangan pasukan DI/TII. Setiba di Sorowako, perundingan dibatalkan, dan dipindahkan ke seberang danau Matano.

Sebanyak 38 orang perwakilan itu tak mampu berbuat apa-apa. Mereka manut. Di tengah perjalanan menyusuri birunya air Matano, orang-orang itu menemui ajal. Mereka dibunuh dengan keji. Jenasah mereka tak dibuang ke danau, melainkan dibawah kembali ke daratan. “Tiga hari kemudian, kami temukan itu ayah saya, tangan dan kakinya terikat. Darahnya sudah mengering. Itu jenasah duduk dibawah batang pohon,” kata Lasampa.

“Bisa dibayangkan bagaimana kesedihan anak-anak seperti saya yang belum sekolah tapi sudah tidak ada ayah.”

MAHADE ADALAH keturanan dari Tosalili, orang yang dianggap membuat kampung Sorowako. Tosalili tak jelas asal muasalnya dari mana. “Saya kira besar kemungkinan dia ada darah dari Mekongga – Mengkoka,” kata Mahade.

Mahade sama dengan Lasampa, seorang guru. Tahun 1950 ketika pergolakan DI/TII memasuki Sorowako, semua anak-anak seusianya diwajibkan mengikuti pendidikan menjadi tentara islam. “Saya beruntung karena seorang guru, jadi saya tidak wajib ikut jadi gerombolan,” katanya.

Ketika tekanan DI/TII semakin kencang, tahun 1955 penduduk Sorowako akhirnya meninggalkan kampung halaman menuju Seluro, bagian lain pesisir danau Matano untuk mengungsi. Dua tahun kemudian, oleh pasukan DI/TII rumah-rumah mereka dibakar. Kampung Sorowako menjadi hangus.

Bahar Mattalioe dalam Kahar Muzakkar dengan Petualangannja, menuliskan bila rencana pembakaran kampung-kampung itu untuk menunjukkan titik kekuasaan atau menjadi penanda batas antara wilayah yang dikuasai TNI dan DI/TII.

Di Seluro, kehidupan para pengungsi cukup memprihatinkan. Tanahnya yang tak subur susah untuk tumbuh padi. Sementara sagu berada di wilayah terlarang. Akhirnya penduduk mengkonsumsi singkong sebagai makanan pokok dan daunnya menjadi sayur.

Tahun 1962 keadaan sedikit tenang. Penduduk Sorowako akhirnya kembali ke tanah kampung awal mereka. Membangun kembali rumah-rumah yang sudah dibakar dan mulai mengelola lahan pertanian. Awal-awal masa itu sungguh membahagiakan, orang-orang saling membantu, saling memberi semangat untuk bangkit.

Tapi nafas kedamaian itu ternyata hanya sesaat. Saat padi sudah mulai menguning, ketegangan muncul lagi antara TNI dan pasukan DI/TII. Tanpa menunggu panen, penduduk kembali ke Seluro. “Itu keadaan yang sungguh sulit. Semoga kita tidak lihat lagi keadaan seperti itu lagi,” katanya.

HASYIM ADALAH seorang yang memiliki perawakan besar. Sebagian besar rambut di kepalanya sudah memutih, beberapa lainnya terlihat kuning. Dia menghabiskan masa kecil dan dewasanya di desa Suli, Kecamatan Suli, Kabupaten Luwu.

Sebagai anak muda, dan keluarga yang cukup dikenal, dia memiliki pengaruh di daerahnya. Orang-orang menghargai orang tuanya dan itu ikut menular padanya. Tahun 1980-an ketika pemilihan umum dilaksanakan, yang hanya ada tiga partai yakni Golkar, PPP dan PDI, dia memtuskan memilih PPP. Menurut dia, partai itu membawa amanah islam.

Di tempat pemungutan suara, dia tanpa ragu mencoblos gambar kabah untuk lambang partai. Tak ada rasa sesal atau khawatir dalam dadanya. Sehari kemudian, dia ketahuan memilih PPP bukan Golkar. Dan hal itu menyulut kemarahan aparat desa khususnya TNI dalam lingkup kuasa Koramil. “Saya juga heran kenapa bisa ditahu,” katanya. “Ternyata surat suara itu sudah ditandai. Jamang-jamangna tau’e (kerjaan orang-orang).”

Beberapa malam rumah Hasyim dikepung oleh pasukan TNI. Lalu dia mendapat panggilan ke kantor Koramil untuk melakukan introgasi. “Kenapa kau memilih PPP? Adakah untungnya,” kata Komandan Koramil saat itu. “Jangan mempersulit diri,” lanjutnya.

Hasyim hanya tersenyum. Dia mulai dibentak dan diberikan ancaman. Seorang yang lain sudah babak belur kena pukulan dan tendangan sepatu lars. Ada juga orang-orang yang kuku kakinya sudah terlepas. “Tidak bisaki melawan nak,” kata Hasyim. “Jadi memang dari dulu kita selalu dipaksa dan mungkin juga itumi hidupta ditentukan oleh orang-orang,” ujarnya.

SAYA BERTEMU dengan mereka tahun 2012. Menemani mereka ke kebun, meluangkan waktu bercerita, atau menemani menyeruput kopi. Mereka bagi saya seperti orang-orang yang memiliki kekuatan-kekuatan tersembunyi yang begitu kuat.

Thomas Lasampa kini pensiun sebagai seorang guru dan mengabdikan dirinya membentuk lembaga adat, mengenalkan pada setiap orang kebudayaan-kebudayaan Padoe yang mulai hilang dan diharamkan pada masa DI/TII.  “Saya mencintai kehidupan ini. Saya mencintai kehidupan nasrani saya. Dan disinilah saya bermula, dari budaya kami,” katanya.

Lasampa kini membolak-balik lembaran kehidupan masa lalunya, mengunjungi orang-orang tua, dan menciptakan kembali kesenian-kesenian sukunya. Baginya, hidup akan terus berlanjut, dan apa yang telah sulit ditemukan akan kembali dihidupkan. Dia ingin, ragam budayanya tidak lenyap bersama kegeraman orang DI/TII.

Mahade, tiap hari mengunjungi kebunnya di pesisir danau Matano. Dia memiliki rumah kebun yang cantik, air danau beriak menampar tiang-tiang rumahnya. Suara air itu menyenangkan dan buat sejuk perasaan. Kini dia sudah punya cucu dan cicit. Keturunan-keturunan itu membuatnya serasa seperti muda dan berguna. “Saya tak pernah menceritakan kisah-kisah sedih pada anak dan cucu. Saya pendam sendiri. Biar saya saja yang tahu. Semoga tidak ada lagi masa seperti itu, masa bunuh-bunuh,” katanya.

Hasyim bekerja paruh waktu untuk perusahaan yang membutuhkan tenaganya di Sorowako. Dia memiliki pengalaman yang baik, biasanya perusahaan akan mengontraknya per 6 bulan. Sekarang di pesisir danau Towuti dia membangun rumah untuk menjaga kebun-kebunnya. Dia menanam merica, kakao, dan kelapa sawit.

Thomas Lasampa, Mahade dan Hasyim adalah orang-orang yang memiliki cerita dan kisah yang berbeda. Tapi mereka besar dalam kurun waktu yang sama. “Masa lalu adalah pelajaran,” kata Lasampa.

“Sekarang saya membantu orang-orang untuk melakukan kampanye, kadang-kadang menjadi tim sukses. Kan dulu kita dilarang-larang dan dibatasi mendukung partai, sekarang saya bebas memilih. Meskipun selalu tidak puas,” kata Hasyim.

Tidak ada komentar: