Selasa, 12 Juni 2012

Dari Rumah Kenangan

SEBENARNYA rumah kami menghadap sungai. Tapi aliran sungai tak tampak juga, meskipun saya memanjat di pohon jambu. Sungai deras dan mengalir cepat itu, terhalang kebun-kebun kakao yang subur. Pucuk-pucuknya warna hijau muda dan beberapa menguning, karena hama pengerat.

Tebing-tebing sungai adalah tanah liat yang lengket. Bila kena air, akan sangat licin. Bermain luncuran akan sangat menyenangkan. Di bibir tebing itu ada pohon Bau yang daunnya lebar-lebar seperti mangkuk. Di bawah rindangnya, permukaan air tenang sekali, bila berenang memasuki sela-selanya, udaranya sangat sejuk. Saya dan teman-teman sering bermain sembunyi-sembunyi.
Permainan favorit bersama teman-teman adalah Bale yakni saling berkejaran dengan menangkap kepala di atas permukaan air. Menangkap kepala di bawah air dinyatakan tidak sah. Jika sudah bermain, selalu saja lupa waktu.

Sebenarnya rumah keluarga kami adalah rumah panggung yang tak kokoh. Dindingnya terbuat dari papan yang direkatkan tak rapat-rapat. Angin selalu berhembus kencang masuk, pada malam hari udara sangat dingin. Dan paling enak, menggulung badan dengan sarung.

Di dekat rumah kami, ada kebun-kebun kakao begitu luas. Ada di depan rumah, ada juga di belakang rumah. Pohon-pohon kakao tumbuh beraturan. Kalau musim permainan motor-motoran tiba, kebun kakao akan menjadi arena yang menyenangkan. Daun-daun kakao yang terhampar banyak akan kami sapu. Daunnya akan menjadi pagar pembatas, seperti gundukan-gundukan kecil setinggi lutut.

Kami membuat lintasan berkelok-kelok, selayaknya sirkuit di game-game Saga yang kami mainkan. Kami akan berlari dengan kencang, suara mesin akan keluar dari masing-masing mulut. Menikung dan saling bersenggolan. Mainan motor itu adalah bekas ban motor yang dipukul dengan tongkat kayu kecil, lalu kami berlari disampingnya, sebagai pengemudi.
Kalau sudah demikian tentu waktu akan menjadi sangat singkat.

Rumah kami, adalah rumah panggung. Sumur dan toilet ada di bagian belakang rumah. Bila tengah malam, harus berusaha menjadi pemberani untuk turun kencing, atau buang air besar. Kalau takutnya begitu menjadi-jadi, maka buang air kecil akan dilakukan disela-sela papan lantai rumah. Tanah di kolong rumah akan menyerap air seni itu dengan cepat. Esoknya yakinlah tak ada bau pesing.

Karena rumah kami adalah rumah panggung, maka tiang-tiangnya dijadikan tempat bermain. Permainan yang menjadikan tiang rumah sebagai bagian utama adalah benteng. Permainan itu, mengeluarkan semua energi, berlari dan memasang strategi.

Menggunakan dua buah tiang. Satu tiang lainnya untuk kelompok musuh. Tiang ini menjadi benteng utama yang harus dijaga. Biasanya lima lawan lima, namun semakin banyak teman yang ikut akan semakin seru.

Untuk memulainya, salah seorang dari kelompok akan maju ke garis pembatas, kemudian kelompok lain akan berusaha menyentuhnya. Tapi dengan syarat memegang tiang benteng terlebih dulu. Memegang tiang benteng, seperti passport atau bonus kekuatan. Begitulah permainan itu terus menerus dilakukan.

Anggota kelompok yang mati, akan menjadi sandera di dekat benteng musuh. Namun, akan berusah dilepaskan oleh kawannya, dengan cara memegang atau menyentuhnya. Kalau salah satu kelompok mulai kekurangan teman, maka bentengnya akan dikepung. Kelompok musuh akan berusaha menyerobot tanpa harus disentuh, dan memegang tiang. Yang memegang tiang musuh, maka dialah yang menjadi pemenang. Dan pemenang akan bersorak, “benteng.”

Rumah kami adalah rumah panggung yang memiliki halaman luas. Hanya ada pohon jambu dan beberapa pagar bunga yang bisa dihitung dengan jari. Halaman rumah adalah tanah yang lapang dan gembur.

Di halaman itu, kami selalu main cukke. Permainan dengan menggunakan pelepah daun sagu. Cara melakukannya dengan menggali kotak tanah kecil, seukuran telapak tangan. Kedalamannya sekitar tiga ruas jari. Salah satu pelepah sagu kecil sepanjang 15 sentimeter, diletakkan dibagian ujung lubang. Hingga pelepah itu akan berdiri miring, karena ujung lainnya berada dibawah lubang.

Kemudian bagian ujung lainnya yang mencuat ke permukaan, akan dipukul menggunakan pelepah sagu lainnya yang seukuran tongkat kasti. Dipantulkan hingga tiga kali tanpa harus menyentuh tanah, lalu dipukul ke arah lawan yang menjaga. Kemudian sang pemukul akan berlari mengelilingi lintasan seperti permainan kasti. Satu putaran, akan dihitung dengan menggunakan lidi, dibengkokan.

Selain bermain cukke, halaman rumah itu juga digunakan untuk main kelereng, main karet untuk anak perempuan. Hingga main bangnga menggunakan kemiri.

RUMAH kami adalah rumah panggung. Rumah kenangan untuk kisah dan sejarah panjang kami. Di rumah panggung itu, kami dilahirkan dengan bantuan dukun beranak. Ari-ari kami di tanam di halaman rumah, di dekat pohon-pohon besar dan memanjatkan doa untuk tumbuh subur selayaknya tanaman untuk menopang kehidupan kami.

Sarung-sarung penuh darah, dari kekuatan orang tua ketika mengeram untuk mengeluarkan kami dari janin, dicuci di aliran sungai. Bekas-bekas darah kekuatan, kesabaran dan ketabahan orang tua kami itu, mengalir bersama aliran air.

Dan kelak, di aliran sungai itu kami kembali bermain. Menghabiskan cerita kecil, belajar berenang, memancing, mencari ikan, udang, lalu kami nikmati bersama.

Rumah kami adalah rumah panggung di dekat sungai. Dan kami besar di dekat sungai, bersama aliran, bersama darah orang tua kami, bersama pohon-pohon yang tumbuh  menemani.    

1 komentar:

Bung Imam mengatakan...

Keren, Bro.