Minggu, Mei 06, 2012

Siapakah Saya

Ini seperti pergumulan pemikiran saya. Diantara sekian banyak orang, pertanyaan ini mungkin pernah hinggap, atau bahkan menempel berhari-hari hingga berlama-lama. Tapi saya membawanya hingga sekarang.


Siapakah Saya?

Pada sebuah perjumpaan, saya menemukan cerita tentang Ahmad Wahib sementara jauh sebelumnya sudah berkenalan dengan Soe Hok Gie. Mereka berdua membuat saya cemburu, anak muda yang menelorkan pemikiran-pemikirannya dan gagasan-gagasannya dengan begitu manis melalui tulisan. Sayangnya mereka meninggal begitu cepat.


Saya membaca Gie dan Wahib begitu pelan-pelan. Mencermati kisah dan ulasan-ulasannya. Mereka benar-benar menjadi peristiwa dan cerdik pandai untuk dirinya sendiri. Kemudian dengan malu-malu saya melihat ke diri saya sendiri. Ada banyak pertanyaan, lalu membuat kritik pada diri saya dan terasa lampau benar ketinggalan.
foto oleh; Paulus Tandi Bone

PERTENGAHAN tahun 2008 saya belajar menjadi seorang wartawan. Liputan pertama saya adalah rombongan kepala desa dari Aceh yang menuntut pemekaran provinsi ALA-ABAS di Jakarta. Ada ratusan kepala desa yang datang, nginap di asrama haji Jakarta. Saya menemui mereka di tempat itu, memperkenalkan diri dan menjelaskan kedatangan.

Beberapa diantara mereka menanyakan identitas lengkap. Saya mejelaskannya dengan baik. Mereka juga menanyakan kepercayaan yang saya anut. Saya bilang apakah itu perlu, dan beberapa diantara mereka terdiam dan mulai ragu bercerita.

Saya mafhum, lalu pada sebuah sore saya ikut mereka menunaikan salat magrib. Dan ajaib, beberapa kepala desa yang tadinya enggan bercerita, kembali akrab. Menawarkan saya kopi bahkan rokok.

Adegan itu begitu membekas di kepala, bahkan ketika mereka tahu saya berdarah Bugis, mereka langsung punya cerita lebih. Hal ini tentu memuluskan jalan saya mewawancara dan menuliskan kisah-kisah mereka.
Tapi lama berselang, pertanyaan-pertanyaan seperti menjadi menggelikan lagi. Pertengahan tahun 2009 saya kembali ke Makassar. Menjadi wartawan dan mulai lebih banyak melakukan perjalanan. Saya menemukan cerita dan kisah yang berlainan. Ada yang sedih dan ada yang menyenangkan.

Hingga pada akhirnya, saya tertarik menulis kisah tentang Kahar Muzakkar (pergolakan DI/TII) yang hingga sekarang belum kelar-kelar. Saya menelusuri orang-orang yang masih hidup dan dengan sabar mendengar ceritanya.

Lalu tiba-tiba saya merinding mendengar penggalan peristiwa-peristiwa masa itu. Ada banyak nyawa yang hilang saat pergolakan terjadi. Membunuh orang menjadi tidak begitu sulit dan bahkan menjadi hal lumrah. Banyak yang bilang pada saya, bila menghabisi orang yang berhaluan komunis itu sah, karena termasuk kafir.

Lalu apakah saya komunis? Apakah muslim yang baik adalah yang melawan segala macam aliran yang dianggap kafir? Siapakah yang menentukan kafirnya seseorang? Dibenarkan kah seseorang membunuh dengan alasan karena perbedaan keyakinan?

Dan sejak pertanyaan-pertanyaan itu muncul, saya katakan, bila saya bukanlah bagian dari mereka. Bukan seperti mereka dan tidak akan seperti mereka.

Saya sudah menjadi reporter “kacangan” di sindikasi berita PANTAU, saat Ahmadiyah dinyatakan sesat oleh beberapa orang. Yang sebelumnya ada aliran Lia Eden dan beberapa lainnya. Ramai benar orang mengempurnya, bahkan ada yang masjidnya dibakar. Mereka dihina seperti budak-budak yang tak memiliki majikan. Di buru, dan bahkan dilempari. Orang-orang menjadi trauma dan anak-anak menjadi ketakutan.  Organisasi-organisasi masyarakat yang membawa nama agama muncul bagai pahlawan.

Masing-masing organisasi itu mensahikan kebenaran yang mereka bawa. Mereka menggombor-gomborkan di media dan jalanan. Bagi saya mereka tak ubahnya seorang pengamen, dengan lagu-lagu, nada dan syair yang tak beres.

Saya lalu merasa beruntung saat kuliah tak masuk organisasi-organisasi yang memiliki haluan tertentu, seperti HMI, PMII, GMNI, dan bahkan organisasi kedaerahan. Saya hanya bergabung dengan unit kegiatan mahasiswa untuk teater. Bagi saya, bergabung dengan organiasi-organisasi tertentu hanya akan membatasi ruang gerak kelak kemudian hari.

Dan jika seandainya Wahib masih hidup sekarang, saya akan menanyakan padangannya tentang organisasi HMI yang pernah dibelanya masa itu. Bagaimana dia melihat adik-adiknya saat ini. Di Makassar, saya punya bayak teman dari HMI, mereka cakap-cakap tapi sayang begitu prgamatis.

Baru-baru ini, seorang kader HMI akan mencalonkan diri sebagai kandidat kepala daerah. Kawan saya sebenarnya tak menyenanginya, dia tak sepaham dan menilai pemikirannya sangat dangkal. Tapi kawan saya tetap membantunya. “Bagaimana pun dia adalah senior saya di HMI,” katanya.

DAN terlepas dari itu, saya saya kemudian menemukan jalan lain, lalu tertarik dengan dunia sejarah. Di Majalah GATRA liputan-liputan saya lebih banyak mengenai sejarah dan budaya. Saya menyenangi kajian ilmu ini dan merasa menemukan kehangatan disetiap rincinya.

Lepas dari GATRA akhirnya, saya menulis untuk Majalah Historia. Saya benar-benar menulis persoalan-persoalan sejarah. Saya bertemu orang-orang yang menganut kepercayaan-kepercayaan leluhur. Menemui komunitas yang masih melakukan ritual-ritual yang dianggap kolot sebagian orang. Saya juga belajar melihat gerakan-gerakan tari tradisional sebagai sebuah ritual.

Karena keseringan hilir mudik menemui beberapa penutur dan penjaga tradisi-tradisi itu, seorang kawan tiba-tiba bilang pada saya: kau harus hati-hati, menulis budaya memang penting. Tapi jangan sampai masuk kedalamnya karena itu mendekati kafir dan syirik.

Saya tertegun lama mendengar ucapan itu. Saya juga tak mendebat kawan itu karena hanya akan membuat semua jadi rumit. Saya hanya mengasihani jalan pikirannya yang sempit, kaku dan seperti itulah yang seharusnya dinamakan kolot. 

5 komentar:

  1. koreksi, kak.. itu PMI atau PMII yah?


    senang membaca tulisan anda. saya mengagumi orang2 yang menghargai sejarah dan tradisi :)

    BalasHapus
  2. Terima kasi Novi: Benar bukan PMI tapi PMII..

    BalasHapus
  3. Ulasan yang sungguh luar biasa, sejarah dan kebudayaan begitu penting ketika kita melihat dua hal terebut merupakan salah satu bentuk ciri khas sekaligus identitas dari sebuah komunitas tertentu yang kemudian kita sebut sebagai Indonesia.
    yah, tak dapat dipungkiri ketika kebudyaan dan sejarah menjadi suatu hal yang sangat penting karena seiring dengan berjalannya waktu sejarah hanya tinggal sejarah yang hanya tertulis dalam buku sejarah tanpa dipahami apa maknanya, kebudayaan hanya dianggap sebagai cara-cara kuno yang sudah ketinggalan zaman. itulah hal yang sangat memperihatinkan. mudah-mudahan kita bisa menjadi generasi yang selalu melihat sejarah dan bangga akan budaya kita.

    BalasHapus
  4. Hi Aspirasi: Terima kasih sudah menjenguk bilik kecil ini. Semoga bermanfaat..

    BalasHapus