Rabu, 23 Mei 2012

Semoga Inilah yang Dinamakan dengan Akal Sehat

Saya bukan pemuja kepercayaan setan. Saya juga bukan pemuja lagu-lagu dunia barat – mungkin karena saya tidak terlalu mengerti. Saya juga bukan anggota partai tertentu, juga bukan anggota organisasi tertentu. Saya pemuja keberagaman, memuja ketentraman, kenyamanan dan kedamaian. Semoga inilah yang dinamakan akal sehat.

Sejak beberapa hari ini, saya mulai gelisah dengan berita penolakan kedatangan penyanyi Lady Gaga di Indonesia. Ada beberapa organisasi masyarakat menentangnya, salah satu yang paling keras adalah Front Pembela Islam (FPI), bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa haram. Dan ada juga beberapa kawan-kawan yang mendukung pandangan penolakan.


Ini membuatku serasa tergelitik. Serasa semakin bodoh dan bego. Saya merasa sedih sendiri, marah dengan tanah air sendiri. Masih kah kita bertengkar dengan kadar logika sekecil itu. Dari catatan referensi media massa, salah satu alasan penolakan Gaga ke Indonesia karena “dicurigai” sebagai pengikut aliran setan yang sesat. Selain masalah kepercayaan, Gaga juga dikatakan tak mempunyai etika dalam berbusana karena selalu tampil vulgar.

Dua hal itu lah membuat sebagaian masyarakat risau, bahkan seluruh Indonesia. Saya tentu ikut risau, jika benar terjadi penolakan, maka kebebasan kreatif, kebebasan memilih jalan hidup seseorang akan semakin terbelenggu.

Apakah yang salah dengan pikiran seseorang? Mengapakah orang-orang selalu memandang dengan cara luar, menilai seseorang dari luar, bukan dari dalam. Bukankah kebaikan, keramahan, kerendahhatian adalah sesuatu yang mutlak dan paling mendasar dibutuhkan manusia. Kenapakah kita tak memupuk itu.

Jika memang, ada sesuatu hal yang tidak disenangi, bukan berarti kita harus melawan dengan keras. Bukan mengatasnamakan sebuah kepercayaan untuk mengukuhkan dalil-dalil. Saya hanya ingin, berjalan sesuka hati saya. Mengenali beragam karakter, berkumpul, bersendagurau tanpa harus ada sekat.

Saya masih seusia jagung, yang tak tahu kapan akan meninggal. Namun, perjalanan itu membawa saya pada kisah-kisah yang menguatkan dan membentuk alur pikirku. Pada pertengahan tahun 2008, saya melakukan liputan tentang kepercayaan Ahamdiyah di Jakarta. Saya berkenalan dan mewawancara banyak orang. Lalu tiba lah saya pada kesimpulan, bila Ahmadiyah tak sejalan dengan kepercayaan yang saya anut.

Namun, bukan berarti saya berhak menudingnya sebagai sesuatu yang sesat. Saya bahkan berteman hingga seperti keluarga dengan salah satu keluarga Ahmadiyah di Jakarta. Mereka adalah keluarga yang baik, mereka menerima saya apa adanya. Saya nyaman dengan keluarga itu.

Di lain waktu, saya berkawan dengan seorang ahli spiritual Bugis kuno, gelarnya adalah Bissu. Bissu mengatakan diri sebagai muslim, tapi pada praktek mereka kadang meminta doa untuk dewatae, termasuk Sawerigading tokoh dalam epik I La Galigo. Tapi apakah dengan praktek semacam itu, mereka telah keluar dari ajaran islam. Sebab bissu itu meyakini ajaran yang dilakukannya adalah islam sebenarnya.

Saya tentu tak berhak menyimpulkannya.

Saya ingin mengutip catatan harian seorang pemikir yang meninggal muda, namanya Ahmad Wahib: Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut Muslim. Aku ingin orang menilai dan memandangku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya serta dari aliran apa saya berangkat. Memahami manusia sebagai manusia. (Catatan Harian Ahmad Wahib 9 Oktober 1969).  

Selain Wahib, saya juga mengenal beberapa buku bacaan lain. Salah satu favorit saya adalah catatan harian Anne Frank, seorang Yahudi yang diburu pasukan Nazi Jerman. Anne Frank masih berusia 10-an tahun saat menulis catatannya, menggambarkan kehidupan keluarganya di tempat persembuyian. Dia menulis menu makan, cara melihat langit, waktu menutup jendela, dan semua kegiatannya.

Kehidupan keluarga Frank sungguh menyedihkan. Buku tersebut kemudian menjadi sebuah catatan penting pada masanya, dinobatkan menjadi buku kedua paling banyak dibaca setelah Injil di Eropa. Tapi saya tidak menyenangi keyakinan Yahudi, namun saya menyenangi orang-orangnya.  

Saat membaca catatan-catatan itu, seakan saya terbangun dari tidur panjang. Dan sebagai seorang tukang cerita – dalam bentuk tulisan - menjelajah dan berjalan sejauh mana pun, harus dilakukan sebagai seorang manusia, bukan bagian dari sekat dan kelompok tertentu. Aliran kepercayaan dan keyakinan hanya tumbuh bersama jiwa, tak perlu dipamerkan. 

5 komentar:

sofa mengatakan...

Hello
Semoga Inilah yang Dinamakan dengan Akal Sehat
Nice Blog with Excellent information, Nothing against the article. In awe of that answer! Really cool!

Sang Pena mengatakan...

mas eko, tulisannya sudah saya repost di blog sang pena dengan URL : http://gores-penaku.blogspot.com/2012/05/semoga-inilah-yang-dinamakan-akal-sehat.html
Admin Blog Sang Pena

Bung Imam mengatakan...

Suka ini, bro.

Yedi Marwanto mengatakan...

Bagaimana pendapat anda tentang Ahmadiyah yang dianggap telah menghina Islam, seperti adanya fatwa MUI? Apakah umat Islam salah bila mengajak Ahmadiyah untuk kembali kepada Islam, bahkan dengan menggunakan kekerasan seperti di Cikuesik Banten?

ekorusdianto mengatakan...

Terima kasih Yei Marwanto: Itu kan menurut anda dan MUI. Saya tak pernah dan tak punya keberanian mengatakan Ahmadiyah itu salah, ataupun menghina islam. Saya jga sebagai muslim tak pernah merasa Ahmadiyah menghina saya, dan saya juga bukan seorang Ahmadiyah...Masing-masing orang memiliki keyakinan sendiri. Semua berhak menjalankan apa yang diyakininya...

Yang jelas, saya mengutuk kekerasan.