Minggu, 01 April 2012

Satu Rumah, Satu Halaman

Di sekitar kolam Patea Sorowako,  luasnya sekitar 1 hektare, ada beragam kehidupan dan mahluk yang menghuninya. Suara burung saling bersahutan, percikan air dari kibasan ikan, tumbuhan aneka warna, hingga para serangga. Mereka seperti para penggoda dan perayu ulung. 

Hidup di satu rumah dengan halaman yang sama. Mereka bertemu, saling tahu, saling membutuhkan, dan juga saling membunuh.  
Pagi hari, pada Minggu 1 April 2012, kawasan danau itu masih sejuk. Udara yang dihirup dingin dan segar. Tumbuhan-tumbuhan masih basah dari sisa embun dan hujan semalam. Air dari aliran sungai kecil juga beriak. Deras dan keruh.

Tanah dan kerikil di sekitar danau Patea, berwarna merah. Untuk menapakinya harus hati-hati karena licin dan kerikil dari sisa tambang yang tajam-tajam. Untuk menuju kolam, dari jalan utama Patea, hanya dibutuhkan sekitar 15 menit berjalan kaki. Jalannya juga landai.

Saya mengunjungi kolam itu bersama beberapa orang penghobi fotografer di Sorowako. Mereka hendak mencari burung. Setiba di kolam, kami langsung diberi sambutan hangat, lengkingan burung Sri Gunting seperti bermain-main diatas kepala kami. Empat ekor Belibis bermain juga bermain di permukaan air. “Burung-burung di Sulawesi ini suaranya syahdu,” kata Weldi.

Weldi adalah seorang karyawan PT Vale Indonesia. Dia senang mengumpulkan foto aneka burung. Bidikannya juga menyenangkan. Koleksi foto burungnya sudah mencapai ribuan. Dia bisa tahu hanya dari suara, jenis burung yang berkicau.

Saat mereka sibuk memotret, berdiam dan mencermati arah kicauan burung, saya beralih sendiri. Kamera yang saya bawa tak cukup baik untuk memotret burung, lensanya sangat pendek. Mengikuti mereka, sebenarnya untuk membunuh kebosonan di rumah, dan alasan lainnya masuk hutan selalu menyenangkan.

Majalah National Geographic Indonesia tahun 2011 pernah menulis artikel tentang kehidupan yang tak terlihat – saya lupa edisi terbitannya. Menurut majalah itu, setiap jengkal tanah yang ditapaki, bila diteliti menggunakan microscop, dipenuhi oleh mahluk hidup. Melihat semuanya, seperti hamparan kehidupan dan mungkin manusia tak akan bisa melangkahkan kaki lagi.  

Dan saya membuktikan  hal itu. Di tempat pemberhentian menunggu burung, saya membolak-balik daun kering yang jatuh, membalik batu, hingga kayu-kayu lapuk. Saya menemukan banyak serangga, ada yang bentuknya aneh dan ada yang sama sekali belum pernah kulihat.

Ada serangga yang bentuknya seperti segitiga, bergerak cepat, seperti tak memiliki arah. Dia muncul dari balik daun, lalu menghilang lagi. Ada semut hitam yang pantatnya lebih besar dari badan. Bentuknya seperti manusia gemuk, tapi bergeraknya juga sangat cepat. Sungutnya bergerak tak berhenti.

Saya juga menemukan serangga lucu. Warnanya seperti daun kering. Punya tiga pasang kaki. Dua pasang berada di bagian belakang tepat dipangkal perutnya. Sepasang kaki lainnya di bagian depan, dekat dengan leher. Kaki depan dan belakang berbeda ukuran.

Sepasang kaki depannya itu, membengkok, tapi juga bisa lurus. Bagian ujungnya bergerigi seperti mata gergaji. Bila menyentuhnya, maka kaki bergerigi akan bergerak seperti hendak mencabik. Mungkin kaki itu menjadi senjatanya.

Mata serangga itu juga lucu, besar dan tak berkedip. Berbintik-bintik coklat. Waktu saya mendekatkan kamera, serangga itu seperti menoleh. Kepalanya bisa bergerak, tapi tak bisa berputar. Serangga itu sangat kaku.

Ada juga semut merah yang mengagumkan. Saya menemukan sarangnya dari balutan dedaunan. Bergelantung di ranting pohon, besarnya seperti bola kaki.

SAYA tiba-tiba membayangkan kegirangan Wallacea saat menemukan kupu-kupu Papilio Androcles di Bantimurung, terbang dengan anggun, memamerkan sayapnya, dengan buntut yang panjang. Mungkin kegirangan itu seperti yang kualami saat bertemu kupu-kupu kecil, warna biru – sayang saya tidak tahu namanya.

Pertama kali melihat kupu-kupu kecil itu, warnanya begitu terang, menyala. Terbangnya rendah dan lincah. Sekali-kali dia seperti hendak menabrak kaki saya. Ketika dia hinggap di pucuk tanaman, dan mengapit sayapnya maka warna birunya lenyap, berubah menjadi coklat bergaris-garis. 

Waktu saya mendekatkan kepala dan kamera, dia tak tebang. Di bagian belakang ekornya, ada hiasan yang menyerupai mata. Ada juga antena kecil seperti di bagian kepala. Kakinya yang mungil kecil juga lucu, berbintik putih seperti motif kulit Zebra.

Di dekat tempat kupu-kupu kecil itu, ada anggrek tanah yang cantik. Tingginya sekitar 2 meter. Warnanya ungu tua, tidak terang tapi cukup membuatnya jelas terlihat. Bunga anggrek yang belum kuncup seperti bola kecil, berwarna ungu. Ketika bunganya mekar, maka warna ungu itu hanya akan menempel dikulit luar bunga. Bagian dalamnya berbintik dengan warna kuning terang. Anggrek ini cantik sekali.

Selain anggrek ungu besar itu, ada juga anggrek tanah kecil. Tingginya hanya sekitar 10 sentimeter. Berada di kaki-kaki bukit dan bahkan di jalan landai yang dilalui manusia. Warnanya ungu muda, bercampur putih. Batang anggrek itu seperti tak kuasa menahan beban bunga. Jenis anggrek ini cukup banyak saya lihat, di sepanjang perjalanan.

Susan Orleans, dalam bukunya Pencuri Anggrek mengatakan bila anggrek adalah tanaman penggoda yang sangat luar biasa. Anggrek-anggrek ini, memiliki beragam spesies, dari mulai yang kasat mata hingga yang tak bisa dilihat dengan mata telanjang.  

Orleans juga mengatakan, bila para pemburu anggrek inilah yang pertama kali mencapai puncak-puncak gunung tertinggi di dunia. Pada masa ketika Florida dilanda demam anggrek, orang-orang kaya mengirim pasukan untuk mencari anggrek, dari daratan Amerika, Eropa, Asia, Australia, hingga ke Antartika. Orang-orang ini mendatangi pegunungan, lembah hingga pesisir.

SELAIN anggrek saya juga tak dapat menyembunyikan kekaguman pada tanaman Kantong Semar. Tanaman ini lucu, seperti sebuah kantong air. Memiliki penutup dan berdiri tegak. Kantong Semar dalam bahasa latinnya Nepenthes, merupakan tanaman yang menangkap mangsa dengan diam.

Kantong-kantong yang terbuka itu menjadi jebakan untuk serangga, seperti semut, nyamuk, bahkan anak kodok. Binatang-binatang yang telah terjebak akan dihancurkan melalui cairan enzim yang mematikan. Kantong Semar seperti tanaman pembunuh berdarah dingin.

Nepenthes ini memiliki tiga macam kantong, yakni kantong atas, bawah dan roset. Di sekitaran kolam Patea saya menemukan kantong roset. Warna kantong roset ini, hijau muda dan muncul dari ujung daun.

Tidak ada komentar: