Minggu, 15 April 2012

Obrolan Sore di Pesisir Matano

Mahade Tosalili, 76 tahun.  

Rumah kebun Mahade, berdiri diatas permukaan air danau Matano. Punya satu ruangan utama. Di situ ada dapur dan sebuah ranjang kayu dengan kasur lipat. Di beberapa bagiannya, ada peralatan berkebun berjejer.   

Saya berkunjung ke tempatnya pada Kamis, 12 April 2012, sekitar pukul 14.00. Dia menerima saya, di beranda belakang rumah. Halaman belakangnya adalah hamparan permukaan danau Matano. Kami bersendagurau di beranda itu, sembari mengisap rokok dan tertawa sesekali. 


Kampung Nuha, di seberang danau terlihat begitu kecil, seperti miniatur permainan puzzle yang bisa ditata ssesuka hati. Kampung Nuha dengan jarak tempat kami, bisa ditempuh dalam 45 menit perjalanan menggunakan perahu Rap – dua buah perahu yang digabungkan menjadi satu, mampu mengangkut kendaraan roda dua dan empat.

Siang itu, permukaan Matano begitu tenang. Airnya bergelombang seperti kain gorden yang tergantung dijendela rumah. Lembut sekali. Sesekali ada seekor burung keluar dari bawah papan, menukik ke permukaan, kemudian masuk kembali ke kolong rumah. Udara siang itu sejuk sekali, anginnya berhembus pelan. Asap rokok mengepul tak keruan.

Di atas meja ada segelas kopi, sesekali diseruputnya. Usia Mahade sudah 76 tahun. Punya sembilan orang anak, empat perempuan, lima laki-laki. Dia menikah tahun 1959. Anak pertamanya lahir kembar tahun 1961 di daerah pengungsian kampung Seluro, bagian timur Matano.  

Penduduk kampung Sorowako mengungsi ke kampung Seluro tahun 1955, karena dipaksa oleh pasukan pergerakan DI/TII pimpinan Kahar Muzakkar. Di Seluro, ratusan warga pengungsi itu hidup sederhana, hubungan dagang terputus dengan perkotaan. Makanan utama mereka adalah singkong. Umbinya dijadikan makanan pokok dan daunnya dijadikan lauk.”Sedih sekali waktu itu. Apa adanya saja,” kata Mahade. “Seperti juga ini kopi, dulu tidak ada gula pasir. Jadi gulanya pakai gula merah.”

Pada masa itu, Kahar Muzakkar mengeluarkan maklumat beberapa larangan. Masyarakat kemudian mengenalnya dengan Catatan Bathin, berisi beberapa pantangan, seperti tak boleh mengkonsumsi gula pasir, tidak boleh menggunakan jas, dilarang pakai lonceng (jam tangan), dilarang pakai emas, dan beberapa lainya.

Catatan Bathin benar-benar diaplikasikan. Ada beberapa pasukan khusus DI/TII yang berjalan melakukan penggeledahan ke kampung-kampung dan menyambangi rumah satu persatu. “Dulu punya bapak saya itu banyak diambil, ada beberapa emas,” kata Mahade.

Mahade adalah keturuanan dari kepala kampung Sorowako. Neneknya adalah Tosalili yang begitu tersohor. Kemudian diteruskan Lasalima, lalu bapaknya Maloni. Tosalili adalah kepala kampung yang begitu dihargai pada samannya. Dia yang menjadikan masyarakat Sorowako memiliki kampung yang makmur. Punya ratusan hektare sawah dan lahan perkebunan yang baik.

Usia Mahade pada masa pengungsian ke Seluro sekitar 18 tahun. Sudah menamatkan jenjang pendidikan dasar di Sekolah Rakyat Malili. Tapi pergerakan Kahar Muzakkar memaksanya tidak mengenyam pendidikan lanjutan. Sementara dua orang kakaknya yang sudah lebih dulu di kota terperangkap dan tak dapat kembali lagi, tapi tetap melanjutkan sekolahnya hingga menjadi pejabat pemerintahan.

Setamat SR, Mahade langsung menjadi guru sekolah di Sorowako. Memberi pelajaran untuk semua mata pelajaran, dari agama hingga berhitung. Tak ada penghasilan sebagai guru, hanya untuk pengabdian. Tapi keuntungan lainnya terbebas dari wajib militer Kahar Muzakkar. Padahal semua anak muda sebayanya diwajibkan.

Salah satu sudut danau Matano diambil dari beranda belakang rumah kebun Mahade.  

ORANG-ORANG Sorowako bertahan di pengungsian selama sembilan tahun. Mereka bergerak dalam dua tahap. Pertama kali tahun 1955 dan kedua kalinya tahun 1962. 

Ketika penduduk Sorowako berangkat ke Seluro pertama kali tahun 1955, dua tahun kemudian rumah mereka dibumi hanguskan pasukan DI/TII. “Apa alasan mereka membakar rumah,” kata saya. “Tidak tahu. Mungkin mau mengosongkan kampung saja,” kata Mahade.

Mendengar kampung mereka dibakar, Mahade dan penduduk di pengungsian begitu terpukul. Harapan mereka untuk kembali di tanah kelahiran sudah semakin pupus. Sementara persdiaan makanan begitu sulit.

Dalam beberapa tahun, Mahade misalnya hanya memiliki dua lembar baju dan sebuah celana panjang. Kadang kala, untuk berangkat mengajar, harus menunggu baju kering. “Jangankan pakaian, satu sarung saya robek jadi dua untuk anak-anak saya. Karena memang tidak ada apa-apa lagi,” kata Mahade.

Dan keadaan semakin genting, singkong sebagai penopang makanan utama tak bisa diandalkan.  Padi pun sangat susah tumbuh. Sementara pohon sagu berada di daerah terlarang yakni Wasuponda dan sekitaran kampung Matano.

Memasuki paruh akhir pergerakan Kahar Muzakkar ada satu kesatuan yang terbentuk dan begitu menakutkan. Namanya BAJAK. Kesatuan ini tak mentolerir warga yang datang dari perkotaan, mereka membunuh dengan kejam. Menggorok leher.

Saya bertemu dengan koordinator BAJAK pada pertengahan 2010 di Palopo. Namanya Andi Nyiwi. BAJAK adalah singkatan dari Barisan Anti Jawa Komunis. Mereka membunuh orang-orang yang dicurigai terlibat sebagai komunis. Biasanya mereka membunuh dulu, baru melaporkannya ke Kahar Muzakkar.

 “Saya kira itu (BAJAK), yang bikin habis manusia,” kata Mahade.

Suatu waktu di kampung Lambatu ditangkap tujuh orang pemuda. Mereka berasal dari Tabarano, pusat kecamatan yang sudah sedikit maju. Mereka hendak mencari sagu di daerah Wasuponda. Tanpa alasan yang jelas orang-orang itu diangkut ke kampung Seluro.   

Salah satu dari tujuh orang itu adalah kawan sekolah Mahade, namanya Lasuni. Ketika orang-orang itu, digiring ke tempat eksekusi yang ditandai dengan sebuah lubang besar, Lasuni menegur Mahade. “Saya mau pergimi saya duluan,” kata Lasuni ditirukan Mahade. “Wah.. sedih sekali rasanya. Itu saya lihat dengan mata kepalaku sendiri.”

Karena kejadian itu, beberapa peringatan dari orang tua kampung, agar menghentikan pencarian sagu. Dan menghadapi saja kenyataan untuk makan yang ada. Tapi masalah perut tentu tak bisa ditolerir. Pada malam hari beberapa rombongan laki-laki mengarungi Matano menggunakan perahu, mendayung dari Seluro ke Kampung Matano selama sehari penuh. Perahu tak menggunakan layar, karena akan mudah ketahuan. Mereka melakukannya hingga menjelang tahun 1962.

Tahun 1962 muncullah keadaan yang dikenang dengan masa SISPAIR. Keadaan mulai membaik. Penduduk di Seluro kembali ke Sorowako.  Membangun pondok-pondok dari bekas rumah masing-masing yang sudah jadi arang. Orang-orang mulai menggarap ulang sawah.

Tapi nafas kedamaian itu hanya sesaat. Saat  padi mulai menguning ketegangan terjadi lagi. Masyarakat mudik lagi ke Seluro. Tanpa menunggu panen.

Di tahun yang sama rombongan tentara Indonesia, mulai memasuki Sorowako. Dan keadaan itu belum diketahui masyarakat pengungsi. Laki-laki yang menyangkan garapan sawahnya, bergiliran dari Seluro ke Sorowako untuk menjaga padi yang menguning.

Dan pada sebuah malam, saat Mahade dan 30 laki-laki lainnya yang menjaga padi, mereka tertangkap oleh tentara. Digelandang ke sebuah masjid dipinggiran danau (kini masjid itu di Jalan Tosalili Sorowako).  Komandan kompi tentara meminta penduduk dikembalikan keSorowako. “Jadi sekitar pukul 04.00 diantara kami berangkat enam perahu ke Seluro. Menjelang siang, rombongan belum kelihatan. Saya khawatir sekali, jangan-jangan mereka tidak pulang dan kami jadi sandera,” kata Mahade.

Sekitar pukul 11.00 komandan kompi dari tentara hilir mudik mengamati pesisir Matano. Tiba-tiba  dari kejauhan rombongan perahu itu bergerak lamban, ramai sekali, seperti barisan kupu-kupu. Lalu berlabuh di depan masjid. “Saya lihat itu komendan kompi, mungkin kasihan. Bagaimana tidak orang-orang yang datang semuanya berbaju robek-robek. Lalu kami disuruh tidak pulang ke Seluro dan cari rumah masing-masing,” ujar Mahade. “Senangnya kami minta ampun.”

WAKTU mengingat masa itu, wajah Mahade tiba-tiba berubah. Rautnya menjadi tegang. Dan matanya mulai basah. Dirapatkannya sedikit punggung ke sandaran kursi lalu menghembus nafas. “Semoga itu yang terakhir.”

6 komentar:

Ngambarsari Dunia Maya mengatakan...

Nice story... kisah tentang sorowako yang jarang diulas di internet.. siiip... kunjung balik ke blog kami www.ngambarsari.com ,salah satu redaksi kami jg kerja di sorowako... keep blogging ....

ariedonk_design&photography mengatakan...

mantap kakek mahade ada biografinya!!!

isra mahade tosalili mengatakan...

semoga bermanfaat buat semua, agar lebih bersyukur atas nikmat yg diberikan

isra mahade tosalili mengatakan...

semoga bermanfaat buat semua, agar lebih bersyukur atas nikmat yg diberikan

Unknown mengatakan...

Bangga bisa pernah ngobrol sm beliau

syasya apunk mengatakan...

Bangga bisa pernah ngobrol sm beliau