Sabtu, 03 Maret 2012

TNI dan POLRI dapat Diskon Naik Bus

Stiker diskon untuk TNI dan POLRI

Saya tiba di Baron, Kabupaten Nganjuk, Surabaya pada 25 Februari 2012. Sehari kemudian saya menyempatkan jalan-jalan ke Malang bersama dua adik saya. Tiga hari kemudian, kembali ke Baron menghadiri pesta pernikahan adik sepupu.

Perjalanan menuju Malang dari Baron membutuhkan waktu sekitar 4 jam. Menggunakan dua bus dan satu angkutan mikrolet. Rutenya Baron ke Jombang, menggunakan bus besar Sumber Kencono, berpendingin udara, tarifnya Rp9,000, jarak tempuhnya sekitar 45 menit. Dari Jombang ke terminal Malang menggunakan bus kecil tanpa pendingin udara namanya Puspa Indah, tarifnya Rp16,000, sekitar 3 jam. Dari terminal lalu dengan angkutan umum warna kuning dengan tulisan depan ADL, tarifnya Rp2,500 setiap orang, dengan jarak tempuh sekitar 30 menit.


Dua bus yang kami tumpangi melaju dengan kecepatan tinggi. Meliuk seolah tak membawa penumpang. Saya beberapa kali harus terjaga dari tidur ketika badan bus melewati garis pembatas median jalan. Adik saya, Eva, bahkan tak mampu memejamkan matanya. Ini pengalaman pertamanya jalan-jalan menggunakan bus di pulau Jawa.

Laju bus yang begitu cepat membuat Eva sangat ketakutan. Beberapa kali dia meminta berhenti, tapi saya tak menghiraukan. Ketika bus mengerem mendadak, tangannya menegang sandaran kursi orang didepannya.

Setelah istirahat, Eva mengatakan pada saya, kalau korban kecelakaan bus di pulau Jawa yang sering ditontonnya di televisi dan merenggut banyak nyawa, bisa menjadi wajar. Dikatakannya, kalau kecepatan bus seperti itu, jelas bisa membunuh semua penumpang.

Dia membandingkannya dengan bus-bus penumpang di Sulawesi Selatan. Lajunya tak terlalu cepat, dia bahkan bisa menikmati perjalanannya dengan tidur nyenyak. Bus seperti bom waktu bagi orang-orang di pulau Jawa.

Sementara menurut sepupu saya, yang orang Surabaya, laju bus memang demikian. Itu sudah biasa. Harus cepat karena orang memburu waktu. Kalau tidak demikian penumpang bisa mengamuk. Tak hanya itu, sopir-sopir bus juga memerlukan waktu yang tepat untuk sampai tujuan, kemudian memutar haluan kembali mencari penumpang, untuk mengejar setoran.

Bus Sumber Kencono, adalah bus besar. Lantainya bersih. Ada dua orang kondektur, satu di pintu bagian belakang dan satu dibagian depan. Seorang kondektur bertugas menagih uang pembayaran dari penumpang. Menggunakan kertas karcis.

Saya mengamati beberapa bagian kendaraan itu. Ada stiker himbauan dilarang merokok dan himbauan untuk selalu menjaga barang. Tapi ada satu stiker yang menarik perhatian saya. pengumumannya lucu, tentang penyampaian bila anggota TNI/Polri yang berseragam akan mendapatkan diskon 50% dalam setiap pembayaran.

Inilah stiker pertama dengan nada seperti itu yang kulihat. Di Sulawesi Selatan tak ada hal demikian. Saya kemudian menerka-nerka penghasilan anggota TNI dan Polri itu. Di Sulawesi Selatan saya punya beberapa teman yang berprofesi demikian. Dia seangkatanku ketika duduk di bangku SMU. 
Mereka sangat ramah, dan hampir setiap bertemu dia mentraktir kami makan. Kini mereka juga sudah memiliki rumah. Saya mengira penghasilan sebagai anggota TNI dan Polri itu tidak kecil.

Di Surabaya, ada keluarga dan beberapa kenalan saya bekerja di perusahaan-perusahaan, seperti pabrik pembuatan makanan, hingga peralatan rumah tangga. Mereka bekerja dengan sistem outsourcing. Para pekerja diambil dari sebuah biro khusus yang menampung tenaga kerja. Sistem inilah yang banyak ditentang oleh kaum buruh.

Penghasilan mereka setiap bulan  antara Rp500 ribu hingga Rp1,2 juta. Seseorang yang kukenal bekerja sebagai pencari kerja di perusahaan outsourcing. Dia menghela nafas saat menceritakan pembagian hasil yang dilakukan bironya, yang memperkerjakan sekitar 6000 karyawan. Uang makan makan setiap orang dari Rp53 ribu setiap hari dipotong menjadi menjadi Rp30ribu. Uang transport yang seharusnya karyawan dapatkan tak diberikan. Penghasilan mereka bahkan dipotong beberapa persen.

Sistem ini menurutnya seperti perbudakan. “Dalam waktu dekat saya mau mengundurkan diri” katanya.

Pada 1 Maret 2012, saya menumpangi kembali bus Sumber Kencono. Pesawat yang akan membawa saya ke Makassar pukul 06.30. Saya meninggalkan Baron, sekitar pukul 01.30. Perjalanan ke terminal Surabaya ditempuh sekitar 2,5 jam. Penumpangnya hampir penuh.

Yang duduk didekat saya adalah seorang laki-laki bekerja sebagai karyawan outsourcing. Masuk kerja pukul 07.00, terlambat sedikit akan mendapat teguran, bahkan surat peringatan.  Dia turun sebelum memasuki pintu terminal. “Harus tepat waktu mas,” katanya.

Lelaki itu bekerja sebagai buruh harian. Upahnya setiap bulan sekitar Rp950 ribu. Upah itu dikeluarkan Rp100 ribu untuk kontrakan rumah setiap bulan, sisanya buat makan dan uang sekolah empat orang anaknya di Nganjuk.  “Tak ada diskon untuk uang bus,” kata saya. “Mana ada mas. Orang kecil seperti saya ini nda mungkin dapat diskon-diskonan,” jawabnya.

Ketika saya turun di terminal saya menanyakan hal itu pada kondektur. Kenapa ada stiker khusus diskon untuk TNI dan Polri. Kenapa tidak ada untuk karyawan outsourcing. Kondektur menjawab dengan enteng, sudah demikian. Bahkan dengan pengumuman seperti itu, masih ada juga beberapa orang TNI dan Polri yang tak membayar. 



Tidak ada komentar: