Jumat, 03 Februari 2012

Orang-orang yang Menjadi Tua (cerita pendek eko rusdianto)

DAHLAN seorang kepala desa di sebuah kampung kecil di ujung timur Sulawesi Selatan. Menikah pada usia 21 tahun dan isrtinya 19 tahun. Ketika usia perkawinan mereka genap setahun mereka dikarunia anak lelaki pertama, namanya Imam.


Selang dua tahun kemudian, anak kedua mereka lahir, berturut-turut hingga mencapai 10 orang anak. Meja makan mereka selalu ramai. Anak-anak mereka selalu bertengkar, berlarian dan saling teriak-teriak. Kadang-kadang mereka berebut mainan. Kalau sudah semakin bising Dahlan mengeluarkan geratakan kecil untuk membuat suasana diam.

Sebagai anak pertama Imam menjadi ketua kelompok anak. Dia pandai menasihati adik-adiknya. Namun, bila keriuhan tak mampu diatasinya, maka dia akan kena marah. Begitulah anak tertua selalu menjadi sasaran.


Saya bertemu Dahlan di rumahnya yang hangat. Rumah panggung, punya empat kamar. Kamar di ruang tengah dijadikan kamar milik Dahlan dan Istri. Kamar ruang tamu, kepunyaan Imam dan tiga saudara lainnya. Ruangan yang berhadapan dengan kamar Dahlan adalah milik anak ke empat dan saudarinya anak ke enam yang perempuan.  Satu kamar lainnya ada dibagian belakang tehimpit dapur milik saudara lain.


Ruang makan, keluarga Dahlan ada diantara kamar belakang dan dapur. Meja makannya punya 12 kursi. Kalau ada tamu dan keluarga yang ikut makan, maka anak bungsu dan perempuan akan duduk di tempat lainnya.


Pada malam saat saya berkunjung ke rumah Dahlan, dia sedang konsentrasi memainkan pion-pion dan perwira di bidak catur. Ada gelas kopi, sebungkus kretek dan asbak. Lawannya adalah seorang anggota keluarga lainnya. Pada permainan pertama Dahlan kalah, selanjutnya menang, dan permainan berakhir seri.


Istri Dahlan ikut menonton permainan suaminya. Saya berada di dekat sang istri. Dia meneguk segelas teh. Saya celingukan ke kiri dan kanan. Tak ada hiasan di rumah itu. Hanya ada sebuah sofa murahan berwarna biru dan satu set kursi kayu hitam yang ditempati bermain catur.


Suara gaduh 10 orang anaknya, sejak beberapa tahun lalu sudah tak terdengar lagi. Satu persatu mereka telah menempuh hidup masing-masing. Ada yang bekerja di perusahaan tambang, ada yang menjadi pelaut, dan ada yang menjadi pegawai negeri. Masing-masing sudah berkeluarga, punya rumah masing-masing dan hanya sesekali mengunjungi Dahlan.


Dahlan sudah punya 14 cucu. Kalau hari lebaran tiba, bukan main ramainya rumahnya itu. Tapi setelah itu kembali melompong. Permainan catur itu berakhir pukul 23.00. Dahlan meminta saya menginap di rumahnya malam. Dia ingin bercerrita banyak.


Saya tidur di kamar depan milik Imam. Masih ada poster Iwan fals, Marlyn Monroe dan group New Kids On The Block. Pukul 08.00 esok harinya, saya dan Dahlan bersama istrinya sarapan. Di meja yang tak pernah berubah bentuk. Kursinya juga masih lengkap ada 12.”Kalau dulu anak-anak itu makan, saling lomba ambil nasi, atau lauk pauk. Padahal semua cukup. Tapi sekarang, kita saling suruh siapa yang mau duluan menyendok nasi,” kata Dahlan.  Rasanya memang aneh, makan di meja yang besar tapi hanya ada tiga orang.


Menurut Dahlan, punya anak itu rasanya memang menyenangkan. Tapi itu hanya berlangsung beberapa waktu. Setelah mereka menikah, berkeluarga, orang tua itu kembali seperti anak-anak. Kesepian seperti yatim piatu. “Coba kau lihat, kami tak tahu mau lakukan apa lagi,” katanya. “Kami ini sudah tua, dan berpikirnya tak mau susah-susah lagi.”


Mungkin saja benar pandangan beberapa orang, bila hal yang paling menjengkelkan hidup didunia adalah ketika berhasil menjadi tua. Keriput dan tak memiliki kekuatan fisik lagi.


Di masyarakat Bugis, Dahlan bilang pada saya, ada orang-orang yang dipilih dewata untuk tak berkeluarga. Dipilih untuk merasakan kesepian ditinggalkan anak. Namanya bissu. Bissu menurut pendapat banyak orang dikenal sebagai seorang pendeta kuno. Ahli spiritual dan juga berfungsi sebagai sandro (dukun).


Bissu dipercaya sebagai utusan langsung yang mampu berkomunikasi dengan para dewa. Bahasa yang mereka gunakan hanya segelintir yang paham: bahasa bugis kuno atau juga dikenal sebagai bahasa I La Galigo. Di kehidupan masyarakat, bissu merupakan satu bagian gender dan sangat dihormati. Mereka menganalogikannya melalui jari tangan, untuk ibu jari ditunjukan sebgai laki-laki, telunjuk untuk laki-laki yang bersifat dan berperilaku seperti perempuan, kelingking adalah perempuan, jari manis adalah perempuan yang bersifat seperti laki-laki, dan jari tengah adalah bissu.


Tak ada yang tahu jenis kelamin para bissu. Seperti halnya tuhan yang tak diketahui jenis kelaminnya. Menjabat seorang bissu tak bisa menikah. Tak ada keturunan. Tak ada anak. Dan yang utama tak ada kesepian dimasa tua.

Dahlan, menerawang jauh di meja makannya pagi itu. Dia seorang penganut muslim yang taat. Tapi dia juga menghargai ajaran lokal di daerahnya. Dia menceritakan pada saya tentang saudari Sawerigading, yakni We Tenri Abeng.


Dalam sebuah kisah, We Tenri Abeng adalah bissu pertama di bumi ini. Setelah itu tak ada seorang perempuan pun yang jadi bissu. We Tenri Abeng, diangkat ke langit dan dinikahkan dengan penghuni langit. Dia menetap di kahyangan dan tak pernah lagi menapakkan kakinya di bumi. Tapi anak-anak We Tenri Abeng dikrim ke bumi dan beberapa menjabat sebagai raja.


Dahlan bilang pada saya, We Tenri Abeng sampai sekarang masih ada dilangit. Dia bersemayam di kerajaan Tompotikka. Dia melihat seluruh kejadian mendampingi dewata Patotoe’ yakni dewa takdir yang menentukan jalannya hidup di bumi.


HAMPIR pukul 09.00 kami usai sarapan. Dia mengajakku duduk di ruang tamu, membuka-buka album foto. Menunjukkannya satu persatu anak-anak mereka semasa kecil. Wajahnya lucu-lucu. Gendut-gendut, pipinya tembem. Dahlan terlihat bahagia sekali, senyumnya melebar setiap usai menjelaskan sikap dan sifat anak-anaknya.


Istrinya masih di dapur mencuci piring-piring kotor kami tadi. Setelah itu bergabung di ruang tamu.  Kemudian mereka berdua mendominasi cerita, seperti tak memedulikan kehadiranku. Lama sekali. Saya seperti mendengar kisah dan sejarah keluarga. Hampir mirip dongeng.


Pukul 11.00 saya berpamitan dengan kedua orang tua itu. Kami saling berjabat tangan. Dia memintaku sering mengunjunginya. “Rumah ini terlampau besar untuk kami berdua saja. Ingin rasanya melipat saja dan menyisahkan kamar dan dapur,” kata istrinya. “Datanglah ke sini, supaya ada derap kaki lain selain kami.”


Ketika saya menuruni anak tangganya, dia ikut dari belakang mengantarku mengambil sepeda. Saya mengayuhnya dengan pelan. Pada sore hari, saya berjalan-jalan. Kudapati lagi Dahlan dan istrinya di rumah-rumah tetangga. Mereka bercerita dengan serius.


Mereka menemani para tetangganya bermain dengan anak-anak. Dahlan bahkan, menemani kumpulan anak-anak bermain kelereng. Dan pada pukul 17.30 Dahlan dan istrinya pulang ke rumah. Menunggu waktu makan malam. Lalu menunggu kerabat lainnya bermain catur, setelah itu tidur. “Ini adalah ritual saya. Ritual orang-orang tua,” kata Dahlan. (eko rusdianto)

1 komentar:

MH Arfah mengatakan...

mantap kanda tulisan. Kapan lagi ini kanda ada pelatihan menulis?