Sabtu, 11 Februari 2012

Dari Sebuah Nama


Bertemu dengan Usman Yusuf, secara kebetulan. Dia bekerja sebagai pengantar koran di Sorowako, sejak 1990. Usianya 61 tahun.

Saya bertemu dengannya pada sebuah malam di White Monkey, berdekatan dengan tempat menginap para karyawan-karyawan PT. Vale Indonesia. Dia datang berteduh karena hujan mengguyur begitu deras. Wajah Usman tirus, rambutnya memutih. Menggunakan jaket murahan berwarna hitam.


Dia berdiri di pintu belakang. Melihat acara yang berlangsung dalam ruangan. Dia tak mau melangkah masuk. Dua orang anak kecil, bermain berlarian. Berhenti di depan Usman, sambil menjatuhkan botolair mineralnya, anak-anak itu tertawa. Usman sesekali memegangi rambut seorang anak itu.


Dia tak mau masuk ruangan karena tak ada undangan. Sesekali saya memaksanya tapi dia tak beranjak. Alasannya hanya ingin berteduh. Saya mengerti, dan menemaninya bercerita.


Usman adalah warga dari kampung Landangi. Sebuah kampung diseberang danau. Untuk mencapai Landangi bisa dilakukan dengan dua jalur, pertama dengan perahu menyebrangi danau menuju kampung Matano, lalu berjalan atau berkendara sekitar 9 kilometer.


Sementara melalui jalan darat akan ditempuh sekitar 4 jam dengan kendaraan roda dua. Mulai dari Sorowako, melalui Ussu di Malili, kemudian memutar kaki gunung. Jalan menuju Landangi tidak beraspal, tapi berangkal batu, dan beberapa bagian masih tanah liat.


Jalur Matano ke Ussu di Malili atau sebaliknya adalah jalur perjalanan para pandai besi masa kerajaan Luwu. Matano adalah kampung para pandai besi yang sangat terkenal sekitar abad ke 12. Sementara Ussu adalah pusat kerajaan Luwu dimana tempat teknologi berada. Kelak besi-besi tempaan Matano di Nusantara dikenal dengan nama Besi (bessi’) Ussu.  


Pada masa kerajaan Luwu, wialayahnya administrasinya meliputi dan menaungi 12 anak suku, termasuk Tambe’e, Karunsie, dan Padoe di sekitaran Sorowako – saat ini. Dan menurut Usman, kampungya Landangi masuk dalam anak suku Tambe’e.  


Dahulu kala, Tambe’e adalah pemeluk agama nasrani. Sementara Matano adalah pemeluk muslim. Beberapa waktu lalu, ketika mengunjungi Matano beberapa orang mengatakan sama saya, bila Matano menjadi tempat penting pangkalan pasukan DI/TII pimpinan Kahar Muzakkar.


Dan Landangi yang tidak sejalan dengan tujuan DI/TII akhirnya mendapat terror. “Kampung kami diserang. Dikosongkan itu. Keluarga-keluarga kami mengungsi. Itu setelah tahun 1960-an,” katanya.


Usman, ketika pergerakan DI/TII dari tahun 1955 hingga 1965 sudah mampu mengingat. Mendengar kata DI/TII merupakan kegentaraan langsung muncul. Meskipun dia selalu meredamnya. “Tapi sekarang mungkin tidak lagi. DI/TII itu kan mau membentuk Negara islam. Tapi mengingat masa lalu..,” dia menghela nafas. 


Dan karena tragedi itu juga lah, dia memperkirakan namanya menjadi Usman Yusuf. Namanya sekarang untuk membuat diri dalam keadaan aman.

Ketika saya bertemu dengannya malam itu, saya menanyakan tentang nama Usman Yusuf. “Saya adalah penganut nasrani. Keyakinan saya dari dulu adalah nasrani. Tapi kau tahu waktu masa gerombolan kan kita harus cari aman,” katanya, lalu berhenti.


Seorang pegawai White Monkey menghampiri saya membawakan dua kaleng soft drink. Saya memberikan semuanya pada Usman. Dia memasukkannya ke kantong jaket. “Ini buat cucu, kalau begitu. Terima kasih,” katanya. Usman punya tujuh orang cucu.


Malam itu, semua Koran sudah diantarkannya ke tempat pelanggan. Dia menyebar koran Kompas, Fajar, dan Palopo Pos. Ada ratusan eksamplar. Dimulai sejak pukul 18.00 hingga pukul 21.00 dan bisa molor hingga pukul 22.00.


Di Sorowako, setiap hari koran atau surat kabar akan tiba menjelang malam. (Eko Rusdianto)

1 komentar:

novi saja mengatakan...

menyentuh sekali...

aku mengutuk peperangan.

sedang mengenang 99 di maluku. ah, apa nafisa juga mungkin berubah jadi novitayanus?