Sabtu, 07 Januari 2012

Di Tongkonan Siguntu, Tana Toraja

Tedong Bonga': Harga setiap ekornya tak kurang Rp200 juta
Pada sebuah malam menyambut tahun 2012, hanya ada puluhan orang berkumpul di Tongkonan Siguntu. Meski angin berhembus pelan tapi itu cukup membuat dingin. Dan pukul 23.30 beberapa orang membakar kembang api, aneka warna.

Letusannya, seperti suara ledakan. Cahayanya membuat sekeliling rumah tongkonan bercahaya terang. Saya dengan jelas, bisa melihat daun yang jatuh, ranting dan tanaman di pot. Pukul 24.00 semua persediaan kembang api diledakkan. Saya, dan beberapa kawan lainnya saling bersalaman. Selamat tahun baru 2012.

Bahagia sekali rasanya malam itu. Perayaan kecil, dengan beberapa kaleng bir, coca cola dan hisapan rokok di udara dingin. Rasanya menjadi hangat. Kami menikmati pesta kecil kembang api itu di Tongkonan Siguntu, salah satu tempat yang punya nilai penting dalam perkembangan pariwisata di Tana Toraja. 

Di Siguntu inilah, pertemuan PATA (Pasific Asia Travel Association) dilaksanakan pada tahun 1974, dan dihadiri perwakilan dari 60 negara. PATA adalah sebuah konferensi yang berkonsentrasi pada dunia kepariwisataan. 

Siguntu berada di Desa Nonongan, Kecamatan Sanggalangi’. Jaraknya dari Rantepao (sekarang ibukota Toraja Utara) sekitar 5 km. Menjangkaunya bisa menggunakan kendaraan roda dua dan empat. Jalannya mulus, beraspal. 

Mengunjungi Siguntu, seperti mengunjungi kemegahan yang tersembunyi. Ada 11 buah tongkonan berderet berhadapan, tiga di sisi lainnya, dan delapan di sisi hadapannya. Di Tongkonan dengan deretan tiga ada sebuah prasasti penanda PATA.

Pesta Kematian
Bukan tanpa alasan kami mengunjungi Siguntu dimalam pergantian tahun itu. Beberapa hari sebelumnya ada rangkaian ritual kematian atau Rambu Solo untuk Datu Sarungallo. Dia seorang perempuan kerabat dari rumpun kepemilikan tongkonan Siguntu. 

Di Toraja, masing-masing rumpun keluarga membangun tongkonan besar dan menjadikannya semacam pusat kegiatan bila hendak melakukan ritual, baik untuk kehidupan dan kematian. 

Tongkonan-tongkonan ini memiliki nama dan cerita sendiri. Ada beragam dan macam-macamnya. 
Ketika PATA menjadikannya sebagai tempat konferensi, Siguntu kala itu melakukan ritual Mangrara atau Rambu Tuka (syukuran untuk memasuki rumah baru). Saya sangat senang mengunjungi Siguntu. Tempatnya yang berada di sebuah bukit kecil berada lebih tinggi dibanding tongkonan lainnya.

Saya meninggalkan Siguntu sekitar pukul 01.00. Kemudian sekitar pukul 09.00 dua hari setelahnya, pada 2 Januari 2012, saya kembali mengunjunginya. Kali ini untuk melihat pemotongan kerbau di lapangan persembahan (rante). 

Di Toraja, ritual kematian dilalui dengan beberapa tahapan, mulai dari persiapan, membungkus jenazah, memindahkan jenazah dari rumah ke tempat Lakkian tongkonan utama, adu kerbau, pemotongan kerbau, hingga membawa jenazah ke liang. Semua dilakukan dengan pesta besar. 

Menurut Jerfis, seorang kerabat Datu Sarungallo, pada upacara kematian itu ada sekitar 200 ekor kerbau yang disembelih, berikut beberapa kuda, rusa dan ratusan babi. Di Toraja, semakin banyak keluarga si mati mempersembahkan hewan akan semakin baik kehidupan si mati di alam kematian. 

Namun bagi keluarga yang ditinggalkan, mempersiapkan pesta kematian tidaklah semudah yang dibayangkan. Harga beberapa jenis kerbau bisa mencapai Rp 300 juta lebih per ekor. Jerfis menunjukkan pada saya Tedong Bonga’ (Kerbau Belang) yang harganya mencapai Rp 350 juta. Jumlahnya mencapai puluhan ekor. 

Harga kerbau paling rendah sekitar Rp 20 juta. Kerbau jenis itu hanya menjadi pelengkap, hampir fungsinya setara dengan babi. 

Saat saya mengunjungi acara pemotongan kerbau (Matinggoro), jantung saya berdebar kencang. Seperti melihat pembantaian yang besar. Kerbau-kerbau itu tak satupun kakinya diikat, hanya memegang talinya, lalu ditebas dengan pisau kecil. Beberapa kerbau yang urat pernapasannya tidak terputus dengan baik, berlari tak keruan, ada yang menyeruduk orang dan berlari tanpa arah dengan darah merembes di leher. 

Saya mendengar keahlian orang-orang Toraja menyembelih kerbau itu sejak kecil dan baru kali ini menyaksikannya sendiri. Menakutkan.

Sekitar pukul 11.30 saat matahari begitu terik, kerbau yang dikumpulkan di lapangan upacara langsung ditebas. Saya tak siap. Tak menduga akan secepat itu. Diperbincangan saya dengan beberapa sejarawan, toko adat, dan antropolog, upacara pemotongan kerbau untuk pesta kematian di Toraja dilakukan dengan khusuk. 

Kerbau  pertama yang akan disembelih akan diperhadapkan pada Lakkian tongkonan utama tempat jenazah disemayamkan. Kerbau itu diikat di sebuah tiang kayu dekat dengan batu megalitik. Bila pemotongan itu dilakukan dengan baik, dengan orang-orang khusus, maka kepala kerbau saat dia terkapar harus menghadap ke Lakkian. Simbol ini, menunjukkan keikhlasan kerbau itu untuk ditunggangi ke alam kematian. Dalam tradisi Toraja, kerbau dianggap sebagai binatang kuat dan mampu membawa arwah orang mati menuju tempat yang baik. 

Tapi, saya tak menemukan tradisi pemotongan itu. Ini tentu membuat saya kecewa. Pemotongan di lapangan dilakukan tanpa aba-aba. Ada beberapa orang dengan pisau menebas dengan cepat, menggunakan pakaian biasa, dan semua anak muda. Pemotongan itu, seperti sebuah tragedi. Saya tak menemukan unsur spiritual di acara itu. 

Simbuang dan Simbol Perempuan
Simbuang atau batu megalitik adalah unsur penting dalam ritual kematian di Toraja. Batu-batu ditarik dari dalam hutan ke menuju kampung, tempat lapangan upacara. Batu itu didirikan dengan beberapa upacara penting, memotong beberapa hewan. 

Antropolog Belanda, Kees Buijs dalam bukunya Kuasa Berkat dari Belantara dan Langit menuliskan dengan detail prosesi itu. Simbuang menjadi penanda penting derajat kebangsawanan orang yang meninggal. Semakin tinggi batunya semakin tinggi pula derajat kebangsawanannya.

Batu-batu yang dicari dari hutan, tulis Buijs, merupakan penanda suku Toraja menghormati kuasa berkat dari bumi, bukan hanya dari langit. Buijs, menjelaskan bila sebelum kebudayaan baru seperti Agama masuk, suku Toraja mempercayai dua kekuasaan utama. Bumi dan langit. 

Di bumi kuasa berkat itu dijalankan oleh seorang imam perempuan. Imam ini dikenal dengan jabatan To Burake. Imam perempuan memimpin semua prasyarat dan tatanan adat yang berhubungan dengan kesuburan dan kelahiran. Sementara imam Laki-laki mengurusi masalah kematian atau yang berhubungan dengan langit. 

Dalam prosesi penanaman batu Simbuang, menunjukkan pentingnya kuasa berkat dari bumi. Simbuang menunjukkan dengan jelas, bagaimana batu yang ditanam harus dengan baik tertancap, menjulang ke langit sebagai simbol kembalinya arwah ke alam kematian. (Eko Rusdianto)   

3 komentar:

Rizky Haryanto mengatakan...

ternyata simbuang itu batu?, ternyata yang selama ini sering saya dengar dengan sebutan tersebut "simbuang" sudah di salah artikan.

jempol kanan untuk "Mas" (sang penulis)

Rizky Haryanto mengatakan...

ternyata simbuang itu batu?, ternyata yang selama ini sering saya dengar dengan sebutan tersebut "simbuang" sudah di salah artikan.

jempol kanan untuk "Mas" (sang penulis)

Fahmi mengatakan...

wedew, serasa serem itu cara nyembelih kerbaunya, kasian langsung tebas gitu aja T_T