Kamis, 27 Oktober 2011

Pemuda Menggugat Pemuda

Dan 28 Oktober 1928 itu jadilah Sumpah Pemuda. Para pemuda bersorak menyatukan pandangan. Satu arah, untuk Indonesia yang memiliki identitas dan karakter. Sumpah itu terjadi di pulau Jawa. Tapi gaungnya menggema ke seluruh pelosok. Seluruh sudut negeri ini.

Nah ini adalah refleksi saya untuk hari bersejarah itu. Saya memulainya dari seorang kawan, wartawan foto di Harian Fajar. Namanya Tawakkal, biasa dipanggil Gea, atau TWK. Orangnya ramah, keras, mungkin juga suka emosian. 

Rabu, 26 Oktober 2011

Masyarakat yang Hilang

Orang Sorowako adalah cerita dengan wilayah tanpa penduduk.


Sorowako adalah tanah yang dikelilingi hutan lebat. Tanahnya berwarna merah dan secara geologi mengandung banyak besi. Punya danau Matano yang cantik, airnya biru dan jernih sekali. Terdaftar sebagai salah satu danau terdalam di dunia, dasarnya berada 80 meter dibawah permukaan laut.

Minggu, 23 Oktober 2011

Mendayung Cerita Kano

Ini Minggu pagi, 23 Oktober 2011, di danau Matano. Airnya jernih, udaranya segar. Saya diajak teman bermain Kano. Perahu kecil dari bahan fiber ataupun plastik. Digunakan dua orang, empat orang paling banyak.

Saya bersama Doni seorang kawan fotografer, menyewa Kano berwarna merah. Masing-masing dari kami memegang dayung. Duduk memanjangkan kaki atau bisa juga bersila. Untuk pemula bermain di Matano harus dilakukan sebelum pukul 12.00, menjelang pukul 13.00 angin akan kencang dan ombak tinggi.

Jumat, 21 Oktober 2011

Ini Tentang Kami

Oleh: Sartika Nasmar
BAGI saya, menjalin hubungan pacaran selama hampir delapan tahun bukanlah hal yang mudah. Jatuh Bangun bak sebuah lagu dangdut yang dilantunkan oleh Kristina. Atau Putus Nyambung seperti yang dinyanyikan oleh Bukan Bintang Biasa. Tapi, itu bukan lagu favorit kami. Eko senang mendengarkan lagu-lagu Iwan Fals dan Frank Sinatra. Sedangkan saya, senang lagu apa saja yang pasti buat hati senang dan gembira.

“Kalau menyanyi mi Tika, berarti senang mi hatinya,” begitu Eko mengandaikan suasana hati saya.

Kamis, 20 Oktober 2011

Senandung Semangat untuk Pasukan DI/TII

Usia Singkaru pada tahun 1962 sudah melewati dari 22 tahun. Belum menikah dan ikut kelompok pergerakan Darul Islam Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Kahar Muzakkar. Dia masuk dalam regu pasukan penghalau, bukan pasukan khusus.

Beberapa kali bertemu dengan Kahar Muzakkar, tapi tak akrab. “Ah saya ini hanya pasukan biasa,” katanya. Pada masa pergerakan itu, namanya diganti menjadi Muhammad Baharuddin.

Cerita 17 - Surat untuk Papua

Saya tidak tahu apakah berdiri sendiri seperti Timor Leste lebih baik untuk Papua. Saya juga tidak tahu apakah otonomi khusus untuk Papua akan menyelesaikan masalah? Dari Sulawesi Selatan saya hanya membaca, samar-samar dan penuh tanya, apa gerangan terjadi di bumi ujung timur Indonesia itu.


Pada Rabu, 19 Oktober 2011, di lapangan Sakeus Padang Bulan Abepura, kalian melaksanakan kongres Rakyat Papua III. Saya tak tahu apa yang kalian bicarakan, tapi itu adalah hak semua warga untuk berkumpul dan berserikat. Tapi sebelum pertemuan itu, ada serombongan pasukan mengawasi kalian. Lalu tiba-tiba membubarkan paksa pertemuan itu. Ada sekitar 200 orang ditahan, tak ketingalan beberapa mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Fajar Timur, Abepura.

Rumitnya Menjaga Gua Prasejarah

Kompleks Gua Prasejarah Bellae
Ismail, berajalan menggunakan sepatu bot setinggi betis berwarna hitam. Celana jinsnya dimasukkan ke dalam badan sepatu. Melewati pematang sawah yang berlumpur, sesekali kerepotan mengangkat kakinya yang berat karena tenggelam. “Itu guanya,” katanya, seraya mengangkat telunjuknya.

Namanya gua Sakapao. Dari tempat berjalan di atas pematang, Sakapao berada di tengah badan gunung karst. Mulutnya menganga berwarna putih. Mencapai gua itu, dibutuhkan perjalanan sekitar 30 menit atau 1,5 km dari kampung terdekat Bellae. “Kalau musim hujan, lumpur bisa sampai pinggang,” lanjut Ismail.

Rabu, 19 Oktober 2011

Menuntun Kepala dan Jiwa

Ini adalah cerita ke 15 di Sorowako. Sudah pukul 22.00, baru saja saya kembali dari rumah Om untuk ikut berdoa di malam 40 hari meninggalnya anaknya. Dijemput dan diantar pulang dengan motor. Udaranya dingin.

Selama di Sorowako saya punya tekad menulis catatan harian, sebanyak mungkin. Kontrak saya ada 15 bulan. Saya membayangkan cerita-cerita saya selama itu. Mungkin ada yang sedih, ada lucu dan ada yang bersifat perenungan. Namun menulis tidak segampang tekad itu. Menulis seperti sebuah misteri, terkadang bila dapat ide langsung nulis, cepat selesai. Biasanya tidak sampai 30 menit. Tapi kalau dapat susah dan pikiran mulai ngaco, menulisnya bisa mengeram hingga dua hari.

Minggu, 16 Oktober 2011

Mengenang Peristiwa 1950

Kamis, 13 Oktober 2011, saya bertemu dengan ketua dewan adat Padoe, Thomas Lasampa, di kediamannya yang sederhana di Kecamatan Wasuponda, Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Lasampa adalah orang yang ramah, menjabat tangan dengan keras, dan tertawanya lepas.

Rambutnya putih, pakai celana kain coklat, dan wajahya sedikit basah. Lasampa keringatan. Di dinding rumah ada tergantung sebuah pedang (samurai), ada alat musik kecapi, di sudut lain ada pajangan foto acara wisuda.

Kami duduk di sofa yang sudah usang, tidak empuk lagi. Rumah Lasampa berdinding papan, lantainya dari semen halus, ruang tamunya menyatu dengan tempat bekerja. Ada sebuah meja dan beberapa tumpukan kertas, buku dan album foto. “Saya lahir di sini. Saya asli orang Padoe,” katanya.

Selasa, 04 Oktober 2011

Nyamuk

Saya ingin menulis apa saja. Apa saja. Saya ingin menulisnya dengan cerita, ya dengan cerita. Misal malam ini saya berpikir tentang Nyamuk. Tentang serangga kecil yang lebih suka cari makanan pada malam hari.

Waktu benar-benar berpikir tentang itu nyamuk, itu sungguh kebetulan. Pada 12 Mei 2011, waktu duduk di warung kopi Pro coffe di kawasan Jalan Racing Center, sambil bukabuka facebook dan baca berita di internet, kedua lenganku begitu gatal. Para rombongan nyamuk ternyata lagi menyerbunya.

Negara Indonesia Timur dan Prahara Westerling

Andi Oddang lahir tahun 1928. dan pada awal tahun 1947, Andi Oddang berusia 19 tahun. Ayahnya Andi Makkarumpa, saat itu berusia 38 tahun, seorang asisten dari Abdullah Bau Massepe seorang tokoh pejuang yang disegani di Pare-pare Sulawesi Selatan. Tiba-tiba pada suatu siang, Makkarumpa dan puluhan orang lainnya digiring menuju sebuah terminal angkutan, berbaris dan kemudian diberondong peluru.

Kapten Raymond Westerling, seorang berdarah Turki, bekerja atas perintah pemerintahan Belanda yang melakukan eksekusi pembantaian itu.