Senin, 20 Juni 2011

Perang Makassar 1669

Sebanyak 250 kapal perang dari kerajaan Gowa Makassar, meninggalkan pelabuhan Galesong, menuju laut Banda. Beriringan dengan penuh ketegangan dan membawa serta meriam “anak Makassar” yang begitu tersohor.

Diantara kapal-kapal itu, ada dua kapal yang berukuran lebih besar sebagai pemimpin armada, namanya “Tunipalangga” dan “Gallek Karaenta”. “Tunipalangga” di komondai oleh I Makkuruni dan “Gallek Karaenta” dipimpin oleh panglima perang laut paling tersohor di Kerjaan Gowa, adalah Itanrawa Daeng Riujung Karaeng Bontomarannu. Pasukan-pasukan Belanda menjulukinya Admiral Monte Maranno.

Poso, Gejolak Tanpa Henti

JALAN itu lurus. Beraspal mulus, lampu jalan begitu terang, ada zebra cross, ada tanda larangan berhenti untuk kendaraan. Lalu lintas teratur sepeti biasanya dan penjaja makanan melayani tamu dengan suka cita.

Senin, 13 Juni 2011, sekira pukul 21.00 sebuah mobil Toyota Rush warna merah hati dari arah selatan berhenti di areal larangan itu. Tepat di depan kantor Kepolisian Resort (Polres) kota Poso, jalan Sumatera. Cukup lama sekitar 20 menit. Tak ada pengendara yang turun. Dan tahu-tahu ada suara ledakan. Semua kalang kabut, polisi yang tadinya selalu siap siaga di pos penjagaan pintu masuk berlari ke arah kantornya.

Rabu, 01 Juni 2011

Surat untuk Sahabat

Kepada YTH
Sahabatku
di,
Tempat.

Sebenarnya ini semacam keluh saya untuk menyampaikan maksudku setelah beberapa kali kau nasehati aku dengan filosofi negeri seberang. Sudah lama nian saya memejamkan mata dan mencari jalan keluarnya, dan akhirnya menemukan cerita ini di deret-deret tersembunyi otakku.

Nah, kini saya mulai menulisnya setelah melewati beberapa kejadian. Beberapa kelakar dan kesedihan. Ingin rasanya menyudahi pertengkaran kita yang tak ada ujung pangkalnya, tak ada gunanya karena seperti debat kusir yang tak berkesudahan. Sungguh nian, saya sangat bosan.

Dan saya kasi judul ini surat seperti dibawah. Ini jadi peringatan untukku dan kau. Kita belum tahu apa-apa, dan jalan masih panjang. Selamat membaca.

Di Balik Kisah Sukses La Galigo (2)

Gubernur dan Bissu Saidi
(Catatan kedua untuk kondisi Bissu Saidi)

Rabu, 1 Juni 2011 sekira pukul 13.00, saya mengunjungi Bissu Saidi di Rumah Sakit Labuang Baji, perawatan Baji Dakka III, kamar 323 lantai 3. Kondisinya sudah sedikit membaik dan wajahnya mulai nampak merah. Tak seperti pada pekan sebelumnya, pucat dan tak mampu berbicara.

Bissu Saidi atau Puang Saidi atau juga Puang Matoa, saya lebih senang menuliskan dengan nama Bissu Saidi. Dia dipindahkan dari Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo pada 31 Mei 2011, sore hari. Alasan kepindahannya belum tahu?