Senin, 30 Mei 2011

Di Balik Kisah Sukses La Galigo

Pertemananku dengan Puang Matoa Saidi terjadi pada April 2011. Saya mengunjunginya di rumah Arajange di Sigeri Kabupaten Pangkep. Rumah itu dikelilingi pagar tinggi, halaman yang luas dengan hamparan rumput mirip lapangan.

Puang Saidi begitu dia dikenal. Seorang bissu atau pendeta Bugis jaman dulu yang sekarang masih bertahan. Pertemuan pertama itu ternyata membawaku dalam cerita yang panjang. Hingga pada 23-24 April 2011, naskah panjang yang konon melebihi panjang epos Mahabarta yang hanya 200.000 baris, dibanding Sureq I La Galigo yang panjangnya mancapai 300.000 baris di pentaskan di benteng Rotterdam Makassar.

Jumat, 06 Mei 2011

Kejar Tayang I La Galigo di Kampung Sendiri

Puang Matoa Saidi berjalan tertati memasuki panggung dari sisi kanan, menggunakan pakaian kuning kemudian duduk membelakangi penonton. Cahaya panggung pun langsung berubah. Dari sisi kanan panggung beberapa orang membawa peralatan mulai dari guci, alat pertanian, kurungan ayam, hingga rangka perahu berjalan melintas. Mereka berlalu begitu saja.

Dan lamat-lamat musik mulai mengisi panggung. Suasana begitu hening. Adegan pembuka itu menjadi penanda “kepulangan” I La Galigo ke kampung halaman setelah tujuh tahun melanglang buana ke negeri orang.