Kamis, 28 April 2011

Kenapa We, Kenapa La

Akhir November 2010, pada sebuah siang di warung kopi Phoenam Boulevard Makassar saya bertemu dengan Husain Djunaid. Dia seorang kawan mantan anggota Dewan Sulawesi Selatan periode 2004-2009.

Dia senang bercerita seraya menyesap segelas kopi. Bicaranya lugas dan keras. Dialeg bahasanya begitu Bugis, selalu mengakhiri kata-kata bila berpamitan dengan ndi – singkatan dari adik untuk masyarakat Bugis. Saya senang cerita dengan dia. Selalu ada pemahaman baru dan banyolan.

Minggu, 24 April 2011

Dari B.F Matthes hingga Robert Wilson

Duduk di deret kursi paling belakang saat pementasan I La Galigo memang sangat buat susah. Orang-orang bercerita, saling telepon, menyalakan blits kamera dan beberapa berdiri. Tambah lagi suara dari kafe Kampoeng Popsa yang tepat di depan benteng Rotterdam tempat pagelaran cukup ribut, suara musiknya terdengar hingga ke kursi penonton. Ada lagi sirene ambulance. Wuihhh...

Tapi tak ada gunanya berlama-lama dengan keadaan demikian. Itu akan buat energi positif semakin bertambah. Pada 24 April 2011, di Kampung Buku jalan Abdullah Daeng Sirua saya sempatkan membaca buku I La Galigo yang terbit tahun 1995, ditranskripsi dan diterjemahkan oleh Muhammad Salim dan Fachruddin Ambo Enre dengan bantuan Nurhayati Rahman.

Senin, 04 April 2011

Ini adalah Kehormatan

Puang Saidi yakin saat itu akan tiba. Pada sebuah siang, Senin 5 September 2001 di kampung kecil Kelurahan Bonto Te’ne, Kecamatan Sigeri, Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Sealatan, dia menjadi perhatian banyak orang. Prosesi penobatan segera dilakukan, menjadi seorang guru, sandro, pemimpin, Puang Towa atau Ammatoa. Puang Saidi resmi mengepalai semua bissu dan disaksikan: dewan adat, pejabat pemerintahan hingga masyarakat biasa.

Ketika itu, pakaian kebesaran warna kuning, sarung dan pentup kepala sudah lengkap. Dia begitu gagah dan tampan. Saidi mengenang semuanya dengan cermat. “Ramai sekali nak, ramai sekali,” katanya. Di teras rumah Arajange tempat benda pusaka kerajaan tersimpan rapi. Dia duduk di kursi kayu yang kaku. Mengingat semuanya dengan takzim. Segelas kopi dengan gelas bergagang tinggi diseruput, di bagian lain tersaji penganan kue dari bahan gula merah.