Senin, 12 Desember 2011

Tak Putus Dirundung Malang


Marten Sambo. Foto oleh; Doni Setiadi
Kisah ulet petani Tabarano, dari kakao menuju merica.

Udara menjelang sore di Dusun Tabarano, Desa Tabarano, Kecamatan Wasuponda, Kecamatan Luwu Timur cukup sejuk. Matahari sudah bersumbunyi dibalik dinding gunung dengan pohon lebat.


Ada beragam kicau burung seperti tak henti memamerkan syair-syairnya. Ada petani penuh semangat membersihkan lahan, ada anak-anak berlarian. Tak ada suara televisi, sinyal telepon pun belum ada, listrik juga hanya sebatas malam – mulai pukul 19.30 hingga 22.00.



Saya mengunjungi Tabarano pada pekan pertama Desember 2011. Menggunakan sebuah mobil jeep, melewati jalan berkerikil, dengan jurang disisi kanannya. Jarak Tabarano dari pusat kecamatan Wasuponda, sekitar 9 kilometer. Jika menggunakan jasa angkutan ojek motor harus merogoh kocek Rp30 ribu sekali jalan.


Di dusun Tabarano, masyarakat membagi empat wilayah kampungnya, yakni Lembololo, Kampung Baru, Kampung Bugis, dan Kampung Tua. Saya mengunjungi kampung Lembololo dan kampung Tua.


Di Lembololo saya bertemu beberapa orang petani. Ada petani yang tangannya merah karena bekas tanah. Ada yang masih memegang parang, ada juga yang sudah beristirahat dan bercerita dengan kawan lainnya.


Petani-petani di Tabaro, sejak 2007 mulai membudidayakan tanaman merica. Tanaman kakao yang meraka tanam beberapa tahun sebelumnya tak berhasil. Sakit, batangnya kurus, dan daunnya kuning. Pernah juga mereka menanam sayuran – tanaman hortikultura – juga gagal. “Entah apa yang cocok,” kata La Ode Muhammad Ichman.


Ichman adalah seorang Officer Communitiy Developmet (Comdev) PT.Inco untuk area Kecamatan Wasuponda. Tugasnya adalah menemukan potensi masyarakat dan melakukan pendampingan lalu memberikan bantuan. “Hampir putus asa juga,” katanya.


PERTENGAHAN tahun 2006, puluhan pemuda dari kampung Lembololo digiring ke kantor polisi. Mereka diangkut dengan jeratan pasal perambahan hutan - penebangan kayu secara illegal. “Sedih juga mendengar kabar itu,” kata Ichman.


Tapi penangkapan para pemuda itu membuat pelajaran bagi warga lainnya untuk berubah pikir. Mereka sadar menjaga alam membuat kehidupan mereka senantiasa akan baik.


Lalu muncullah ide menanam merica. Tahun 2006, Ichman dan kawan-kawannya membawa beberapa orang ahli dan memberikan pelatihan, cara menanam merica. Dari mulai jarak tanam, hingga pengenalan teknologi pertanian. Hasilnya, terbentuklah kelompok Tani Lada.


Kelompok ini memiliki 38 orang anggota. Pada tahap awal setiap anggota wajib menanam merica minimal 500 meter persegi atau paling sedikit menanam 500 pohon. Bibit tanaman dan beberapa kebutuhan lainya disiapkan oleh PT.Inco.


Ketua kelompok Tani Lada, Ongko mengatakan adanya gerakan tanam merica, membuat 
masyarakat dengan sendirinya melupakan pekerjaan lama, yakni mencari kayu di hutan.


Menurut dia, menanam merica harus memiliki ketekunan yang baik. Merica atau tanaman apapun harus selalu diberi perhatian. Mengunjungi kebun harus dilakukan setiap hari. Dari mulai melihat tiang hingga membersihkan cabang kayu yang bisa menutupi jalan rambat merica.


Staf Penyuluh Badan Penyuluh Pertanian Perikanan dan Kehutanan Luwu Timur, Darmawan, mengatakan untuk melakukan budidaya merica tiang rambatnya harus menggunakan kayu hidup dan mati. Caranya dibuat selang seling.


Tiang rambat untuk kayu hidup akan membantu merica tumbuh baik bila musim kemarau datang. Namun bila musim hujan, tiang kayu hidup harus dipangkas.


Usia tanam merica dari bibit hingga belajar berbuah dibutuhkan waktu sekitar 1,5 tahun hingga 2 tahun. Jadi merica di Tabarano saat ini memasuki usia 3 tahun.


Ongko sendiri memiliki 1000 pohon merica. Dan sudah memetik buah mericanya hingga 100 kilogram – dengan harga setiap kilogram Rp55 ribu hingga Rp70 ribu. “Saya kira, kami sudah mulai menikmati hasil dari merica ini,” katanya.


Panen merica dilakukan setiap 2 hingga 3 kali sebulan. Produksinya belum terlihat banyak, tapi sudah berkelanjutan.


TABARANO adalah wilayah kecil. Jumlah penduduknya hanya mencapai ratusan jiwa dengan 80 kepala keluarga. Beberapa orang mengatakan pada saya, bila kampung kecil mereka ini seperti Indonesia mini. “Kami disini ada orang Lombok, ada Bugis, ada Bali, ada Flores, Toraja, banyak sekali,” kata Marten Sambo.


Marten Sambo adalah anggota kelompok Tani Lada dari Lembololo. Tahun 1993 dia pertama kali mendiami Tabarano dari program transmigrasi. Pada saat itu ada 60 KK bersama mereka. Setiap orang diberikan lahan 1 hektare untuk membantu kelangsungan hidup. Dan tahun 2003, program transmigrasi bertambah 20 KK.


Dari lahan pembagian itulah Marten Sambo mengelola lahannya. Dia menanam apa saja yang bisa menghasilkan. “Dari dulu kami belum dapat tanaman yang cocok, tapi sekarang saya bersyukur dengan adanya merica ini. Sekarang kebutuhan hidup sudah bisa teratasi lah,” katanya.

Tak hanya itu, kelompok ini pun sudah mampu menciptakan bibit sendiri. “Kami tidak beli bibit lagi dari Towuti,” ujar Marten.


Selain bibit, pada Februari 2011, kelompok ini juga mendapat bantuan ternak kambing sebanyak 120 ekor. Kambing itu digunakan untuk pembuatan pupuk kocor, tapi kurang berhasil. Sebab kambing banyak yang mati, sekitar 80 persen. “Kami belum tahu merawat kambing. Tapi kami akan berusaha dan cari tempat belajar lagi,” kata Jusuf, petani lainnya.


Di Tabarano merica tidak menggunakan pupuk kimia. Tapi menggunakan pupuk kandang. Para petani menggunakan pupuk kompos yang didatangkan dari luar desa. “Kami sudah sepakat dengan teman-teman kelompok kalau tidak lagi pake itu pupuk kimia,” ujar Jusuf.


Menjelang Mei 2012, petani Tabarano memperkirakan panen raya akan dimulai. Untuk itu, mereka membuat formula baru untuk menciptakan pasar yang lebih baik. Tidak lagi menjual secara eceran melalui pedagang yang masuk. “Bayangkan, merica kami kadang-kadang masih dibeli dengan harga Rp55 ribu per kilogram, padahal di Towuti sudah Rp73 ribu,” kata Ongko.


Menurut Ongko, alasan para pembeli selama ini karena wilayah Tabarano sulit dijangkau. “Jadi tahun depan kami akan buat koperasi. Menampung hasil panen kami dan mencari pasar sesuai harga yang beredar. Jadi kita tak dibodohi lagi,” lanjut Ongko. (Eko Rusdianto) 

>tulisan ini juga dimuat di luwuraya.co

Tidak ada komentar: