Kamis, 15 Desember 2011

Nikah, Membujuk, dan Uang Panaik

Apa yang ada dipikiran Anda tentang uang panaik atau uang hantaran yang disediakan pihak laki-laki bila ingin menikahi seorang perempuan di masyarakat Bugis?

Awalnya, saya mengira uang panaik yang diberikan laki-laki pada perempuan adalah budaya yang sangat menyesatkan. Sangat menganaktirikan kaum perempuan. Seperti penjualan keperawanan anak gadis. Pengertian saya, uang panaik atau dalam arti kesehariannya adalah uang naik.
Arti kata itu kujelaskan seperti syarat khusus untuk menaiki perempuan atau menidurinya. Ini sungguh menjijikan. Tapi, ternyata saya sedikit keliru. Cristian Pelras, dalam Manusia Bugis memberikan pengertian berbeda tentang tradisi ini.

Dia menentang penjelasan para peneliti asing yang mengistilahkan uang panaik, sebagai harga perempuan. Menurutnya, istilah itu keliru, karena dalam prakteknya tak demikian. Harga perempuan Bugis yang utama tetaplah harga diri –siri dan pacce.

Harga diri perempuan Bugis tak terukur dengan nilai. Sebab perempuan pun dalam konteks masyarakat Bugis diberikan keluwesan dan sangat fleksibel. Tidak mengungkung dan tidak kaku. Gambaran dan penjelasan Pelras, tentang hebatnya masyarakat Bugis dalam memberikan posisi perempuan, yang tidak dibatasi diurusan rumah tangga. Perempuan juga memiliki ruang untuk menentukan pendapat dan mengajukan pikiran.

Dalam tradisi Bugis, ada rumah, sebagai tempat asal muasal rencana dan target menentukan kebutuhan dan tempat berlindung. Bagian depan diibaratkan dimulai dari teras hingga ruang tamu adalah kekuasaan laki-laki. Sementara ruang keluarga, kamar, dan ruang belakang wilayah kekuasaan perempuan.

Bahlan pada jaman dulu, lantai dua atau loteng rumah adalah wilayah perempuan. Lantai dua jangan dipandang sebelah mata, sebab tempat itu merupakan bagian menyimpan benih dan perbekalan. Dan secara umum, perempuan adalah penguasa di wilayah rumah dan sekitarnya. Sementara laki-laki berada diluar rumah hingga "menjulang ke langit".

Tapi pembagian itu tidak berlaku secara kaku. Laki-laki diukur sebagai pencari nafkah. Tapi perempuan pun tak sebatas sebagai penunggu nafkah. Dalam keadaan tertentu laki-laki juga bisa memasuki dapur. Tapi perempuan juga bisa membantu laki-laki, seperti mengarit padi, menumbuk padi atau berdagang.

Tak heran, beberapa peneiliti, sangat menghormati konsep keseimbangan antara laki-laki dan perempuan yang terjadi di masyarakat Bugis. Dan tak sedikit yang menuliskan kekagumannya. Mereka terkesan.

Saya merasa beruntung bisa membaca analisis Pelras tentang Bugis di bukunya Manusia Bugis itu. Dia memberikan saya pemahaman berbeda dari tradisi lisan dan pandangan saya sendiri. Pelras menyajikan data-data yang masuk akal.

SESUNGGUHNYA sudah lama saya mencari buku Pelras itu. Ketika kuliah saya membaca beberapa laporan Bugis, pada halaman dan paragraf-paragraf tertentu selalu saja ada acuan tentang karya Pelras, selain Leonard Andaya, Barbara Harvey, atau Amarel.

Pelras menulis dan menganalisis masyarakat Bugis melalui pendalaman dari epik I La Galigo. Sebuah mitologi spiritual yang sangat disakralkan masyarakat Bugis. Mitologi La Galigo terbangun melalui proses panjang. Dimunculkan saat kerajaan Luwu dalam masa jaya, sekitar abad 12.

Beberapa orang menganggap mitologi La Galigo adalah kejadian nyata yang pernah terjadi di masyarakat Bugis. Kejadian tentang pengisian dunia tengah oleh para dewa di langit. Meskipun saya sendiri, sebagai manusia yang lahir di abad 20 tak begitu mensakralkan mitologi itu. Menurutku La Galigo hanyalah sebuah karya, yang sangat mengagumkan.

Saya bertemu dengan Andi Anton Pangerang, seorang tokoh budaya di Luwu. Dia banyak bercerita tentang isi mitologi itu. Menurutnya, La Galigo sebagai sebuah mitologi yang lahir dan dibungkus dengan spiritual. Jadi masyarakat menganggapnya ada. “Ramayana di Jawa adalah sebuah mitologi, tapi bukan mitologi spiritual. Makanya di Jawa tak ada yang mengaku sebagai keturunan Bima, Rama, atau tokoh-tokoh lainnya. Tapi di Bugis, masyarakat kita masih manyatakan sebagai keturunan Sawerigading atau La Galigo,” katanya.

Saya tercenung dengan penjelasannya itu.

Tapi bagi saya, epik La Galigo adalah cerita tentang lingkungan, pergaulan hidup, keuletan, ketekunan, intrik, hingga tingkah laku. Dan yang paling menyedot perhatianku berkembangnya cerita ini dalam skala yang konsisten, tidak berubah, baik dari Luwu, Wajo, hingga kerajaan-kerajaan lainnya.

Epik ini dengan bijak melukiskan, isu lingkungan dengan dramatik. Bila kalian pernah membaca atau pernah mendengar tentang Sawerigading yang menebang pohon Walenrenge yang terkenal dengan besarnya, untuk membuat kapal.

Menurut saya, episode penebangan pohon Walerenrenge yang ditentang masyarakat tidak menyurutkan niat Sawerigading karena alasan hendak mempersunting We Cudai yang terkenal cantik di kerajaan Tanete.

Awalnya pohon itu tak dapat ditebang dengan kapak biasa. Sawerigading meminta pertolongan We Tenriabeng dan bissu. Akhirnya dewa takdir, atau Patotoe memberikan kapak besar dari langit. Dengan ritual khusus, pohon itu terhempas. Saat jatuh, gunung terbelah, banjir, hewan dan satwa lainnya tersingkir menjauh. Ada juga yang mati.

Pohon menurut saya adalah sumber kehidupan. Dan ketika pohon itu tumbang, beberapa kejadian dan peristiwa terjadi. Episode ini bagi saya semacam ramalan dan kecerdasan yang melampui samannya.

Sawerigading menebang pohon karena keserakahannya sendiri, karena konsep hidupnya sendiri. Dia tak pernah membayangkan kejadian selanjutnya. Pohon Walerenge dalam epik itu hanya ada satu buah, pohon yang belum berhasil beranak pinang, menjadi punah. Saya bertanya pada beberapa orang di Luwu, yang manakah pohon Walenrenge itu? Jawabannya, tak ada yang tahu.

TAPI disatu sisi, Sawerigading juga memberikan penggambaran keseriusan dalam menaklukkan We Cudai dan kemauan kerasnya dalam melakukan sesuatu. Dia mengajarkan laki-laki harus berusaha, harus kuat. Drama lainnya, waktu We Cudai sudah ditundukkan, Sawerigading harus memiliki strategi sendiri untuk mendapatkan persetujuan padanya untuk tidur bersama. Sawerigading membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan untuk membujuk We Cudai.


Dan hingga tahun 1980-an tradisi membujuk pasangan untuk dapat tidur bersama saat resepsi pernikahan digelar masih berlangsung. Tapi sekarang mulai pudar, sebab pasangan yang dinikahkan tidak lah melalui perjodohan yang panjang, atau penunjukan secara langsung oleh anggota keluarga yang memiliki kewenangan. Melainkan melalui pacaran atau pengenalan yang sudah lama, masing-masing calon.

Membujuk pasangan, dan membuka helai kelambu dalam kamar tidur perempuan merupakan tingkah pola, dan ujian keuletan sang suami. Bila tak berhasil membujuk, tak jarang pernikahan bisa berujung perceraian.

Ini juga menunjukkan derajat perempuan yang tak mudah ditaklukkan. Tak hanya itu, saat pesta pernikahan usai, laki-laki untuk sementara waktu tinggal di rumah perempuan, yang merupakan daerah utama kekuasannya sendiri.

Di rumah perempuan, laki-laki atau suami tentu tak dapat melakukan apa-apa sebab tidak menguasai rumah si istri. Dia akan kebanyakan duduk di ruang tamu dan teras atau bahkan di dalam kamar. Dan bicara dengan seadanya.

Sementara saat perhelatan pesta pernikahan di rumah perempuan, orang tua mempelai laki-laki tidak dibolehkan mendatangi rumah pengantin perempuan. Kemudian melakukan marola atau mengunjungi rumah suami, biasanya tetap dilakukan pesta dan hajatan pernikahan, tapi pembacaan akad nikah sudah tak ada lagi sebab sudah dilakukan di rumah perempuan.

SAYA berencana akan menikah. Mempersunting seorang gadis pujaan hati, huhuhu... Tapi yang selalu menghantui saya adalah uang panaik.  Saya bingung menentukan, seberapa besar dan seberapa pantas. 

Jika dulu, dalam buku Manusia Bugis, dijelaskan uang panaik menjadi penentu atau syarat perkawinan, sekarang tak begitu ketat lagi. Sebelum masa penjajahan Belanda, laki-laki dari luar daerah perempuan, maka diwajibkan membayar pajak pa'lawa tana (secara harafiah 'penghalang tanah')  pada penguasa setempat.

Tapi, saya masih merasa gusar dengan embel-embel tersebut. Di kalangan anak muda sebayaku, uang panaik itu menjadi beban. Uang panaik bahkan  menurut kami membuat banyak perempuan Bugis jadi “perawan tua”- perempuan yang tak menikah.

Saya dan kawan-kawanku berpandangan dengan dihilangkannya uang panaik, itu akan menambah baik kehidupan sosial seseorang. “Kalau nda adami itu panaik, banyakmi orang mau menikah. Dan akan mengurangi perempuan-perempuan yang pengangguran tanpa suami,” kata beberapa kawan.

Saat ini uang panaik jumlahnya tak main-main dan ditentukan oleh keluarga perempuan. Bisa mencapai puluhan juta rupiah. Uang panaik yang jumlahnya tak mencapai puluhan juta rupiah tak akan diumumkan saat melakukan prosesi akad nikah. Keluarganya juga akan malu. Bahkan kadang-kadang jumlah nilai uang panaik diumumkan lebih dari sebenarnya.

Tapi uang panaik sekarang, menjadi ajang pamer kemampuan bagi mempelai laki-laki dan mempelai perempuan. Biasanya masyarakat akan membicarakan nilai uang panaik bila besar, hingga berbulan-bulan.

Tapi saya dan pasangan saat ini sepakat bila untuk urusan uang hantaran itu tidak usah terlalu besar, yang penting tak membebankan.

Uang hantaran berbeda dengan uang mahar. Uang hantaran digunakan untuk membiayai pesta pernikahan. Ini menunjukkan prilaku pengorbanan laki-laki terhadap perempuan yang akan dipersuntingnya. Uang hantaran ini, dalam segala hal tidak lah menjadi sebuah tabungan, melainkan habis untuk keperluan pesta. Dan uang hantaran tak memiliki kecurigaan apa pun akan diselewengkan. (Eko Rusdianto)

1 komentar:

Iswadi Natsir mengatakan...

Betul kata bung Eko Rusdianto...
Uang panaik benar2 menjadi sebuah beban buat laki2 zaman sekarang yang ingin menikah dengan wanita bugis...Terkadang karena si perempuan punya gelar akademis yang tinggi atau malah terkadang si lelaki adalah seorang pelaut, dimana dalam pandangan masyarakat Luwu pada umumnya Pelaut itu orang yang punya banyak uang tapi padahal tidak semua seperti itu...Semakin banyak uang panaik maka akan semakin tinggi derajatnya di mata orang banyak...padahal semua manusia sama derajatnya di depan Allah SWT....