Rabu, 07 Desember 2011

Kabar Dini Hari

Dini hari, sekitar pukul 02.00 di awal Oktober 2011, bunyi sirene mobil ambulans membelah kota kecil Sorowako, Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur. Bunyinya menyentakkan orang-orang yang sudah terlelap dengan mimpi. Meski kabar duka sudah mereka terima pukul 10.00 pagi.

Di Jalan Gunung Merapi blok F Nomor 145, ambulans itu berhenti. Orang-orang berkumpul dengan harunya, semua berlinang air mata. Jenazah perempuan remaja diturunkan perlahan, lalu digotong ke atas rumah.

Orang tua dan handai tolannya bergantian menyeka wajah jenazah anak gadis yang terbungkus kain sarung. Mamaknya menangis di samping jenasah. Orang-orang yang datang mengelus pundak sang Mamak, berusaha menenangkannya. Sementara Bapaknya duduk di teras rumah. Hanya merokok dan meneguk pelan-pelan kopi.

Pagi berikutnya, sebelum kumandang azan duhur, jenazah remaja itu dibawa ke masjid, dimandikan, dan disalatkan. Bapaknya duduk memangku jenazah sang anak untuk kemudian di antar ke kuburan. Liang lahat itu sudah tersedia. Jenazah lalu diturunkan, doa-doa mengiringinya. Papan nisan ditegakkan, ada nama tertulis kecil, Nela.

Beberapa saat kemudian, para pelayat meninggalkan kompleks pemakaman. Kisah Nela, remaja yang meninggal karena kecelakaan lalu lintas itu berhenti. Tak ada lagi orang yang mencium ketiak dan memeluk Bapaknya saat akan tidur. “Manja sekali kodong ini anak sama saya,” kata Bapaknya.

PADA sebuah siang ketika jam pulang sekolah tiba, dipekan pertama Oktober itu, Nela mengunjungi rumah Ilham, sepupunya. Dia hendak meminjam motor, tujuannya akan ke rumah teman mengambil kabel sambungan USB untuk flashdisk. Nela adalah siswa kelas dua SMP Yapman Sorowako.

Saat Nela hendak meminjam motor itu, Ilham mengingatkan untuk berhati-hati. Sebab motor bebek kepunyaannya tak begitu baik. Rem dan ban depannya goyang. Tidak seimbang. Nela mengiyakan dengan baik.

Tanpa helm, Nela melaju dan meninggalkan halaman depan rumah Ilham. Sekitar pukul 14.00 ada kabar kecelakaan di persimpangan jalan Rumah Sakit PT. Inco. Seorang anak remaja menabrak mobil truk tangki. Ada banyak darah.

Orang-orang mengerumuninya dan membawanya ke rumah sakit. Kepalanya pecah dan perut robek. Ketika Ilham mengunjunginya di rumah sakit, Nela sudah terbaring dengan menggunakan bantuan oksigen di mulutnya. “Saya nda tega lihat. Kasian sekali,” katanya. “Saya tahu Nela memang kurang mahir bawa motor, tapi dia datang minta tolong. Jadi beginimi.”

Di sekitar jalan di persimpangan tempat Nela kecelakaan, median jalan tak memiliki garis putus-putus. Itu pertanda untuk melambung kendaraan lain tak dibolehkan. Kendaraan yang mengarah dan melaju dari arah lurus, juga lebih didahulukan. Tapi Nela, menurut beberapa saksi mata memang berkendara dengan kecepatan tinggi. Pantat mobil truk tangki itu, dihantamnya.

Dokter di kamar operasi Rumah Sakit PT. Inco Sorowako tak mampu menanganinya. Nela kemudian dirujuk menuju Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudiro Husodo Makassar. Pukul 08.00 esok harinya, Nela tiba bersama Bapaknya di Makassar. Dua jam kemudian, nyawanya tak tertolong.

DI SOROWAKO, malam setelah pemakaman Nela, takziah dilakukan. Saya ada ditengah-tengah orang-orang itu. Duduk di kursi di bawah tenda dan mendegar ceramah. Beberapa orang berbisik, untuk membatasi anaknya mengendarai motor.

Seorang menoleh pada saya. “Tapi susah juga. Karena sekarang anak-anak biar masih SD (Sekolah Dasar) sudah bisa bawa motor,” katanya. Saya diam saja dan tersenyum.

Secara umum, data Dinas Perhubungan Sulawesi Selatan, jumlah kecelakaan sepanjang 2011 hingga Agustus mencapai 1.600 kasus. Dan 75 persen dari jumlah tersebut dialami pengendara roda dua, sementara 46 persen dari angka kecelakaan itu adalah usia produktif antara 11 hingga 30 tahun.


Angka ini seharusnya tidak mencengangkan. Dilihat dari volume kendaraan roda dua di Sulawesi Selatan tiap tahun selalu meningkat. Salah satunya disebabkan karena kendaraan roda dua bukanlah hal yang mewah sekarang, mendapatkannya hanya butuh menyiapkan uang muka 500 ribu rupiah. Ada puluhan pembiayaan yang bersedia menjadi tempat angsuran.

Tapi kesalahan tentu tak bisa dibebankan pada pembiayaan dan kepolisian saja. Saya lebih setuju bila aturan dan tata kelola lalu lintas yang perlu disosialisasikan dengan terbuka dan lebih progresif. Aturan berlalu lintas masih kurang bermasyarakat.

Saya sendiri memiliki motor sejak kelas 2 SMP. Saya mengendarainya ke sekolah. Dan saat-saat dimana saya baru bisa mengendarai motor tentu melajukannya dengan kencang. Senang sekali rasanya melajukan kendaraan hingga air mata keluar. Spedometer tak penting lagi, jika air mata saya keluar, maka kecepatannya berarti diatas 80 km/jam. Bila menambah kecepatan dan air mata bahkan mulai kering maka kecepatannya berarti sudah diatas 100 km/jam. Setelah itu, maka saya dengan bangga akan menceritakannya pada teman-teman akan kemampuan saya mengendarai motor.

Majalah National Geographic Indonesia edisi Oktober 2011, menjelaskan rumitnya prilaku remaja dan perkembangan otaknya. Majalah ini menuliskan, bila perkembangan dan penataan ulang otak terjadi antara usia 12 hingga 25 tahun. Inilah yang menandakan bagaimana remaja selalu melakukan aktifitas yang sering dianggap konyol. Di majalah ini juga menjelaskan bahwa mereka (remaja) berbuat seperti itu karena otak mereka belum tumbuh sempurna.

Namun terlepas dari prilaku semacam itu, pendidikan dan resiko berlalu lintas jauh lebih penting. Sepertinya memang sudah saatnya pengetahuan berlalu lintas memasuki kurikulum sekolah. 

Kemudian proses pengambilan Surat Izin Mengemudi (SIM) di kepolisian harus benar-benar ketat. Melalui prosedur yang tepat, seperti training dan pelatihan.

Sebagai pembanding, saya bahkan baru tahu, bila garis median jalan-jalan yang tidak putus-putus, tidak dibolehkan untuk melambung kendaraan. Sementara garis putus-putus dibolehkan. Saya mendapat pengetahuan itu dari supir taksi di Makassar, dua tahun setelah menyelesaikan kuliah. Sementara saya sudah memiliki SIM sejak kelas tiga SMU. (Eko Rusdianto)

Tidak ada komentar: