Minggu, 20 November 2011

Di Desa Nuha

Hafid, siswa kelas 4 Sekolah Dasar berlari, mengejar kawannya. Gerakannya lincah. Pakai celana pendek dengan baju kemeja kuning. Lai, seorang ibu rumah tangga, duduk di depan warung kecilnya. Dua anak perempuannya berada di sampingnya. Fajrin, siswa kelas 5 Sekolah Dasar asik bermain sepeda. Dia mengganggu kawannya bermain.

“Saya nda main, malas,” kata Fajrin mengangkat dua bahunya. “Bukan kelas lawanmu kah,” kata saya. “Iya. Nda bisa lawanka ini semua,” lanjutnya.

Sepertinya Fajrin memang sedikit badung. Wajahnya keras dan tak ada teman sebayanya yang berani menegur, ketika sepedanya berada ditengah tempat bermain. Bila dia berdiri dan mengarahkan beberapa orang, untuk berlari, seraya mengangkat tangannya menunjuk. Lalu menyembullah kata seperti bodoh sekali inie atau juga salahko itu. Dia seperti dirigen dalam sebuah orkestra.

Saya melihat mereka semua, pada sebuah sore Minggu, 20 November 2011, di sebuah aula pertemuan desa. Tempatnya terbuka, tak ada dinding, memandang ke sisi belakang, kiri dan kanan akan terlihat danau. Bagian depannya  adalah perkampungan. Di tempat itulah, puluhan anak-anak Desa Nuha, Kecamatan Nuha, Luwu Timur, bermain. Anak perempuan dan laki-laki berbaur. Derap kakinya saat berlarian, membuat bangunan dengan lantai papan bergoyang dan sangat ribut.

Suara mereka melengking. Saling ejek. Mereka bermain permainan Benteng. Saya tahu permainan ini, waktu kecil saya juga melakukannya di kampung. Biasanya permainan ini tak membatasi peserta, siapa saja boleh masuk.

Cara melakukannya sangat gampang. Hanya memerlukan dua buah tiang. Sore itu, anak-anak Nuha memilih masing-masing tiang bangunan. Mereka saling berhadapan. Ada semacam arena pertarungan diantara tiang-tiang itu. Setiap orang maju ke depan, lawannya akan memegang tiang sebelum memburu. Kalau salah seorang diantara mereka di sentuh maka itu menjadi sandera.

Sandera ini akan ditempatkan di dekat tiang sang penangkap. Teman si sandera akan berusaha memegangnya. Tapi ini bukan perkara muda, sandera-sandera ini akan dijaga dengan begitu ketat. Bisanya permainan ini berlangsung lama, karena kehati-hatian menjaga tiang.

Hafid karena badannya yang kecil membuat gerakannya semakin lincah. Dia berlari dengan kencang. Kadang-kadang dia merebahkan badannya, saat akan disentuh lawan. Bila demikian, kawannya akan datang membantu dan menyentuh tubuh sang lawan yang sudah tak punya keseimbangan karena berusaha menangkap Hafid. Beberapa kali Fajrin memperdaya lawannya.

Bagaimana akhir permainan ini? Saya melihat Hafid melakukannya. Saat lawannya hanya tinggal dua orang, karena yang lain sudah menjadi sandera. Dia juga membiarkan dirinya dijadikan sandera. Setelah teman-temannya mengepung benteng lawan, Hafid diselamatkan, dan dengan cekatan, langsung menyambar tiang lawan. Lalu semua berteriak, “Benteng.”

Saya suka melihat Hafid. Kepalanya botak, di jidatnya ada bekas luka yang sudah mengering. Matanya awas. Tak banyak bicara. Menurutnya, bermain benteng itu, yang diperlukan adalah lari dan tipu muslihat. Bukan kekuatan. “Kalau bicara teruski, na tauki temanta (lawan). Kan kalau diam-diam bisaki na lupa. Di benteng-mi,” katanya.

JALAN di Desa Nuha berangkal batu. Dermaganya terbuat dari kayu. Tapi udaranya sejuk dan masih banyak pohon di sekitar rumah.

Di Desa ini, ada sekolah dasar dan sekolah lanjutan tingkat pertama. Sementara sekolah menengah umum hanya ada di Sorowako. Untuk mengunjungi Sorowako, dibutuhkan waktu sekitar 40 menit menggunakan Raf – dua buah perahu yang dijadikan satu. Raf-raf ini mengangkut penumpang dan bisa membawa dua buah mobil sekaligus – seperti mobil Phanter dan Strada.

Nuha menjadi perlintasan utama bagi penduduk yang hendak ke Beteleme atau Poso di Sulawesi Tengah. Tak heran dermaga itu sibuk hingga 24 jam. Dari Nuha ke Poso dibutuhkan waktu sekitar 5 jam. Sementara untuk Beteleme hanya sekitar 1,5 jam. Sebenarnya jarak antara Nuha dan Beteleme hanya sekitar 45 kilometer, namun karena jalan yang masih jelek, waktu tempuh perjalanan jadi lama.

Saya tiba di desa Nuha sekitar pukul 14.30. Waktu itu hujan gerimis menjemput saya. Aroma tanah yang dibuat hujan sangat nikmat. Pohon-pohon terlihat lembab. Saya senang.

Di dermaga saya istirahat di sebuah warung kopi. Saya tak bisa keliling kampung, karena saya membawa sepeda, pasti akan basah. Ada banyak cerita di warung itu. Salah satunya tentang kondisi danau yang tak dapat ditebak. Seorang lelaki pemilik warung itu, bercerita pada temannya, di dunia yang paling susah di tebak adalah danau. Menurut dia, danau itu seperti punya mau sendiri, tak dapat diprediksi. Semaunya saja. “Sekarang kita lihat tenang, tapi itu belum tentu kalau kita menyeberang,” katanya. “Bisa saja, ditengah-tengah dia mengamuk. Pusing saya. Saya bilang sama orang-orang, saya lahir di sini, saya besar disini, tapi danau punya mau sendiri.”

Sekitar 20 menit kemudian, hujan berhenti. Saya menyusuri setapak kampung. Pinggiran jalan sudah di tembok, tapi tengahnya masih kerikil tajam. Perkampungan di Desa Nuha sangat kecil. Tak mengeluarkan keringat untuk mengelilinginya. Rumah-rumahnya kebanyakan berdinding beton batako. Atap-atapnya menggunakan seng, tapi beberapa lainnya menggunakan atap rumbia.

Di depan warung kecilnya, Lai memperhatikan saya saat melintas. Dia tahu saya orang baru. Lai adalah seorang petani. Rumahya kecil dan cukup sederhana, letaknya lebih rendah dari bahu jalan. Atapnya sederet dengan saya jika berdiri di jalan.

Saya menanyakan tempat pertanian warga. Lai bilang, letaknya jauh. Pertanian di sekitar kampung hanya sedikit. Dia sendiri punya sawah sekitar 5 kilometer dari perkampungan. Menempuhnya tak menggunakan kendaraan, melainkan jalan kaki. Bila musim tani tiba, perjalanan bisa dilakukan setiap hari, berangkat pagi-pagi buta dan pulang sekitar pukul 16.00, tiba di rumah sekitar pukul 18.00.

Saya senang melihat kehidupan di Matano. Saya merasakan kekuatan warganya. Saya bisa merasakan semangatnya. Di kampung ini, hubungan sosial menjadi benar-benar terbukti. Semua orang bertegur sapa dan saling melayangkan senyum. Anak-anak dan orang tua mereka sangat menyenangkan.

Oh ya, sebelum saya bertemu Lai, ada barisan anak-anak yang bermain Cukke di jalan kampung. Permainan ini menggunakan kayu kecil kira-kira panjangnya seukuran jengkal orang dewasa. Cara bermainnya, dilakukan di tanah. Menggunakan sebuah lubang kecil, lalu kayu itu di letakkan berdiri – seperti bersandar. Ujungnya dipukul dengan tongkat kayu lainnya, dan dimainkan tidak boleh jatuh ke tanah. Lalu dipukul ke arah lawan, dan akan berusaha ditangkap.

Tapi permainan itu berhenti saat hujan kedua kembali menyerbu kampung. “Anak-anak itu main di mana,” tanya saya. “Itu biasanya di aula pertemuan desa, dipinggir danau,” jawab Lai. Dan benar saja, saya menemui anak-anak itu sedang bermain Benteng. (Eko Rusdianto) 

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Bang Eko, terima kasih untuk informasi di blog nya, sangat membantu, salam kenal, saya Stephanie :)