Senin, 28 November 2011

Di Balik Tembok Istana Luwu

Istana Datu Luwu di Kota Palopo. Foto: Eko Rusdianto
 Di depan bangunan Istana ada beberapa tiang yang sudah rapuh. Bentuknya sudah tidak berdiri tegak, bengkok karena bagian tengah telah kosong di gerogoti rayap.

Istana kedatuan Luwu itu masih berdiri, kecil  tapi tak terawat. Temboknya dicat dengan pewarna murahan. Dia seperti pertapa yang dilupakan, ditelantarkan oleh riuhnya pembangunan kota Palopo.

Sebuah sore pada Sabtu, 26 November 2011, saya berkunjung ke istana itu. Udaranya sejuk, hampir tak ada debu. Kompleks istana itu berdiri di lahan yang lapang. Ada bangunan dengan tembok dan rumah panggung yang besar.


Di bagian depannya, ada tugu badik berdiri dengan megah dikelilingi kolam teratai. Di sekitarannya ada taman, rumputnya tercukur dengan rapi. Itulah istana Luwu, sekarang di jalan Andi Tenripadang. Istana itu tak luas, hanya memiliki tiga ruangan, kamar untuk datu – gelar bagi raja Luwu dan kamar untuk para dayang istana. Sementara bagian lobi digunakan sebagai museum.


Luwu dalam sejarah Bugis merupakan kerajaan pertama. Hal ini bersumber dari Mitologi I La Galigo. Bermula pada abad ke 12 di Ussu di Luwu Timur, kemudian pusat kerajaan berpindah ke Pattimang-Malangke, dan pada abad 16 ke Palopo – sekarang Kotamadya Palopo. Pada tahap inilah pamor dan ketenaran Luwu berangsur meredup di kancah perdagangan nusantara.


Arkeolog Universitas Hasanuddin Makassar, Iwan Sumantri, mengatakan lunturnya kebesaran Luwu disebabkan pemerintahan Luwu tidak bergerak pada budaya agraris. Sistem pertanian tidak berkembang.


Namun ketika pusat Luwu berada di Pattimang –Malangke Luwu menapaki periode paling penting. Ekspor damar, rotan, hingga besi Matano. Tapi saat Belanda melalui VOC, serikat dagangnya memasuki Nusantara dan menjadikan hasil bumi seperti cengkeh dan pala bergeliat, Luwu tenggelam.


Pada 1559, VOC memilih Makassar sebagai pusat perdagangan untuk Indonesia Timur, sementara Luwu yang berlokasi di perairan Teluk Bone menjadi kesepian. Tak ada aktivitas.


Saya sungguh penasaran melihat kebesaran dan cerita itu. Ketika pada Minggu 27 November 2011, saya mengunjunginya kembali. Memasuki beberapa ruangan dan melihat koleksi sejarahnya. Saya miris. Tak ada yang tersisa di istana itu.


Beberapa tahun lalu, arsip penting kerajaan Luwu hilang. Benda-benda peninggalan pada periode penting lenyap. Opu To Marilaleng atau Menteri urusan rumah tangga dan Tana Luwu, Andi Nyiwi membenarkan hal itu.


Beberapa kali dia membuka kacamatanya yang tebal dengan gagang coklat. Dia mengusap matanya, sembab. “Saya tidak tahu. Sebelum saya masuk semua tempat ini kosong,” katanya sembari menunjuk tempat-tempat penyimpanan pusaka.


Kini pusaka-pusaka itu mulai dikumpulkan kembali, tapi tak sebanyak dan selengkap semula. “Susah nak, nda tahu mau cari kemana lagi,” lanjutnya.


Menurut dia, Istana hanya seperti tinggalan yang tak penting. Pemerintah tidak memperhatikannya. Istana seperti tak dianggap sebagai bagian dari pembentukan Kota Palopo.


Di Beranda belakang Istana, seraya merapikan sarungnya, Andi Nyiwi menunjuk dua buah tiang penyangga plafon. “Dulu ini tiang ini bambu semua, sudah dimakan rayap. Ini baru saja diganti. Itupun saya harus marah dan berteriak,” kata Nyiwi.


Saya juga menjumpai, di tembok-tembok istana catnya terkelupas. Kalau merabanya dengan telapak tangan, maka warna putih temboknya akan menempel. Di depan bangunan Istana ada beberapa tiang yang sudah rapuh. Bentuknya sudah tidak berdiri tegak, bengkok karena bagian tengah telah kosong di gerogoti rayap. Disampingnya ada dua buah tiang bambu.


Saya meninggalkan istana itu dengan perasaan yang penuh tanya. Saya berhenti di luar pagar memperhatikan ke dalam. Apakah fungsi istana ini sekarang? Rajanya, tak ada di tempat, tapi di Kalimantan mengikuti suaminya. “Tugasnya diserahkan sama Opu To Marilaleng. Saya nak,” kata Nyiwi.


Wakil Walikota Palopo, Rahmat Bandaso, mengatakan pada saya, jika istana hanyalah bagian dari peninggalan kebudayaan. “Tapi memang, pemerintah dan Istana tak ada hubungan kerja,” katanya. “Ini bukan seperti Jogja. Jadi ya biasa saja.” (Eko Rusdianto)

Tidak ada komentar: