Kamis, 20 Oktober 2011

Senandung Semangat untuk Pasukan DI/TII

Usia Singkaru pada tahun 1962 sudah melewati dari 22 tahun. Belum menikah dan ikut kelompok pergerakan Darul Islam Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Kahar Muzakkar. Dia masuk dalam regu pasukan penghalau, bukan pasukan khusus.

Beberapa kali bertemu dengan Kahar Muzakkar, tapi tak akrab. “Ah saya ini hanya pasukan biasa,” katanya. Pada masa pergerakan itu, namanya diganti menjadi Muhammad Baharuddin.



Pada tahun 1962, dari kampung halamannya di Timampu, Kecamatan Towuti Kabupaten Luwu Timur, dia berjalan kaki menuju pantai Bone Pute di Kabupaten Luwu. Berjalan kaki selama beberapa hari. Sekarang, melalui jalur darat dengan kendaraan roda empat dibutuhkan waktu tempuh sekira 5 jam.


Singkaru tak melihat pertemuan itu dengan dekat. Dia berada di sebuah bukit memegang senjata berat. Berjaga-jaga bila terjadi bentrokan ataupun perintah. Tahun itu dikenal sebagai perundingan Bone Pute. Antara Kahar Muzakkar dan Jenderal M.Jusuf.


Singkaru bercerita dengan semangat dan sesekali mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Sedikit berkeringat. Saya bertemu dengannya pada Jumat, 21 Oktober 2011. Kakinya sudah tak kuat berjalan dengan jauh. “Itumi waktu, karena waktu muda jalannya jauh, tua sekarang, kalahmi semua,” katanya.


Cakap-cakap kami sampai ngalor ngidul. Misalnya saya bertanya, beruntung ya Kahar Muzakkar tidak menang. Kalau permintaanya disetujui, kita tidak akan bisa jalan dengan pacar. “Iyo, digasakongmi ake padato’,” katanya. Artinya, iya jelas, pasti kalian dapat sanksi berat kalau jalan dengan perempuan yang bukan muhrim. “Apalagi kalau pegang-pegang tangan,” lanjutnya.


Usia Singkaru sekarang menurut perkiraannya mencapai 70 tahun. Dia linglung soal usia, pada saat keluar dari hutan, sewaktu Kahar dinyatakan  tertembak mati di Lasolo Sulawesi Tenggara tahun 1965, beberapa kawannya memajukan usia. Alasannya supaya cepat pensiun dan tak ada lagi ada ajakan menjadi tentara dan bisa dapat uang pensiun. Seperti Veteran. “Tapi saya ternayata tak dapat, hahaha,” katanya. “Kalau tidak salah ingatka itu, saya kasi maju umurku sampai tujuh tahun.”


Pada masa pergerakan DI/TII, menyusuri hutan, terguyur dan kepanasan. Itu bisa buat fisik lemah. Tapi kawan-kawannya membuat lagu perjuangan, semacam mars. Biasanya lagu dinyanyikan saat isitrahat, atau berjalan saat melakukan konvoi.


Dengan menengadah, Singkaru memejamkan matanya menyanyikan lagu itu. Tanganya yang diletakkan di dudukan kursi rotan, bergetar. Sarungnya diangkat sedikit naik hingga betis. Dia bersandar. Dan memulainya:


Pulau ditebang//Jembatan dirusak//Telepon diputus//Gurilla// Sang Gurilla//Gurila// Gurilla// Sulawesi

Tua dan muda//Laki wanita//Bersatu padu//dalam Gurilla//Megancam//Membasmi// PKI//Itulah sifat kita//Gurilla Sulawesi//

Singkaru tak tahu apa judul lagu itu. Tapi lagu itu begitu favorit dan populer pada masa pergerakan. Saya bertanya kenapa fasilitas itu harus dihancurkan? Dia menjawabnya mengikuti ucapan Kahar yang selalu disampaikan pada pasukannya. “Jangan takut, nanti semua akan lebih baik dari yang dirobohkan itu. Nda usah kita pake peninggalan Belanda,” katanya.


Di Sulawesi Selatan, pergerakan DI/TII dikenal sebagai masa Gerombolan. Atau masa Gorilla. Kata Gorilla berasala dari kata Gerilya. Identiknya seperti yang dilakoni Jenderal Sudirman pada masa penjajahan lalu kesohor dengan zaman gerilya.


Kahar sendiri bahkan memberi satu nama anak laki-lakinya dari istri Corry van Stenus,  yakni Gurilla. Anak Kahar inilah yang selalu digendong baik ketika bertempur dan jalan-jalan dalam hutan. “Dia dipangil Guril. Gagah sekali itu anak,” kata seorang Asisten pribadinya, Harun Al-Rasyid Abdi. Saya menemuinya pada pertengahan tahun 2008 lalu di kota Palopo. (Eko Rusdianto)




2 komentar:

Rizky Haryanto mengatakan...

hmdd... seandainya menang kii Kahar itu hari, tdk bakalan populer mi itu Pantai Bone Pute sampai sekarang. dan mungkin saja tdk pernh ada yang Lending di sela-sela Bebatuan Panta I. nya bone pute....

Android apps development mengatakan...

Hi! I’m impressed, I must say. Really rarely do I encounter a blog that’s both educative and entertaining, and let me tell you, you have hit the nail on the head. Your idea is outstanding; the issue is something that not enough people are speaking intelligently about.