Kamis, 20 Oktober 2011

Rumitnya Menjaga Gua Prasejarah

Kompleks Gua Prasejarah Bellae
Ismail, berajalan menggunakan sepatu bot setinggi betis berwarna hitam. Celana jinsnya dimasukkan ke dalam badan sepatu. Melewati pematang sawah yang berlumpur, sesekali kerepotan mengangkat kakinya yang berat karena tenggelam. “Itu guanya,” katanya, seraya mengangkat telunjuknya.

Namanya gua Sakapao. Dari tempat berjalan di atas pematang, Sakapao berada di tengah badan gunung karst. Mulutnya menganga berwarna putih. Mencapai gua itu, dibutuhkan perjalanan sekitar 30 menit atau 1,5 km dari kampung terdekat Bellae. “Kalau musim hujan, lumpur bisa sampai pinggang,” lanjut Ismail.


Sakapao adalah gua peninggalan pra sejarah. Di dalamnya ada puluhan lukisan tangan dan babi rusa, berwarna merah dan beberapa artefak. Pada Selasa, 22 Maret 2011, saya menemukan 21 lukisan, masing-masing gambar cap tangan 17 buah dan babi rusa 4 buah.

Menurut catatan penelitian, gua Sakapao berada di lintang selatan (LS) dan 119 ?36'08" BT dengan letak astronomis 04 ?53'03" ketinggian 90 di atas permukaan laut. Sakapao menghadap ke timur. Lebar mulutnya 9 meter dan tinggi pintu 4 meter. Tinggi gua dari permukaan tanah di depannya sekitar 65 meter.

Ismail menenangkan nafasnya, ketika mencapai mulut Sakapao. Dia membuka sepatu botnya dan berjalan tanpa menggunakan alas kaki. Anak tangga dari beton dan tangga kayu membuat perjalanan lebih menyenangkan setelah meninggalkan jejak kaki di lumpur.

Bentuk-bentuk lukisan tangan di Sakapao begitu unik, tangan-tangan saling timpa dan tak beraturan. Ada yang posisi jarinya ke atas, kebawah, dan kesamping. Memasuki gua Sakapao seperti berada di dunia mistik yang tak pernah terbayangkan. Namun, dilain sisi keadaan lukisan tersebut cukup memprihatinkan. Beberapa lukisan sebagian besar tak begitu jelas, ada yang hanya terlihat beberapa ruas jari saja bahkan ada yang hanya terlihat seperti noda tinta merah yang menempel di dinding gua. “Dulu itu lukisan tangan,” kata Ismail mengingat.   

Keadaan empat buah lukisan babi rusa bahkan lebih parah, tak satupun yang utuh . Di Sakapao lukisan babi rusa berukuran besar, sekitar 1 meter lebih. Garis-garis yang menunjukkan bagian perut dan kepala masih bisa dapat terlihat. Tapi secara utuh lukisan itu telah terkelupas.  “Ya hampir seperti ini semua keadaan lukisan gua,” kata Ismail.

Selain Sakapao, masih ada 20 gua yang masuk dalam kompleks gua prasejarah di Desa Bellae, Kelurahan Biraeng, Kecamatan Minasa Te'ne, Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep). Gua-gua tersebut berjejer di sepanjang bukit karst yang berdekatan dengan pemukiman penduduk.

Jenis lukisan dinding di kompleks itu dibedakan dalam lima jenis. Pertama, lukisan babi rusa yang terdiri dari dua jenis gambar yakni lukisan yang hanya berupa babi rusa dan
 lukisan babi rusa dengan anak panah yang menancap pada bagian dada. Dalam pembuatan lukisan ini, dilakukan cara lukis dengan menggambar.

Kedua, lukisan cap tangan atau hand stencil. Keberadaa lukisan cap tangan di kompleks gua prasejarah Bellae hampir merata di tiap gua dengan berbagai macam bentuk dan ukuran. Ada cap tangan dengan jari yang utuh, ada yang hanya mempunyai empat dan tiga jari-jari. Bahkan ada juga yang lukisan tangan yang lebih kecil dari umumnya, seperti cap tangan anak kecil.

Ketiga, lukisan perahu. Jenis lukisan ini sangat sedikit dan hanya dijumpai pada gua-gua tertentu. Persetujuan lukisan yang dianggap perahu itu disepekati oleh semua kalangan peneliti yang =ernah mengunjungi kompleks gua prasejarah Bellae. Bentuk lukisan memanjang dengan lengkungan tertentu dan pada kedua ujungnya lancip. Seperti model perahu bercadik Pembuatan lukisan perahu sama dengan proses pembuatan lukisan babi rusa.

Keempat, lukisan manusia. Bentuk lukisan manusia cukup beragam, ada yang hanya satu orang, dua orang, bahkan ada lukisan yang memperlihat enam orang seperti saling berpegangan membuat gerakan tertentu. Seorang dengan kepala di posisi bawah, seorang dengan kepala miring ke kiri dan yang seorang yang berada di luar barisa.

Kelima, lukisan atau coretan yang tak diketahui bentuknya. Lukisan ini umumnya berwarna hitam dengan bentuk beragam dengan objek yang tak begitu jelas.

Arkeolog Universitas Hasanuddin Makassar, Iwan Sumantri mengatakan keberadaan lukisan didinding gua disesuaikan dengan keadaan lingkungan yang ada disekitarnya. Bila, kata dia, pada lingkungan sosial berada di wilayah pesisir seperti di kompleks gua prasejarah Bellae maka itu bisa dipahami sebagai bentuk mata pencaharian masyarakat saman itu. “Ada gua yang memiliki gambar ikan, gambar ayam, dan juga ular,” katanya.

Tapi apa maksud masing-masing lukisan itu? “Kalau gambar cap tangan menunjukkan sudah ada tradisi ritual,” jelas Iwan Sumantri.
   

Kompleks Gua Prasejarah Leang-leang
Gua Petta Kere letaknya berada dalam areal kompleks Taman Purbakala Leang-leang yang luasnya mencapai 6 ha persegi. Pada papan informasi di jalan setapak menuju gua dijelaskan bila suhu udara di dalam gua bagian atas berkisar 270 C dengan kelembaban rata-rata 65 %, sedangkan kelembaban rata-rata dinding gua berkisar antara 17-22 %.

Petta Kerre terdiri dari dua ruangan yaitu ruangan atas dan bawah. Ruangan bawah berada 2 meter di atas permukaan tanah, sedangkan ruang atas sekitar 13 meter dari permukaan tanah. Ruang bawah merupakan ceruk dengan lebar sekitas 15 meter sedangkan ruang
 atas merupakan sebuah gua dengan lebar mulut 4 meter.

Di mulut gua, air dari sela batuan karst tak henti-hentinya mentes. Lumut-lumut yang menempel pada batuan terlihat begitu jelas. Di Petta Kere terdapat 16 lukisan cap tangan berwarna merah dan dua lukisan babi rusa juga berwarna merah. Semnetara kandungan lainnya berada di lapisan lantai gua yang sering ditemukan artefak seperti alat serpih dari batuan yang digunakan untuk keperluan sehari-hari. Ada juga fragmen tembikar, dan yang paling menarik adalah penemuan tengkorak yang diperkirakan dari generasi ras Mongoloid tanpa rangka tubuh pada tahun 1978.

Pre-Historian atau peneliti Prasejarah Universitas Hasanuddin Makassar, Tato Muhammad Nur yang telah meneliti gua-gua prasejarah sejak 20 tahun terakhir ini mengatakan, dengan penemuan tengkorak manusia di gua Petta Kere pada tahun 1978 menunjukkan bukti bila kebudayaan atau masyarakat Sulawesi Selatan merupakan bangsa yang tua.

Menurut dia, di kompleks gua Leang-leang Kabupaten Maros adalah periode terpenting dalam perkembangan manusia ke depan. Jumlah gua pra sejarah di kompleks Leang-leang mencapai 53 buah.  

Tahun 2009, ketika Tato Muhammad Nur melakukan penelitiannya kembali di 40 gua prasejarah dia menemukan laju kerusakan gua yang lebih cepat dari pengangan yang dilakukan oleh Balai Peninggalan dan Pelestarian Purbakala (BP3) Makassar.

Dari hasil penelitannya, Tato begitu sapaannya mengatakan secara garis besar perencanaan pelestarian sejak tahun 1978 hanya berjalan stagnan. Bahkan keberadaan gua yang tidak terawat dan kurangnya pemhaman yang diberikan pada masyarakat membuat saling ketergantungan tak berjalan baik. Ada gua yang penuh coretan dari spidol dan ball point, ada gua yang dijadikan kandang ternak petani, gudang jerami bahkan tempat penyimpanan kayu bakar.

Selain itu, tingginya dampak kerusakan pada lingkungan jug adipengaruhi berubahnyanya kondisi alam. Pembukaan jalan baru untuk akses pertambangan, kendaraan yang lalu lalang, keadaan iklim yang tak menentu. “Kelembaban dalam gua terus berubah, itu bisa menjadi persoalan utama,” kata Tato Muhammad.


To Ala, Mongolid, atau Australomelanesia
Tahun 1920, pencinta alam Paul dan Fritz Sarasin kebangsaan Swiss melakukan kunjungan ke Gua Cakondo, Ululeba dan Balisao Kabupaten Maros pada tahun 1902. Dia menuliskan apa yang mereka temukan dan mencatat seadanya. Bahkan laporan yang diasjikan Paul dan Fritz selalu dianggap sangat spekulatif. Tapi itu cukup membuka kemauan dan minat para peneliti lainnya. 

Lalu berturut-turut lah para peneliti mendatangi gua-gua prasejarah di Sulawesi Selatan antara lain Van Stein Callenfels,  H.D. Noone dan A. A. Cense pada tahun 1933.  W. J. A Willems dan F. D. McCarthy pada tahun1936, dan H. R. van Heekeren tahun 1936, 1937, 1947 dan 1950.

Penelitian selanjutnya oleh H. C. M Heeren-Palm pada tahun 1950, D. J Mulvaney dan R.P. Soejono pada tahun 1969, dan I. C. Glover pada tahun 1973 dan 1975.

Paul dan Fritz lah juga yang mempopulerkan jika manusia yang menghuni gua adalah orang To Ala atau manusia hutan dalam bahasa setempatnya To Ale'. Kepala Balai Penginggalan dan Pelestarian Purbakala Muhammad Said membenarkan hal itu.

Menurut dia, manusia To Ala adalah manusia yang memiliki postur pendek hanya sektiar 160 cm. Mereka adalah ras Medonesia dan persebarannya di wilayah Maros dan Pangkep. Memasuki tahun 1960-an kelompok masyarakat ini, mulai berpencar dan bermigrasi ke wilayah Sulawesi Tengah. “Setelah itu, generasi ini terputus dan ya, hilang,” katanya.

Padahal, menurut Said, orang-orang To Ala inilah yang dipercaya sebagai orang pertama yang mendiami daerah Sulawesi Selatan. Mereka berkulit coklat dan merupakan kumpulan ras sendiri.

To Ala atau To Ale' dalam bahasa setempat diartikan pula sebagai manusia hutan atau manusia yang mendiami hutan. Konon, cerita manusia To Ala menjadi tamu spesial untuk kerajaan. Tahun 1970-an orang To Ala biasanya diundang ke kerajaan Bone bila raja akan melakukan suatu hajatan. “Orang-orang ini akan dipersiapkan sebuah rumah khusus tanpa penerangan. Dan mereka mempersembahkan hasil hutan kepada raja. Begitu cerita yang hidup,” kata Said.

Namun, Tato Muhammad berbeda pendapat. Manusia gua dari kelompok Mongoloid yang berlayar masuk melalui perairan Indonesia dan tersebar di Filiphina, Jawa dan Sumatera. Persebaran ini diperkirakan sekitar 4.500 tahun yang lalu. Dan menurut dia berasal dari ras Australomelanesia yang sekarang lebih dicirikan sebagai orang-orang yang mendiami daratan Papua. Dengan ciri kulit hitam. “Ingat, melas dalam arti sebenarnya adalah hitam,” kata Tato Muhammad. 

Penelitian dan perkiraan yang dilakukan untuk mengindentifikasi ras itu dilakukan melalui pengungkapan tinggalan atau artefak yang tersisa dari dalam gua. Tato Muhammad membagi dalam tiga tahapan utama dengan metode Carbon 14 (C14) , pertama di lapisan tanah awal dengan beberapa temuan menunjukkan angka tahun 4.500 tahun yang lalu. 

Kemudian pada lapisan ke dua ditemukan tinggalan yang lebih tua dari lapisan pertama. Lapisan-lapisan tahap kedua ini lah yang dieperkirakan dari ras Australomelanesia.  Artinya pembuktian secara arkeologis itu bukti suku tertua etnik Bugis, Makassar, dan Toraja yang mendiami Sulawesi Selatan sekarang

“Itu dilakukan dengan pengujian C14 lalu didapatlah perkiraan usia 31.000 tahun sebelum masehi,” jelasnya.

Dari Ancaman Ekologi, Masyarakat, hingga Kelakuan Juru Pelihara
Irwan, 37 tahun, duduk di sebuah balai-balai di kolong bangunan kayu kompleks taman purbakala Leang-leang. Dia terlihat begitu menikmati suasana taman sekitar. Pemandangan yang hijau, rumput taman yang dipotong pendek dan rapi, dan batu-batu purbakala yang bediri berderet.

Irwan adalah juru pelihara untuk gua prasejarah. Awalnya dia bekerja sebagai tenaga honorer dengan upah Rp450.000 setiap bulannya. Tugasnya adalah membersihakan gua setiap hari dan mengawasi setiap pengunjung yang datang. “Harus diawasi, karena ada beberapa orang yang nakal. Bisa menulis-menulis sembarangan,” katanya.

Dengan celana kain warna hijau. Dia begitu semangat bercerita. Gua yang yang diawasinya dan menjadi tanggung jawabnya adalah leang Jarie. Leang dalam bahasa setempat adalah gua. Leang Jarie, berada di luar kompleks taman purbakala Leang-leang. Tepatnya berada sekitar 10 km di jalan poros Kabupaten Maros – Kabupaten Bone.

Menurut Irwan, setelah terangkat menjadi pegawai negeri tanggung jawabnya lebih besar dan uapahnya pun juga bertambah menjadi Rp900.000 sebulan. Tapi apa alasan dia meninggalkan tempat kerja yang seharusnya dijaga?. “Kita ini kan mau bekerja sebagai PNS seperti umumnya. Masuk jam delapan (pukul 08.00) pulang jam empat (pukul 16.00). Dan di taman purbakala ini kantornya,” katanya.

“Saya kalau sudah membersihkan gua, saya langsung ke sini. Pintu gua selalu terbuka jadi kalau ada yang mau berkunjung kesana bisa saja,” lanjutnya.

Di Leang Jarie, Irwan mengklaim lukisan cap tangan yang bertahan adalah 48 buah. Menurut catatan, di tahun 1982 lukisan cap tangan di dalam gua Jarie mencapai ratusan. Lalu pada tahun 2006, ketika Arkeolog Universitas hasanuddin Iwan Sumantri mengunjunginya, dia hanya menemukan 11 buah cap tangan. “Itupun kondisinya sudah mulai rusak,” katanya.
 
Menurutnya, kondisi lingkungan menjadi penyebab utama cepatnya terjadi kerusakan dan pelapukan dalam gua. Di setiap mulut gua juga bertumpuk debu yang begitu tebal. Bila tak menggunakan alas kaki, tanah gua yang berdebu itu begitu halus ketika ditapaki, berwarna putih. Hanya butuh sekian menit saja kaki akan berubah menjadi putih seperti menginjak, semen, sangat lengket. Itu, kata Iwan Sumantri karena cuaca yang ekstrim hingga penebangan pohon. Kalau musim kemaru maka debu tentu tak terkendali, tapi kalau musim hujan maka kelembaban akan sangat tinggi. Punggung-punggung karst mulai tak terjaga, air yang mengikuti ceruk dalam batuan seharusnya bisa diserap lebih dulu oleh tanaman, tapi semua tak bisa lagi. “Air itu, langsung saja mengikuti celah karst, dan tak jarang yang masuk ke dalam dinding gua,” ujarnya.

Lukisan-lukisan purba dengan pelan-pelan dan akhirnya berlumut. Kalau sudah begitu, kata dia, lukisan pun akan buram. Kondisi lain yang tak kalah serius adalah pengelupasan terhadap lukisan. Bukan pada gambar tapi pada dinding gua.

Saya mengunjungi beberapa gua prasejarah, dari Maros hingga Pangkep, lukisan-lukisan tampak seperti sebuah isolasi yang bahan perekatnya sudah tak kuat. Terkelupas begitu saja.  Ada lukisan tangan yang hanya tersisa satu jari dan ada yang hanya terisisa lengan.

Sementara pendapat lain, dari Kepala BP3 Makassar, Muhammad Said menuding pengrusakan gua-gua itu disebabkan oleh aktifitas tambang yang tak terkendali. Pengeboman dengan dinamit. Debu-debunya dengan putaran angin yang tak menentu bisa menutupi lukisan. Truk-truk pengangkut mateial melintasi jalan utama di depan gua, setiap hari. “Tidak mungkin kan, membuat jaring di semua gua untuk menyaring debu itu masuk,” katanya. “Saya kira regulasi penambangan harus diperketat.”

Menurut dia, beberapa penambangan yang terlalu dekat dengan situs gua. Padahal dalam regulasi batas aman untuk penambangan adalah 300 meter dari situs inti gua. Artinya bila ditarik garis lurus maka diameter untuk zonasi aman gua adalah 600 meter.

Tapi, tetap saja ada penambang yang tak mengindahkan aturan itu. Sakka, seorang juru pelihara di Gua Kamase, Lambatorang, dan Bulu Tengae mengatakan, areal tambang marmer dari inti gua yang dijagannya diperkirakan hanya berjarak 100 meter. “Saya tidak apakah merusak atau tidak. Tapi memang dekat sekali,” katanya.

Saat saya mengunjungi wilayah itu tak satu pun karyawan yang ingin dimintai keterangan. Beberapa diantara mereka mengatakan semua sudah ada ijinnya dan sesuai peruntukkan penambangan. “Itu saja,” kata seorang diantaranya.        

Ancaman lainnya adalah ulah masyarakat setempat. Di salah satu gua dalam kompleks Leang-leang yang telah dipagari adalah Gua Batu Karoppo, bahkan dijadikan masyarkat untuk gudang jerami. Jerami-jerami itu ditumpuk di di dalam hingga mulut gua. “Yang melakukannya adalah pemilik lahan,” kata Sakka.

Di Kabupaten Maros terdapat 50 gua pra sejarah dan hanya ada 10 juru pelihara. Setiap juru pelihara mengangani dua hingga tiga gua. Menurut Irwan, kelakuan itu mucul karena masyarakat merasa tak memiliki keuntungan jika mempertahankan gua dan tak digunakan sebagai tempat yang bermanfaat.

Kalau di gua Batu Karoppo digunakan untuk gudang jerami, maka di gua lainnya malah dijadikan rumah ternak dan tempat memasak sementara. “Biasanya petani yang rumahnya jauh dan butuh istirahat mereka memasak di gua,” katanya.

Apa yang menyebabkan demikian? Irwan punya analisis sederhana, seharusnya pemerintah yang terkait mengangkat mereka menjadi juru pelihara apalagi yang punya status tanah milik. “Biar dia merasa memiliki juga,” katanya.


Teknik Pembuatan Lukisan
Lukisan-lukisan tangan dan bebrapa lainnya diperkirakan menggunakan bahan yang dinamakan hematite atau bahan dari batuan yang memiliki berwarna merah dengan campuran akar pohon. Untuk membuat lukisan atau gambar cap tangan batuan tersebut dihaluskan lalu disemprotkan dengan menempelkan tangan ke dinding gua. Kemudian cara lainnya, adalah mencelupkan tangan ke cairan lalu menempelkan ke dinding.

Sementara untuk lukisan babi rusa dan beberapa lainnya, diperkirakan dilakukan dengan teknik melukis. Pada tahun 2007 melihat perubahan dan kerusakan yang semakin parah terhadap lukisan gua dilakukanlah upaya merestorasi luksian dengan cara menggambar ulang. Namun hal itu tak terlalalu mudah, karena harus mendapatkan bahan-bahan yang benar-benar meirip seperti yang digunkan masyarakat gua sebelumnya.

“Memang itu kendalanya. Sampai saat ini, belum ada cara yang benar-benar baik dan tepat dalam melakukan restorasi itu,” kata Tato Muhammad.

Dalam pewarnaan ilmu pra sejarah, ada tiga warna dasar yang dikenal. Merah, hitam dan putih. Untuk peninggalan di gua pra sejarah Maros dan Pangkep hanya ditemukan dua warna, yakni merah dan hitam. Dari sisi usia, perkiraannya warna merah lebih tua dibandingkan warna hitam. Sebab pada dasarnya, warna hitam selalu menimpa warna merah. 

Sayangnya hingga saat ini, tak ada penelitian yang dapat menentukan usia lukisan di setiap gua itu. Penanggalan hanya melalui tinggalan artefak dari penggalian di lantai gua. “Belum ada tahu usia lukisan dan belum ada penelitian, semua masih perkiraan,” kata Tato Muhammad.

Masyarakat Berburu
Jumlah orang menghuni setiap gua diperkirakan antar 7 hingga 70 orang tergantung dari besar kecilnya gua. Dan hidup secara nomaden atau berpindah-pindah.

Iwan Sumantri dalam buku Kepingan Mozaik Sejarah Budaya Sulawesi Selatan, menuliskan tak hanya hidup dalam kelompok kecil, organisasi sosial mereka juga sangat sederhana. Kebanyakan interaksi mereka hanya dilakukan dengan kelompok lokal.

Kelompok masyarakat ini pun dominan bersifat egaliter, dipandang dari segi usia dan kemampuan hasil kerja. Namun, durasi kepemimpinan sngat singkat dan pengaruhnya kecil kecuali sebagai penasehat.

Menurut dia, karena komunitas yang kecil maka perpindahan diperlukan untuk mengatur strategi mencari makanan. Biasanya setiap gua utama sebagai tempat berkumpul utama, adkan diiukit oleh persebaran gua-gua kecil disekitarnya yang dijadikan sebagai tempat transit.

Pada umumnya, masyarakat penghuni gua Maros dan Pangkep peghasilan utamanya dalam pemenuhan kebutuhan adalah dengan berbur dan mengumpulkan makanan. Namun, perburuan yang dimaksud bukanlah berburu secara besar-besaran dengan megnangkat tongkat, atau anak panah, lalu membuu binatang. Mereka hanya memasang jerat. “Untung-untungan saja dengan makanan dari hewan besar,” kata Iwan Sumantri.

Jadi untuk pemenuhan kebutuhan setiap hari hanyalah mengumpulkan kerang-kerangan, menangkap ikan dipesisir. “Buktinya ketika dilakukan penggalian sangat kurang ada tulang hewan besar yang ditemukan,” lanjutnya. Pada masa berburu dan mengumpul makanan ini, masayarakat gua dapat mencapai radius 120 km persegi untuk melakukan penjelajahan.  (Eko Rusdianto)

Tidak ada komentar: