Kamis, 27 Oktober 2011

Pemuda Menggugat Pemuda

Dan 28 Oktober 1928 itu jadilah Sumpah Pemuda. Para pemuda bersorak menyatukan pandangan. Satu arah, untuk Indonesia yang memiliki identitas dan karakter. Sumpah itu terjadi di pulau Jawa. Tapi gaungnya menggema ke seluruh pelosok. Seluruh sudut negeri ini.

Nah ini adalah refleksi saya untuk hari bersejarah itu. Saya memulainya dari seorang kawan, wartawan foto di Harian Fajar. Namanya Tawakkal, biasa dipanggil Gea, atau TWK. Orangnya ramah, keras, mungkin juga suka emosian. 



Kali waktu tahun 2008 akhir saya bekerja di Harian Fajar bersama dengannya. Di ruang redaksi di lantai empat gedung Graha Pena, dia bercerita bagaimana dia peroleh oleh-oleh bacokan dibahunya. Di kampong sendiri, Makassar.

Gea mahasiswa di Bandung. Awal tahun 2000-an ke Makassar, kampung halamannya adalah Sabbang di Luwu Utara, sekitar 400 km dari Makassar. Dia tinggal di kompleks perumahan BTP. Pada salah satu malam, dia berjalan ke sebuah warung dekat dengan rumah tempat tinggalnya.


Tiba-tiba seseorang mendekatinya, bertanya seadanya, lalu sebuah parang terarah ke bahunya. Gea tak tahu apa yang terjadi, tapi sebelumnya samar-samar didengarkan kalau mahasiswa Palopo dan Bone berseteru.


Di sini, berkelahi bukan pengertian kecil. Hanya main tonjok-tonjokan atau lempar-lempar batu. Tapi lebih mirip perang. Pakai parang, pedang, panah, hingga senjata api papporo – senjata tradisional terbuat dari pipa besi yang kuat. Pelurunya bisa bermacam-macam sesuai keinginan, bisa paku atau pecahan kaca.


Di Makassar hubungan setiap kelompok mahasiswa atas nama daerah selalu rentan konflik. Masing-masing menonjolkan kekuatan. Saling sindir  dan saling hujat. Tapi ketika mahasiswa-mahasiswa ini sudah menyeleasikan kuliah, mereka kembali bersahabat dengan kelompok lain. Walaupun pernah bertikai.


Saya pernah menanyakan perihal perkelahian itu pada seorang kawan, baik anak Palopo atau Bone, jawabannya seragam. “Ya memang sudah seperti itu. Kapan pun akan saling bermusuhan.”


Mencari referensinya. Menemukan tulisan Leonard Andaya, Warisan Arung Palakka. Ketika Arung Palakka berkuasa di kerajaan Bone dan bermukim di Gowa. Hubungan Bone dan Luwu (Palopo) itu harmonis. Bahkan hingga Corenlis Speelman pemimpin ekspedisi Belanda menaklukkan Makassar. Speelman bahkan meminta bantuan Arung Palakka merenovasi benteng Ujung Pandang – sekarang menjadi Fort Rotterdam. Arung Palakka dengan senang hati meminta bantuan ke Luwu. Dan sanggupi dengan mengirim ratusan orang pekerja.


Pada suatu masa pun, Arung Palakka bisa menentukan bagaiaman pemilihan raja di Luwu. Lalu hubungan Arung Palakka memburuk dengan penguasa kolonial di Fort Rotterdam. Kembali melawan Belanda. Gowa dianggap yang memiliki andil besar rusaknya hubungan itu.


Dalam keadaan terdesak itulah, pasukan Luwu membantu Arung Palakka. Memberinya ruang untuk memasuki daerah dan bisa bersumbunyi, meskipun pada akhirnya Arung Palakka memilih Enrekang.


Tapi Luwu juga pernah membantu Makassar menghadapi Belanda saat terjadi perang di lautan tahun 1669. Luwu mengirim seorang ahli karangnya membantu armada perang yang di pimpin Bonto Marannu.


KALAU melihat di tv dan koran dan mencermati konflik di Makassar. “Perang” jalanan dan kampus adalah cerita biasa. Perkelahian menjadi kisah yang hambar.  Hanya gagah-gagahan.


Lalu gesekan-gesekan itu tumbuh menjadi karakter daerah. Makassar (Sulawesi Selatan) adalah keras, tempramen tinggi, dan senang darah. Tentu sebagai seorang Sulawesi Selatan, ini merisaukan saya.


Jauh sebelum Sumpah Pemuda di cetuskan, di tanah Sulawesi Selatan ini masyarakatnya sudah mengenal hubungan harmonis. Baik secara  secara interaksi ataupun pemikiran. Di tradisi-tradisi lisan, dalam catatan lontara’ petuah-petuah kearifan lokal tergambar begitu jelas.


Tapi saya curiga generasi sekarang tak ada yang mempelajari.  


Empat kerajaan besar di Sulawesi Selatan, Bone, Luwu, Gowa dan Wajo. Bukanlah pemerintahan yang berdiri sendiri. Tapi saling terkait. Saya bertemu dengan Bissu Saidi pada Maret 2011, mengingatkan lagi pentingnya cerita dan cara pandang masyarakat Sulawesi Selatan.


Menurut dia, Luwu adalah sikap bertanggung jawab. Bone adalah karakter kuat. Gowa adalah keberanian. Dan Wajo adalah kebijaksanaan. Untuk menjadi orang Sulawesi Selatan, karakter-karakter itu harus disatukan.


“Kalau ingin bertanggung jawab, harus punya kekuatan. Kalau punya kekuatan harus punya keberanian. Setelah tiga itu terkumpul, maka meredamnya dengan sifat bijaksana,” kata Saidi.  (Eko Rusdianto)

1 komentar:

Rizky Haryanto mengatakan...

memang, sangat di sayangkan! peringatan hari sumpah pemuda harus tercoreng oleh ulah calon intelektual muda.

kami yang di TMP15A ikut merasakan imbasnya, adhel (ayyub) contohnya; terkena busur di ketiak, dan harus di operasi guna ngeluarin sebilah anak panah (busur).

harapan kami, kapan konflik seperti ini harus berakhir?

kota ini seperti kota hantu bagi kami, rasa aman sudah tak ada,...

"benar kata iwan fals" dalam sebuah lirik lagunya : KOTA//YANG KU TINGGALI// KINI TAK RAMAH LAGI//ORANG// YANG KU TEMUI// SENYUM PUN// MEREKA ENGGAN//