Rabu, 26 Oktober 2011

Masyarakat yang Hilang

Orang Sorowako adalah cerita dengan wilayah tanpa penduduk.


Sorowako adalah tanah yang dikelilingi hutan lebat. Tanahnya berwarna merah dan secara geologi mengandung banyak besi. Punya danau Matano yang cantik, airnya biru dan jernih sekali. Terdaftar sebagai salah satu danau terdalam di dunia, dasarnya berada 80 meter dibawah permukaan laut.



Sorowako masuk di wilayah Kecamatan Nuha. Ini kota kecil, di Kabupaten Luwu Timur. Luas seluruh wilayah untuk kecamatan sekitar 863 km­­ persegi, jumlah penduduknya 19.778 jiwa (data pemerintah Kecamatan Nuha, Maret 2007). 


Namun, beberapa orang bilang pada saya, Sorowako luasnya hanya sekira 2 km persegi. Saya kira pernyataan itu, menunjukkan kecilnya wilayah ini. “Kau bisa naik sepeda saja keliling, tidak sampai 1 jam, pasti sudah kelar,” kata beberapa orang. 

Perekonomian Sorowako ditopang oleh PT.Inco salah satu perusahaan tambang besar dunia dari Kanada. Tapi sekarang, Inco melepas 60 persen saham miliknya pada tahun 2008 ke Vale. Pelepasan saham itu, menurut beberapa catatan di media, karena alasan krisis Amerika pada tahun yang sama dan harga nikel jatuh dipasaran dunia. Vale adalah perusahaan gas dan mineral dari Brasil.


Di kota ini saya sulit mencari orang-orang asli Sorowako. Mereka adalah minoritas. Setiap hari saya mencari tempat makan entah di warung rumahan atau warung-warung makan yang berjejer di pasar Magani dan pasar Sorowako dekat danau Matano. Tapi setiap berkenalan, selalu menemukan orang Toraja, Bugis, atau Jawa.


Sorowako adalah kota asing dari identitas utama mereka. Serbuan para pendatang membuat ruang sosial berubah. Ada penjual sayuran keliling, penjual makanan, pemilik toko, hingga penjual ikan di pasar, selalu menyapa dengan kata ‘Mas’.


Tahun 1950-an ketika DI/TII bergejolak di Sulawesi Selatan, wilayah Sorowako tak lepas dari gempuran. Suku-suku asli melarikan diri karena tak tahan pemaksaan untuk memeluk Islam. Orang Sorowako pada mulanya memeluk kepercayaan animisme.


Jika ingin mengklasifikasinya dengan begitu kasar dan melihat-lihat saja, perkiraan saya, saat ini  suku yang paling banyak mendiami Sorowako adalah Toraja, Jawa, Bugis, dan beberapa daerah sekitar.


Sebenarnya saya rindu mendengar dialeg Sorowako asli. Saya bahkan buta sama sekali dengan bahasa Sorowako. Referensi saya tentang daerah ini sangat sedikit, hanya membaca sepintas, diantara laporan OXIST di buku Kedatuan Luwu dan Cristian Pelras di Manusia Bugis-nya.


Beberapa waktu lalu saya menelpon, Iwan Sumantri, seorang Arkeolog Universitas Hasanuddin. Dia sahabat dan kawan saya, sekaligus mentor pribadi yang jago. Menurut dia, kata Sorowako berasal dari ucapan pasukan bantuan dari Rongkong – sekarang Kabupaten Luwu Utara. Pada masa itu, terjadi peperangan di daerah Sorowako melawan Mekongga dari Sulawesi Tenggara.


Orang-orang Sorowako terpukul mundur dan kalah. Bantuan Rongkong datang, dan menyeru agar tak lari. Jangan ada yang mundur atau dalam bahasa setempatnya adalah Sorowako. Kata itu bersifat ancaman, harus berani dan tak boleh lari. Apapun yang terjadi.


Kini orang-orang Sorowako itu semakin sedikit. Mereka sudah terpukul mundur. Suaranya mulai tak terdengar. (Eko Rusdianto)

Tidak ada komentar: