Rabu, Juni 01, 2011

Surat untuk Sahabat

Kepada YTH
Sahabatku
di,
Tempat.

Sebenarnya ini semacam keluh saya untuk menyampaikan maksudku setelah beberapa kali kau nasehati aku dengan filosofi negeri seberang. Sudah lama nian saya memejamkan mata dan mencari jalan keluarnya, dan akhirnya menemukan cerita ini di deret-deret tersembunyi otakku.

Nah, kini saya mulai menulisnya setelah melewati beberapa kejadian. Beberapa kelakar dan kesedihan. Ingin rasanya menyudahi pertengkaran kita yang tak ada ujung pangkalnya, tak ada gunanya karena seperti debat kusir yang tak berkesudahan. Sungguh nian, saya sangat bosan.

Dan saya kasi judul ini surat seperti dibawah. Ini jadi peringatan untukku dan kau. Kita belum tahu apa-apa, dan jalan masih panjang. Selamat membaca.

Seberapa Sanggupkah Kita Bicara Tentang Laku?

Inilah cara pikirku pada 31 Mei 2011, pada siang hari. Mengenderai sepeda motor membonceng adik yang ikut tes masuk perguruan tinggi dan melewati selimut debu di jalan. Saya menjemput adik di Jalan Mangerangi SMU Negeri 8 Makassar. Meliuk melewati jalan Mappaodang, ke jalan Landak, lalu memotong Jalan Veteran, nyambung lagi ke Jalan Landak baru, menerobos jalan A.P Pettarani, masuk jalan Hertasning, ke jalan Mangga, ke Pengayoman, melintasi pasar Toddopuli, membelok di depan gedung PKK Makassar, lalu jalan Toddopuli, kemudian berbelok kanan menuju ruas utama Jalan Borong Raya, pada tikungan kedua dari traffic light Jalan Toddopuli, masuk ke sebuah gapura di lorong emas dan menikung ke kanan, pada rumah nomor 4, saya membuka pintu kamar.

Rumah kontrakan dengan sebuah ruang tamu, kamar dengan sekat tripleks, kamar mandi, dan dapur. Saya duduk setelah mandi, dengan sabun merek Detol, pasta gigi Sensodyn, dan sikat untuk jari kaki. Pukul 13.52 sudah pada paragrafi ini kuketik.

Ingin rasanya menceritakan semua isi dalam tumpukan pikiranku. Tapi yang selalu dan tiba-tiba teringat adalah kata PADI. Ada apa dengan padi, dengan beras, dengan makanan pokok orang Indonesia itu? Saya meraba-rabanya.

Sangat dekat dengan tempatku duduk mengetik, rice cooker yang berisi beras dengan rendaman air dicolokkan. Charger laptop melintang menuju satu terminal colokan listrik, berbagi dengan colokan rice cooker. Di dalam rice cooker mulai lah senyawa berubah, aliran listrik berubah menjadi uap panas, mungkin seperti cara kerja seterika.

Tapi itu bukan intinya. Ini adalah masalah padi. Meski untuk menjadi beras maka yang pertama harus jadi padi, kemudian gabah, lalu dimasak – mau dikukus atau ditanak ataupun dengan cara listrik tadi – semua tak jadi soal untuk menghasilkan nasi. Nah apakah yang menggalaukan pikiranku? Ya sudah kubilang tadi, padi titik.

Saya mengingat rupa padi. Dengan tangkai yang halus, tengahnya berlubang, sangat rapuh dan mudah mati. Bila ada air, angin ataupun binatang maka padi itu bisa rebah. Tapi sebagian orang punya pendapat lain tentang padi. Ini sudah bermula sejak jaman dulu, sejak saya mengenal sekolah dan mulai membaca. Ada selalu nasehat dari guruku, kalau kelak bila besar nanti harus punya sifat padi. Semakin berisi, semakin merunduk. Dan kau mengulangi nasehat itu.

Selalu teringiang-ngiang dan menjadi cita-cita dan harapan semua anak manusia. Padahal pada keadaan saya yang berusia 26 tahun, cerita dan nasehat itu mulai kurevisi dengan kepalaku sendiri. Tak pernah kukatan sama seseorang, kecuali pada beberapa bulan lalu menulisnya di cataan harian di notes facebok. Tak kusangka ada banyak respon, meskipun hanya sedikit yang mendukung, rata-rata ekspresi yang kudapat adalah marah.

Padi adalah tumbuhan yang lamban dan manja. Rapuh dan tak tahan. Padi adalah tumbuhan manja, anak mami, yang menginginkan banyak perhatian besar. Jadi apa keistimewaan padi? Hanya karena makanan pokok.

Ayo coba kita lihat bagaimana makanan pokok lainnya yang ada disekitar kita. Adalah sagu. Makanan pokok yang dibuat dengan susah payah. Menanam sagu bukan hal muda, mencari tempat dan mendiamkannya. Tapi kekuatan pohonnya jangan dikhawatirkan, ada duri dan menjulang tinggi.

Sagu ini menurut ahli lingkungan, Prof. Lahming dari Universitas Negeri Makassar pada sebuah bincang-bincang saya dengannya mengatakan, sagu itu sebenarnya membentuk dan menjaga ekosistem kawasan sekitarnya. “Jadi kalau sagu tidak ada, maka bisa dipastikan akan ada rantai ekologi yang terputus,” katanya.

Nah apa beda sagu dengan padi. Ya jelaslah. Tapi kenapa saya menulis ini, pertama saya terusik dengan kajian dan cerita masa lampau kalau semakin berisi semakin menunduk. Nah apakah ini produk sebuah saman? Sesuai kah dengan filosofi Bugis dan Makassar.

Saya khawatir, ini adalah pengaruh Jawa. Pengaruh bacaan sekolahan, seperti kita mengenal nama Budi untuk anak yang baik. Yang selalu menunduk bila menginginkan sesuatu, selalu berputar-putar sebelum memasuki inti. Hal ini pulah lah yang pernah dikelukan wartawan Mochtar Lubis dalam sebuah memaornya.

Padi itu menunduk karena batangnya tak kuat. Sagu itu lebih kuat untuk membuktikan kebesaran dan keinginannya dinikmati banyak orang, semakin besar batangnya, semakin kokoh dia, dan semakin banyak kandungan makanannya.

Terus kenapa memasuk-masukkan filosofi Bugis dan Makassar. Nah ini saya ada cerita ketika berbincang-bincang dengan bissu Puang Matoa Saidi pada April 2011. Menurut dia cerita dalam Sureq I La Galigo adalah nafas kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan. Dia membaginya dalam empat kesatuan wilayah besar, pertama Luwu yang disimbolkan dengan warna kuning untuk orang yang bertanggung jawab dan bisa memayungi orang lain. Wajo dengan pink, simbol Mallebbi' atau bersahaja dan pemurah. Bone dengan keberanian – maaf saya lupa simbol warnanya. Gowa dengan Merah yang kuat dan sedikit angkuh.

Nah, di Sulawesi Selatan tempat Sawerigading atau Opunna Ware' ini berkuasa, Puang Saidi berkata sifat itu harus menyatu dalam setiap orang. Untuk menjadi bertanggung jawab seperti orang Luwu maka harus memiliki sikap keberanian dari Bone, bila sudah berani maka dia harus sedikit “angkuh” untuk menentukan pilihan dan mengeluarkan keputusan seperti orang Gowa. Sementara bila tiga itu sudah terkumpul, untuk membungkusnya harus memiliki kerendahan hati dan sifat kebersahajaan seperti orang Wajo. “Jadi tidak ada yang terpisah,” kata Puang Saidi.

Nah masikah kita ingin bercontoh pada filosofi daerah lain yang belum tahu asal usulnya. Sekarang, pukul 17.45 saya mengetik paragraf terakhir ini setelah kelelahan dan berbaring, lalu terlelap. Pukul 16.00 terbangun lalu menyeduh segelas kopi, dan mengetik resensi buku fotografer Yusuf Ahmad. Setelah itu, sampailah kita di baris akhir pikiranku hari ini.


Salam Hangat.
Sahabatmu, Eko Rusdianto

0 comments:

Posting Komentar