Senin, 20 Juni 2011

Poso, Gejolak Tanpa Henti

JALAN itu lurus. Beraspal mulus, lampu jalan begitu terang, ada zebra cross, ada tanda larangan berhenti untuk kendaraan. Lalu lintas teratur sepeti biasanya dan penjaja makanan melayani tamu dengan suka cita.

Senin, 13 Juni 2011, sekira pukul 21.00 sebuah mobil Toyota Rush warna merah hati dari arah selatan berhenti di areal larangan itu. Tepat di depan kantor Kepolisian Resort (Polres) kota Poso, jalan Sumatera. Cukup lama sekitar 20 menit. Tak ada pengendara yang turun. Dan tahu-tahu ada suara ledakan. Semua kalang kabut, polisi yang tadinya selalu siap siaga di pos penjagaan pintu masuk berlari ke arah kantornya.

Setelah itu, seorang polisi menggunakan pakaian biasa melaporkan kejadian melalui telepon genggam ke Kepala Kepolisan Resort (Kapolres) yang tak tak berada di kantornya. “Kantor diserang pak,” katanya.

Siapa yang menyerangnya? Ini belum jelas. Polisi masih mengejar para pelaku. Mobil itu berlari cepat menuju utara, bila berjalan lurus akan menembus wilayah Sulawesi Selatan.

Sebelumnya, Abdul Kadir, 50 tahun, dengan senang hati memperhatikan mobil merah hati itu seraya melayani puluhan tamunya yang memesan makanan. Dia penjual nasi uduk lesehan tepat di seberang jalan kantor Polres Poso samping ATM Mandiri.

Abdul Kadir, adalah seorang pendatang dari pulau Jawa. Dia menjual di tempat itu sejak semula kedatangannya di Poso. Sudah tiga tahun. “Tadinya, saya lihat itu mobil pasti akan ditegur oleh polisi. Atau ditilang. Wong berhenti didaerah larangan kok,” katanya. “Tapi saya juga tunggu, siapa tahu hanya menunggu waktu belok. Saya harap itu orang mau makan nasi uduk.”

Sambil memperhatikan, mobil itu berjalan mundur. Polisi tak satu pun keluar. Tiba-tiba ledakan terjadi, yang pertama di jalanan. Ledakan kedua pun ditempat yang sama. Ledakan ketiganya berada di dalam pagar Kantor Polres Poso. “Saya lihat ada api. Itu ledakannya di dalam pagar itu. Iya dekat itu,” kata Kadir seraya menunjuk palakat tembok yang tertulis Kepolisan Resor Poso.

Sesaat belum ada reaksi, berulah ketika anggota Datasemen Khusus 88 Anti Teror menyalak keluar dari arah losmen Pandawa tempat mereka menginap di depan kantor Polres itu, polisi yang lain pun bergerak cepat. Dan mobil itu melaju cepat. Lalu menghilang.

Pukul 21.25 jalan Sumatera di blok dari dua arah. Arus lalu lintas dialihkan. Anggota kepolisian keluar dengan pakaian seadanya, berbaju kaos dan bercelana pendek, tapi memegang senjata lars panjang. Ini pertama kalinya kantor Polres Poso diteror dengan ledakan pasca penembakan empat anggota kepolisan di Palu.

Pada 25 Mei 2011, di Palu jalan Emmy Saelan, di kantor cabang bank BCA tiga aparat kepolisian didatangi empat orang menggunakan dua sepeda motor. Masing-masing Rafli alias Furqan, Hariyanto alias Anto, Fauzan alias Charles dan Hidayat Alias Faroq. Mereka ini menghadiakan beberapa butir peluru kepada tiga orang polisi yang menjaga kantor BCA itu. Dua orang polisi dengan seketika meregang nyawa yakni, Brigadir Dua Yudhistira dan Brigadir Dua Andi Irbar dan satu orang luka parah yakni Brigadir Dua Dedi Edwar.

Tak pelak aksi itu membuat semua warga dan aparat keamanan siap siaga. Ini adalah aksi teror dan semuanya kesatu kesimpulan; terorisme. Pasukan khusus pun didatangkan dari Jakarta. Namanya Datasemen 88. Pasukan inilah yang aktif dan memeng bertugas menjaga keamanan dari aksi teror.

Empat pelaku penembakan itu pada hari kesebelas dua dua orang pelaku diciduk dan ditembak mati, yakni Fauzan dan Hidayat. Dua lainnya yakni, Hariyanto dan Faroq menjalani pemeriksaan di Polda Sulawesi Tengah. Pengejaran itu dilakukan hingga masuk hutan, melewati beberapa bukit dan menyeberang sungai.

Selain para tersangka pembunuhan, Datasemen 88 juga menemukan beberapa persenjataan. Ada bom, senjata api, hingga peralatan lainnya yang mendukung pembuatan bom. Kini aparat kepolisian terus-terusan mengembangkan kasus penembakan. Mereka kuat menduga ada jaringan besar dibalik aksi teror.

Kepala Bagian Operasional (Kabag Ops) Polres Poso, Komisaris Polisi Mulyadi, mengatakan bila pengungkapan jaringan teror seperti semacam fenomena yang terpendam. Ada tapi sulit untuk mengungkapnya. “Nama-nama kelompok itu sudah ada. Tapi itu kan berada di tangan penyidik. Itu belum bisa keluar,” katanya.

Menurut dia, kelompok-kelompok garis keras ini sejak konflik sudah berada di Poso. Mereka melakukan pelatihan dan perekrutan. “Saat ini sasaran mereka adalah polisi. Dalam kesaksian Hariyanto (seorang pelaku penembakan di Palu) karena sakit hati,” katanya.

Hariyanto dalam rekaman yang beredar di YouToube mengungkapkan kekecewaannya pada aparat keamanan dan ingin membunuh siapapun polisi yang ditemukan. Dalam kesaksian itu, yang direkam oleh seorang polisi Hariyanto menngatakan bila dia hanya bertugas membawa motor. Dia belum diizinkan untuk melakukan penembakan.

Kekecewaan kelompok jaringan keras dalam laporan kepolisan mengungkapkan itu buah dari penagkapan Abu Bakar Ba'syir di Jakarta beberapa waktu lalu. Menurut Hariyanto, yang ditirukan Mulyadi, tak sepantasnya polisi menangkap dia dan lebih baik membebaskannya.

Abu Bakar Ba'syir atau dikenal dengan nama Ustads Abu adalah seorang pemimpin islam garis keras. Namanya Jaringan (JAT). Ba'syir menginginkan pemerintahan yang bernafaskan islam dan menjalankan syariat islam dalam tatanan hukum kenegaraan.

Kini sekitar 20 personil anggota Datasemen 88 berada di Poso. Mereka dengan perlahan-lahan menyisir setiap daerah yang dicurigai. Mulai dari perbukitan hingga pesisir. Termasuk tiga Zainul Husain alias Inul dan Maman alias Papa Adam, di desa Lape Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso. Sementa Anang Mustadi alias Papa Enal ditangkap di Kabupaten Tojo Una-una. Dari tiga orang inilah pengembangan berkembang dan menghasilkan 12 buruan lainnya.

SEBENARNYA setelah pasca konflik agama di Poso yang dimulai sejak tahun 1998 hingga Desember 2001 - melahirkan perjanjian damai Malino, Poso kembali aman. Aktifitas warga pelan-pelan berjalan normal. Masyarakat kembali berladang dan kegiatan keagamaan masing-masing berjalan tanpa ada gangguan.

Meskipun, demikian beberapa beberapa orang dari garis keras kelompok muslim masih selalu melakukan teror. Rafiq Syamsudin mengatakan periode 2001 hingga 2006 adalah masa seperti bayang-bayang, kabur dan belum jelas.

Rafiq pada masa konflik tahun 1998 adalah seorang panglima perang. Dia mengkoordinir sekitar 300 orang anak muda. Rafiq memiliki kemampuan dalam bidang teknik dan mampu merakit berbagai macam peralatan. “Jadi semua anak buah saya memiliki peralatan tempur,” katanya. “Saya buatkan dia senjata api dan kesing untuk bom.”

Rafiq membagi periode kerusuhan Poso dalam dua jilid. Pertama adalah kontak senjata antara Muslim dan Non Muslim. Di Poso perebutan kekuasan kepala daerah juga selalu membagi kekuasan. Pada tahun 1998, bupati Poso adalah seoran Islam dan Sekretaris Daerah adalah Kristen. “Ini berlangusng sejak lama, kalau bupatinya dari islam maka sekdanya dari kristen, begitu pula sebaliknya,” ujarnya.

Namun, entah keapa pada acara pawai natal, sebuah kegiatan yang sangat lumrah digelar di Poso berubah menjadi “neraka” dan ladang pembantaian. Alasannya sederhana, ada isu yang menyatakan bila warga kristiani akan menduduki kota Poso yang dikenal sebagai basis Islam dan bahkan akan membunuh bupati.

Tahapan kedua, pasca deklarasi damai Malino 19-21 Desember 2001. Di masa ini tidak ada lagi perang terbuka. Tapi tetap ada kelompok kecil garis keras. Dan aparat meminta semua perlatan senjata yang digunakan pada masa konflik dikembalikan dengan sukarela dengan batas waktu tertentu. “Saya tidak mengembalikan karena memang sangat khawatir akan ada aksi balasan dari pihak Kristen yang masih terus diteror oleh kelompok garis keras itu,” kata Rafiq.

Tahun 2005, Rafiq ditangkap karena menyembunyikan sekitar 7000-an peluru, lima pucuk senjata api rakitan, beberapa pipa besi, beserta tujuh karung belerang. Semua itu disembunyikan di rumah kawannya. Rafiq menjalani interogasi dan mendapat vonis 6 bulan kurungan. “Pertanyaan yang paling saya ingat adalah; Apakah saya kenal dengan Abu Bakar Ba'syir?”

Namun, dalam perjalanan kasus itu. Rafiq ditawari beberapa kesepakatan untuk mengubah pengakuannya. Pertama menarik pernyataannya untuk tidak mengakui bila semua barang yang ditemukan adalah miliknya. Yang nantinya semua tuduhan akan berbalik ke sang kawan. “Waktu itu polisi minta saya membocorkan semua informasi yang saya ketahui. Dan bila laporan itu saya tarik maka saya akan bebas. Dan dijanjikan fasilitas baik,” katanya. “Bahkan sebelum saya dibawa ke Rutan penyidik dari Polda itu dengan laptopnya di atas mobil masih bilang, 'kalau mau rubah keputusannya ini belum terlambat,' tapi saya tak melakukannya,” lanjutnya.

PADA 22 januari 2007 aparat keamanan melakukan operasi penertiban dan penegakan hukum di Poso. Aparat kepolisan memasuki wilayah yang dinamakan Tanah Runtu. Di tempat itu kontak senjata terjadi secara berhadapa-hadapan. Puluhan warga masyarakat tewas. Operasi itu dilakukan sejak subuh hari dan berakhir menjelang sore sekitar pukul 17.00. “Itu peristiwa kelam kedua yang sangat mencekam,” kata Rafiq.

Setelah peristiwa Tanah Runtu itu usai, pemerintah pusat menggelontorkan berbagai upaya pemulihan seperti bantuan uang. Salah satunya, adalah pemberian bantuan sebesar Rp10 juta setiap orang untuk korban penegakan hukum, eks kombatan, dan mantan narapidana. “Ini lah konflik baru,” jelasnya.

Masyarakat, kata Rafiq, menjadi dimanjakan. Beberapa warga yang seharusnya mendapatkan bantuan tak memiliki akses. Semua serba menyalahkan. Hingga beberapa kelompok membuat perusahaan konstruksi untuk mendapatkan proyek. “Nah, sekarang karena yang mengelola proyek adalah mereka yang kebanyakan adalah pelaku konflik, maka minta proyeknya denan cara paksa. Ada kepala Dinas yang dipukul.”

Dalam buku Jurnal Pengawasan Dana Recovery Poso yang diterbitkan Aliansi Jurnalis Independen kota Palu, ada kalimat yang sangat tersohor pada pertengahan tahun 2007 yang dikeluarkan oleh Bupati Poso, Piet Inkiriwang pada setiap pertemuan dengan masyarakat. “Tidak usah ngoni ribut-ribut sebentar lagi torang akan berenang diatas doi, cepat beking proposal, semua akan dapat (tidak usah kalian ribut, sebentar lagi kita akan berenang diatas uang, buatlah proposalnya),” kata Piet.

Seorang tokoh dari umat Kristiani Pendeta Rinady Damanik, membenarkan hal itu. “Ya, sekarang masalah yang ada di Poso adalah proyek dan uang. Soal penembakan kemarin warga tidak ambil pusing. Kami sekarang hidup dengan rukun. Ini daerah yang aman,” katanya.

Dari data tahun 2010, jumlah penduduk Poso adalah 271 ribu jiwa. Dalam jumlah itu, 75 persen penduduk menganut agama Kristen dan 35 persen Islam.

Menurut Damanik, dalam beberapa pertemuan dengan tokoh agama di Poso, semua sepakat untuk mulai melupakan konflik. Kalaupun ada aliran keras itu adalah tugas aparat keamanan untuk mengamankan lingkungan. “Saya juga menyayangkan tindakan pembunuhan yang dilakukan aparat kemarin itu. Kenapa mereka tidak ditangkap dalam keadaan hidup-hidup, itu kan lebih berguna,” terangnya.

Kita ini orang Poso sebenarnya bosan dengan konflik. Kita sudah bsan juga dengan semua itu. Siapa yang mau berkonflik terus menerus, tentu tidak ada,” kata pendeta Desmon Kantjai.

Desmon Kantjai adalah seorang ketua majelis Klasis Gereja Kristen Sulawesi Tengah untuk wilayah Poso. Dia memimpin 10 jemaat, setiap satu jemaat memiliki anggota hingga 300 orang. “Saya ini tinggal di tengah kota Poso, saya meresa senang di sini. Kami saling menghargai, yang muslim melakukan kegiatan agamanya, yang Kristen dan Hindu semua jadi satu. Kami saling percaya agama bisa dijadikan rujukan untuk kedamaian,” katanya.

Meski demikian, Kabag Ops Mulyadi, menilai apa yang dilakukan aparat di lapangan sudah sesuai dengan protap. Semua prosedur telah dilakuka, misalnya melakukan pemberitahuan atau pengumuman kepada para pelaku penembakan di Palu untuk menyerahkan diri. Bahkan mengeluarkan tiga kali tembakan peringatan, dan pelaku malah membalas tembakan peringatan polisi. “Ini adalah bagian dari upaya penyelamatan diri,” katanya.

Padahal kata warga, di tempat tertembaknya Fauzan dan Hidayat, di Gunug Kele, desa Tambora Kabupaten Poso, sekitar pukul 10.00 itu tak ada kontak senjata. Warga tak pernah mendengar ada tembakan balasan.

KETUA Forum Kerukunan Antar Umat Beragama (FKUB) Poso, Abdul Gani, di ruangan komisi I Dewan Kabupaten Poso duduk menggunakan songkok. Safarinya terlihat licin. Menggunakan pin kehormatan dewan. Dia pria yang cukup ramah, punya kumis tipis dan murah senyum. “Ketegangan ini adalah ulah sekolompok kecil orang,” katanya.

Menurut dia, jaringan keras ini memang perlu diwaspadai. Sepengatahuannya, sejak tahun 2000 jaringan dengan aliran keras ini sudah memasuki Poso. Mereka melakukan aktifitas dengan diam-diam. Tidak menampakkan diri.

Abdul Gani, pernah tergabung dalam kelompok garis keras ini. Pada tahun 2001 dia pernah membawa calon rekrutan ke sebuah tempat untuk dilakukan perekrutan. “Itu saya belum tahu, kalau waktu itu ada doktrin jihad. Tapi setelah tahu saya keluar,”' ujarnya. “Dalam doktrin itu, mereka memang menghalalkan segala cara.”

Menurut dia, kelompok garis keras yang pertama kali masuk ke Poso dari Laskar Mujahidin. Dan saat ini Abdul Gani mentaksir anggota kelompok ini sudah mencapai 1000-an orang. Rekrutannya adalah warga masyarakat yang taraf pendidikannya rendah. “Tapi saya kira kalau aparat keamanan melakukan sosialisasi dengan pendekatan yang lebih bersifat kekeluargaan akan bisa, bukan dengan kekerasan seperti saat ini,” katanya. (Eko Rusdianto) 




Catatan: Edisi cetak majalah GATRA, 22 Juni 2011   

Tidak ada komentar: