Senin, 20 Juni 2011

Perang Makassar 1669

Sebanyak 250 kapal perang dari kerajaan Gowa Makassar, meninggalkan pelabuhan Galesong, menuju laut Banda. Beriringan dengan penuh ketegangan dan membawa serta meriam “anak Makassar” yang begitu tersohor.

Diantara kapal-kapal itu, ada dua kapal yang berukuran lebih besar sebagai pemimpin armada, namanya “Tunipalangga” dan “Gallek Karaenta”. “Tunipalangga” di komondai oleh I Makkuruni dan “Gallek Karaenta” dipimpin oleh panglima perang laut paling tersohor di Kerjaan Gowa, adalah Itanrawa Daeng Riujung Karaeng Bontomarannu. Pasukan-pasukan Belanda menjulukinya Admiral Monte Maranno.

Pada 10 Juni 1669, armada kapal Gowa itu menghadang 200 armada kapal Belanda yang dipimpin oleh Admiral Johan van Daam. Dia adalah seorang pemipin yang pernah menghadapi langsung I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape bergelar Sultan Hasanuddin.

Johan van Dam didampingi oleh seorang perwira yang cakap yakni Kolonel Marco de Bosch dan Kapten de Larssen. Tak hanya itu, beberapa sekutu lainnya ikut menemani antara lain raja Kerajaan Bone Latenritatta Aruppalakka, hingga perwakilan dari armada Buton dan Ambon. Para pembesar itu berdiskusi ringan di atas kapal induk “Van Hoyer”.

Bagi orang-orang Bone, Admiral, menghadapi Gowa sendirian pun kami bisa mengalahkan. Tapi, demi persahabatan, kami hargai bantuan dan persahabatan dari kompeni Belanda, Ambon dan Buton,” kata Aruppalakka.

Kapal-kapal itu, sesekali seperti terbang. Lalu dihempaskan oleh ganasnya laut Banda. Dan rombongan kapal Belanda itu tak menyangka akan dihadang oleh armada perang Gowa. Lalu, tiba-tiba dentuman meriam menyalak tiga kali. Sebuah suara berdentum keras mengenai sasaran. “Bah! Verdoem man! Puang Tatta Aruppalakka, boleh kamu sanjung dan puja-puji kehormatanmu secara berlebih-lebihan di daratan! Di laut, di samudera, bahkan Kompeni pun belum pernah mengalahkan mereka,” kata van Dam kalang kabut.

Pertempuran pun tak dapat dihindari. Semua kapal siaga. Van Dam merasa terkurung. Strateginya mulai berjalan, beberapa kapal mulai dibelokkan ke arah Selatan untuk mengurung pasukan Gowa. Tapi itu tak berlangsung, sebab kapal rombongan Tunipalangga yang berpisah dengan Gallek Karaengta sejak di laut Selayar lebih dulu berbelok menghadang dari arah belakang.

Lalu tibalah saatnya, meriam “anak Makassar” di ledakkan. Suaranya menggelegar memenuhi laut Banda yang diguyur hujan deras. Meriam itu sangat dikenal dan ditakuti oleh Kompeni. Daya jangkau ledakannya sangat jauh dan pelurunya sangat besar. Pasukan Belanda tak menyangka jika “anak Makassar” akan dibawa serta ke lautan, karena keberadaannya sebelumnya adalah di dinding benteng Somba Opu pusat utama kerajaan Gowa sebagai tameng pelindung.

Van Dam tak kuasa menahan geram. Dia terkurung dan tak mampu berbuat apa-apa. Dia kemudian turun dari kapal induk Van Hoyer, bersama sekutu kerajaan. Van Dam melarikan diri dan memrintahkan Marco de Bosch mengambil alih pimpinan.

Tapi de Bosch tak bisa berbuat apa-apa. Dia kemudian mati dalam peperangan itu. Jasadnya terkubur di laut Banda.

Adalah S.M. Noor seorang dosen Hukum Internasional di Universitas Hasanuddin Makassar menuliskannya dengan apik. Dia merinci begitu kuat karakter dan kekuatan pasukan laut kerajaan Gowa dengan detail.

S.M. Noor menggambarkan strategi perang laut yang sangat dalam dan matang dari kebesaran kerajaan Gowa dalam novel sejarah “Perang Makassar 1669, Prahara Benteng Somba Opu”. Tapi sebagai novel yang bersumber dari fakta sejarah, S.M. Noor memasukkan tokoh utama I Makkuruni anak dari raja Bira. Ini mungkin saja, karena dia adalah orang Bulukumba atau tanah Bira juga.

Sebagai novel, dia memasukkan kisah cinta, konflik antar saudara, hingga intrik kerajaan, meskipun sangat sederhana dan tidak mendalam. Noor juga menuliskan kepiwaian pasukan Gowa dalam mengarungi lautan. Semua dikerjakan dengan manual dan bakat alam, ada pasukan yang hanya ahli dalam membidik dengan meriam, pasukan lainnya sebagai ahli astrinomi dan perbintangan untuk pengganti kompas. Atau bahkan pasukan lainnya yang sangat cermat mendeteksi keberadaan karang dalam pandangan mata telanjang.

Sejarawan Anhar Gonggong dalam pengantar buku itu menuliskan, bila novel ini akan menjadi sebuah jalan membuka “imajinasi” untuk melanglangbuana ke kerajaan Gowa abad 17. Dia lalu berharap, dengan terbitnya novel sejarah maka anak-anak muda akan mampu mencintai sejarahnya kembali, sekaligus sebagai perwujudan sikap nasionalisme.

Anhar mengutip pesan Sultan Hasuddin waktu menerima para pasukannya yang selamat kembali perang, meskipun tak sedikit yang gugur di laut Banda termasuk perwiranya yang cakap I Memmang. “Tak hanya I Memmang, semua prajurit Gowa adalah anak-anak laut. Jasad mereka kini bersemayam di laut. Anak laut kembali ke laut.” (Eko Rusdianto)


Judul : Perang Makassar 1669, Prahara Benteng Somba Opu
Tebal : 216 halaman
Terbitan : Aril 2011, PT Kompas Media Nusantara
Penulis : S.M. Noor
Penyunting : Veven Sp Whardana

2 komentar:

Here I Am mengatakan...

Novel yang sangat recommended buat anak makassar..

Here I Am mengatakan...

Novel yang sangat recommended buat anak makassar..