Selasa, 08 Februari 2011

Menyanjung Toraja Lewat Pesta



Pada 28 Desember 2010, udara yang berhembus pada sore hari cukup dingin. Kabut mulai bermunculan seperti selimut alam yang nyenyak. Di sebuah rumah duka di Desa Deri Kecamatan Sesean Kabupaten Toraja Utara, Semuel Padda, mengisap rokok dengan nikmat. Dia duduk di sebuah lumbung. Di depannya, ada tongkonan besar. Di teras tongkonan ada sebuah peti jenasah, beberapa orang perempuan duduk dengan pakaian hitam.

Ada yang menitikkan air mata, ada yang memegangi peti, ada pula yang berdoa. Mereka bergantian menjaga jenasah itu saban hari, ada yang bertugas malam ada juga pada siang hari. Di depan tongkonan patung duplikasi Theresia Tangdo Pole atau Nenek Tapuk sedang duduk dengan tangan kedepan. Theresia adalah jenasah yang berbaring dalam peti itu sejak 2008.

Theresia rencananya akan dimakamkan pada 31 Desember. Namun sejak 24 Desember 2010 ritual yang berkaitan dengan pesta itu sudah dimulai. Sejak Theresia meninggal dia hanya disemayamkan di rumah tongkonannya yang sejuk. Setelah keluarganya siap secara naluri dan materi maka prosesi pesta mulai dirancang satu-satu.

Keluarga Theresia menggelar pesta yang begitu meriah. Anggarannya mencapai Rp3,5 miliar. Ada ratusan hewan yang menjadi persembahan pesta. Sebanyak 108 delapan hewan besar (kerbau, rusa, kuda, sapi, dan anoa) dan tak terhitung jumlah babi dan ayam. Di Toraja derajat kebangsawanan seseorang, saat menggelar pesta kematian dilihat dari persembahannya. Keluarga Theresia adalah bagian dari keluarga bangsawan, karena tak semua orang Toraja bisa menyembelih kuda, rusa dan anoa saat melakukan pesta kematian.

Pada 24 Desember jenasah Theresia mulai diturunkan dari tongkonan ke teras. Untuk memindahkan jenasah dibutuhkan waktu hingga dua hari. Setiap hari selalu ada pemotongan hewan minimal seekor babi dan kerbau. Setelah jenasah disemayamkan di teras dilakukan ritual ma'pasa tedong (mengarak kerbau). Pada 29 Desember 2010, pagi hari yang cerah sejumlah kerbau persembahan di bawah kedepan tongkonan tempat jenasah disemayamkan. Iringan alu yang ditumbukan ke lesung padi membuat irama yang semangat. Perempuan-perempuan tua melakukan itu.

Kerbau-kerbau diarak dan dihias dengan kain yang dibalut ke tanduk. Kalung dari bambu kecil dengan buah nenas dan jeruk. Menurut kepercayaan orang Toraja sebelum kerbau diarak semuanya harus dihadapkan di depan jenasah sebagai persembahan yang akan menemaninya kelak menuju alam puya (alam kematian).

Harga kerbau itu bervariasi, yang paling murah adalah jenis kerbau Sambao yakni Rp30 juta. Sementara jenis kerbau yang paling mahal adalah Saleko yang mencapai Rp300 juta per ekor. Menurut Semuel, kerbau-kerbau nantinya akan menjadi tunggangan almarhum dan bebas memilih yang paling kuat dan bersih ke puya. Jadi semakin banyak penyelembihan hewan maka arwah orang mati juga semakin cepat sampai ke puya.

Setelah diarak dan diadu prosesi selanjutnya adalah penerimaan tamu. Biasanya ritual menerima tamu ini akan memakan waktu hingga dua hari. Masing-masing kelompok keluarga langsung akan memiliki satu lantang atau rumah kecil untuk menerima tamu mereka.

Biasanya untuk tamu laki-laki akan disuguhi rokok dan perempuan akan disuguhi sirih atau pangan. Setelah itu, para tamu yang membawa sumbangan baik babi, kerbau atau lainnya akan dicatat oleh panitia khusus. Sumbangan-sumabangan dari masing-masing tamu itu akan diumumkan oleh seorang protokol. Dan kelak sumbangan itu akan menjadi beban bagi keluarga yang melakukan hajatan bila kemudian hari si penyumbang melaksanakan pesta.

Setelah acara penerimaan tamu usai, maka jenasah dipindahkan dari lumbung ke rante tempat upacara terakhir. Namun, sebelum ke rante, jenasah akan diarak ke sekeliling kampung dengan menggunakan kain merah yang panjang. Setelah disemayamkan di rante itu, maka prosesi terakhir di bawah ke liang.

Di Toraja pesta kematian dikenal sebagai Rambu Solo dan ada tujuh macam tingkatan untuk melakukan ritual itu. Pertama, Di Sille, yakni pemberian sesajen hanya menggunakan telur ayam yang diselipkan dalam tubuh jenasah. Lalu memotong beberapa ekor babi. Kedua, Disangalloi (hanya sehari), ritual yang dilakukan hanya salam tempo sehari, biasanya hanya memotong 1-2 ekor kerbau lalu jenasah dimasukkan dalam liang lahat.

Ketiga, Dirondon ritual ini memotong minimal tiga ekor kerbau dan seekor babi. Ke empat, Ma'batang upacara ini memakan waktu tiga hari. Jenasah sudah bisa diarak lalu disemyamkan ke dalamliang. Kelima, Dipuli Sangbau upacara ini termasuk tingkatan yang agak rumit dan orang-orang tertentu yang melakukannya, sebab membutuhkan anggaran yang besar. Jenasah mulai disemyamkan di tongkonan kemudian ke lumbung. Keenam, Dirapai upacara sudah menggunakan penanda batu besar (megalitik), peti jenasah juga mulai dihias dengan kertas berwarna emas dan peti khusus (sarigan) untuk mengarak jenasah. Pada upacara ini, puluhan hingga ratusan ekor kerbau bisa disembeli.

Ketujuh, Sapu Randani. Tingkatan ritual ini merupakan yang paling tinggi untuk upacara kematian masyarakat Toraja. Kerbau yang dikorbankan minimal 24 ekor. Waktunya pun bisa mencapai bulan dan tahunan. Tradisi tingkat ketujuh ini yang menurut masyarakat dikenal pula dengan Sanda Saratu.

Sanda Saratu mewajibkan semua anggota keluarga yang melakukan hajatan untuk memtuhi standar dan aturan yang berlaku. Semua harus serba seratus, baik lantang, kerbau, garpu, sendok, hingga piring. Dahulu, untuk melakukan Rambu Solo', anggota keluarga melaksanakan puasa hingga jenasah dimasukkan ke dalam liang. Setelah jenasah dimasukkan ke liang seekor kucing dibuang melalui jendela dari belakang rumah sebagai penanda arwah sudah meninggalkan rumah.

Pada masa lalu, dengan kepercayaan Aluk Todolo (larangan orang dulu, yang kemudian dikenal sebagai kepercayaan awal masyarakat Toraja) keluarga bangsawan yang akan menggelar Rambu Solo biasanya
akan mengorbankan kepala manusia dan mengadakan ritual khusus memburu kepala. Kepala-kepala manusia yang menjadi korban berasal dari lapisan masyarakat kasta paling bawah atau dikenal dengan To Kaunan.

Untuk kepercayaan Alu Todolo, korban kepala manusia akan membimbing para binatang yang menjadi persembahan dan memastikan arwah orang meninggal itu menuju tempat yang diidamkan (puya). Puya dalam pengertian orang Toraja adalah alam sesudah meninggal, tapi tak menyebutkan apakah itu surga atau neraka seperti yang dibahas dalam agama.

Agama memasuki Toraja sekitar tahun 1905 bersamaan dengan kedatangan Belanda. Setelah agama perlahan-lahan memasuki kehidupan masyarakat Toraja, kepercayaan leluhur pun mulai ditinggalkan. Namun pada awalnya masyarakat Toraja mengenal dua dewa, yang masing-masing bersemayam di langit dan bumi (hutan).

Stanislaus Sandarupa yang meneliti Toraja sejak 1980 dari Universitas Hasanuddin mengatakan, salah satu faktor yang membuat tradisi masyarakat Toraja terjaga karena mereka percaya, bahwa dengan pengorbanan yang cukup maka kehidupan orang meninggal akan baik pula di alam puya.

Di Toraja dia membedakan dua kelompk masyarakat yang mempraktekkan budaya ini, pertama versi Aluk Todolo yang jumlah pemeluknya masih 5% dan versi agama Kristen yang jumlahnya mencapai 85 %.

Untuk penganut Aluk Todolo inti utama kematian adalah untuk memahami secara mendalam ritual yang akan mengantarkan tingkat keberadaan tertinggi menuju langit. Mereka yakin kekuatan yang berasal dari nenek moyang dan dewa-dewa akan membawa keberkahan dan kesuburan di kehidupan dunia. Makanya arwah orang yang telah meninggal dipercaya menjadi dewa.

Sementara untuk masyarakat dengan agama yang baru seperti Kristen berusaha menghilangkan kepercayaan kepada dewa karena dianggap menyembah berhala. Padahal membentuk sebuah patung (tau-tau) pada upacara kematian bangsawan merupakan wujud baru dari badan sebagai pengganti jenasah yang bisa dihuni oleh para dewa-dewa. Tapi, ketika hal tersebut dilarang oleh gereja, maka masyarakat Toraja menggabungkannya dengan foto. Dalam pengertian Kristen foto adalah merekonstruksi kehidupan masa lalu tapi patung dalam masyarakat Toraja adalah nenek moyang dalam masa depan. Dan sekarang keduanya dipasangkan.

Prinsip saling berpasangan ini pada masyarakat Toraja dikenal dengan nama Ma'pasibali. Jadi semua serba berpasangan. Untuk itu bila ada rambu solo' untuk kematian maka ada rambu tuka' untuk kehidupan. Rambu tuka' adalah ritual memasuki rumah dan kehidupan baru (pernikahan). Upacaranya pun memakan waktu yang cukup lama dengan persiapan materi yang juga besar.

Peregeseran Makna Adat
Mengunjungi Toraja seperti melihat sebuah cerita panjang yang membingungkan. Seperti sebuah romansa tentang alam dan pesta. Di dua kota utama Toraja, Makale ( Kabupaten Tana Toraja) dan Rantepao (Kabupaten Toraja Utara) kehidupan berlangsung begitu cepat. Pusat-pusat perbelanjaan bediri di beberapa sudut jalan, ada kafe, tempat karokean, hingga toko pakaian merk ternama.

Ketika saya mengunjungi dua kota itu pada pekan terkahir Desember 2010 di malam hari, beberapa anak muda terlihat santai di bawah lumbung, beberapa lainnya nongkrong disisi trotoar sambil meneguk botol bir. Tak ada yang menghiraukan, semua berjalan sesuai adanya. Bahkan kendaraan ngebut tak keruan. Tak salah ketika masing-masing dari mereka mabok minuman keras, maka bentrokan tak dapat dihindari.

Pada upacara kematian, biasanya keluarga yang ditinggalkan akan menggelar pesta. Bila kesiapan materi belum terpenuhi maka pesta kematian akan tertunda. Namun, bila keluarga sudah merasa malu, maka pesta kematian anggota keluarga yang meninggal akan dipaksakan.

Biasanya para anggota keluarga akan berkumpul dan membicarakan kesepakatan kemampuan. Bila penetapan harinya sudah ada maka semua harus terlaksana. Anggota keluarga yang belum memiliki uang akan berusaha, baik melalui pinjaman atau apapun caranya.

Sistem pemaksaan inilah yang dikeluhkan beberapa generasi muda Toraja saat ini. Adalah Vincent Waldy, 21 tahun, salah satu mahasiswa Perguruan Tinggi di Makassar contohnya. Menurut dia, budaya pesta di Toraja tanah kelahirannya itu sangat merepotkan dan sangat membebankan. “Bayangkan kita bekerja, sekolah lalu semua tabungan dan penghasilan akan dikeluarkan hanya dengan sekali pesta,” katanya.

Waldy sangat merasakan betul beban ekonomi yang di hadapi orang tuanya saat akan dilangsungkan pesta kematian dari pihak keluarganya. “Kalau ada keluarga yang meninggal dan mereka pernah menyumbangkan sesuatu saat keluarga kami melakukan pesta, maka itu wajib kami bayar,” katanya.

Dia bahkan mengatakan, orang Toraja itu hidup hanya dengan utang. “Tapi mau bagaimana lagi, saya orang Toraja dan itu yang diturunkan dari orang tua, makanya suka tidak suka kami akan melakukannya kelak,” lanjutnya.

Yusuf T Silambi anak Nenek Tapuk yang memberi sambutan pada 29 Desember sebelum acara adu kerbau dimulai mengatakan kegembiraannya karena melakukan apa yang diharapkan oleh orang tuanya yang sudah meninggalkan.

Yusuf menggunakan kemeja putih, dengan topi adat masyarakat Bali. Tak ada yang menegur. Terik matahari sudah mulai menyengat di kepala, ketika dia memegang microphone. Ratusan orang memperhatiakannya dan memberikan sambutan tepuk tangan yang meriah. Tapi sebelum sambutannya benar-benar usai, dia mengumumkan dan meminta masyarakat yang hadir dalam pesta itu untuk memilih salah stu kandidat yang akan bertarung di putaran kedua pemilukada Toraja Utara.

Sebelumnya, ketika iringan-iringan kerbau diarak ke lapangan semua penggembala menggunakan pakaian kuning dan topi kuning. Di topi itu ada tertulis kandidat Bupati yang diusung oleh partai Golkar. Padahal secara budaya masyarakat masyarakat Toraja mengenal ada empat warna yang menandakan simbol utama. Merah untuk keberanian, hitam untuk kedukaan, kuning untuk keceriaan dan putih untuk kesucian. Tapi hari itu, warna kuning yang digunakan pada pesta kematian bukan untuk kegembiraan tapi untuk sebuah alasan politik tertentu.

Seorang Tokoh Masyarakat di Rantepao Gregorius (80 tahun) mengatakan, pesta kematian di Toraja sekarang menjadi gengsi dan paksaan karena hanya ingin dikenal orang. Padahal, kata dia, dalam aturan adat, pemerintah dan aturan lainnya tak ada pemaksaan. Kalau tidak mampu menggelar pesta maka jenasah dimakamkan saja, tidak harus dipestakan. “Saya kira itu adalah kesalahan berpikir besar,” katanya.

Gregorius juga menambahkan, pesta kematian yang dihadiri ratusan orang memang menjadi ajang yang selalu digunakan kesempatan para politisi lokal untuk menaklukkan masyarakat. “Itu memang sangat menjengkelkan,” ujarnya.

Jenasah Diawetkan bukan Dikuburkan
Masyarakat Toraja tak pernah menguburkan jenasah keluarganya. Menurut kepercayaan mereka, menguburkan jenasah adalah perbuatan yang sangat dipantangkan dan memalukan. Orang Toraja mengawetkan jenasah keluarganya untuk menjaganya agar tetap terlihat.

Di Toraja tak ada jarak antara yang mati dan yang masih hidup. Mereka merwatnya dan memberlakukannya layaknya teman. Ada saat si yang hidup masuk ke liang jenasah, membawakan makanan kesukaan atau sekedar mengunjunginya dan memberikannya cahaya lilin.

Orang-orang mati atau leluhur orang Toraja yang terjaga dan awet merupakan kekuatan utama untuk menceritakan silsilah.

Di Toraja mengawetkan jenasah menggunakan ramuan sederhana, menggunakan minyak tanah, daun teh, daun pinus, batang tille' (bentuknya seperti bambu kecil seperti jari kelingking, berwarna kuning, dan banyak tumbuh di pinggiran sungai, tidak untuk dikonsumsi), dan garam. Bahan tersebut dicampur dengan halus lalu dimasukkan ke mulut jenasah. Dan sisahnya di oleskan sekujur tubuh jenasah.

Zaman dulu, jenasah masyarakat Toraja hanya dibaringkan dalam sebuah liang atau gua. Diletakkan di atas tumpukan batu, mungkin karena bantuan alam Toraja yang dingin dan sejuk jenasah itu awet. Jenasah yang awet itu juga menandakan bila si mati kehdupannya di puya baik pula. 
 
Tapi memasuki tahun 1990, pengawetan jenazah lebih sederhana hanya menyuntikkan bahan kimia - formalin. Hasilnya puluhan jenasah pun mulai hancur pada usia sekitar lima tahun.

Adu Kerbau
Pagi pada 29 Desember itu, semua kerbau persembahan dikumpulkan di depan peti jenasah Nenek Tapuk. Ketika dua ekor kuda berlari kecil datang, orang-orang berseru. Aihhh...aiiiiii. Semua terlihat gembira. Perempuan-perempuan tua menumbukan alu ke lesung, menimbulkan irama.
Tedong Saleko Rp260 juta
Tapi saat gong dipukul, kerbau-kerbau itu itupun diarak dengan teratur ke lapangan besar. Di tempat itu nantinya semua orang akan berkumpul dan memperhatikan apa yang terjadi. Sang narator atau To Mini membacakan kisah dan riwayat singkat almarhum.

Sebelum kerbau diadu, keluarga langsung Nenek Tapuk berjalan memegang kain tenun yang panjang. Dengan pakaian hitam mereka membentuk lingkaran penuh. Dan diisisi lain, orang-orang sudah tak sabar menunggu hajatan.

Di tempat itu, ada 34 pasang kerbau yang akan diadu dan semuanya merupakan kerbau persembahan. Untuk pertandingan pertama adalah kerbau jenis Sambao kerbau murah yang harganya Rp 40 juta. Kemudian berderet hingga Saleko.

Pertandingan adu kerbau itu sangat menarik. Para penggembala membawanya masuk lapangan dan orang-orang berseru dengan gembira. Di tempat itu pula perjudian untuk menghargai kerbau dilakukan, uang bertebaran dimana-mana. Paling murah para masyarakat bila mengandalkan kerbau itu Rp500 ribu. Ketika kerbau jenis Sapo Batu dan Saleko beradu orang berdiri dan bersorak. Kerbau-kerbau itu seperti tahu akan apa yang mereka pertontonkan. Ketika Sambo Batu menyelipkan tanduknya di sela leher Saleko, dengan seketika dia berdiri dan mengangkatnya. Sekali goyang, kaki depan Saleko tergores tanduk. Hanya butuh 5 menit, Saleko mengaku kalah. Dan semua bertepuk tangan.

Setelah 34 pertandingan itu usai, maka giliran kerbau-kerbau pemenang yang diadu. Setelah itu, kerbau dari luar yang bukan untuk persembahan akan menantang. Mengadu kerbau dan menciptakan kemenangan akan menaikkan harga jual kerbau hingga Rp10 juta.

Tongkonan
Di Desa Tumakke, Kecamatan Rembon, Kabupaten Tana Toraja, di sebuah perbukitan ada rumah tongkonan Papa' Batu (atap batu) berdiri kokoh. Usianya diperkirakan sekitar 500 tahun. Pada 2008 dinas pariwisata Kabupaten Tana Toraja mengusulkannya untuk masuk sebagai warisan dunia ke UNESCO. 
 
Di depan rumah Tongkonan papa batu.
Tongkonan itu agak berbeda dengan kebanyakan tongkonan di Toraja. Bentuk atapnya di kedua ujung tidak terlalu menjulang tinggi. Diperhatikan dari jarak beberapa meter tongkonan hampir mirip dengan rumah orang Toraja yang berada di Mamasa Sulawesi Barat.

Panjang tongkonan itu sekitar 20 meter, lebarnya 8 meter. Tiang rumah mencapai 54 buah. Sementara atapnya yang terbuat dari batu gunung yang dipahat berbentuk segi empat mencapai 1000 buah. Tebal setiap atap rumah adalah 2 sentimeter.

Cara menyusun atap itu mirip genteng, namun tak memiliki pengait dengan atap lainnya. Atap-atap itu pada pangkalnya dilubangi untuk memasukkan rotan dan mengikatnya pada rangka-rangka bangunan rumah. Setiap atap batu itu memiliki berat sekitar 5 kg. Artinya, beban yang dipikul oleh oleh rumah itu mencapai 5 ton.

Pintu tongkonan itu cukup kecil. Tingginya hanya 1 meter dan lebar hanya setengah meter. Menurut Stanislaus, pintu yang kecil untuk tongkonan sebagai tempat perlindungan. Pintu yang kecil akan membuat orang susah memasuki tongkonan dan sebaliknya jika berada di dalam rumah sulit untuk keluar.

Semua kepala tongkonan mengarah ke arah selatan atau gunung Bambapuang yang dipercaya sebagai tempat pertama orang turun dari langit. Sementara untuk ruangan dibagi menjadi empat bagian. Bagian pertama yang terletak dikepala adalah kamar isitrahat. Kamar tengah untuk ruang tamu dan tempat menyimpan jenasah. Bagian ketiga kamar untuk suami dan bagian terakhir adalah kamar untuk istri. Masyarakat toraja juga mengenal pemisahan ruang istirahat untuk perempuan dan laki-laki.

Tapi uniknya, untuk memasuki tongkonan papa' batu itu, harus mengetuk pintu tig kali dengan kepala. Masyarakat percaya, bila bukan keluarga sendiri maka tamu yang datang bisa terserang penyakit bila hanya mengetukkan tangan.

Tongkonan papa' batu itu, dihuni oleh seorang nenek tua. Namanya Indo To'yang yang sehari-harinya disapa Omah, usianya sudah 125 tahun. Mata omah sudah buta. Di rumah itu, dia ditemani oleh cucunya Sri Dewi Tetu'sara yang sudah memiliki tiga orang anak.

Setiap hari pekerjaan Omah hanya bergerak di sekitar tongkonannya. Di sisi kiri tongkonan ada kebun kecil yang saban sore dibersihkannya. Omah tak bisa bahasa Indonesia.

Sementara, antroplog Belanda Keis Buijss, dalam Kuasa Berkat dari Belantara dan Langit menjelaskan cara pembuatan rumah orang Toraja baik yang berada di Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan pada awalnya serupa. Tapi, perlahan-lahan orang Toraja yang berada di Sulawesi Selatan mengubah atapnya menjadi lebih tinggi sebagai pembuktian derajat sosial yang tinggi.
Menhir
Tingginya mencapai 8 meter. Bentuknya mengerucut ke atas. Batu (menhir) itu dipacok di sebuah tanah yang dinamakan Rante' atau tempat upacara. Batu itu merupakan yang paling tinggi diantara yang lain. Menurut Semuel, pembuatan batu besar itu untuk menandakan posisi kebangsawanan seseorang ketika meninggal. “Nenek Tapuk adalah keturunan bangsawan, jadi memang dia berhak menggunakan batu itu,” katanya.

Batu itu ditarik dari sebuah gunung batu disekitarnya, kemudian dipahat oleh tukang profesional. Untuk pekerjaan batu itu biaya yang dikeluarkan sekitar Rp30 juta. Sementara untuk melakukan pemancangan batu dibutuhkan minimal dalam upacara kerbau yang menjadi korban yakni 24 ekor.

Namun tak jauh dari rumah duka Nenek Tapuk. Di desa Bori Kecamatan Sesean ada sebuah situs megalitik yang berdiri kokoh. Letaknya berada tepat disisi jalan utama desa. Bentuknya menjulang tinggi. Arkeolog Universitas Hasanuddin Makassar, Iwan Sumantri mengatakan situs megalitik yang di Bori merupakan yang terbesar di Indonesia. Dengan adanya situs megalitik itu, kata Iwan cukup membuktikan bila kebudayaan Toraja memang merupakan budaya tua. 

2 komentar:

Jeanot Nahasan mengatakan...

mantap deh artikelnya. penyanyian bahasa yg simpel dan sangat menarik. salam dari pia toraya for the new 7 wonders

ekorusdianto mengatakan...

Jeanot: Terimaksih sudah memberi waktu membuka ruangan tamu saya. Kita doa supaya Toraya melo tarru. Salam.