Jumat, 18 Februari 2011

Hukum Rimba vs Hukum FPI

Saya mendengar beberapa kawan punya cerita di warung kopi di sebuah sudut jalan Makassar. Ada sekitar enam orang. Mereka beradu mulut tentang kelakukan Front Pembela Islam (FPI). Cercaan dan lawakan untuk FPI begitu banyak. Rat-rata gemas dan merasa sangat dirugikan oleh kelakukan orang-orang yang tergabung didalamnya. “Sok tahu,”
Sok suci,”
Sok merasa benar dan sok merasa Islam sendiri.”

Seperti itulah beberapa nada mereka yang keluar. Ada juga yang lain, “Lebih baik Ahamdiyah itu diadu dengan FPI, yang kalah (duel), maka jangan mengganggu. Begitu toh.”

Diskusi sedikit lebih berat. Mulut-mulut yang terisi gumpalan asap dari rokok dan tegukan gelas kopi juga semakin nikmat. Orang-orang di warung kopi itu membahas tentang kemungkinan FPI membuat kudeta. “Lebih baik kembali ke sistem hukum rimba,” kata salah seorang. “Biar yang kuat semakin kuat. Dan jangan ada yang atur, biar tambah kacau saja negara kita.”

Sampai kalimat itu, saya mulai berpikir. Hukum rimba? Ada apa dengan hukum rimba yang selalu diasosiakan dengan binatang. Kenapa Indonesia butuh demikian bila ada FPI. “Ya karena FPI itu tugasnya merusak toh. Selalu mau unjuk kekuatan,” jawabannya.

FPI adalah kelompk radikal Islam di Indonesia. Pimpinannya adalah Habib Riziq. Saya pernah bertemu dengannya dan membuat wawancara. Orangnya bersih dan putih. Jenggot dan cambangnya begitu teratur dan rapi. Dia sangat memesona dan tenang dalam menjawab pertanyaan.

Tapi apakah Riziq setengang penglihatanku? Ternyata tidak? Gerakan FPI adalah sebuah laku fisik, di beberapa tayangan media sering kali kunonton dan baca bila anggota FPI begitu sering merazia tempat hiburan malam dan tempat yang diduga melakukan transaksi maksiat menurut versinya.

Mereka tak segan membongkar dan mengobrak abrik tempat yang didatangi, mau itu hotel, wisma, hingga lapak pedagang kaki lima. Tapi itu adalah persoalan kecil, bagaimana dengan kasus korupsi. Bukankah itu adalah sebuah dosa besar. Namun beranikah FPI melabraknya, misalnya memasuki mabes Polri karena rekening gendut. Atau memburu para tersangka korupsi?

Nah belum usai masalah itu, FPI membuat geram banyak orang lagi. Mereka membunuh tiga anggota jemaah Ahmadiyah di Cikeusik. Wah...apakah mereka pembela. Coba kita tengok dan mulai merabanya.

RUMAH Riziq terletak di sebuah gang dekat Pasar Tanah Abang. Punya perpustakaan yang cukup baik. Untuk mengunjungi rumah bukunya itu, tamu akan lewat samping. Riziq mungkin seorang pembaca yang baik, tapi kurang mampu melihat kondisi sekitarnya.

Kini beberapa jemaah Ahmadiyah sudah mulai was-was. Teror dan ancaman kekerasan mulai masuk benak. Saya tahu itu karena punya seorang kawan yang memeluk Ahmadiyah. Hukum FPI adalah hukum tindakan dan pertunjukan keperkasaan. Apakah ini yang diasosiakan seperti hukum rimba, mungkin ya, mungkin juga tidak?

Setelah membaca dan membolak balik beberapa buku dan mengingat kehidupanku di kampung sewaktu kecil saya tahu hukum rimba bukanlah kebrutalan. Bukanlah perlakuan pembunuhan yang tanpa belas kasihan.

Saya biasa menonton National Geographic Channel yang menayangkan program binatang. Misalnya Singa, binatang yang dianggap sebagai raja. Tapi keberlangsungan dan cara hidup binatang itu sederhana. Bila mereka lapar akan melakukan perburuan, bila sudah kenyang akan diam dan bermain-main. Mereka tak akan membunuh dan mencari mangsa lain bila sudah melegakan lambungnya. Kehidupan binatang lain pun demikian. Saya ingat beberapa pelajaran di sekolah dasar, bila ada itu teori yang disebut rantai makanan. Simbiosis mutialisme. Apakah FPI dan masyarakat sekitar menciptakan simbiosis mutualisme itu. Saya kurang tahu, itu tergantung orang yang menyimpulkan.

Kini Jumat, 18 Februari 2011 saya berkunjung ke tempat seorang pelukis. Dia ucap banyak hal tentang FPI. “Saya tak setuju kelakuan itu,” katanya. Menurut dia, FPI adalah kekuatan dan ketakutan masa datang bila terus dibiarkan bertumbuh.

Si kawan pelukis itu, lalu mengucapkan niatnya dan ingin menilai. “Kalau saya ketemu mereka, saya mau tanya. Apakah mereka Islam karena pilihan atau karena mereka Islam karena keturunan. Jemaah Ahamdiyah memilih dan mempertimbangkan niatnya untuk masuk dan memeluk ajaran. Saya kira mereka lebih baik,” ujarnya.

Jadi, lanjut dia, kalau kemerdekaan memilih keyakinan adalah salah malah ini adalah kecelakaan. “Seharusnya Presiden bubarkan saja FPI itu. Bikin pusing toh,” katanya.

Tidak ada komentar: