Kamis, 13 Januari 2011

Cinta, Hati dan Pekerjaan


Saya mengawali cerita 2011 dengan sesuatu yang lebih serius. Melihat banyak hal dan merenung dengan sungguh-sungguh.

Untuk awal, saya akan bercerita tentang perasaan. Mungkin akan menarik dan lebih mendasar. Tiba-tiba saya mengingat ucapan seorang ibu yang kutemui pada Oktober 2010 di sebuah kayu yang sejuk di Kabupaten Luwu Timur. Pada waktu sarapan nasi goreng. Dia bertanya, “Jadi kapan menikah.” “belum tahu,” jawabku. “Tapi kau sudah adaji target toh, tahun berapa,” lanjutnya.
Ini adalah penggalan serius yang buat bingung. Dia berpikir dengan menikah semua beban akan hilang, meskipun tentu itu akan menghilangkan bebannya untuk anaknya. Tapi bagaimana menjelaskannya, jika merencanakan itu adalah sesuatu yang super berat. Selain kendala duit kesiapan mental menjadi nomer satu. Saya masih khawatir perasaanku masih begitu rawan untuk menjalin kesatuan dengan seseorang.

Hal kedua, sepekan sebelum memasuki tahun 2011 saya mengunjungi Toraja. Ada banyak soal yang membuatku terenyu. Di Toraja saya melihat Gubernur Sulawesi Seltan Syahrul Yasin Limpo. Dia menggunakan batik Toraja yang cantik, duduk di kursi paling depan di sebuah panggung yang di dirikan di depan patung Lakipadada (pahlawan kebanggaan orang Toraja). Sesekali Syahrul mengangkat tangnnya untuk menyapa beberapa orang yang berlalu, seperti sesorang yang begitu penting dan membayangkan bagiamana masyarakat akan histeris dengan lambaian tangan itu. Apakah dia seperti Michael Jackson? Jadi lambaian tangan itu adalah pemandangan yang sangat membosankan bukan.?

Orang-orang yang berlalu di depannya, di atas aspal panas yang menyengat sekitar pukul 11.00 hingga 14.00 adalah para orang tua dan anak-anak. Mereka menggunakan pakaian adat dan menampilkan beberapa macam pergelaran kesenian, mulai dari tarian, musik, hingga baju perang.

Ini adalah program Lovely December yang begitu dibanggakan pemerintah provinsi Sulawesi Selatan untuk menarik wisatawan. Tapi dengan cara demikian kenapa juga saya kurang sepaham. Saya melihat ada pembodohan bagi masyarakat Toraja sendiri. Orang-orang tua dengan menahan panas hanya beberapa menit saja memamerkan kebolehan dan kesenian yang mereka cintai sepanjang hanyatnya di hadapan Gubernur. Saya pikir perinsip asalkan bapak senang, Gubernur dan perangkat daerah lainnya menurunkannya untuk generasi mendatang.

Tak hanya itu, ketika setiap kontingen mengambil antrian menuju tempat atraksi di depan panggung Gubernur, para panitia membentak mereka. Orang-orang itu dengan angkuh memerintahkan baris dengan rapi dan teratur. Saya beberapa kali mendengar ucapan, harus penampilanya bagus karena di depan dilihat pak Gubernur.

Apakah adat suatu daerah memang hanya diperuntukkan untuk pemimpin. Bukankah kesenian, adat dan budaya itu tercipta tidak hanya untuk menyenangkan seseorang saja? Saya mengeluh dengan ketidakpastian dan akhirnya menulis di tempat ini.

Kemudian pada 13 Januari 2011, saya bersama Jimpe Rahman mengunjungi kabupaten Jeneponto. Daerah yang selalu diasumsikan sebagai daerah panas dan kering. Tak ada kesuburan. Tapi ternyata itu tak sepenuhnya benar. Orang-orang bertani dan menggarap lahannya meski panen sekali setahun. Bila kondisi membaik dan curah hujan bertambah maka panen bisa dilakukan tiga kali dalam setahun.

Saya nginap di tempat teman di desa Kalimporo Kecamatan Bangkala. Ketika sampai di rumah kawan itu, hujan turun dengan rintik, dingin membalut kulit yang tipis. Nama teman itu adalah Andi, ibunya adalah seorang kepala Sekolah di Sekolah Dasar Negeri.

Waktu saya tiba, ada beberapa suara lelaki di ruang tamu rumah panggungnya. Saya tak melihatnya, Andi mengajak memasukkan motor di bagian rumah di kolong. Membuka jas hujan dan membuang air kecil.

Sekitar pukul 20.30 saya mulai merasa nyaman dengan suasana rumah. Di ruang tamunya ada tiga buah sofa. Rumah itu cukup luas. Ibu Andi adalah seorang yang ramah, dia menawari makan malam dengan nasi ayam dan sambal kacang yang nikmat.

Setelah itu dia mulai bercerita. Dengan kopi instan saset dari warung sebelah, saya meneguknya dengan nikmat. Menurut ibunya Andi itu, orang-orang yang datang tadi yang suaranya terdengar hingga ke bawah kolong rumah adalah seseorang yang mengaku sebagai wartawan. Mereka datang bertiga.

Ceritanya, sejak beberapa hari terakhir dia sudah mencari ibu Andi. Dan setelah bertemu dia bertanya yang macam-macam. Pertanyaannya lucu, yang ditirukan oleh ibunya Andi. “Berapa dana BOS yang ada disekolah ibu.” “Berapa gaji ibu setiap bulan.” “Ibu jangan bohong dan saya bisa penjarakan ibu.”

Mereka ancam saya,” kata ibunya Andi.
Dari media apa bu,” kataku,
Tidak tahu, tapi mereka bilang dari Makassar. Dan mau datang lagi nanti nda tahu kapan,” lanjutnya.

Ini bukan kali pertama Ibu Andi mendapati wartawan demikian. Setiap hari di sekolahnya paling sedikit dua gelombang wartawan datang dan menanyakan beberapa hal. Kakaknya Andi yang menjadi guru honorer di SMK 4 Jeneponto juga mengalami hal demikian. “Setiap hari paling sedikit saya masukkan uang di amplop untuk satu orang itu Rp30 ribu. Biasanya mereka datang bertiga,” katanya.

Saya agak malu mendengar itu. Menjelaskan dengan beberapa rupa teknik pun saya kira akan membuat Ibunya Andi dan Kakaknya tak akan mengerti. Tapi untuk menutupi malu kujelaskan lah sedikit bagaimana cara kerja wartawan yang sebenarnya itu.

Tapi, mereka kurang yakin. “Itulah, dimata masyarakat memang wartawan itu sangat tidak baik,” kata Kakak Andi.

Bagaimana teman-teman melihat ini. Bagaimana meminimalkan hal semacam ini. Jika di Makassar di pusat kota dan ibukota Sulawesi Selatan mungkin hal itu dapat diminimalisir, tapi bagaimana dengan daerah-daerah yang jauh seperti Jeneponto? Siapa yang bertanggungjawab?

Selain masalah dunia kerja wartawan dan pemerasan, saya juga mengunjungi Desa Pallengo Kecamtan Bangkala, daerah penghasil garam terbesar di Jeneponto. Saya melihat areal pertanian garam tak ubahnya seperti tambak dan empang yang dipenuhi air.

Petani-petani begitu tertekan. Alam tak dapat dilawan. “Sepanjang 2010 tak ada sedikit pun produksi garam biar sedikit, karena sepanjang tahun hujan turun tak ada henti,” kata seorang petani garam yang kutemui.

Petani-petani itu hidup dengan sederhana, mereka hanya mampu meluapkan ungkapan hatinya bila seseorang mendatanginya. Mereka tak tahu akan mengadu kemana. Pemerintah setempat hanya mengatakan itu adalah kondisi alam. Saya menjadi miris melihat keadaan mereka.

Bagaimana selanjutnya? Saya kira ini akan menjadi refleksi saya. Bagaimana bekerja menjadi wartawan yang baik. Apakah cukup hanya menulis berita politik, korupsi, yang hanya dinikmati segilintir orang. Atau menulis laporan yang memang bersentuhan dengan masyarkat kecil. Ini adalah persoalan kemampuan, hati dan perasaan. Semua akan berjalan dengan baik, sesuai yang dipikirkan. Selamat bermimpi dan membuat rencana untuk tahun ini.

1 komentar:

eLFiRa aRisanti mengatakan...

i love it :)