Minggu, 18 Desember 2011

Menciptakan Air Sehat

Di Lingkungan Kombong, Kecamatan Suli, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, saya tinggal bersama keluarga, ada mama, nenek, dan adik-adik. Udara kampung kami cukup sejuk, di depan dan belakang rumah dipenuhi kebun, dari kakao hingga sayur mayur.

Di depan rumah kami, ada sungai yang lebar. Airnya berarus cepat dan jernih. Tahun 1992 saya masuk sekolah dasar, untuk membolos sekolah sungai menjadi andalannya. Di sungai kami bermain lompatan, membuat bola-bola dari tanah, hingga saling kejaran.

Kamis, 15 Desember 2011

Nikah, Membujuk, dan Uang Panaik

Apa yang ada dipikiran Anda tentang uang panaik atau uang hantaran yang disediakan pihak laki-laki bila ingin menikahi seorang perempuan di masyarakat Bugis?

Awalnya, saya mengira uang panaik yang diberikan laki-laki pada perempuan adalah budaya yang sangat menyesatkan. Sangat menganaktirikan kaum perempuan. Seperti penjualan keperawanan anak gadis. Pengertian saya, uang panaik atau dalam arti kesehariannya adalah uang naik.

Senin, 12 Desember 2011

Tak Putus Dirundung Malang


Marten Sambo. Foto oleh; Doni Setiadi
Kisah ulet petani Tabarano, dari kakao menuju merica.

Udara menjelang sore di Dusun Tabarano, Desa Tabarano, Kecamatan Wasuponda, Kecamatan Luwu Timur cukup sejuk. Matahari sudah bersumbunyi dibalik dinding gunung dengan pohon lebat.


Ada beragam kicau burung seperti tak henti memamerkan syair-syairnya. Ada petani penuh semangat membersihkan lahan, ada anak-anak berlarian. Tak ada suara televisi, sinyal telepon pun belum ada, listrik juga hanya sebatas malam – mulai pukul 19.30 hingga 22.00.

Rabu, 07 Desember 2011

Kabar Dini Hari

Dini hari, sekitar pukul 02.00 di awal Oktober 2011, bunyi sirene mobil ambulans membelah kota kecil Sorowako, Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur. Bunyinya menyentakkan orang-orang yang sudah terlelap dengan mimpi. Meski kabar duka sudah mereka terima pukul 10.00 pagi.

Di Jalan Gunung Merapi blok F Nomor 145, ambulans itu berhenti. Orang-orang berkumpul dengan harunya, semua berlinang air mata. Jenazah perempuan remaja diturunkan perlahan, lalu digotong ke atas rumah.

Senin, 28 November 2011

Dede dan Angkutan Umumnya

Ini adalah perjalanan saya yang paling menyenangkan menggunakan tansportasi mobil angkutan umum. Bertemu dengan Dede dan melaju dengan kencang. Dede adalah sopir mobil angkutan itu. Usianya menjelang 24 tahun.


Dede bertubuh kecil, kalau berjalan agak membungkuk. Rambutnya lurus dicukur pendek. Rokok yang dihisapnya Gudang Garam Mini. Dia membawa saya dari Kota Palopo menuju Sorowako, Kabupaten Luwu Timur.

Di Balik Tembok Istana Luwu

Istana Datu Luwu di Kota Palopo. Foto: Eko Rusdianto
 Di depan bangunan Istana ada beberapa tiang yang sudah rapuh. Bentuknya sudah tidak berdiri tegak, bengkok karena bagian tengah telah kosong di gerogoti rayap.

Istana kedatuan Luwu itu masih berdiri, kecil  tapi tak terawat. Temboknya dicat dengan pewarna murahan. Dia seperti pertapa yang dilupakan, ditelantarkan oleh riuhnya pembangunan kota Palopo.

Sebuah sore pada Sabtu, 26 November 2011, saya berkunjung ke istana itu. Udaranya sejuk, hampir tak ada debu. Kompleks istana itu berdiri di lahan yang lapang. Ada bangunan dengan tembok dan rumah panggung yang besar.

Minggu, 20 November 2011

Di Desa Nuha

Hafid, siswa kelas 4 Sekolah Dasar berlari, mengejar kawannya. Gerakannya lincah. Pakai celana pendek dengan baju kemeja kuning. Lai, seorang ibu rumah tangga, duduk di depan warung kecilnya. Dua anak perempuannya berada di sampingnya. Fajrin, siswa kelas 5 Sekolah Dasar asik bermain sepeda. Dia mengganggu kawannya bermain.

“Saya nda main, malas,” kata Fajrin mengangkat dua bahunya. “Bukan kelas lawanmu kah,” kata saya. “Iya. Nda bisa lawanka ini semua,” lanjutnya.

Sampah Kertas untuk Lukisan


Foto: Doni Setiadi
Di Sorowako penduduk bertambah dan produksi sampah meningkat. Hasan Basri dan kelompoknya lalu membuat daur ulang sampah kertas menjadi souvenir menarik.

Di lantai dua sebuah rumah panggung nomor 18, di Jalan Panguriseng, Sorowako, ada sebuah kamar ukurannya 3x4 meter. Berdinding tripleks. Dan beratap seng. Panas dan pengab. Ada dua meja kecil dan rak untuk memajang hasil karya.

Kamis, 10 November 2011

Sepanjang Cerita Gondrong


Rambut gondrong punya cerita panjang, pernah dianggap tak pantas, lalu diberantas di masa Orde Baru. Bahkan disamakan dengan Gerombolan.

Saya mulai memanjangkan rambut sejak dua tahun lalu. Rambut panjang selalu membuat saya bahagia. Bukan untuk gaya-gayaan, tapi untuk menunjukan keseriusan. Bagi saya rambut seperti cerminan keperibadian. Saya memanjangkan rambut, karena yakin bisa merawatnya. Orang yang tak dapat memanjangkan rambut, adalah orang malas. Terlepas dari mereka tidak suka.

Selasa, 01 November 2011

Desa Pandai Besi yang Hilang

"Generasi kami, termasuk saya, tak ada yang meneruskan tradisi pandai besi," kata Mahding, 72 tahun, warga Desa Matano. (Foto: Doni Setiadi)

Di balik keindahan mata air dan danaunya, Desa Matano menyimpan kisah para pandai besi yang tersohor di Nusantara.

MATANO seperti terpencil dan sendiri. Jalanannya tak beraspal dan dipenuhi debu bila musim kemarau. Penduduknya berladang, menanam sayur dan kakao, serta bekerja sebagai nelayan. Desa ini jauh tertinggal dibandingkan Sorowako, kota yang tumbuh dengan pesat karena perekonomiannya ditopang oleh keberadaan perusahaan tambang PT Inco.

Kamis, 27 Oktober 2011

Pemuda Menggugat Pemuda

Dan 28 Oktober 1928 itu jadilah Sumpah Pemuda. Para pemuda bersorak menyatukan pandangan. Satu arah, untuk Indonesia yang memiliki identitas dan karakter. Sumpah itu terjadi di pulau Jawa. Tapi gaungnya menggema ke seluruh pelosok. Seluruh sudut negeri ini.

Nah ini adalah refleksi saya untuk hari bersejarah itu. Saya memulainya dari seorang kawan, wartawan foto di Harian Fajar. Namanya Tawakkal, biasa dipanggil Gea, atau TWK. Orangnya ramah, keras, mungkin juga suka emosian. 

Rabu, 26 Oktober 2011

Masyarakat yang Hilang

Orang Sorowako adalah cerita dengan wilayah tanpa penduduk.


Sorowako adalah tanah yang dikelilingi hutan lebat. Tanahnya berwarna merah dan secara geologi mengandung banyak besi. Punya danau Matano yang cantik, airnya biru dan jernih sekali. Terdaftar sebagai salah satu danau terdalam di dunia, dasarnya berada 80 meter dibawah permukaan laut.

Minggu, 23 Oktober 2011

Mendayung Cerita Kano

Ini Minggu pagi, 23 Oktober 2011, di danau Matano. Airnya jernih, udaranya segar. Saya diajak teman bermain Kano. Perahu kecil dari bahan fiber ataupun plastik. Digunakan dua orang, empat orang paling banyak.

Saya bersama Doni seorang kawan fotografer, menyewa Kano berwarna merah. Masing-masing dari kami memegang dayung. Duduk memanjangkan kaki atau bisa juga bersila. Untuk pemula bermain di Matano harus dilakukan sebelum pukul 12.00, menjelang pukul 13.00 angin akan kencang dan ombak tinggi.

Jumat, 21 Oktober 2011

Ini Tentang Kami

Oleh: Sartika Nasmar
BAGI saya, menjalin hubungan pacaran selama hampir delapan tahun bukanlah hal yang mudah. Jatuh Bangun bak sebuah lagu dangdut yang dilantunkan oleh Kristina. Atau Putus Nyambung seperti yang dinyanyikan oleh Bukan Bintang Biasa. Tapi, itu bukan lagu favorit kami. Eko senang mendengarkan lagu-lagu Iwan Fals dan Frank Sinatra. Sedangkan saya, senang lagu apa saja yang pasti buat hati senang dan gembira.

“Kalau menyanyi mi Tika, berarti senang mi hatinya,” begitu Eko mengandaikan suasana hati saya.

Kamis, 20 Oktober 2011

Senandung Semangat untuk Pasukan DI/TII

Usia Singkaru pada tahun 1962 sudah melewati dari 22 tahun. Belum menikah dan ikut kelompok pergerakan Darul Islam Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Kahar Muzakkar. Dia masuk dalam regu pasukan penghalau, bukan pasukan khusus.

Beberapa kali bertemu dengan Kahar Muzakkar, tapi tak akrab. “Ah saya ini hanya pasukan biasa,” katanya. Pada masa pergerakan itu, namanya diganti menjadi Muhammad Baharuddin.

Cerita 17 - Surat untuk Papua

Saya tidak tahu apakah berdiri sendiri seperti Timor Leste lebih baik untuk Papua. Saya juga tidak tahu apakah otonomi khusus untuk Papua akan menyelesaikan masalah? Dari Sulawesi Selatan saya hanya membaca, samar-samar dan penuh tanya, apa gerangan terjadi di bumi ujung timur Indonesia itu.


Pada Rabu, 19 Oktober 2011, di lapangan Sakeus Padang Bulan Abepura, kalian melaksanakan kongres Rakyat Papua III. Saya tak tahu apa yang kalian bicarakan, tapi itu adalah hak semua warga untuk berkumpul dan berserikat. Tapi sebelum pertemuan itu, ada serombongan pasukan mengawasi kalian. Lalu tiba-tiba membubarkan paksa pertemuan itu. Ada sekitar 200 orang ditahan, tak ketingalan beberapa mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Fajar Timur, Abepura.

Rumitnya Menjaga Gua Prasejarah

Kompleks Gua Prasejarah Bellae
Ismail, berajalan menggunakan sepatu bot setinggi betis berwarna hitam. Celana jinsnya dimasukkan ke dalam badan sepatu. Melewati pematang sawah yang berlumpur, sesekali kerepotan mengangkat kakinya yang berat karena tenggelam. “Itu guanya,” katanya, seraya mengangkat telunjuknya.

Namanya gua Sakapao. Dari tempat berjalan di atas pematang, Sakapao berada di tengah badan gunung karst. Mulutnya menganga berwarna putih. Mencapai gua itu, dibutuhkan perjalanan sekitar 30 menit atau 1,5 km dari kampung terdekat Bellae. “Kalau musim hujan, lumpur bisa sampai pinggang,” lanjut Ismail.

Rabu, 19 Oktober 2011

Menuntun Kepala dan Jiwa

Ini adalah cerita ke 15 di Sorowako. Sudah pukul 22.00, baru saja saya kembali dari rumah Om untuk ikut berdoa di malam 40 hari meninggalnya anaknya. Dijemput dan diantar pulang dengan motor. Udaranya dingin.

Selama di Sorowako saya punya tekad menulis catatan harian, sebanyak mungkin. Kontrak saya ada 15 bulan. Saya membayangkan cerita-cerita saya selama itu. Mungkin ada yang sedih, ada lucu dan ada yang bersifat perenungan. Namun menulis tidak segampang tekad itu. Menulis seperti sebuah misteri, terkadang bila dapat ide langsung nulis, cepat selesai. Biasanya tidak sampai 30 menit. Tapi kalau dapat susah dan pikiran mulai ngaco, menulisnya bisa mengeram hingga dua hari.

Minggu, 16 Oktober 2011

Mengenang Peristiwa 1950

Kamis, 13 Oktober 2011, saya bertemu dengan ketua dewan adat Padoe, Thomas Lasampa, di kediamannya yang sederhana di Kecamatan Wasuponda, Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Lasampa adalah orang yang ramah, menjabat tangan dengan keras, dan tertawanya lepas.

Rambutnya putih, pakai celana kain coklat, dan wajahya sedikit basah. Lasampa keringatan. Di dinding rumah ada tergantung sebuah pedang (samurai), ada alat musik kecapi, di sudut lain ada pajangan foto acara wisuda.

Kami duduk di sofa yang sudah usang, tidak empuk lagi. Rumah Lasampa berdinding papan, lantainya dari semen halus, ruang tamunya menyatu dengan tempat bekerja. Ada sebuah meja dan beberapa tumpukan kertas, buku dan album foto. “Saya lahir di sini. Saya asli orang Padoe,” katanya.

Selasa, 04 Oktober 2011

Nyamuk

Saya ingin menulis apa saja. Apa saja. Saya ingin menulisnya dengan cerita, ya dengan cerita. Misal malam ini saya berpikir tentang Nyamuk. Tentang serangga kecil yang lebih suka cari makanan pada malam hari.

Waktu benar-benar berpikir tentang itu nyamuk, itu sungguh kebetulan. Pada 12 Mei 2011, waktu duduk di warung kopi Pro coffe di kawasan Jalan Racing Center, sambil bukabuka facebook dan baca berita di internet, kedua lenganku begitu gatal. Para rombongan nyamuk ternyata lagi menyerbunya.

Negara Indonesia Timur dan Prahara Westerling

Andi Oddang lahir tahun 1928. dan pada awal tahun 1947, Andi Oddang berusia 19 tahun. Ayahnya Andi Makkarumpa, saat itu berusia 38 tahun, seorang asisten dari Abdullah Bau Massepe seorang tokoh pejuang yang disegani di Pare-pare Sulawesi Selatan. Tiba-tiba pada suatu siang, Makkarumpa dan puluhan orang lainnya digiring menuju sebuah terminal angkutan, berbaris dan kemudian diberondong peluru.

Kapten Raymond Westerling, seorang berdarah Turki, bekerja atas perintah pemerintahan Belanda yang melakukan eksekusi pembantaian itu.

Minggu, 04 September 2011

Beranjak Tua

Rumah panggung di dalam kawasan kompleks Koramil, Kecamatan Suli, Kabupaten Luwu  itu masih tetap hangat. Kecil dan bersahaja. Rumah yang tidak berubah, sejak saya mengenalnya 21 tahun lalu. Suasana yang buat saya selalu bahagia, orang-orang yang menghuninya tetap bersahabat. Rumah itu dihuni oleh sebuah keluarga pensiunan tentara, ada anak dan ibu. Ayahnya yang tentara tak sempat kukenal kerena lebih dulu meninggal dunia. 

Di rumah itu, ada panggilan sayang, panggilan anak, panggilan kasih sayang. “Apa kabar sayang. Sehat-sehatji Mama nak,” kata yang punya rumah. Sapaan yang selalu dan sejak dulu akrab ditelinga saya.

Jumat, 19 Agustus 2011

Dari Poso ke Masamba

Pada Juni 2011, saya melakukan perjalanan  mengitari selengkangan kaki pulau Sulawesi. Mengunjungi Kabupaten Poso Sulawesi Tengah. Berangkat dari Makassar Sulawesi Selatan, transit di Palu Sulawesi Tengah, lalu Poso juga Sulawesi Tengah, dan kemudian ke Masamba Sulawesi Selatan, lalu kembali ke Makassar.

Perjalanan dari Makassar menuju kota Palu saya tempuh dengan pesawat udara, sekitar 1,5 jam. Lapangan udara di kota Palu cukup kecil. Ketika turun dari pesawat, di lantai dua ada semacam teras yang dipenuhi puluhan orang. Sambil teriak-teriak memanggil nama seseorang, mereka melambai-lambaikan tangan.

Senin, 20 Juni 2011

Perang Makassar 1669

Sebanyak 250 kapal perang dari kerajaan Gowa Makassar, meninggalkan pelabuhan Galesong, menuju laut Banda. Beriringan dengan penuh ketegangan dan membawa serta meriam “anak Makassar” yang begitu tersohor.

Diantara kapal-kapal itu, ada dua kapal yang berukuran lebih besar sebagai pemimpin armada, namanya “Tunipalangga” dan “Gallek Karaenta”. “Tunipalangga” di komondai oleh I Makkuruni dan “Gallek Karaenta” dipimpin oleh panglima perang laut paling tersohor di Kerjaan Gowa, adalah Itanrawa Daeng Riujung Karaeng Bontomarannu. Pasukan-pasukan Belanda menjulukinya Admiral Monte Maranno.

Poso, Gejolak Tanpa Henti

JALAN itu lurus. Beraspal mulus, lampu jalan begitu terang, ada zebra cross, ada tanda larangan berhenti untuk kendaraan. Lalu lintas teratur sepeti biasanya dan penjaja makanan melayani tamu dengan suka cita.

Senin, 13 Juni 2011, sekira pukul 21.00 sebuah mobil Toyota Rush warna merah hati dari arah selatan berhenti di areal larangan itu. Tepat di depan kantor Kepolisian Resort (Polres) kota Poso, jalan Sumatera. Cukup lama sekitar 20 menit. Tak ada pengendara yang turun. Dan tahu-tahu ada suara ledakan. Semua kalang kabut, polisi yang tadinya selalu siap siaga di pos penjagaan pintu masuk berlari ke arah kantornya.

Rabu, 01 Juni 2011

Surat untuk Sahabat

Kepada YTH
Sahabatku
di,
Tempat.

Sebenarnya ini semacam keluh saya untuk menyampaikan maksudku setelah beberapa kali kau nasehati aku dengan filosofi negeri seberang. Sudah lama nian saya memejamkan mata dan mencari jalan keluarnya, dan akhirnya menemukan cerita ini di deret-deret tersembunyi otakku.

Nah, kini saya mulai menulisnya setelah melewati beberapa kejadian. Beberapa kelakar dan kesedihan. Ingin rasanya menyudahi pertengkaran kita yang tak ada ujung pangkalnya, tak ada gunanya karena seperti debat kusir yang tak berkesudahan. Sungguh nian, saya sangat bosan.

Dan saya kasi judul ini surat seperti dibawah. Ini jadi peringatan untukku dan kau. Kita belum tahu apa-apa, dan jalan masih panjang. Selamat membaca.

Di Balik Kisah Sukses La Galigo (2)

Gubernur dan Bissu Saidi
(Catatan kedua untuk kondisi Bissu Saidi)

Rabu, 1 Juni 2011 sekira pukul 13.00, saya mengunjungi Bissu Saidi di Rumah Sakit Labuang Baji, perawatan Baji Dakka III, kamar 323 lantai 3. Kondisinya sudah sedikit membaik dan wajahnya mulai nampak merah. Tak seperti pada pekan sebelumnya, pucat dan tak mampu berbicara.

Bissu Saidi atau Puang Saidi atau juga Puang Matoa, saya lebih senang menuliskan dengan nama Bissu Saidi. Dia dipindahkan dari Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo pada 31 Mei 2011, sore hari. Alasan kepindahannya belum tahu?

Senin, 30 Mei 2011

Di Balik Kisah Sukses La Galigo

Pertemananku dengan Puang Matoa Saidi terjadi pada April 2011. Saya mengunjunginya di rumah Arajange di Sigeri Kabupaten Pangkep. Rumah itu dikelilingi pagar tinggi, halaman yang luas dengan hamparan rumput mirip lapangan.

Puang Saidi begitu dia dikenal. Seorang bissu atau pendeta Bugis jaman dulu yang sekarang masih bertahan. Pertemuan pertama itu ternyata membawaku dalam cerita yang panjang. Hingga pada 23-24 April 2011, naskah panjang yang konon melebihi panjang epos Mahabarta yang hanya 200.000 baris, dibanding Sureq I La Galigo yang panjangnya mancapai 300.000 baris di pentaskan di benteng Rotterdam Makassar.

Jumat, 06 Mei 2011

Kejar Tayang I La Galigo di Kampung Sendiri

Puang Matoa Saidi berjalan tertati memasuki panggung dari sisi kanan, menggunakan pakaian kuning kemudian duduk membelakangi penonton. Cahaya panggung pun langsung berubah. Dari sisi kanan panggung beberapa orang membawa peralatan mulai dari guci, alat pertanian, kurungan ayam, hingga rangka perahu berjalan melintas. Mereka berlalu begitu saja.

Dan lamat-lamat musik mulai mengisi panggung. Suasana begitu hening. Adegan pembuka itu menjadi penanda “kepulangan” I La Galigo ke kampung halaman setelah tujuh tahun melanglang buana ke negeri orang.

Kamis, 28 April 2011

Kenapa We, Kenapa La

Akhir November 2010, pada sebuah siang di warung kopi Phoenam Boulevard Makassar saya bertemu dengan Husain Djunaid. Dia seorang kawan mantan anggota Dewan Sulawesi Selatan periode 2004-2009.

Dia senang bercerita seraya menyesap segelas kopi. Bicaranya lugas dan keras. Dialeg bahasanya begitu Bugis, selalu mengakhiri kata-kata bila berpamitan dengan ndi – singkatan dari adik untuk masyarakat Bugis. Saya senang cerita dengan dia. Selalu ada pemahaman baru dan banyolan.

Minggu, 24 April 2011

Dari B.F Matthes hingga Robert Wilson

Duduk di deret kursi paling belakang saat pementasan I La Galigo memang sangat buat susah. Orang-orang bercerita, saling telepon, menyalakan blits kamera dan beberapa berdiri. Tambah lagi suara dari kafe Kampoeng Popsa yang tepat di depan benteng Rotterdam tempat pagelaran cukup ribut, suara musiknya terdengar hingga ke kursi penonton. Ada lagi sirene ambulance. Wuihhh...

Tapi tak ada gunanya berlama-lama dengan keadaan demikian. Itu akan buat energi positif semakin bertambah. Pada 24 April 2011, di Kampung Buku jalan Abdullah Daeng Sirua saya sempatkan membaca buku I La Galigo yang terbit tahun 1995, ditranskripsi dan diterjemahkan oleh Muhammad Salim dan Fachruddin Ambo Enre dengan bantuan Nurhayati Rahman.

Senin, 04 April 2011

Ini adalah Kehormatan

Puang Saidi yakin saat itu akan tiba. Pada sebuah siang, Senin 5 September 2001 di kampung kecil Kelurahan Bonto Te’ne, Kecamatan Sigeri, Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Sealatan, dia menjadi perhatian banyak orang. Prosesi penobatan segera dilakukan, menjadi seorang guru, sandro, pemimpin, Puang Towa atau Ammatoa. Puang Saidi resmi mengepalai semua bissu dan disaksikan: dewan adat, pejabat pemerintahan hingga masyarakat biasa.

Ketika itu, pakaian kebesaran warna kuning, sarung dan pentup kepala sudah lengkap. Dia begitu gagah dan tampan. Saidi mengenang semuanya dengan cermat. “Ramai sekali nak, ramai sekali,” katanya. Di teras rumah Arajange tempat benda pusaka kerajaan tersimpan rapi. Dia duduk di kursi kayu yang kaku. Mengingat semuanya dengan takzim. Segelas kopi dengan gelas bergagang tinggi diseruput, di bagian lain tersaji penganan kue dari bahan gula merah.

Senin, 28 Maret 2011

Makan Siang yang Telat di Tebing 45

Satu cerita tentang alam, tentang tebing dan gua. Ini lah kali pertama merasakan bagaimana menggigilnya tidur malam di mulut gua tanpa tenda, tanpa api unggun.

Tak ada suara malam itu, cerita-cerita dari serangga yang saling bersahutan tak kudengarkan. Makan malam yang menyenangkan di mulut gua Saripah, tapi keesokan harinya makan siang yang telat dengan tumis sambal yang dahsyat di tebing 45. Bikin kepala terasa gatal dan perut berdendang riang.

Rabu, 16 Maret 2011

Berceritalah Eko

Itu kapal sudah bergerak. Namanya kapal motor Cari Kawan. Awalnya mudur, lalu berputar kemudian membelakangi dermaga Kayu Bangkoa. Kini aroma laut, langit mendung, dan udara yang sejuk menjadi kawan. Menghirupnya seperti sesajian yang diberikan alam dan tak mungkin terlupa. Rasanya pun sulit untuk untuk menuliskannya.

Itu pada sekitar pukul 12.00 di Sabtu 12 Maret 2011. Saya, Tika dan Faisal akan mengunjungi pulau Kodingareng. Perjalanan menuju daratan Kodingareng sekitar 1 jam. Tapi keadaan siang itu berbeda. Cari Kawan yang merupakan kapal paling jelek dari lainnya bergerak lamban. Guyuran hujan dan sedikit gelombang membuatnya begitu hati-hati.

Senin, 14 Maret 2011

Perlu Sistem Irigasi yang Layak

Sulawesi Selatan harus mencari bagaimana caranya menyelamatkan produksi pertanian untuk tetap memberi makan 13 juta mulut baru pada 10 tahun ke depan. Sebab sistem irigasi yang ada sekarang tak dapat lagi melayani kebutuhan para petani.

Arifuddin 54 tahun, seorang petani di Desa Suli, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan pada setiap musim kemarau harus menahan kantuknya pada tengah malam berjalan ke areal sawahnya menunggu tetesan air yang dibagi dengan petani lainnya.

Jumat, 18 Februari 2011

Hukum Rimba vs Hukum FPI

Saya mendengar beberapa kawan punya cerita di warung kopi di sebuah sudut jalan Makassar. Ada sekitar enam orang. Mereka beradu mulut tentang kelakukan Front Pembela Islam (FPI). Cercaan dan lawakan untuk FPI begitu banyak. Rat-rata gemas dan merasa sangat dirugikan oleh kelakukan orang-orang yang tergabung didalamnya. “Sok tahu,”
Sok suci,”
Sok merasa benar dan sok merasa Islam sendiri.”

Seperti itulah beberapa nada mereka yang keluar. Ada juga yang lain, “Lebih baik Ahamdiyah itu diadu dengan FPI, yang kalah (duel), maka jangan mengganggu. Begitu toh.”

Selasa, 08 Februari 2011

Menyanjung Toraja Lewat Pesta



Pada 28 Desember 2010, udara yang berhembus pada sore hari cukup dingin. Kabut mulai bermunculan seperti selimut alam yang nyenyak. Di sebuah rumah duka di Desa Deri Kecamatan Sesean Kabupaten Toraja Utara, Semuel Padda, mengisap rokok dengan nikmat. Dia duduk di sebuah lumbung. Di depannya, ada tongkonan besar. Di teras tongkonan ada sebuah peti jenasah, beberapa orang perempuan duduk dengan pakaian hitam.

Ada yang menitikkan air mata, ada yang memegangi peti, ada pula yang berdoa. Mereka bergantian menjaga jenasah itu saban hari, ada yang bertugas malam ada juga pada siang hari. Di depan tongkonan patung duplikasi Theresia Tangdo Pole atau Nenek Tapuk sedang duduk dengan tangan kedepan. Theresia adalah jenasah yang berbaring dalam peti itu sejak 2008.

Kamis, 13 Januari 2011

Cinta, Hati dan Pekerjaan


Saya mengawali cerita 2011 dengan sesuatu yang lebih serius. Melihat banyak hal dan merenung dengan sungguh-sungguh.

Untuk awal, saya akan bercerita tentang perasaan. Mungkin akan menarik dan lebih mendasar. Tiba-tiba saya mengingat ucapan seorang ibu yang kutemui pada Oktober 2010 di sebuah kayu yang sejuk di Kabupaten Luwu Timur. Pada waktu sarapan nasi goreng. Dia bertanya, “Jadi kapan menikah.” “belum tahu,” jawabku. “Tapi kau sudah adaji target toh, tahun berapa,” lanjutnya.

Minggu, 02 Januari 2011

Serangan Waterboom ke Benteng Somba Opu

Proyek pembangunan Gowa Discovery Park dinilai merusak situs cagar budaya Benteng Somba Opu. DPRD Provinsi Sulawesi Selatan memberi izin pembangunan, meski tidak mengerti hal-ihwal cagar budaya.

Samsir, 30 tahun, mengunjungi kawasan Benteng Somba Opu. Di atas tembok benteng dekat gapura, dari tempat pengamatan itu ia melihat tembok-tembok baru sedang dididirikan. Lantas penggiat film indie di Makassar itu bergerak memasuki areal dalam benteng. Di depan Baruga --gedung pertemuan yang biasa digunakan untuk presentasi seni pertunjukan-- juga telah berdiri tembok baru, melintang dengan kokoh. Samsir geleng-geleng kepala.