Selasa, 29 Juni 2010

Cinta Gelap Rafflesia

Warnanya tak lagi mencolok mata dan keadaanya seperti seorang tua yang pesakitan. Sendiri dan terkulai, renta dan mulai hancur. Ini adalah hari ke empat si Tambun menampakkan kecantikannya. Dia hanya butuh tiga hari menyapa dengan ramah, lalu mati begitu saja.

Tak ada yang tahu bagaimana dia melakukan itu. Padahal dalam perkembangannya, dari kuncup hingga menjadi bunga memerlukan waktu lebih dari setahun. Si tambun adalah sebuah bunga langka yang spesiesnya hanya hidup di Asia Tenggara. Namanya Rafflesia. Bunga ukuran raksasa yang begitu sulit ditemukan di seluruh dunia. Beruntung di Indonesia ada 15 jenis spesies yang hidup.
Pada Juni 2010 di Kebun Raya Bogor, si Tambun dengan nama asli Rafflesia Patma Blume muncul dua kali, pertama pada 3 Juni 2010 diameter bunganya 38 sentimeter dan pada 23 Juni berikutnya diameternya lebih kecil yakni 28 sentimeter. Berbeda dengan kerabatnya yang pernah ditemukan di hutan Sumatera puluhan tahun silam, Rafflesia Arnoldi diameternya mencapai 100 sentimeter.

Bunga raksasa, begitu pengucapan lazimnya. Tapi hingga saat ini, perkembangan dan cara tumbuhnya masih menjadi misteri. Rafflesia di buru oleh para ahli tumbuhan di seluruh dunia, mereka ingin menguliti misteri yang mengendap ratusan tahun di tubuh bunga itu. Ada banyak hal yang menjadi pertanyaan; bau busuk bagai bangkai saat mekar, jalan hidup sebagai parasit tapi juga humanis, bunganya hanya memiliki satu jenis kelamin, hingga sikap pengertiannya.

Saat ini, semua ahli tumbuhan baru menerka-nerka riwayat rafflesia. Tak ada kejelasan dan literatur yang cukup tentang itu. Tapi dari cara tumbuh dan kemunculannya, Sofi mengandaikannya seperti sebuah orkestra alam yang terjadi secara kebetulan-kebetulan. Tak ada yang sama. Seperti memainkan musik jazz.

Sofi Mursidawati adalah ahli botani dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Dia mengamati rafflesia sejak tahun 2004. Mencoba berbagai percobaan, hingga hampir putus asa.

Sebagai tanaman parasit, rafflesia seharusnya mudah tumbuh. Di habitat aslinya rafflesia menumpang di sebuah tanaman merambat Tetrastigma spp yakni famili dari jenis anggur-angguran. Awalnya, rafflesia muncul seperti sebuah bercak, dengan benjolan. Kemudian membesar lalu muncul sebuah bunga. Tanpa akar, tanpa klorofil, tapi merupakan satu individu baru dan bukan jenis dari inangnya.

Dalam kasus rafflesia, para peneliti tak dapat menyimpulkan kapan rafflesia itu menempel di tubuh inangnya. Cara kerjanya masih merupakan tanda tanya besar. Rafflesia tumbuh tidak dengan teratur. Rafflesia muncul dengan keinginan sendiri.

Pada kasus rafflesia Patma Blume di kebun raya Bogor itu, inangnya diambil dari Ujung Kulon. Kemudian dititipkan di Ciamis di salah satu habitat utama rafflesia. Percobaan awalnya adalah menempelkan inangnya itu ke inang yang ada di Ciamis. Setelah tiga bulan, inang yang diduga telah trjangkiti atau terinfeksi biji rafflesia dibawah ke kebun raya Bogor.

Namun hingga dua tahun, beberapa biji yang ditaburi di inang itu tak memperlihatkan gejala akan tumbuh. “Biji itu masih ada, diam, dan tak ngapa-ngapaian,” kata Sofi.

Para peneliti itu sudah mulai putus asa. Anggota tim yang bekerja pada awalnya adalah 10 orang, tapi yang bertahan hingga kini hanya tiga orang. Sofi tak mampu berbuat apa-apa. Inang yang sudah ada hanya dirawat seperti tumbuhan lainnya.

Tiruan alam dari habitat asli rafflesia, seperti membuat suasana yang lembab, membuatkan parit kecil untuk saluran air dan aturan cahaya matahari yang terjaga. Tak hanya itu, derajat keasaman (Ph) tanah harus tetap pada kondisi 6,9 hingga 7,1 derajat. “Kami hanya berusaha meniru keadaan alam di habitat aslinya,” lanjut Sofi.

Pada kasus rafflesia, para ahli botani di seluruh dunia belum pernah berhasil membuat tanaman itu tumbuh di luar habitat aslinya. Bahkan di habitat aslinya sendiri rafflesia sangat rentan oleh kematian. Ada banyak faktor yang mempengaruhi, perubahan cuaca yang rentan, hujan, atau ulah binatang. “Jadi dua Rafflesia yang mekar sekarang itu hanyalah kebetulan juga. Belum bisa dikatakan berhasil mengembangbiakkan. Saya juga tidak janji akan ada lagi Rafflesia tahun depan, atau beberapa bulan ke depan. Jadi bukan keberhasilan,” kata Sofi.

Setiap rafflesia mempunyai biji hingga ribuan dan berukuran sangat kecil. Biji itu berwarna orange pucat dan keras. Hal lainnya, biji itu ternyata tak memiiki zat tepung atau karbohidrat untuk merangsang pertumbuhan.

Botanis Kebun Raya Bogor dari LIPI, Melani Kurnia Riswati pernah mencoba mencari celah dari biji itu. Dia ingin mencari jalan memberikan asupan nutrisi atau karbohidrat ke dalam biji agar mampu berkecambah dengan baik. Tapi setelah diamati melalui microscop dia tak menemukan celah. “Untuk membelah biji itu saja, perlu ketelitian. Biji harus dipegang dengan kuat dan membelah dengan silet yang sangat tajam,” katanya.

“Jadi untuk tahu kapan dia mulai tumbuh itu tidak ada yang tahu. Tahu-tahu eh sudah ada benjolan yang muncul di inangnya,” lanjutnya.

Teori itu terbukti, Rafflesia Patma Blume yang muncul dua kali dalam bulan ini tak ada yang menyangka. Bahkan jangka waktu pertumbuhannya pun tak ada dapat diperkirakan. Rafflesia Patma yang pertama muncul pada 3 Juni 2010 sebenarnya benjolannya ditemukan pada 18 Juni 2009. Sedangkan bunga yang muncul pada 23 Juni 2010 ditemukan pada 2 Juni 2009.

Bagaimana rafflesia tumbuh dan mengembang biakkan diri, ternyata belum ada yang tahu. Tapi menurut Sofi, berhasilnya biji menjadi kuncup ketika inang sedang mengeluarkan sesuatu atau dengan kata sederhana sang inang sedang birahi. Dan untuk tahu kapan inang sedang mengalami masa itu juga masih misteri. Dan evolusi hubungan antara inang dan rafflesia juga masih tanda tanya besar. “Ya, jadinya seperti cinta gelap antara inang dan rafflesia,” katanya.

Rafflesia adalah tanaman raksasa yang cerdas dan tahu diri. Kehidupannya dianggap sangat modern karena tumbuh sebagai tanaman parasit. Tapi sangat tradisional dalam perkembangan karena memiliki ribuan biji.

Dalam beberapa kasus jenis rafflesia yang tumbuh besar seperti spesies Arnoldi memerlukan inang yang sangat besar. Bila inangnya kecil maka rafflesia yang tumbuh juga akan kecil, seperti keadaan di kebun raya Bogor itu. “Mungkin saja rafflesia tak ingin membunuh sang inang yang ditempatinya tumbuh,” kata Sofi.

Tak hanya, itu rafflesia adalah satu-satunya bunga yang tumbuh dengan individu tunggal dan hanya memiliki satu jenis kelamin. Padahal secara umum di setiap bunga ada dua buah kelamin untuk tetap berkembang biak agar penyerbuknya mudah melakukan perkawinan.

Tapi rafflesia sangat berbeda. Di Kebun Raya Bogor, Rafflesia Patma Blume yang mekar pertama kali adalah betina. Jadi para peneliti tak dapat melakukan apa-apa. Untuk mencari jantan maka dibutuhkan waktu yang tak menentu, karena bunga lainnya tumbuh tak bersamaan. Sementara itu, masa hidup untuk serbuk sari hanya tujuh jam, ketika lepas dari kepala sari.

Sementara di habitat aslinya, bunga yang sering mekar adalah jantan. Betina sangat jarang. Untuk melihat jenis kelamin rafflesia pada saat hidup adalah menggunakan cermin yang sangat tipis dan dimasukkan ke dalam bagian cawan mahkota, dan itu pun sangat susah. Sementara untuk mudahnya, bunga tersebut lebih baik ditunggu mati, kemudian membelahnya.

Pada bunga jantan di bagian tertentunya akan mengandung beberapa zat yang bergetah dan jernih. Sementara untuk betina akan terlihat halus dan tak ada cairan bergetah.

Raksasa yang Cantik
Dua buah kain putih dengan ukuran sekitar 6 x 2 meter terpasang di sisi jalan masuk lokasi mekarnya Rafflesia Patma Blume. Kain itu penuh dengan coretan dengan tinta warna hitam dan merah. Kalimat-kalimat kekaguman tertera hingga tanda tangan. Pengelola Kebun Raya Bogor, sengaja memasang kain itu untuk mengetahui seberapa besar respon pengunjung.

Banyak kalimat-kalimat yang lucu, tapi ada juga yang jujur akan kesalahan persepsi tentang rafflesia. Misalnya, “Wah saya salah kaprah,” atau “keren tapi masih kecil.” Kalimat lainnya, “Rafflesia Patma mekarlah selalu, kangen baumu itu loh,” atau “I Love U Rafflesia,” dan masih banyak lainnya.

Beberapa pengunjung memang beranggapan bila rafflesia akan tumbuh besar, sebagaiamana anggapan akan bunga raksasa. Namun, kenyataan yang mereka lihat di Kebun Raya Bogor hanya sebuah bunga kecil. Tingginya hanya sekitar 10 cm dengan lubang diameter bunga sekitar 7 cm.

Rafflesia Patma Blume terbagi atas beberapa bagian, yakni lima kelopak atau mahkota bunga (perigon), sebuah “periuk” menyerupai kue donat dan pada bagian dalamnya terdapat sebuah mangkuk berduri.

Tak hanya itu, di sekitar mangkuk bunga, terdapat sebuah karpet berwarna merah terang mirip kulit buah strawberry yang matang. Di bawah karpet, adalah tempat mengetahui kelamin bunga. Tapi setiap Rafflesia memiliki ciri yang berbeda meskipun satu jenis.

Pada kasus Rafflesia Patma Blume bunga yang mekar pertama kali berwarna orange pucat dan bunga kedua merah agak pekat. Bintik-bintik bunga pun agak berbeda, yang pertama sedikit besar dan yang kedua lebih kecil. Di Sumatera dan Bengkulu habitat utama Rafflesia Arnolodi bunga ini disebut bunga belang harimau, karena bintiknya menyerupai belang binatang itu. “Kami tak tahu apa yang mempengaruhi itu. Yang pasti, kesamaan dari setiap Rafflesia hanya aroma, semuanya mengeluarkan bau busuk,” kata Sofi Mursidawati.

Perkiraan Sofi, untuk memahami Rafflesia akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Menurutnya, semua bagian dari Rafflesia masih belum menemukan jawabannya. Untuk contoh kecil, aroma Rafflesia yang mengeluarkan bau busuk saat ini hanya diperkirakan karena penyerbuknya adalah lalat, tidak seperti bunga lainnya penyerbuknya dilakukan oleh lebah atau kupu-kupu.

Karena keunikannya itu, perburuan Rafflesia sudah mulai terjadi. Bukan untuk kepentingan ekonomi tapi untuk pembuktian keilmuan dan pengakuan internasional dalam hal tumbuhan. Sekitar tahun 2005, kardus yang berisi bunga Rafflesia dan inangnya sudah dikepak rapi. “Itu akan dikirim ke luar negeri, yang ngambil penduduk setempat. Mereka pun dibayar dengan murah. Ini tentu petaka,” kata Melani Kurnia Riswati.

Di Kebun Raya Bogor, diperkirakan dua minggu ke depan atau awal pertengahan Juli 2010 ini, tujuh buah kuncup Rafflesia Patma Blume akan mekar. Tanda-tandanya sudah ada. Tapi untuk memastikannya tidak gampang sebab pertumbuhan Rafflesia sangat rentan bisa mati kapan saja. Seperti, inangnya harus sehat. “Biasanya Rafflesia tidak akan rakus untuk terus tumbuh dan membunuh sang inang bila tak sehat. Bisa saja Rafflesia yang membunuh dirinya sendiri,” lanjut Melani.

Hasil penelitian sementara, Rafflesia Patma Blume yang mekar kedua pada 23 Juni lebih kecil dari dari yang pertama karena perubahan suhu daerah sekitarnya. Diperkirakan karena membludaknya pengunjung yang datang. “Saya perkirakan demikian, makanya kelopaknya berkerut,” terka Asisten peneliti Kebun Raya Bogor, Ngatari.

“Hari pertama kan banyak orang. Mereka memotret dan bahkan ada yang memanjat pagar hingga sangat dekat dengan bunga,” lanjutnya.


Rafflesia bukan Amorphopalus

Rafflesia dan Amorphopallus titanum memang sama-sama dilahirkan dengan bentuk raksasa. Aroma dari bunganya pun hampir sama, mengeluarkan bau tak sedap, atau seperti bangkai. Tapi dua kembang ini adalah spesies yang berbeda.

Amorphopallus titanum atau bunga bangkai yang dipahami secara umum lahir dari jenis umbi-umbian. Memiliki batang, daun dan bunga. Seperti jenis talas pada umunya. Ukurannya memang sering lebih besar dari Rafflesia. Tingginya bisa mencapai satu meter dengan diameter bunga hingga puluhan sentimeter.

Untuk mengembangbiakkan bunga bangkai akan lebih sering menggunakan sistem tunas. Bukan dari biji. Namun dalam perkembangannya, memiliki kerumitan yang sama. Pada bunga bangkai, meskipun memiliki dua buah kelamin dalam satu bunga, yakni betina pada bagian atas bunga dan jantan pada bagian bawah bunga.

Tapi, dalam perjalanannya, bunga betina lebih dulu mati dibanding dengan jantan. Jadi untuk mengembang biakkannya dibutuhkan penyerbuk yang bisa bergerak cepat, yakni manusia.

Sementara rafflesia adalah individu baru. Bukan bagian dari inangnya dari jenis anggu-angguran.
 
*) Edisi cetak terbit di Majalah Gatra edisi 14 Juli 2010

2 komentar:

Leena mengatakan...

Eko...tulisannya apik!bingung mau komen apa serasa mendapat pelajaran yang lebih. Mungkin caramu bertutur yang membuatnya jauh lebih dimenegrti..tapi kalo kamu punya literatur soal bunga itu...saya mau donk dibagi...he he he

ekorusdianto mengatakan...

Halo Leena..Terima Kasih sudah membacanya. Untuk mencari literatur tentang Rafflesia agak sulit. Di Indonesia kata Sofi peneliti LIPI itu, memang sangat sedikit, jangankan kita yang mau nulis dia masih kelabakan dan masih menduga-duga.

Seharusnya sih di Indonesia ini lah kajian utama tentang Rafflesia harus lebih kompleks karena merupakan daerah yang paling banyak tumbuh jenis Rafflesianya. Tapi mau bilang apa lagi kenyataannya demikian.

Semoga artikelnya bermanfaat. Terima kasih...