Senin, 19 April 2010

Demam Rumput Laut

Tahun 2004, nelayan kecil, petani jagung, hingga petani padi tiba-tiba membelokkan usaha mereka dan menekuni usaha baru. Menjadi petani rumput laut. Laut-laut lepas di sepanjang pantai berubah menjadi kapling seperti keadaan di darat, petani kecil dan kurang kuat akan menyewa lahan hingga Rp9 juta sesuai luas bentangan.

Puluhan anak-anak kecil mengacungkan botol minuman bekas di sisi jalan Kabupaten Bantaeng Sulawesi Selatan. Beberapa kendaraan yang melintas, membuang botol sisa minuman itu dari balik kaca mobil yang melaju dengan cepat.

Sementara, tak jauh dari tempat anak-anak itu di sepanjang pantai terlihat ratusan ribu botol plastik mengapung, bergoyang digulung ombak. Di bawah botol itu tumbuh rumput laut yang kelak membawa perubahan dan peningkatan taraf hidup masyarakat Bantaeng dalam 40 hari siap dipanen.

Rumah-rumah kecil beratap rumbia dan terpal berdiri di pesisir. Anak-anak remaja dan orang tua berbaur, di hadapan mereka bertumpuk bibit rumput laut siap di rentangkan. Baso, 40 tahun, salah seorang petani rumput laut mengenakan helm kecil, memasang pelampung dari botol plastik.

Sudah enam tahun Baso menekuni pekerjaannya sebagai petani rumput laut. Dia memiliki sekitar 1000 bentang tali untuk rumput laut. Satu bentang tali sekitar 15 meter. “Dulu saya supir angkutan umum di Gowa (Kabupaten di Sulsel), penghasilan tidak tetap, tapi tahun 2004 saya beralih menjadi petani rumput laut,” katanya.
“Pekerjaannya tidak sulit dan sangat gampang,” lanjutnya.

Menurut dia, menjadi petani rumput laut tak perlu membutuhkan ketekunan, soal kesabaran tak terlalu sulit juga sebab panennya hanya 40 hari atau satu setengah bulan saja. “Setelah bertani rumput laut, kehidupan semakin lebih baik dibanding sebelumnya,” ujarnya.

Saat mengunjungi Kabupaten Bantaeng pada Rabu, 24 Februari, udara pesisir pantai sangat menyengat. Baso terlihat sibuk. Sudah dua hari dia memulai pengumpulan bibit baru.

Dikatakannya, untuk luas lahan dengan seribu bentangan yang dimilikinya akan membutuhkan sekitar 2 ton bibit rumput laut. Harga setiap kilogram bibit yakni Rp2000. Dan untuk upah tenaga pemasang yang mengikatkan bibit rumput laut pada tali bentangan adalah Rp1.500 hingga Rp2.000. Artinya, modal awal untuk memulai pembenihan rumput laut mencapai Rp20 juta.


DI TEMPAT yang sama Tati, dengan cekatan memotong bibit rumput laut dengan pisau dapur kecil. Memasukkan ke dalam lubang kecil untuk dikaitkan. Jemarinya dan pinggiran kukunya sudah mulai menghitam terimbas air laut dan kotoran dari rumput laut.

Rabu 24 Februari itu merupakan hari yang bahagia buatnya. Membantu memasangkan bibit para pemilik lahan rumput laut dengan upah yang menurutnya cukup untuk membantu makan keluarga. “Saya pasang bibit ini sejak pagi sampai jam lima, sehari biasa dapat Rp30 ribu,” katanya.

Tati dan beberapa yang lainnya berteduh di bawah bangunan gubuk beratap jerami. Candaan dengan beberapa ibu-ibu yang lainnya menambah semangat mereka. Ada juga anak-anak kecil yang ikut nyemplung mengikat bibit. Cukup ramai.

Pemandangan seperti itu akan terlihat hampir setiap hari bila musim angin laut mulai bersahabat. Petani-petani rumput laut dengan semangat menebar bentangan tali rumput lautnya.

Meski demikian, dengan sumber daya yang melimpah, seperti rumput laut itu, di Desa Bingkeppo, Kecamatan Pajukkukang, Kabupaten Bantaeng Sulawesi Selatan tempat Tati menjadi pemasang benih masih seperti dahulu. Perkembangan desa belum terlihat. “Pekerjaan ini hanya untuk makan saja,” katanya.

Bahkan menurut beberapa petani rumput laut, daerah pesisir mereka akan di reklamasi sekitar 300 meter dari bibir pantai. Gubuk-gubuk tempat mereka berteduh dan memasang bibit rumput laut di gusur.

Nurhidayah, seorang pekerja pemasang bibit rumput laut menyampaikannya kepada Gatra dengan pandangan yang kosong. “Dulu saya ada gubuk di sini, bukan tempat tinggal terus, hanya untuk memudahkan saja karena lebih dekat dengan kerja memasang bibit, tapi kita disuruh pindah ke balik bukit,” ujarnya.
“Jadi tiap hari bolak-balik dan cukup melelahkan,” lanjutnya.

Nurhidayah berpendapat, seharusnya pemerintah harus lebih memihak petani kecil, sebab pekerjaan utama masyarakat Bantaeng saat ini bertopang pada rumput laut dan tergatung pada laut dan pesisirnya. “Kalau mau di timbun pasti nelayan akan susah. Karena katanya akan dibangun permandian untuk wisata,” katanya.

Umar, 35 tahun, petani rumput laut meyakinkan hal yang sama dengan Nurhidayah. Menurutnya, penimbunan akan berdampak pada kelangsungan hidup petani rumput laut. Dia yakin akan ada pembatasan wilayah untuk pesisir karena sudah dijadikan objek wisata.

Umar adalah petani rumput laut pemula. Dia hanya memiliki lahan sekitar 400 bentangan, sangat kecil dibanding lainnya. Dia kepincut untuk memulai menanam rumput laut daripada bertahan sebagai petani jagung. “Kalau jagung panennya hanya sekali dalam setahun, kalau rumput laut hanya sekitar 40 hari, lebih singkat,” katanya.

Dia belajar menjadi petani rumput laut dari masyarakat sekelilingnya. “Kelihatannya gampang, karena hanya dilihat tiga hari sekali siapa tahu ada karang yang tumbuh di bibit rumput laut.”

Namun berbeda dengan petani rumput laut lainnya, Umar hanya orang baru yang memiliki kemampuan kecil, bentangannya saja hanya ratusan buah, sementara tetangganya sudah mencapai ribuan bentangan. “Saya hanya berani dan nekat,” ujarnya.

Untuk memulai usaha rumput laut itu, Umar harus mengeluarkan beberapa biaya yang tidak kecil. Dikatakannya, untuk beli lahan di laut dan tali bentangan itu harus membayar Rp9 juta, kepada yang punya lahan.

Seorang kepala desa di Kabupaten Jeneponto, tetangga kabupaten Banteng, mengatakan lahan besar di laut untuk rumput laut adalah milik penguasa kampung. “Kalau ade mau, sewa lahan saya. Saya ada beberapa kan kepala desa,” katanya.

Kepala Sub Bidang Unit Pembibitan dan Pengakapan Ikan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulsel, Sulkaf S Latief saat dikonfirmasi mengatakan sewa lahan itu adalah tanggung jawab pemerintah kabupaten dan kota.

Namun pada dasarnya, kepemilikan lahan di laut itu tidak boleh dimiliki atas nama seseorang karena hak umum.”Kalau ada yang mengklaim memiliki lahan di laut itu pasti tidak ada hitam di atas putih,” katanya.

Menurut analisa dia, kepemilikan lahan di laut itu adalah bagian dari beberapa orang yang lebih dulu menggarap dan mengklaim daerah sekitarnya. “Saya juga telah menyampaikan hal ini pada setiap kabupaten/kota untuk laut itu harus dibuatkan tata ruang yang jelas,” lanjutnya.

Menurut dia, dalam aturan pemeritahan tentang hak pengelolaan kawasan pesisir untuk jarak 0-4 mil dari pesisir dikelola oleh kabupaten/kota. Untuk 4-12 mil dari pesisir dikelola oleh Provinsi dan 12 mil ke atas dikelola oleh nasional. ”Jadi sebenarnya ini tidak ada yang salah hanya saja perlu aturan yang jelas dari pemerintah setempat,” katanya.

DI SULSEL panjang pesisir pantai mencapai 1.937 kilometer. Luas budidaya lautnya mencapai 193.700 ha. Dan sekitar 60% penduduknya bermukim di daerah pesisir.

Kasubdin Unit Pembibitan dan Pengakapan Ikan DKP Sulsel, Sulkaf S Latief, mengatakan tahun ini rumput laut akan mencapai 845.480.0 ton basah. Pada tahun 2009, volumenya mencapai 810.640.0 ton basah. Sementara untuk target 2011 DKP Sulsel memperkirakan peningkatannya akan mencapai 880.320.0 ton basah.

Volume hasil produksi rumput laut tersebut dibagi menjadi dua jenis, untuk eucheuma adalah rumput laut dari laut dan gracillaria rumput laut dari tambak. Saat ini harga rumput laut dari budidaya laut berkisar antara Rp9.000 hingga Rp10.000 per kilogram. Sementara untuk jenis gracillaria dari budidaya tambak harganya sekitar Rp2.600 per kilogram. Harga ini jauh merosot dibanding tahun 2008, untuk budidaya laut mencapai Rp16.000 per kilogram dan budidaya tambak mencapai Rp5000 per kilogram.

Tapi, Sulkaf masih dengan yakin mengatakan kepada Gatra bila Sulsel akan berhasil menjadi penghasil rumput laut terbesar di dunia dan akan membawa perubahan penting pada masyarakat.

Dan untuk membuktikan keinginan itu, pemerintah provinsi pada program tahun ini akan melakukan penambahan kawasan baru penghasil rumput laut di tiga kabupaten, yakni Wajo, Luwu, dan Bone. Sulkaf menamakannya kebun bibit 2010.

Pada daftar kebun bibit itu, akan di sebarkan bibit rumput laut unggulan sebanyak 16.000 kg. Bantuan tali untuk bentangan rumput laut 1.600 kg dan pelampung botol plastik 6.400 buah. Anggarannya, kata Sulkaf untuk setiap kabupten tidak besar hanya sekitar Rp10 juta. “Kita berharap tahun 2011 tiga kabupaten akan menjadi daerah baru, tanpa harus melupakan sentra terbesar rumput laut sebelumnya yakni Bantaeng, Takalar dan Jeneponto,” ujarnya.

Penghasilan yang melimpah dan panen yang cepat. Di Kabupaten Bantaeng menurut pemaparan beberapa penduduk, untuk melakukan pernikahan dan melamar anak gadis lahan rumput laut akan menjadi pertanyaan penting, sebagai mahar yang jelas.

Baso, mulai merapikan bentangan yang sudah kaitkan bibit rumput laut dan kumpulkan menjadi sebuah onggokan besar. Dia memperbaiki helm kecilnya, keringat dan tangannya yang berminyak terlihat kuat. “Kalau beruntung, dan musim baik maka penghasilannya untuk seribu bentang itu akan mencapai Rp70 juta, tapi kalau tidak mujur bisa jadi akan tekor,” katanya. (Eko Rusdianto)

Catatan; Versi cetak di majalah GATRA edisi 7 April 2010

Tidak ada komentar: