Senin, 30 Maret 2009

pada dini hari

saat jalan bersama
dan embun yang dingin menyelimuti rambut
gusimu yang merah, buat deretan gigi yang rapi

perempuan itu membuatku jatuh cinta dengan sadar
seperti ketika pelan-pelan kutatap wajahnya waktu dia menoleh
dan main-main kurasai wangi tubuh yang tampak asing
bagai lautan yang buat gelombang di sela-sela degub jantung

Minggu, 22 Maret 2009

Belibis

TIBA-TIBA kapten kapal itu berdiri di sisi jendela ruang mengemudi. “Terus aja dulu. Jangan belok,” katanya.
“Ok. Belok kanan,” lanjutnya.

Kresek suara handy talky di tangannya terus terdengar. Tuas lampu sorot di atas kepalanya di raih. Dia mengarahkan ke kapal yang sandar di pelabuhan kontainer Soekarno-Hatta. Cahayanya menapaki jengkal tubuh kapal itu. “Lewat kapal ini belok kiri,” katanya.

Namanya Putra Wiratama, komandan kapal polisi air laut (Polairut) di Makassar. Tubuhnya tegar, badanya kekar. Jika memakai seragam orang akan segan menyapanya. Namun, ketika memakai celana pendek, ternyata hanya biasa saja. Seperti plesetan lagu Serius, “polisi juga manusia”. “Loh, dermaga lampunya mati ya,” tuturnya.