Rabu, 21 Oktober 2009

Itu Costa Allegra

Selasa 20 Oktober, sekitar pukul 08.30 di pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar suasana tiba-tiba berubah menjadi ketat. Aparat berjaga berpencar. Orang-orang yang akan masuk ruangan VIP diperiksa, dimintai pengenal.

Sementara, sebuah kapal besar berwarna putih, dengan dua cerobong asap terlihat dan berjaring itu, berjalan pelan. Tak ada suara klakson besar. Tiba-tiba tali tambat dibuang. Itu kapal pesiar asal Italia, namanya Costa Allegra.

Menurut beberapa ABK-nya, kapal itu sudah termasuk tua. Dari 14 buah kapal yang masuk dalam grup Costa Cruises, Allegra yang paling tua. Uasinya 36 tahun.


Tali tambat itu, sudah terselip di tempat ikatannya. Sesaat kemudian seorang pria berseragam putih-putih, sampai sepatu juga putih keluar memegang handy talky. Namanya Raj Kumar Singh, seorang India yang bertugas sebagai chief security atau kepala kemanan di Costa Allegra. “Thank you,” katanya, seraya mengangkat kedua tangan.

Sebelumnya, dia bertemu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulsel Suyaib Mallombassi. Kumar, menyatakan penumpang akan segera turun dan menghentikan penyambutan pemerintah setempat. Biasanya wisatawan yang mereka angkut melihat kawasan wisata dan belanja.

Allegra memiliki panjang sekitar 187,75 meter dengan bobot 28.597 ton. Di badan kapal terdapat lima buah restoran mewah dan mini bar. Tiga buah coffee shop dan sebuah restoran khusus pizza.

Agus seorang Indonesia berasal dari Jakarta yang menjadi ABK Costa Allegra, mengatakan fasilitas kapal pesiar ini cukup baik. Kebersihannya sangat terjaga. Di dapur saja hampir tiap jam kebersihannya diperiksa. “Saya kerja sebagai koki, pembuat roti,” katanya.

Bekerja di Allegra menurutnya cukup menyenangkan, sebulan mendapat upah hingga 1000 euro. Setiap ABK dikontrak kerja untuk masa 9 bulan.

Sekitar pukul 10.00, penumpang satu persatu mulai turun. Kapal penumpang KM Tidar yang lebih dulu sandar di pelataran lain pelabuhan, terlihat sangat kecil dibanding Allegra. Dilihat dari luar pelabuhan, Allegra seperti sebuah bukit, tinggi dan panjang.

Ada yang lain pula, tangga keluar untuk kapal ini tidak turun dari badan, melainkan dari lambung kapal. Jendela-jendela kapal pun terlihat bersih. Empat buah kapal pelampung dari sisi kanan kapal bersandar terlihat cukup besar.

Allegra dapat menampung sekitar 1.100 penumpang dengan jumlah kru 400 orang. Bagi Agus, Allegra adala sebuah nama dan persinggahan yang menyenangkan. Seperti kekasih yang selalu dirindukan. “Delapan jam kerja, disiplin, dan tepat waktu. Saya kira Allegra tidak membuat susah,” katanya.

Allegra tetap tenang diterpa terik matahari. Sang Kapten Saverio La Forgio tak juga kelihatan. Sementara sekumpulan anak-anak dengan riang mendendangkan tarian Gandrang Bulo di pelataran pelabuhan tapi tetap tak membuatnya terusik.

“Itu kapal dari Eropa toh,” kata kuli angkut di luar pelabuhan.

Hingga sepuluh jam, Allegra berdiam di pelubahan Makassar dan kawasan itu tetap bersih, tak ada pedagang asongan dan kuli angkut. Richard Ramos dari Filiphina, mengatakan Makassar cukup bersih. Dia tak tahu, dipagi buta petugas keamanan sudah menghalau semua kegiatan yang dapat merusak citra Makassar. “Pelabuhan ini tertata baik,” kagumnya.

Sementara itu, kuli-kuli angkut yang bekerja saban hari ditempat itu, hanya mampu melihat kemewahan Costa Allegra dari jauh. Mereka tak mampu masuk dari pagar dan police line yang ada.

Bahkan lantai dua pelabuhan yang digunakan beberapa keluarga saat hendak melihat keluarganya meninggalkan pelabuhan Makassar dan sekedar melambaikan tangan, pun dikosongkan. “Sstt, sttt, oe, oe, pindah, pindah, jangan di situ,” kata petugas lapangan KP3 sembari menunjuk orang di lantai dua saat Costa Allegra sandar.

Seperti sebuah kebohongan kecil. Pemerintah Sulsel menyembunyikan keadaan sebenarnya. “Hanya mau lihat dari dalam pelabuhan, bagaimana itu kapal Eropa, tapi mendekati pagar itu sudah digertak. Adek kan wartawan bisa masuk, jadi beruntung,” kata Ahmad kuli angkut yang duduk di bawah pohon tempat parkir kendaraan.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Sulsel, Syuaib Mallombassi, dengan bangga berjalan memberikan cendra mata mendekati Costa Allegra. Senyumnya cukup ramah. Dia didampingi Kadisbudpar Makassar Eddy Kosasih Parawansyah.

Sekitar pukul 13.00 seuasana pelabuhan cukup sepi. Tempat pertukaran uang pun demikian. Petugas pos yang memamerkan kartu pos juga sudah pulang. Sekitar 18.00 Costa Allegra yang sombong itu akan bertolak ke pulau Komodo Nusa Tenggara Timur kemudian ke Bali.

Seorang wartawan foto dari harian Fajar Makassar, Tawakkal, menilai jamuan sebaik itu dari pemerintah karena Costa Allegra membawa dollar alias duit. (Eko Rusdianto)

Tidak ada komentar: