Selasa, 11 Agustus 2009

Berdamai dengan Hati

BAGAIMANA rasanya lulus sekolah menengah umum, mendapat beasiswa pendidikan di Prodi (program pendidikan) Kebidanan Malang, tak perlu pusing lagi medaftar ke perguruan tinggi lainnya. Tapi kemudian hanya perlu dua semester terlibat pergaulan bebas, kemudian dokter memvonis virus HIV dan AIDS.

Pelangi Zaitun (nama samaran) akan punya jawabannya. Pelangi adalah perempuan yang selalu riang, badannya kecil, gerakannya energik. Tingginya sekitar 150 cm. Rambutnya sebahu selalu diikat satu hingga lehernya terlihat. Pelangi berusia 24 tahun.


Pelangi adalah bagian dari ribuan bahkan jutaan orang dibelahan dunia ini yang mengidap virus HIV dan AIDS, penyakit yang paling membingungkan. Belum punya obat. Di Sulawesi Selatan catatan  Komisi Penanggulan (KPA) AIDS jumlah penderita hingga Maret mencapai 2.336 orang dan diperkirakan pada akhir tahun 2009 mencapai 5.000 orang.

Pelangi pertama kali tahu terjangkit virus HIV dan AIDS pada 31 Oktober 2005, ketika melamar pekerjaan sebagai Tenaga Kerja Wanita. Sempat dia tak percaya, tapi masa lalunya sekolah di Malang menguatkan segalanya. “Di Malang, saya kenal narkoba, putaw, dan tidur bersama dengan pacar saya, belakangan baru tahu pacar saya itu pecandu narkoba (junkie),” katanya.“Nah, saya dapat HIV dan AIDS itu dari jarum suntik atau karena 'jarum tumpul, hahaha.”

Pelangi anak sulung dari empat bersaudara, lahir di pulau kecil yang terpisah dengan pulau induk Sulawesi. Sejak SMP hingga SMU dia di Makassar dengan asuhan neneknya. Dia rela meninggalkan kampung halamannya, karena sebagai anak pertama harus memperlihatkan contoh yang baik. salah satunya adalah sekolah. “Mama bilang saya harus menjadi orang dan sekolah yang baik,” katanya.

Pelangi lulus SMU pada 2003. Dia punya nilai yang bagus, prestasinya dibicarakan guru-guru. Selalu jadi contoh yang baik. Jadilah dia berhak mendapat beasiswa Sekolah di Prodi Kebidanan Malang. Sekaligus sebagai utusan daerah dari Sulawesi Selatan. Dan ibunya sangat bangga. Hampir saban hari namanya menjadi buah bibir di kampungnya di pulau kecil. 

DI Prodi Kebidanan Malang, Pelangi mendapat pendidikan asrama yang disiplin, bangun, makan, dan pulang harus seseuai dengan jadwal. Jika hendak jalan-jalan atau mencari kesenangan lain, makanya harus minta izin sama ibu kos, atau ketua asrama. Akhirnya dia tak tahan.

Pada pertengahan semester dua, dia bertemu dengan seorang pria. Bekerja disebuah club malam. Bertato dan berbadan kurus. Inilah kali pertama dia memulai pacaran dengan serius. "Saya jatuh cinta," katanya. ”Saya tak peduli pekerjaannya, hati seseorang tak dilihat dari kerjaan kan,” lanjutnya meyakinkanku. 

Dan pada tahap inilah perjalanan Pelangi disisi lain bermula. 

Pacarnya itu ternyata pencandu narkoba.  Dia lah juga yang mengajak dan membujuk-bujuk Pelangi mencoba beberapa narkoba, dari minuman keras hingga putaw. "Ayo, 'Ini zat yang paling enak dan bisa menenangkan pikiran, ayo coba' itu kata pacar saya.” Pelangi tergiur dan tak butuh waktu lama dia menikmatinya, menjadi pecandu dan tahan bila tak menggunakan putaw. Minimal sabu. 

SAYA bertemu Pelangi pada sebuah sore di taman yang hijau depan Benteng Rotterdam. Cahaya matahari yang hendak menghilang begitu hangat. Membuat bintik-bintik kecil keringat tumbuh diujung hidungnya. Sesekali Pelangi menyeka dan tangannya bergerak pelan bercerita.

Kadang-kadang, saat dia berbicara, batuk mengganggu suaranya. Matanya terus memandangiku. “Hidup dengan orang disayangi itu menyenangkan," katanya."Tapi kalau karena orang disayangi itu membuat kita celaka, rasanya akan sangat sekali."

Akhirnya, dengan mengenal narkoba, dia tak berhasil melanjutkan sekolahnya sebagai seorang bidan. Cerita-cerita dan harapan orang di kampungnya, berlalu seperti sebuah mimpi. Harapan untuk melahirkan dengan gratis pupus sudah. "Kan nanti ada saya yang membantu persalinan. Tapi sudahlah, itu membuat saya semakin sedih," katanya.

“Orang tua menyesali saya. Pemerintah daerah yang mengutus kecewa. Kupikir semua orang telah kukecewakan,” lanjutnya.

Tibalah saatnya Pelangi kembali ke Makassar. Di Sekolah Kebidanan Malang, nilainya tak dapat tertolong. Terlalu banyak bolos, tugas tak ada yang masuk, dan mulai tak pulang ke asrama. Pada sebuah pagi di bandara Sultan Hasanuddin, dia menghirup udara Makassar. Hatinya berdegup keras. Hanya butuh beberapa menit saja, dia sudah benar-benar jauh dari harapannya. Jawa sudah di belakangnya. 

Makassar menjadi baru baginya. Perasaan bersalah dan kesendiriannya menjadikannya teringat dengan narkoba. Mungkin dengan zat itu pikirannya bisa ditenangkan.Dia mulai keliling Makassar, tak tahu bagaimana jalur mendapatkan narkoba. Tak ada teman.Tak ada kerjaan. “Saya betul-betul seperti orang gila, mau teriak, mau menangis,” katanya.

“Makassar ini baru, saya tak tahu harus cari 'barang' di mana, karena di Malang dapat barang dari pacar saya. Saya betul-betul kelabakan.”

“Saya pernah menggigil di kamar sendiri. Badan saya mulai terasa sakit,” lanjutnya.

PADA suatu hari surat kabar Harian Fajar Makassar, ada pengumuman di salah satu sudutnya. Agen Tenaga Kerja Wanita (TKW) membutuhkan tenaga baru untuk dikirim ke Malaysia. Pelangi tertarik. Segala sesuatu dipersiapkan. “Saya mau jadi TKW. Mungkin ini cara mengubah hidup,” katanya.

Dia berjalan mencari sendiri kantor agen perekrutan TKW itu. Bertemu dengan seorang lelaki. Beberapa lembar berkas disodorkan. “Saya mau jadi TKW pak,” katanya. ”Harus medical check up dulu,” jawab petugasnya.

Tak lama kemudian, seorang petugas kesehatan memeriksa. Namanya dokter Arif. Beberapa hari kemudian, dia menerima hasil tesnya. Tak lulus. Darahnya rusak. Pelangi tak mengerti, darah rusak itu seperti apa. Dia lalu membandingkannya hasil kesehatan kawan lainnya. Semua kolom isian dalam lembaran surat sama,  kecuali pada kolom HIV/AIDS ada tulisan reaktif untuknya suratnya sendiri. Di surat teman-temannya non-reaktif.

Di hari yang sama dengan waktu berbeda, agen TKW itu menelpon Bapaknya. Agen itu mengabarkan bila Pelangi menderita HIV dan AIDS. ”Saya tak tahu harus bagaimana lagi, pusing, dan seperti ingin gila yang kedua kali lagi,”katanya.

Hari itu juga, Pelangi dan ayahnya mengunjungi seorang dokter. ”Saya calon TKW yang mau ke Malaysia, saya tidak tahu kenapa saya tidak lulus,” katanya pada dokter itu.

Pelan-pelan hasil check up Pelangi diteliti. Bapaknya diminta keluar ruangan. ”Terima takdir ya, kau kena HIV/AIDS,” kata dokter itu.

Diam-diam vonis itu seperti menahan detak jantungnya sesaat. Air matanya pelan-pelan mulai menetes. ”Bagaimanami ini dok, masih bisaja hidup, bisaja menikah, apami mau saya kerja, (sekarang bagaimana dok, saya masih bisa hidup, bisa menikah, saya harus kerja apa)” kata Pelangi.

“Tenang saja. Semua masih ada harapan,” kata dokter.

Ayahnya perlahan masuk ke ruangan dokter. Dijelaskanlah bila Pelangi menderita HIV dan AIDS. Ayahnya tak terlalu paham. Di atas becak perjalanan pulang, mereka berdua diam-diam. “Ayah belikan saya minuman favoritku, Fanta dan wafer tango, tapi saya tak bisa makan,” kata Pelangi.

Sampai di rumah nenek, Pelangi langsung masuk kamar. Mengurung diri selama tiga hari, Bapak sudah pulang ke pulau. Pikirannya sudah melantur kemana-mana. Susah untuk berpikir baik, saat itu. Pelangi lalu berniat mengakhiri hidupnya. Dalam kamar dia grasak grusuk mencari benda tajam. Hanya ada dudukan anti nyamuk bakar. "Saya coba mengiris nadi saya, berdarah tapi tak sampai ke urat nadi, rasanya perih sekali. Saya pikir sudah saatnya saya mati daripada menyusahkan orang nantinya,” katanya.

“Saya ingat ketika saya tak mampu bergerak, adikku bilang kalau mau mati dan bunuh diri janganko di sini, 'janganmi di dramatisir itu hidup,' itu katanya. Adik sendiri bilang begitu, akkhhhhh….,” lanjutnya, seraya menghela nafas.

Pada saat dia merasa sendiri dan sangat sepi. Dia mulai mengubah pikirannya untuk mati. Suatu hari dia menonton televisi yang menayangkan liputan tentang HIV dan AIDS. Seperti mendapat hidayah, jiwanya meminta dia bangkit. Ini lah saatnya, hati yang luka harus ditambal. Surat kabar dan media lainnya dikumpulkan. Berjalan sendiri dan menemukan Lembaga Swadaya Masyarakat yang menangani isu HIV dan AIDS. "Saya menawarkan diri, orang-orangnya terbuka. Dan saya mulai melupakan virus ini," katanya. “Tapi saya butuh waktu bertahun-tahun untuk membuat tubuh dan pikiran saya stabil."

Dan akhirnya awal tahun 2009, jiwanya benar-benar menerima tubuhnya. Dia merasa mendapat kehidupan baru. ”Saya ini adalah ODHA (Orang yang hidup dengan HIV dan AIDS) yang sudah berdaya,” katanya dengan tegas pada saya.

Pelangi lalu bergiat untuk melakukan pendampingan bagi teman-temannya yang terjangkit virus HIV dan AIDS. Semangat harus selalu ditularkan pada siapa pun. ”Saya ingin suatu ketika nanti ODHA tidak dianggap rendah, kita ini sama-sama,” katanya. 

Kenapa semagat, karena menurut Pelangi, mendengar kata HIV dan AIDS semua orang akan ketakutan. Menghindari orang-orangnya dan dianggap sebagai penyakit kutukan. "Janganlah seperti itu lagi. Saya bertemu dengan kita (saya), mau diwawancara karena ingin memperlihatkan kalau ODHA ini tidak apa-apa. Saya bukan setan," ujarnya.


Pelangi juga mulai membuka dirinya. Dia mulai menerima orang lain, karena dengan itu dukungan dan semangat akan menjadi kekuatan utamannya. ”Di kampung, saya sudah ketahuan sebagai ODHA, mereka bilang penyakit sundala. Saya tahu itu, tapi salahka jika ingin berbuat baik kembali,” cerita lain Pelangi di suatu tempat.

”Saya berdoa pada tuhan, kalau mati nanti, lebih baik ditimpa pesawat atau kecelakaan, supaya tetangga di dekat rumah nenek tak ada yang tahu. Saya tak ingin keluarga tersiksa karena itu,” lanjutnya.

Hari itu, cahaya matahari tanpa sadar telah hilang. Pelangi masih duduk didepanku. Lampu taman mulai menampakkan cahayanya. Seorang datang mendekat, menyodorkan sebuah buku menu makanan. Saya memesan kopi susu, Pelangi memesan minuman dingin Mizone.

Sudah tiga jam lebih Pelangi mengurai ingatannya. Bercerita dengan baik. ”Sekarang saya juga kuliah, saya tak ingin larut dengan virus ini. Saya akan tetap bertahan sekuat yang saya bisa,” katanya.

”Orang tua juga mulai melihat perubahan, mereka mulai bangga dengan saya. Bercerita pada tetangga jika anaknya ke Bali, Jakarta, atau daerah lain. Walaupun pelatihanji itu (hanya pelatihan), tapi itu Mamaku biasa na pamer kalau kubelikanki tas atau oleh-oleh.”

Perlahan karena tegukan, minuman di taman itu telah berkurang. Jarum jam di tanganku sudah menunjuk pukul 21:00. Kami berpisah dan teringat ucapannya. ”Sebenarnya Mamaku belum tahu betul AIDS itu apa,” kata Pelangi.



Catatan: Beberapa minggu berlalu, pada 06 Juni 2009, Pelangi mengirim pesan singkat kepada saya. “K’ saya nikah n resepsi pd tgl 10 Juni ’09 pkl 10.00 pgi nikah, resepsi pkl 12.00 siang,” tulisnya.

5 komentar:

bangsatkecil mengatakan...

Menyentuh Ko... dia tahu hidupnya tinggal sepenggal, tapi pelangi tahu bagaimana memanfaatkan waktu sepenggal.. menjadi kisah yang berarti.. Berdamailah dengan Hati.. Menyentil.. sebab sy tdk pernah mau kompromi dengan hatiku.... Tulisan mu slalu pake hati tak heran menyentuh hati..hiks...

id-freebsd mengatakan...

Oeee ko, bukannya ndak mau ngasih tau, tapi itu aja belum satu bulan naek tayang. Masih ada perbaikan sana-sini

Ratu Gumelar mengatakan...

Adikku sayang...
Seperti biasa: bagus sekali.
Apalagi di akhir ternyata ada catatan kecilnya.
Justru itu jadi ending yang cantik.

Sartika Nasmar mengatakan...

Sosok Pelangi dan Windinara mengajarkan banyak hal tentang hidup. Saya senang mengenal Windinara. Saya senang mengenal Pelangi, meski hanya lewat tulisan ta'. Tapi, saya merasakan semangatnya.

Selamat Eko. Tetap berkarya!!!

tiza fitrizia mengatakan...

yaapp..semangatnya pelangi betul2 berpelangi meski pelangi itu kebagian waktu terpajang di langit hanya sebentar...
^^