Sabtu, 11 April 2009

Kita tak mampu berbuat apa

(dan sebentar lagi kalian akan tergusur, jalan urip sumoharjo)


rumah itu sungguh sepi, seperti kabar yang telah lalu kau lipat dihadapanku
pada balik dinding tembok yang papan tak lagi nampak
dan pohon dipinggir jalan berubah patung kecil dan tumbuh bunga-bunga
harum tapi tak sedap
aku membenci suasana itu, pada gelap pada terang
dan rintik dari hujan, akan menghapus semua jejak kemarin-kemarin



bocah-bocah bermain, beradu dalam jantung
tapi rumah itu tetap sepi, dan sebentar lagi akan melayang
seperti debu,
dan kita kesepian, lalu riang dalam gambar
sampai linang air mata berubah malam...


racing centre 101, 12 April 2009

3 komentar:

Irwan Bajang mengatakan...

Rumah siapa itu kawan?
duh, kesepian, semua tempat yang saya kunjungi selalu saja menyajikan kesepian...
apakah tipa penyair harus sepi.. barangkali iya, karena jalan kesepian bisa saja merupakan jalan menuju puisi? setuju nggak Bung Eko??

Ratu Gumelar mengatakan...

Tak bisa kita lepas dari perubahan.
Karena yang tidak pernah berubah, adalah perubahan itu sendiri...

Ayah Narsis mengatakan...

Penggusuran

Tak ada dada menanggung salah
Hanya mata menanggung tangis
Amarah...
Kita memang tak mampu berbuat apa