Rabu, 29 Oktober 2008

Ikrar

Sudihkah tuan berkata mulut adalah dosa
Tak kah kau pikir jika kertas adalah ilmu

Datanglah tuan dengan badik dan senapan terhunus
Tak perih kubayangkan, kau terus menerjang

Karena belati bukan kekuatan
Bukan cinta

Senin, 20 Oktober 2008

Wartawan Tua Bermain Bridge


Foto Oleh: Jumain Sulaiman



Seorang lelaki tua, kulitnya putih bersih. Kemeja coklat lengan panjang bergaris, dan berkotak merah. Dalamannya kaos oblong putih. Pada kerahnya terselip sebuah pulpen hitam. Kacamata tebal melengket di pangkal hidung. Di samping rumah ada anjing kecil yang dirantai, sesekali menggongong.

Rambutnya lurus, putih tersisir rapi. Selalu tersenyum. Sekarang rutinitasnya lebih pada pendekatan dengan tuhannya. Setiap pagi ia tak pernah luput berdoa dan membaca alkitab.

Setelah itu, mulai bercanda bersama cucu. Atau membaca koran, Tribun Timur, Kompas, dan Fajar. Dia menikmati liputan Depth News dan menghibur. “Saya senang dengan tulisan feature,” katanya.

Kahar dan Hasan Tiro


(Andi Nyiwi, baju kaos hitam dan Harun Al Rasyid Abdi)


Siang itu cuaca di kota Palopo terik. Matahari seperti membakar ubun-ubun kepala. Saya mengunjungi Said Mahmud, ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Palopo. Ia baru usai salat duhur. Suaranya pelan, datar, tak seperti orang Palopo pada umumnya yang bersuara keras. Tak ada ekspresi.

Ruangan kerja Said di lantai dua gedung utama. Perawakannya kecil. Kopiah masih melekat di kepalanya, sarung pun masih membalut kaki. Kulit putih. Ia senang bercerita masa pendidikannya di Sekolah Rakyat buatan Kahar Muzakkar pemimpin pejuang DI/TII Sulawesi Selatan. Said tak selesai, hanya sampai kelas lima. Menurutnya, model sekolah mengarah ke kurikulum islam pesantren. Siswa diharuskan menghafal Al Quran. “Jadi memang ada niat Kahar membangun kultur masyarakat islam. Kahar memang seorang mujahid. Seorang pejuang islam,” katanya.