Jumat, 29 Agustus 2008

Narasi Dalam Perang Jurnalisme

SIANG itu saya baru selesai kuliah. Di sebuah musallah kecil depan kampus, seorang teman bercerita tentang sebuah laporan yang menarik. Namanya Buyung Maksum, seorang wartawan Harian Fajar Makassar. Ceritanya panjang lebar. Ia menganjurkan membaca tulisan Alfian Hamzah. “Pokoknya seperti menonton perang langsung,” katanya.

Saya tertarik. Sorenya saya langsung ke toko buku mencarinya. Buku itu tertata di rak sastra. Warnanya hitam putih, disampul tertulis judul besar, Jurnalisme Sastrawi. Saya tersenyum melihatnya.

Di sebuah asrama di Jalan Mannuruki II no 35 B, saya membaringkan badan, membuka halaman demi halaman. Buku itu setebal 500 halaman kurang. Di halaman 163 foto Alfian terpampang. Judul artikelnya Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan. “Ini tulisan apa,” pikirku.